Di kamar kost miliknya, terlihat Devano bersantai-santai menikmati sore minggu yang indah. Devano menghabiskan waktunya untuk membaca buku, menonton film, dan mendengarkan musik menggunakan headset.
Selain itu, Devano asik melihat-lihat foto kebersamaannya dengan rekan kerjanya Emir dan Renatta saat jalan bareng di acara expo kemarin. Banyak kenangan yang mereka abadikan melalui ponsel.
Tak lupa juga terselip foto kebersamaan mereka dengan pak Stephanus Presdir Arkana Group. "Besok saya akan menemui pak Stephan di ruangannya. Semoga semuanya berjalan lancar," batin Devano berharap.
Devano yang jarang sekali membuka medsos, tapi entah kenapa hari itu dia membuka akun facebooknya yang sudah beberapa bulan tidak pernah di buka.
Tampak banyak permintaan pertemanan baru di akun facebooknya. Di antaranya Renatta, Dhea, Luna, Emir, Juan, dan beberapa karyawan lainnya Arkana Group yang sudah kenal dengannya.
Devano pun menekan tombol konfirmasi pada beberapa permintaan pertemanan yang masuk di akun facebooknya, termasuk Renatta dan Luna yang sudah mengirim pertemanan sejak satu bulan yang lalu.
Banyak juga yang memberi like di foto profilnya dan beberapa postingan terakhir Devano. Terakhir kali Devano memposting foto kelulusan wisudanya bersama dengan ibunya dan kedua adiknya. Tampak juga Naura dan teman-teman lainnya ikut berfoto bersama dengan Devano saat hari bahagia itu.
Devano pun menscroll beranda Facebook, bermaksud membaca beberapa postingan teman facebooknya. Tak sengaja akun Naura muncul di beranda facebooknya dan menampilkan statusnya.
"Berharap dan menunggu." Status Naura yang muncul di beranda Facebook.
"Berharap apa dia, dan menunggu siapa?" tanya Devano yang ingin berkomentar di status milik Naura.
"Ah ... gak jadi deh. Lebih baik aku ngirim pesan ke WA aja," pikir Devano. Lalu Devano membuka aplikasi hijau itu dan mengirim pesan untuk Naura.
"Sore Naura, lagi apa?" pesan Devano.
Lima belas menit berlalu, belum ada balasan dari Naura. Devano pun beralih ke buku yang ia baca. Bagi Devano waktu adalah uang, jadi dia mempergunakan waktu sebaik-baiknya dengan hal yang positif.
"Ting ... ting." Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya menandakan Naura membalas pesannya.
"Sore juga Mas. Tadi Naura lagi bantuin mama masak."
"Tumben nih ngirim pesan." Pesan dari Naura.
Devano memang jarang ngirim pesan dengan Naura, kalau ada perlu banget baru ngechat. Wajar saja, rumah Devano berhadapan dengan rumah Naura. Jadi, jika perlu apa-apa tinggal datangi ke rumah.
"Hehehe, mas penasaran aja dengan statusmu di Facebook. Pengen tahu menunggu apa sih?" pesan Devano.
"Gawat! Mas Devan pasti baca postinganku di Facebook. Aduh gimana nih ... masa harus jujur kalau aku menunggunya untuk di lamar olehnya. Ah ... gak mungkin kan!" batin Naura menjerit.
"Gak kok mas Devan. Saya lagi menunggu gak sabar ingin segera ke lapangan praktek penelitian," balas Naura dengan jantung berdebar-debar.
"Maaf yah mas Devan, saat ini Naura masih belum jujur sama mas," batin Naura.
"Oh, kirain nunggu yang ngelamar," pesan Devano dengan emot ketawa.
"Iya ... nunggu mas Devan melamarku," batin Naura.
"Iya, nunggu mas Devan melamarku," ucapnya tanpa sadar Naura menulis chatnya, lalu mengirimnya.
"Eh .... kenapa di tulis. Gawat! cepat hapus, mumpung mas Devan belum baca. Bahaya kalau di baca mas Devan," ucap Naura terburu-buru menghapus dengan tangannya yang bergetar.
Pesan pun di hapus Naura sebelum Devano membacanya.
Lalu Devano mengirim pesan. "Kenapa di hapus, saya kan belum baca."
"Salah ketik. Hehehe."
"Untung aja mas Devan belum baca," batin Naura bernafas lega.
Tiba-tiba ponsel Naura berbunyi membuatnya tersentak kaget. "Ah ... mas Devan menelpon!" teriak Naura sambil melompat dari kursinya.
"Gimana nih! Jawab gak ya?" tanya Naura gugup. Entah kenapa Naura sangat gugup, padahal dulu mereka selalu berbagi cerita bersama. Mungkin karena sudah jarang sekali bertemu, membuat Naura gugup berbicara dengan Devano.
"Halo Naura," sapa Devano setelah sambungan telepon tersambung.
"Halo mas Devan," jawab Naura malu-malu.
