Waktu terus berjalan tidak terasa hari ini adalah hari senin. Hari di mana Devano kembali beraktivitas di kantornya. Devano langsung melajukan motornya menuju kantor tempat ia bekerja. Entah kenapa hari ini perasaan Devano beda hari dari hari-hari lain sebelumnya, mungkin karena hari dia akan menghadap Presdir.
Devano juga sudah bersiap-siap dari rumah untuk menyiapkan yang perlu di siapkan, menyiapkan kata-kata dan jawaban dari pertanyaan yang mungkin saja nanti di tanyakan Presdirnya.
Selain itu, Devano juga memperhatikan dari segi penampilannya. Devano mengenakan kemeja yang menurutnya paling bagus yang ia punya. Devano memang termasuk orang yang perfect dalam penampilan.
Dia selalu menggunakan barang yang berkualitas dan tentunya di sesuaikan di mana tempat ia berada dan kemampuan isi dompetnya. Itulah caranya menghargai dirinya sendiri.
"Pagi bro! Gimana ... apa sudah selesai?" tanya Emir yang menghampiri Devano.
"Pagi juga bang. Semuanya udah selesai bang, tinggal di print!" jawab Devano yang sibuk dengan mesin cetak.
"Terima kasih yah mas bro. Kamu memang dapat di andalkan."
"Jangan terlalu muji bang, ini kan memang tugas saya bang," ucap Devano.
"Bro, tadi pak Niko telfon, katanya meeting di majukan hari ini. Jadi, kita di suruh ikut meeting dan lima belas menit lagi kita ke ruangan rapat," papar Emir.
"Oke bang, terima kasih infonya." Setelah berkasnya selesai di print, Devano langsung merapikannya. "Oh iya bang, ada yang saya ingin tanyakan sama bang Emir."
"Iya bro, silahkan. Apa yang ingin kau tanya? Dengan senang hati seniormu yang gagah perkasa ini akan menjawabnya" tanya Emir sambil duduk di kursi kerjanya.
"Gini bang, nanti jam satu saya di minta menghadap Presdir di ruangannya. Ini merupakan pertama kalinya aku di minta ketemu dengan beliau. Biasanya di tanya apa saja bang sama Presdir?" tanya Devano dengan mimik wajah serius.
"Oh ... tenang saja bro. Loh tahu kan pak Stephan orangnya baik dan ramah, jadi gak perlu butuh persiapan yang mumpuni apalagi ngapalin teori-teori. Pak Presdir tidak akan menyulitkan para karyawannya. Paling nanti di tanya seputar keluarga, latar belakang pendidikan, impian ke depannya, trus Presdir pasti akan cerita riwayat hidupnya."
"Jadi, nyantai aja bro. Gak perlu tegang dan gugup, yang paling penting percaya diri!" ujar Emir mensuport.
"Oh gitu ya, terima kasih banyak bang." Akhirnya perasaan Devano mulai tenang.
Emir hanya tersenyum membalas ucapan Devano. Setelah berkasnya selesai, mereka pun berjalan ke ruang rapat. Meeting pun berjalan dengan lancar hingga selesai jam 12 tepat jam istirahat.
Devano dan Emir pun kembali ke ruangannya. Tampak raut wajah Emir sedikit khawatir setelah selesai mengikuti rapat. "Semoga saja bukan gue yang di tunjuk melanjutkan proyek yang di Sulawesi walaupun cuma 8 bulan," kata Emir.
"Memangnya kenapa, bang Emir gak berminat? Kan lumayan bisa promosi jabatan," ujar Devano.
"Gak ah ... mending saya bekerja di sini aja. Gue gak mau jauh dari Renatta, entar saat saya di tunjuk untuk pergi, bisa-bisa dia makin jatuh cinta sama lu," jawab Emir.
"Hahaha, tenang saja bang. Saya gak mungkin berkhianat sama bang Emir, yang ada saya akan jagain milik abang," kata Devano tertawa dan merasa geli dengan ucapannya sendiri.
"Kalau lu jagain, bisa-bisa nanti lu jatuh cinta sama dia. Oh ... tidak, tidak. Lebih baik saya di sini aja dan ngejagain Renatta," ucap Emir yang bertahan dengan keputusannya.
"Bang Emir ada-ada aja, tenang saja bang. Lagian saya udah punya calon buat nanti di lamar," ucap Devano.
"Astaga, gue PD banget sih. Emangnya siapa calon yang mau di lamar? Naura? Memangnya dia suka samaku?" pertanyaan yang terlintas di pikiran Devano.
"Wis ... emang siapa calonmu bro? Kok gak pernah cerita. Apa Luna yang staf HRD itu yah?" tebak Emir. Dia memang pernah melihat Devano beberapa kali ngobrol berdua dengan Luna.
