Putri Presdir

Setelah putrinya meninggalkan ruangan, Stephanus menghela nafas dan kembali menatap ke arah Devano. "Maaf ya pak Devan, obrolan kita jadi terputus," ucap Stephanus.

"Gak apa-apa kok, Pak. Saya malah ikut senang melihat Bapak sangat akrab dengan putri Bapak," kata Devano.

"Terima kasih ya pak Devan. Keisha itu sekarang anak saya satu-satunya. Dulu saya harap, putri saya yang akan melanjutkan perusahaan ini, tapi ternyata dia tidak berniat dengan dunia usaha.

"Putri saya lebih suka mengejar cita-citanya ingin menjadi desainer. Sekarang dia kuliah di universitas khusus para calon desainer dan mungkin satu tahun lagi selesai. Sebenarnya saya ingin putri saya bersekolah di luar negeri, tapi mamanya tidak mengizinkannya, mamanya gak mau jauh dari anaknya satu-satunya."

Sembari mendengar cerita dari pak Stephanus, pandangan Devano kembali tertuju pada foto keluarga Stephanus yang di pajang di dinding.

"Kata pak Stephan, bahwa dia hanya punya anak perempuan satu-satunya bernama Keisha. Tapi yang membuat saya bingung, siapa anak laki-laki itu di foto keluarga yang pertama? Kemana dia?" pikir Devano.

Stephanus melihat Devano memperhatikan foto keluarganya dan sepertinya dia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Devano saat ini. "Dia pasti bertanya-tanya kejelasan foto keluarga saya yang pertama itu!" batin Stephanus.

"Sebenarnya Keisha punya abang laki-laki bernama Rendy, tapi dia meninggal dunia di usia 15 tahun. Mungkin jika dia masih hidup, usianya hampir sama dengan kamu," ungkap Stephanus yang tampak sedih dan terdapat rasa penyesalan yang dalam.

"Kalau boleh tahu, Pak. Anak laki-laki Bapak meninggal karena apa?" tanya Devano.

"Dia meninggal gara-gara jatuh dari motor. Seandainya saya tidak mengizinkannya menggunakan motor, mungkin dia tidak pergi secepat ini," kata Stephanus.

Stephanus dan istrinya sangat terpukul oleh kepergian Rendy. Kematian Rendy sangat membekas di hati para orang tuanya. Hal tersebut membuat Stephanus dan istrinya sangat protektif terhadap Keisha.

Devano sendiri dapat merasakan kesedihan yang di rasakan oleh presdirnya. Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang di sayangi. Rindu yang amat mendalam dan berharap suatu saat nanti di pertemukan di sorga.

"Maaf, Pak. Karena pertanyaan saya membuat Bapak jadi sedih," ucap Devano yang merasa bersalah.

"Gak apa-apa kok Devan, memang seperti itulah hidup. Ada yang datang lalu pergi, ada suka duka, sedih bahagia, dan itu akan datang salih berganti," ujar Stephanus.

"Karena kita tahu bahwa ini semua hanyalah titipan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan bisa ambil salah satu dari milik kita dan saat itu baru kita tersadar bahwa kita tidak ada apa-apanya," lanjutnya.

Devano hanya mengangguk dengan pelan dan sepertinya sependapat dengan apa yang di ucapkan oleh Presdirnya. Banyak pembelajaran dan pesan yang Devano dapatkan dari cerita pak Stephanus, yang dapat ia jadikan motivasi dalam hidupnya.

"Tunggu sebentar, kenapa saya yang bercerita panjang lebar. Padahal saya memintamu ke sini untuk mendengar cerita pak Devan, apalagi cerita tentang ayahmu," kata Stephanus.

"Hehehe, tidak apa-apa Pak. Saya juga merasa senang Bapak bisa berbagi cerita dengan saya," kata Devano tersenyum.

Lalu Devano menceritakan kehidupan keluarganya setelah ayahnya meninggal, masa kuliahnya sampai akhirnya bisa bergabung dengan perusahaan yang di pimpin oleh Stephanus.

Waktu terus berjalan hingga waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. "Gak terasa yah kita ngobrol lebih dari tiga jam. Saya sampai lupa nawarin kamu minum dan makan," ujar Stephanus.

"Terima kasih banyak, Pak. Bisa berkesempatan mengobrol dengan Bapak saja sudah menjadi kehormatan bagiku."

"Ah ... sikapmu sangat mirip dengan sahabatku, eh maksudnya mirip dengan sikap ayahmu. Mempunyai sifat ramah, sopan, dan rendah hati."

"Ngomong-ngomong, kamu single kan?" tanya Stephanus pada Devano di depannya.

