Devano jadi teringat dengan pesan ibunya saat ia pulang kampung dua minggu lalu. Ibunya banyak memberi nasihat pada pada Devan dan juga kedua adiknya.
Flashback on.
Malam itu, keluarga Devan makan malam bersama. Tampak suasana kebahagiaan menyelimuti keluarga kecil tersebut. Selain itu, banyak kerinduan Devan yang terpendam setelah jauh dari keluarganya.
"Devan, ibu sangat bersyukur kamu dapat di terima di tempat kerja yang kamu inginkan. Tempat kerja yang nyaman, gajinya yang besar, hingga kamu bisa bantu uang kuliah Diva dan sekolahnya Kevin," ungkap ibunya dari lubuk hati yang dalam.
"Tapi, Nak. Ibu berpesan jangan sampai semua itu membuat Devan jadi sombong. Tetaplah rendah hati dan jangan lupa bersedekah pada orang lain yang membutuhkan."
"Pesan ini juga yang selalu ayahmu sampaikan kepada ibu, selagi ayah kalian masih hidup. Jika saja ayahmu masih hidup, pasti dia akan menyampaikan pesan ini kepada anak-anaknya. Ayah kalian juga pasti bangga melihat anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang baik," ucap ibunya sambil tersenyum menggenang almarhum suaminya, tak terasa ada air menggenang di matanya.
Waktu Devano, Diva, dan Kevin masih kecil, suaminya selalu menanamkan prinsip-prinsip hidup kepada anak-anaknya. Hingga anak-anaknya sekarang tumbuh menjadi pribadi yang baik dan mereka masih tetap merasakan didikan ayahnya walaupun ayahnya sudah tidak ada di sisi mereka.
Seketika ibunya segera menghapus air mata yang hampir terjatuh di pipinya, dia tidak ingin anak-anaknya bersedih ketika melihatnya menangis. Tapi apa daya, air mata tak bisa di bendung lagi. Hingga air mata pun terjun bebas membasahi pipinya.
Seketika Diva langsung memeluk ibunya, bermaksud mencoba menenangkan ibunya yang tengah bersedih. "Ahh ... kok jadi sedih begini sih," kata Diva yang juga ikut menangis.
Devan pun mendekatkan kursinya di dekat ibunya dan memegang tangan ibunya yang sudah tampak keriput di makan usia.
"Kami lebih bangga memiliki ibu, karena ibu kami tak kekurangan kasih sayang. Ibu menjadi sosok ibu yang hebat sekaligus menjadi ayah yang hebat bagi kami. Maafkan kami yang belum bisa membahagiakan ibu," ucap Devano mencium tangan ibunya. Kevin yang duduk di sebelah kanan ibunya ikut memeluk ibunya.
Akhirnya mereka berempat saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain. Tampak Diva menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan ibunya.
"Eh, udah ... Ibu bahagia kok. Jika anak-anak ibu bahagia pasti ibu bahagia," ucap ibunya mengelus kepala anak-anaknya.
"Ah ibu ... memang yang di pikirkannya hanya kebahagiaan orang lain," batin Devano.
Devano, Diva, dan Kevin kembali ke kursi yang tadi mereka tempati.
"Satu lagi Devan pesan ibu. Mulai sekarang kamu harus memikirkan masa depanmu. Maksud ibu, kamu kan tinggal di Jakarta sendirian. Apa belum ada rencana untuk mencari pendamping hidup?" kata ibunya.
Seketika Diva yang tadi menangis tersedu-sedu, menjadi tersenyum mendengar perkataan ibunya. "Ehem ... ehem." Diva berpura-pura batuk sambil menaikkan alisnya ke arah Devano.
"Ibu ... kalau calonnya sih sepertinya sudah ada Bu. Tinggal bang Devan aja yang menyatakan cintanya, biar bulan depan mau di ajak menikah," ucap Diva pada ibunya sambil sesekali tersenyum ke arah Devano.
"Apa benar yah Devan, yang di katakan adikmu Diva?" tanya ibunya yang tampak bahagia.
"Ih sih Diva ... mana ada calon bang Devan. Devan masih belum kepikiran ke sana Bu," jawab Devan.
"Oh ... kirain yang di depan rumah kita calonnya bang Devan. Cocok kok bang Devan, udah cantik, pintar, sayang sama ibu lagi," ucap Diva memanas-manaskan suasana.
"Apa sih Diva, gak jelas. Dia itu sudah abang anggap sebagai sahabat bang Devan," sahut Devano setelah meneguk air dalam gelas.
"Emang Diva lagi bahas siapa bang, kalau abang tahu?" tanya Diva menggoda abangnya.
