Setelah Renatta berhasil mengungkapkan perasaannya kepada Devano, kini hatinya merasa lebih lega. Walaupun Renatta tidak tahu apa yang akan menjadi jawaban dari Devano, tapi yang penting perasaannya telah dia ungkapkan.
Devano hanya bisa terkejut mendengar apa yang di ungkapkan oleh Renatta. Devano selama ini bukan tidak peka dengan Renatta, dia memang merasakan Renatta memberikan perhatian lebih padanya. Namun, perhatian itu tidak ia masukkan ke dalam hatinya, karena Devano tahu Emir sahabatnya menyukai Renatta.
Dia tidak ingin mengkhianati sahabatnya Emir yang selama ini telah mendukungnya. Sampai detik ini, Devano tidak menyangka kalau Renatta berani mengungkapkan perasaannya.
Melihat Devano tak berkutip, Renatta berusaha meyakinkan bahwa dia tulus mencintai Devano. "Devan aku tahu kalau aku bukan tipe wanita yang kamu suka. Aku sendiri pun tidak pernah tahu olehmu untuk menyukai aku apalagi memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu."
"Entah kenapa perasaan ini muncul begitu saja sejak aku mulai mengenalmu. Awalnya aku hanya kagum padamu layaknya wanita lain yang tertarik pada seorang laki-laki. Tapi ternyata aku lebih dari kagum padamu dan aku benar-benar tersiksa dan di hantu-hantuin dengan perasaanku ini."
"Saat aku mendengar kabar kalau kamu dekat dengan Luna, bahkan di gadang-gadang kalian telah jadian. Aku merasa tidak bersemangat untuk datang ke kantor, bahkan aku tidak bisa berpikir dalam mengerjakan sesuatu," ungkap Renatta menarik nafasnya dan berusaha lebih tenang.
"Renatta, sebenarnya a-aku ... ingin-" kata Devano yang terpotong saat seorang waiters membawa pesanan minuman dan di letakkan nya di atas meja.
"Ini pesanannya ... selamat menikmati," ucap waiters setelah berhasil meletakkan gelas yang berisi jus jeruk.
"Terima kasih banyak," sahut Devan.
Lalu waiters tersebut undur diri dan tampak Devano langsung meminum sedikit demi sedikit jusnya, sambil berpikir apa yang harus dia katakan sebagai jawaban dari ungkapan perasaan Renatta.
Devano yang mencari kata-kata yang pas sebagai jawabannya, namun Renatta sudah melanjutkan lagi pembicaraannya. "Devan, kamu tidak perlu menjawab bagaimana perasaanmu padaku sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku sungguh mencintaimu."
Renatta sudah membayangkan apa yang akan di ucapkan Devano kalau dia tidak punya perasaan apapun terhadapnya. Sedangkan Devano tampak gugup menjawab curhatan hati Renatta.
Bukan tanpa sebab, ini memang pertama kalinya bagi Devano seorang wanita membahas cinta di antara keduanya. Devano tidak ingin melukai hati Renatta yang sepertinya benar-benar mencintai dirinya.
Menurutnya cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang di tentukan oleh Tuhan dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci. Sebenarnya Devano menyimpan perasaan pada seseorang. Tapi Devano harus mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap sahabatnya Naura karena saat ini dia belum siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
"Saya harus menyelesaikan urusan ini, jangan sampai berlarut-larut. Jangan sampai Renatta berharap berlebihan padaku. Saya takut dia akan kecewa," batin Devano.
Devano pun menetralkan emosi yang mendelik di pikirannya. "Rena ... sebenarnya saya senang berteman denganmu, begitu juga dengan bang Emir. Saya merasa bersyukur di pertemukan kalian berdua. Sejak saya mulai bergabung di perusahaan ini, kamu dan bang Emir banyak sekali membantu saya."
Devano pun menghembuskan nafasnya dengan panjang, lalu kembali melanjutkan perkataannya. "Kamu sudah saya anggap sebagai sahabat dan tidak pernah terpikirkan olehku untuk menyukaimu. Jadi saya minta maaf sekali, saya tidak bisa menjadi seseorang yang kamu harapkan," ungkapnya penuh kehati-hatian, takutnya dia akan melukai hati Renatta.
"Aku mengerti kok Devan, kamu hanya menganggapku sebagai sahabat atau teman rekan kerja. Aku sadar bahwa tidak mungkin saat ini impianku terwujud," kata Renata.
"Tapi Devan ... boleh kah aku berharap suatu saat nanti impianku ini terwujud?" tanya Renatta sambil tersenyum tulus melihat ke arah Devano.