"Iya, Pak. Saya masih punya impian untuk membahagiakan ibu saya, karena bagi saya kebahagiaan ibu saya adalah segalanya," jawab Devano.

"Beruntunglah nanti yang menjadi istri kamu. Beruntung juga yang menjadi mertua kamu karena dapat menantu yang baik hati, bertanggung jawab, dan tahu akan kewajibannya. Saya jadi mau ingin menjadi mertua kamu. Ha ... ha ... ha," ucap Stephanus sambil tertawa keras.

"Bapak ada-ada aja. Masih banyak kok di luar sana yang lebih baik dariku."

"Tapi kamu adalah salah satunya. Em ... kalau saya jodohkan dengan Keisha mau gak?" tanya Stephanus.

"Deg ...."

Seketika Devano tersentak kaget dalam batinnya. "Pak Stephan pasti lagi bercanda, mana mungkin mau menjodohkan anaknya satu-satunya yang dia sayangi dengan laki-laki biasa yang tidak memiliki apa-apa seperti saya."

"Hahaha, kalau masalah jodoh Pak sudah di atur oleh Tuhan. Tugas kita hanya mengikuti alur yang sudah Tuhan tetapkan dalam hidup masing-masing," jawab Devano sambil tersenyum.

"Iya, Devan. Tapi siapa tahu kalian berjodoh, saya setuju kok bahkan merestui kamu menjadi menantu saya," batin Stephanus. Entah dari mana datangnya pikiran itu, hingga Stephanus berkeinginan menjodohkan Devano dengan Putri kesayangannya.

Di sisi lain, Devano hanya menganggap angin lalu ucapan Presdirnya. Dia tidak terlalu berharap tinggi mendapatkan jodoh anak Presdir.

Akhirnya obrolan mereka pun selesai. Devano langsung berjalan dan berlalu meninggalkan ruangan Presdir dengan rasa kagum dan bahagia setelah berbagai cerita dengan pak Stephanus.

****

Setelah sampai di ruangannya, dia langsung merapikan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang kerja. Di pikirannya masih terbayang-bayang dengan ucapan Presdirnya.

Hal yang Devano masih ingat adalah saat mengetahui almarhum ayahnya bersahabat dengan pak Stephanus Presdir Arkana Group. Sungguh pertemuan yang tidak di sengaja.

"Gimana bro, semuanya berjalan lancar?" tanya Emir.

"Iya, Bang. Benar kata bang Emir, pertanyaan yang di lontarkan Presdir hanya seputar keluarga dan pendidikan," sahut Devano tersenyum.

"Sudah saya bilang kan, seniormu ini tidak akan salah. Baiklah, sekarang kita pulang!" ajak Emir.

"Terima kasih banyak, Bang. Ayo, saya sudah selesai!" Devano dan Emir berjalan keluar dari ruangan mereka dan menuju ke lift untuk turun ke lantai bawah.

Sesampainya di kamar kostnya, Devano tidak sabar ingin menghubungi ibunya. Dia ingin menceritakan pertemuannya dengan Stephanus yang ternyata sahabat ayahnya. Namun Devano menahan diri untuk mandi terlebih dahulu, sehingga saat semuanya selesai dia bisa ngobrol santai dengan ibunya tercinta.

Setelah Devano mandi dan juga sudah mengisi perutnya, dia langsung menghubungi ibunya. Dia menceritakan pertemuannya dengan presdirnya. Ada rasa bangga atas apa yang di lakukan oleh ayahnya saat membantu kesulitan sahabatnya yang sekarang menjadi bos Devano.

"Devan, kamu harus mencontoh ayahmu. Belajar untuk membantu siapa pun yang mengalami kesulitan. Ibu yakin kemudahan yang kamu dapatkan saat ini adalah buah dari kebaikan ayahmu dulu," pesan ibunya Devan lewat telpon.

Ayahnya memang sosok ayah dan suami yang ideal. Devano ingin mencontoh ayahnya menjadi suami dan ayah yang baik bagi istri dan anak-anaknya kelak.

Setelah berbincang dengan ibunya di telfon, Devano jadi teringat niatnya untuk merenovasi rumahnya yang ada di Surabaya.

"Tabungan untuk merenovasi rumah sepertinya sudah cukup, lebih baik saya mewujudkan keinginan ibu untuk merenovasi rumah. Ibu pasti sangat bahagia," batin Devano.

...~ Bersambung ~...