"Gak lah bang, saya dan Luna hanya teman kerja. Lagian Luna belum tentu suka dengan saya," jawab Devano.
"Tapi di lihat dari ekspresi Luna, sepertinya dia menyukaimu deh. Dia aja yang malu-malu memendam perasaannya padamu."
"Udahlah lah bang, sepertinya sudah jam istirahat. Bang Emir gak ke kantin?" Devano mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Eh iya, udah jam setengah satu. Lebih baik kita ke kantin, ke buru jam istirahat berakhir. Lagipula selesai jam istirahat, luh harus nemuin Presdir di ruangannya kan," ucap Emir.
"Saya gak ke kantin bang, tadi dari rumah udah bawa bekal," ucap Devano yang sengaja makan di ruangan, agar dia langsung bersiap-siap menuju ruangan Presdir yang tempatnya masih satu lantai dengan ruangan kerjanya, hanya beda arah saja ke arah kiri dari lift.
"Oh, baiklah. Semoga lancar pertemuannya dengan pak Presdir," ucap Emir sambil menepuk pelan pundak Devano. "Ya udah gua duluan ke bawah ya." Emir langsung bergegas menuju ke lantai bawah untuk pergi ke kantin.
Tak butuh yang lama, Devano sudah menghabiskan makan siangnya. Dia pun berjalan ke arah lift dan tak lama pintu lift terbuka. Saat pintu lift terbuka lebar, Devano berpapasan dengan Luna yang juga keluar dari lift.
"Selamat siang bu Luna, saya ke atas yah. Maaf buru-buru!" sapa Devano sambil tersenyum.
"Selamat siang pak Devan. Silahkan," sahut Luna melirik Devano sebelum pintu lift tertutup.
"Aduh ... pak Devan terlihat ganteng sekali. Seandainya saya tadi tiba-tiba tergelincir, trus di tolongin oleh pak Devan. Ahhh ... astaga tinggi banget halu gue," batin Luna berjalan ke ruangannya sambil senyum-senyum.
Di sisi lain, Devano keluar dari lift dan langsung berjalan ke arah ruangan Presdir. Ini pertama kalinya Devano memasuki ruangan yang tampak luas dan bersih itu. Tampak fasilitas di ruangan tersebut sangatlah lengkap. Di samping itu juga, terdapat foto-foto abstrak yang kaya akan seni menempel di setiap dinding ruangan tersebut.
"Ruangan Presdir memang tak kalah indahnya," batin Devano berdecak kagum.
Tampak ada seorang pria yang sedang duduk melihat layar monitor. "Apa itu sekretaris Presdir?" tanya Devano bergumam.
Lalu Devano menghampiri pria tersebut yang menurut Devano merupakan sekretaris pak Presdir. "Selamat siang, Pak. Saya Devano dari divisi rancang bangunan, di minta untuk menemui Presdir."
"Selamat siang juga, Pak. Yah, beliau tadi sudah menyampaikan bahwa jam satu ke temu dengan pak Devan. Pak Presdir sedang makan siang, silahkan duduk saja dulu," ucap pria itu mempersilahkan Devano untuk menunggu beberapa saat di ruang tunggu.
"Oh iya, Pak." Devano langsung duduk di sofa dan pandangannya langsung tertuju ke arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jam 12:50. Masih sepuluh menit lagi."
Devano pun duduk dengan tenang sambil celingak-celinguk memandangi setiap sudut ruangan yang tampak luas dan bersih itu.
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, pria tersebut terlihat memasuki ruangan Presdir menyampaikan kalau Devano sudah ada di ruang tunggu.
Kemudian pria tersebut kembali menghampiri Devano. "Pak Devan sudah dapat di persilahkan masuk, silahkan!"
"Iya, Pak." Devano langsung berdiri di tempat duduknya dan berjalan menuju ruangan khusus Presdir.
"Selamat siang, Pak." Tampak Devano menyapa setelah pintu berhasil di buka. Pak Stephanus yang melihatnya hanya tersenyum ke arahnya. Tampak pak Ridwan juga duduk di sofa.
"Silahkan duduk pak Devan," ujar pak Stephanus. Sebelum duduk, Devano meraih tangan pak Stephanus dan pak Ridwan untuk bersalaman.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak Stephan, terima kasih untuk makan siangnya." Pak Ridwan langsung berdiri dan meninggalkan ruangan Presdir.
...~ Bersambung ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Maya●●●
hahah ratu halu nih
2023-11-30
1
վմղíα | HV💕
semoga kamu bisa jadi Presdir suatu saat nanti
2023-09-13
2
F.T Zira
🌹 untukmu thor... semangat teruss yaa....
2023-09-13
1