"Lah yang di depan rumah kita kan Naura!" jawab Devano.
"Oh ... jadi calonnya bang Devan itu Naura yah. Hi ... hi ... hi," ledek Diva. Sementara Kevin hanya tersenyum melihat Diva menggoda Devano.
Devano tidak menggubris godaan dari adiknya Diva, karena dia tahu bahwa semakin dia meladeninya, maka Diva akan semakin menjadi-jadi.
"Bu setuju kan kalau calon bang Devan kak Naura. Kelihatannya mereka cocok," ucap Diva menunggu persetujuan ibunya.
"Astaga ... Diva, ibu lagi makan. Jangan ganggu ibu deh," ujar Devano yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
Diva hanya menjulurkan lidahnya, lalu tersenyum kecut pada abangnya Devano. Diva tetap melanjutkan aksinya bertanya pada ibunya. Bukan tanpa alasan, Diva yakin kalau selama ini Naura berharap kepada Devano.
"Siapa pun wanita pilihan abangmu, ibu akan setuju yang penting orangnya baik dan bertanggung jawab akan tugasnya sebagai seorang istri," jawab ibunya.
"Tuh ... kan bang ... ibu setuju kalau kak Naura jadi calon mas Devan."
"Udah, udah. Jangan bahas itu lagi, pokoknya kalau dah siap nanti abang kenalin sama calon pendamping hidup abang," ujar Devano.
"Gimana kalau besok kita jalan-jalan sebelum saya kembali ke Jakarta. Bang Devan kangen berlibur dengan ibu di tempat alam terbuka," lanjut Devano.
"Hore ... setuju!" sorak Diva dan Kevin hampir bersamaan.
Flashback off
"Ting ... ting." Terdengar suara notifikasi dari ponsel Devano yang seketika membuyarkan lamunannya. Devano langsung mengambil ponsel miliknya yang di simpan di meja.
"Pak Ridwan ngirim pesan WA. Ada apa yah?" tanya Devano dalam hati. Tanpa pikir panjang, Devano segera membuka pesan dari pak Ridwan.
"Malam pak Devano. Sekedar memberitahu pak, bahwa hari senin depan jam satu siang setelah jam istirahat, pak Devan menghadap Presdir di ruangannya." Pesan dari pak Ridwan.
"Pak Stephan barusan ngirim pesan. Jangan terlambat yah pak," tambahnya.
"Baik pak. Terima kasih banyak," balas Devano.
"Ah ... ternyata omongan pak Stephan tadi siang bukan basa basi, tapi serius. Beliau betul-betul meminta saya menghadap hari senin," batin Devano.
"Sebaiknya saya nanya-nanya bang Emir dulu, biasanya di tanya apa saja? Saat menghadap Presdir pertama'kali," pikir Devano.
Tampak Devano beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi sekedar mencuci wajahnya. Setelah itu, dia langsung kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Tiba-tiba Devano jadi teringat dengan perkataan ibunya, saat ibunya menyinggung masa depan untuk mencari pendamping hidup. Hanya nama Naura yang terlintas di pikirannya.
Tapi Devano hanya menganggap Naura sebagai sahabat wanitanya. Benarkah tidak ada perasaan lebih yang di rasakan Devano pada Naura selain menganggapnya sahabat? Hanya Devano dan Tuhan yang tahu.
"Naura wanita yang baik dan pengertian. Naura ... belum saatnya aku datang ke rumah orang tuamu, masih ada mimpi yang saya harus saya wujudkan. Aku ingin membahagiakan ibu dan adik-adikku," batin Devano yang menatap langit-langit kamarnya.
"Lagipula kuliahmu pun belum selesai, saya tidak akan mengganggumu. Aku berharap kamu mau bersabar menungguku," batinnya yang terus berpikir.
Seketika Devano bangun dari tempat tidurnya dan langsung mengusap mukanya dengan kedua tangannya. "Eh ... kenapa Naura? Emang dia jodohku. Entahlah pokoknya siapa pun wanita yang akan menjadi jodohku semoga mau bersabar menunggu yah. Kalau Tuhan sudah memberi waktu yang tepat, pasti akan kita bertemu," ucap Devano bermonolog.
Lalu Devano kembali membaringkan tubuhnya dan langsung menutup matanya. Dia pun tertidur dalam keheningan malam.
...~ Bersambung ~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments
Maya●●●
nanti jodoh debano naura atau anaknya pak stephan ya. hehe
2023-11-30
2
ⁱˡˢ ᵈʸᵈᶻᵘ💻💐
aku bacanya nyicil ya Thor
2023-10-15
2
Aerik_chan
Wejangan dari ibu harus diingat
2023-09-15
1