Terpopuler

Comments

Aerik_chan

Aerik_chan

1 iklan buat kakak

2023-09-22

1

վմղíα | HV💕

վմղíα | HV💕

iya ya siapa yg ada di foto itu jadi penasaran

2023-09-17

1

Ucy (ig. ucynovel)

Ucy (ig. ucynovel)

waduh, jd ajang perjodohan

2023-09-14

1

lihat semua
Episodes
1 Menuju Kantor
2 Ruangan Kerja Baru
3 Senior bagaikan Sahabat
4 Menikah?
5 Keinginan Ibu
6 Wanita yang Mirip
7 Berkhayal
8 Jalan Bareng
9 Presdir
10 Calon Pendamping Hidup?
11 Obrolan Devano dan Naura
12 Ruangan Presdir
13 Curhatan Presdir
14 Tidak Terduga
15 Putri Presdir
16 Obrolan Devano dan Luna
17 Ajakan Renatta
18 Obrolan Devano dan Renatta
19 Jawaban Devano
20 Berita Bahagia
21 Pulang Kampung
22 Kehangatan Keluarga
23 Mimpi
24 Gelisah
25 Ada dengan Ibu?
26 Rumah Sakit
27 Saling Menguatkan
28 Merasa Tenang
29 Membaik
30 Kembali Memburuk
31 Ikhlas
32 Rindu Ibu
33 Jabatan Baru
34 Makan siang bersama Keluarga Presdir
35 Permintaan pertama Stephanus
36 Permintaan kedua Stephanus
37 Pilihan yang Sulit
38 Acara Syukuran
39 Jalan-jalan
40 Kembali Bertemu
41 Kecemasan Diva
42 Pilihan Devano
43 Jawaban Devano
44 Reaksi Keisha
45 Memberi Pemahaman
46 Keisha Kabur?
47 Keberadaan Keisha
48 Kekhawatiran Stephanus
49 Mencari Keisha
50 Membatalkan Perjodohan
51 Melihat Naura
52 Bersedia Menikah
53 Ibunya Keisha Sadar
54 Obrolan Keisha dengan Ibunya
55 Rencana Pernikahan
56 Acara Pernikahan
57 Cincin Pernikahan
58 Akrab
59 Pelukan
60 Siapa yang Telpon?
61 Saling Diam
62 Rasa Benci
63 Tersadar
64 Belajar Melayani Suami
65 Pisah Rumah
66 Pisah Kamar
67 Memberi Pemahaman
68 Kehidupan Terbalik
69 Kedatangan Seseorang
70 Merahasiakan
71 Ada Apa dengan Keisha?
72 Bertukar Pesan
73 Pemandangan yang Baru
74 Tugas Dadakan
75 Bantuan Devano
76 Kemana Keisha?
77 Mau Sampai Kapan?
78 OTW ke Surabaya
79 Dia adalah Istriku
80 Berjanji
81 Jatuh dalam Pelukan
82 Tantangan
83 Lagu untuk Seseorang
84 Perihal Naura
85 Minta di Temanin
86 Merasa Nyaman dalam Pelukan
87 Surat Cinta
88 Berkunjung ke Sebuah Tempat
89 Terharu
90 Suami Idaman
91 Kejutan
92 Pulang terlambat
93 Minta Maaf
94 Salah Sangka
95 Kecemburuan Naura
96 Kecemburuan Keisha
97 Putus
98 Kedekatan Naura dan Luna
99 Rindu
100 Video Call
101 Kisah yang Terulang
102 Perubahan Sikap Devano
103 Acara Gathering
104 Belum Saatnya
105 Lomba Kreasi Seni
106 Tunangan?
107 Cinta Segitiga
108 Di Pijitin?
109 Devano Sakit?
110 Perubahan Sikap Keisha
111 Perasaan Naura
112 Modus
113 Pertemuan yang tak diharapkan
114 Takdir Jodoh
115 Patah Hati
116 Ingin Bertemu
117 Bertemu di kafe
118 ID Card siapa?
119 Cemburu
120 Sahabat terbaik
121 Keisha Berulah
122 Marah
123 Butik
124 Kakaknya Tiara
125 Nasihat
126 Video call
127 Konveksi
128 Berbagi Pengalaman berumah tangga
129 Malu
130 Dia Suami Aku
131 Pulang
132 Nginap di Hotel
133 Siapkah Keisha?
134 Berusaha Bersabar
135 Masalah datang
136 Kedatangan Nuelman
137 Kekecewaan Devano
138 Pulang ke Rumah
139 Maafkan aku
140 Ada Apa dengan Keisha?
141 Rumah Sakit
142 Akur
143 Istri yang Sesungguhnya
144 Malam yang Berharga
145 Kesakitan
146 Ketagihan
147 Rindu
148 Devano ketemu Nuelman?
149 Bertemu dengan Nuelman
150 Rencana apa lagi?
151 Kembali ke Rumah
152 Lega
153 Mandi Bareng