Devano hanya bisa tersenyum dan menunduk. Melihat senyuman di bibir Devano, ada secercah harapan bagi Renatta. "Terima kasih," ucap Renatta.
"Huft ... ini akan membuatku stress. Bagaimana kalau bang Emir tahu kalau Renatta mengungkapkan perasaannya padaku, ini akan membuatnya kecewa. Aku gak mau hanya gara-gara wanita persahabatan kami renggang. Trus gimana kalau ternyata Renatta memang jodoh saya?" pikir Devano.
"Devan, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Renatta.
"Oh, nggak kok."
"Apa perasaanku membuatmu tidak nyaman?"
"Rena ... kamu memang punya hak menyukai siapa pun, termasuk menyukai saya karena itu adalah hakmu. Tapi saya gak mau kamu kecewa karena terlalu berharap padaku. Saya tidak mau kamu membuang energi untuk seseorang yang belum tentu menjadi jodoh kamu. Kita tahu jodoh itu sudah ada yang atur," jelas Devano yang memberikan pengertian pada Renatta.
"Iya Devan. Em ... Apa saya boleh bertanya sesuatu hal lagi?"
"Silahkan," jawab Devano.
"Apa kamu menyukai seseorang dalam hidupmu?" tanya Renatta.
"Aku memang menyukai seseorang, tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku ini padanya. Aku hanya berharap dia setia menungguku dan menjadi pasanganku suatu saat nanti. Tapi hal ini tidak mungkin ku sampaikan pada Renatta, bisa-bisa dia bertambah kecewa," pikir Devano.
"Rena ... soal itu bagi saya jodoh adalah rahasia, karena sampai saat ini saya masih belum memikirkan untuk mencari pendamping hidup. Saya hanya fokus membahagiakan ibu dan kedua adik saya di kampung," ungkap Devano tersenyum.
Renatta berusaha mencerna ucapan yang keluar dari mulut Devano. "Em ... tapi kalau menurut saya memilih calon pendamping bukan berarti harus menikah. Katakanlah itu sebuah waktu untuk mengenal pribadi dan karakter masing-masing. Jika merasa nyaman, mungkin itu memang jodohmu," kata Renatta sambil menopang dagunya.
"Yang kamu katakan memang benar, tapi prinsip saya, saya yakin jodoh sudah di atur oleh masing-masing orang. Tinggal kita saja yang meminta petunjuk pada Tuhan, niscaya sumua akan di permudah dan di pertemukan," kata Devano.
"Mungkin sebagian orang menilai pemikiran ini ketinggalan zaman dan aneh. Tapi itulah prinsip saya, hehe ... " ungkap Devano sambil tertawa kecil.
"Aduh ... Devan benar-benar pria yang ideal, beruntung sekali seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya. Aku makin kagum sama kamu Devan," batin Renatta tersenyum.
Devano melirik jam tangannya. "Eh ... sudah jam tujuh malam, apa kamu lapar? Saya harap kamu lapar, karena saya juga merasa lapar. Hahaha," ucap Devano sambil tertawa kecil dan membuat Renatta juga ikut tertawa.
"Sepertinya perut kita sama, aku juga lapar. Tenang biar aku pesan makanan," ujar Renatta.
"Eh, tunggu. Biar saya aja yang memesan makanan, tadi kamu juga mentraktirku minuman. Sekarang saya akan membalas kebaikanmu," ucap Devano tersenyum dan berusaha membuat suasana bahagia.
Renatta hanya tersenyum melihat tingkah lucu Devano. "Baiklah, jika kamu memaksa. Aku akan menurut."
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka selesai makan. Entah kenapa malam ini hati Renatta terasa berbunga-bunga. Dia tidak menyangka Devano yang dia kenal sebagai pendiam, ternyata ada sisi humoris dalam dirinya. Mungkin karena selalu bersama dengan rekan kerjanya Emir, alhasil Devano belajar sedikit demi sedikit menjadi cowok humoris.
Malam ini merupakan malam yang tak terlupakan bagi Renatta. Dia merasa nyaman saat bersama dan berbincang dengan Devano. Renatta jadi membayangkan kalau suatu saat Devano menjadi pendamping hidupnya selamanya.
...~ Bersambung ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Maya●●●
jodoh kamu anak presdir. kayaknya sih. hehe
2023-12-01
1
ⁱˡˢ ᵈʸᵈᶻᵘ💻💐
Duh, lelaki sejati ❤️
2023-10-25
1
ⁱˡˢ ᵈʸᵈᶻᵘ💻💐
jangan stres, Devan. ada aku 🤭
2023-10-25
1