"Maaf menelpon, gak enak kalo bicara lewat pesan. Apa aku mengganggumu?"
"Gak kok, Mas."
"Nau ... gimana skripsi kamu?" tanya Devano memulai pembicaraan.
"Lagi pengajuan penelitian mas, rencananya penelitiannya di salah satu bank di Surabaya. Penelitian saya tentang bagaimana melayani nasabah dalam bertransaksi di bank."
"Semoga lancar yah, Nau. Em ... setelah lulus kuliah rencananya mau ngapain?"
"Palingan ngelamar kerja mas, seperti mas Devan yang udah dapat kerja," jawab Naura.
"Nggak pengen di lamar?" tanya Devano. Devano sendiri kaget kenapa dia bertanya seperti itu. Kata-kata itu spontan keluar dari mulutnya.
Naura juga gak kalah kaget mendengar pertanyaan dari Devano. "Pengennya sih di lamar langsung oleh mas Devan," batin Naura menggigit ujung jari telunjuknya.
"Gak ada orang yang ngelamar mas," jawab Naura senyum-senyum.
"Kalau ada yang melamar memangnya siap menerima?"
"Kalau yang ngelamar mas Devan, saya siap atuh ... " kata Naura dalam hati.
"Siap gak yah? Tergantung siapa dulu yang ngelamarnya mas," jawab Naura.
"Maksudnya?" tanya Devano dengan nada bingung.
"Aduh ... mas Devan nanya terus. Padahal kan Naura maunya mas Devan yang ngelamar. Tapi masalahnya, mas Devan suka sama aku gak? hihihi," pikir Naura.
"Naura, kamu masih mendengarkanku?" tanya Devano.
"Eh ... masih dengar kok mas Devan!" kaget Naura. "Tergantung orang ngelamar sih mas. Ada sih orang yang Naura suka ... tapi gak tau dianya suka apa enggak?" kata Naura menggigit pelan bibirnya.
"Siapa orangnya, biar mas Devan bantuin dekatkan!" ucap Devano dengan antusias walaupun hatinya sedikit khawatir karena ternyata sudah ada laki-laki yang di sukai Naura.
"Ih ... mas Devan gak peka banget. Dia gak ngerasa apa kalau aku suka sama dia. Rasanya ingin ku ungkapkan perasaan ini, tapi aku takut dia sudah punya calon," batin Naura kecewa.
"Udah ah ... jangan bahas itu lagi, lagian saya juga belum selesai kuliah mas," kata Naura. "Nah mas Devan sendiri udah ada yang mau di lamar?" tanya Naura ragu-ragu.
"Nau ... mau tahu aja atau mau tahu banget?" tanya Devano senyum-senyum di balik telepon.
"Sebenarnya saya gak mau tahu mas, lebih baik gak usah di jawab. Tahu-tahunya calon mas Devan teman kerjanya yang mirip saya itu. Ah ... tidak, gak sanggup hati ini mengikhlaskan," batin Naura.
"Huft ...." Tampak Devano menghembuskan nafasnya dengan panjang. "Sebenarnya mas Devan belum kepikiran untuk menikah. Mas Devan ingin membahagiakan ibu dulu, Naura."
"Syukurlah ... terima kasih yah Tuhan. Ternyata mas Devan belum punya calon. Jadi, masih ada kesempatan," lega Naura dalam batin.
"Tahu gak Nau ... Diva bilang kita pasangan yang cocok, memang Diva kalau ngomong suka asal. Padahal kita kan memang dari dulu dekat kayak sahabat, bahkan saya menganggapmu sudah seperti adik sendiri."
"Ternyata mas Devan hanya menganggapku sebagai sahabat dan tidak lebih dari itu. Padahal ucapan Diva ada benarnya juga mas, kita memang cocok dan sudah mengenal pribadi masing-masing."
"Tapi Nau ... jodoh tidak ada yang tahu dan sudah di atur oleh Tuhan. Siapa tahu kita berjodoh, gak ada yang tidak mungkin kan?" Devano berusaha mencari tahu jawaban Naura dengan pertanyaannya.
"Iya, Mas. Jodoh di tangan Tuhan, yang penting kita jalanin aja sesuai kehendak-Nya. Kalau soal jodoh tidak akan ke mana kan?" jawab Naura pelan untuk menutupi kesedihannya.
"Iya, Nau ... dan semoga jodoh yang di tentukan oleh Tuhan padaku adalah kamu," batin Devano.
"Oh iya, Mas. Udah dulu ya, Naura mau cuci piring dulu."
"Iya, Naura." Lalu Devano menutup sambungan telepon selulernya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Devan pun beranjak dari tempatnya dan segera mandi.
...~ Bersambung ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Aerik_chan
1 iklan buat author kece
2023-09-15
1
վմղíα | HV💕
tenang Naura sebelum janur kuning melengkung kamu masih ada kesempatan
2023-09-13
1
F.T Zira
entah kenapa aku feeling devan bukan sma naura deh..
2023-09-13
1