154 Pertanyaan Keisha
155 Siapa yang Datang?
156 Rencana Resepsi Pernikahan
157 Cucu?
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Menuju Kantor
2
Ruangan Kerja Baru
3
Senior bagaikan Sahabat
4
Menikah?
5
Keinginan Ibu
6
Wanita yang Mirip
7
Berkhayal
8
Jalan Bareng
9
Presdir
10
Calon Pendamping Hidup?
11
Obrolan Devano dan Naura
12
Ruangan Presdir
13
Curhatan Presdir
14
Tidak Terduga
15
Putri Presdir
16
Obrolan Devano dan Luna
17
Ajakan Renatta
18
Obrolan Devano dan Renatta
19
Jawaban Devano
20
Berita Bahagia
21
Pulang Kampung
22
Kehangatan Keluarga
23
Mimpi
24
Gelisah
25
Ada dengan Ibu?
26
Rumah Sakit
27
Saling Menguatkan
28
Merasa Tenang
29
Membaik
30
Kembali Memburuk
31
Ikhlas
32
Rindu Ibu
33
Jabatan Baru
34
Makan siang bersama Keluarga Presdir
35
Permintaan pertama Stephanus
36
Permintaan kedua Stephanus
37
Pilihan yang Sulit
38
Acara Syukuran
39
Jalan-jalan
40
Kembali Bertemu
41
Kecemasan Diva
42
Pilihan Devano
43
Jawaban Devano
44
Reaksi Keisha
45
Memberi Pemahaman
46
Keisha Kabur?
47
Keberadaan Keisha
48
Kekhawatiran Stephanus
49
Mencari Keisha
50
Membatalkan Perjodohan
51
Melihat Naura
52
Bersedia Menikah
53
Ibunya Keisha Sadar
54
Obrolan Keisha dengan Ibunya
55
Rencana Pernikahan
56
Acara Pernikahan
57
Cincin Pernikahan
58
Akrab
59
Pelukan
60
Siapa yang Telpon?
61
Saling Diam
62
Rasa Benci
63
Tersadar
64
Belajar Melayani Suami
65
Pisah Rumah
66
Pisah Kamar
67
Memberi Pemahaman
68
Kehidupan Terbalik
69
Kedatangan Seseorang
70
Merahasiakan
71
Ada Apa dengan Keisha?
72
Bertukar Pesan
73
Pemandangan yang Baru
74
Tugas Dadakan
75
Bantuan Devano
76
Kemana Keisha?
77
Mau Sampai Kapan?
78
OTW ke Surabaya
79
Dia adalah Istriku
80
Berjanji
81
Jatuh dalam Pelukan
82
Tantangan
83
Lagu untuk Seseorang
84
Perihal Naura
85
Minta di Temanin
86
Merasa Nyaman dalam Pelukan
87
Surat Cinta
88
Berkunjung ke Sebuah Tempat
89
Terharu
90
Suami Idaman
91
Kejutan
92
Pulang terlambat
93
Minta Maaf
94
Salah Sangka
95
Kecemburuan Naura
96
Kecemburuan Keisha
97
Putus
98
Kedekatan Naura dan Luna
99
Rindu
100
Video Call
101
Kisah yang Terulang
102
Perubahan Sikap Devano
103
Acara Gathering
104
Belum Saatnya
105
Lomba Kreasi Seni
106
Tunangan?
107
Cinta Segitiga
108
Di Pijitin?
109
Devano Sakit?
110
Perubahan Sikap Keisha
111
Perasaan Naura
112
Modus
113
Pertemuan yang tak diharapkan
114
Takdir Jodoh
115
Patah Hati
116
Ingin Bertemu
117
Bertemu di kafe
118
ID Card siapa?
119
Cemburu
120
Sahabat terbaik
121
Keisha Berulah
122
Marah
123
Butik
124
Kakaknya Tiara
125
Nasihat
126
Video call
127
Konveksi
128
Berbagi Pengalaman berumah tangga
129
Malu
130
Dia Suami Aku
131
Pulang
132
Nginap di Hotel
133
Siapkah Keisha?
134
Berusaha Bersabar
135
Masalah datang
136
Kedatangan Nuelman
137
Kekecewaan Devano
138
Pulang ke Rumah
139
Maafkan aku
140
Ada Apa dengan Keisha?
141
Rumah Sakit
142
Akur
143
Istri yang Sesungguhnya
144
Malam yang Berharga
145
Kesakitan
146
Ketagihan
147
Rindu
148
Devano ketemu Nuelman?
149
Bertemu dengan Nuelman
150
Rencana apa lagi?
151
Kembali ke Rumah
152
Lega
153
Mandi Bareng
154
Pertanyaan Keisha
155
Siapa yang Datang?
156
Rencana Resepsi Pernikahan
157
Cucu?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!