Senior bagaikan Sahabat

Terlihat di ruangan tersebut ada seorang pria yang sedang sibuk mengotak-atik komputer. Usianya kisaran 27-29 tahun, postur tubuh yang tidak terlalu tinggi dan sepertinya sudah lama bekerja di perusahaan ini.

"Pagi pak Emir," sapa pak Niko pada pria tersebut yang sedang duduk sambil memegang mouse dan terlihat pria tersebut serius memperhatikan gambar di layar monitor.

"Eh, pak Niko bikin kaget aja. Selamat pagi, apa kabar pak Bos?" ucap Emir sambil menoleh ke arah pak Niko dan Devano.

"Sehat Pak," jawab pak Niko. "Kelihatannya pak Emir sangat sibuk hingga kedatangan kami membuat pak Emir kaget," kata pak Niko sambil menepuk pelan pundak Emir.

"Aku cuma pura-pura kaget, biar kelihatan dramatis Pak," kata Emir dengan nada canda. Walaupun sebenarnya dia memang kaget melihat kedatangan pak Niko dan Devano.

"Sepertinya mereka berteman baik," batin Devano yang melihat dua atasannya memiliki hubungan dekat layaknya teman.

"Gimana proposal proyek baru, sudah selesai? Targetnya minggu depan kita sudah turun ke lapangan," kata pak Niko.

"Dikit lagi pak Bos, nih saya sedang kerjakan. Semoga dua hari ke depan proposalnya selesai," jawab Emir.

"Ternyata di sini ngobrol santai juga tidak seperti yang di bayangkan saat ruangan HRD. Di sini mereka berbincang layaknya teman seumuran. Mungkin karena pak Niko bawaannya santai dan humoris," pikir Devano.

"Oh iya, saya sampai lupa. Nih kenalkan partner barumu pak Devano, kayaknya cocok deh sama kamu. Kalian sama-sama single alias jomblo, ha ... ha ... ha ... "kata pak Niko memperkenalkan Devano pada Emir.

"Senang bisa satu tim dengan pak Devano. Perkenalkan nama saya Emir," ucap Emir mengulurkan tangannya, bermaksud ingin berjabat tangan.

"Terima kasih pak Emir menerima saya dengan baik di sini," sahut Devano sambil membalas uluran tangan dari Emir.

"Pak Devan, kenalkan Bos di ruangan ini adalah pak Emir. Jangan macam-macam sama dia, jangan bikin dia emosi, saya aja sampe takut kalau dia sedang emosi," canda pak Niko.

"Tapi jangan sungkan untuk bertanya, kalau perlu siapkan pertanyaan dari rumah, dengan senang hati pak Emir akan jawab," kata pak Niko tersenyum melirik Emir di depannya. Sepertinya pak Niko senang bercanda dengan pak Emir.

"Baik Pak," jawab Devano. "Mohon bimbingannya Pak, semoga saya bisa bekerja sama dengan Bapak dalam menjalankan tugas-tugas di sini," ujar Devano pada Emir.

"Baik pak Devan, mari kita belajar sama-sama dalam memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini. Saya harap pak Devan bisa betah di sini," sahut Niko. "Beruntunglah kita punya bos yang baik hati dan lucu seperti pak Bos kita ini," kata Emir sambil tersenyum menoleh ke arah pak Niko.

"Hanya di divisi ini kita bisa berbincang dengan santai sambil ketawa-ketawa saat kerja. Di ruangan ini di larang stres, kalau ada yang kelihatan stres dan frustasi saat bekerja, yang stres harus traktir karaoke. Ha ... ha ... ha ... bukan begitu pak Bos?" tanya Emir menoleh pak Niko sambil tertawa renyah.

"Yang ada malah makin stres tuh orangnya," sahut pak Niko sambil tertawa.

Devano pun ikut tertawa mendengar lelucon dari Emir. Sepertinya Devano langsung akrab dengan kedua atasannya, sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 pertanda jam istirahat.

Pak Niko sudah pergi meninggalkan ruangan kerja yang di tempati Devano dan Emir dan kembali ke ruangan kerjanya. Terlihat Devano sudah menyimpan tasnya di lemari dekat meja kerjanya.

Sebenarnya di dalam ruangan tersebut, bukan hanya ada Devano dan Emir. Ada dua orang lagi staf yang bekerja di ruangan itu, mereka sedang tugas kontrol lapangan.

Devano sudah duduk di meja kerjanya setelah menyimpan tasnya di lemari. Terlihat Emir menghampiri Devano yang kelihatannya sedang sibuk membaca laporan, mungkin Devano sedang membaca ulang draft kontrak kerjanya.

"Bro, kita makan siang dulu yuk. Gue udah lapar banget nih, sudah waktunya istirahat. Lu mau bareng gak ke kantin?" ajak Emir yang berdiri di dekat meja kerja Devano.

"Eh, apa saya salah dengar? Pak Emir ngomongnya lu gue," batin Devano.

"Boleh Pak, kita bareng saja. Saya juga sudah mulai lapar," jawab Devano.

"Bro manggilnya gak usah formal gitulah, sakit nih telinga di panggil "Bapak" terus-terusan. Serasa udah paling tua, padahal masih muda yah kan. He ... he ... he," kata Emir. "Panggil nama aja lebih baik, biar gak tua-tua banget."

"Kalau manggil nama langsung kayaknya gak sopan, saya panggil Bang Emir aja yah. Bang Emir kan senior saya di sini," usul Devano.

"Em ... boleh, boleh. Tapi kalau di depan pak Ridwan atau pas ada perkumpulan alias rapat, lu harus manggil gue pak Emir yah. Nanti saya yang kena."

"Siap Bang," jawab Devano.

Lalu mereka berdua berjalan menuju lift. Tampak beberapa karyawan yang lain juga keluar dari ruangan menuju lift. Tidak lupa mereka saling mengajak satu sama lain untuk menjaga kekompakan.

"Wah, para pegawai di sini menganggap satu sama lain seperti keluarga mereka sendiri," batin Devano yang berdecak kagum.

Terlihat para pegawai berbondong-bondong berjalan menuju lift. Rupanya waktu istirahat benar-benar di manfaatkan untuk keperluan pribadi mereka terutama mengisi perut.

Devano dan Emir sudah berada di dalam lift. Di dalam lift tersebut terisi 10 orang. Seorang karyawan perempuan yang berada di samping Emir bertanya padanya, "Partner baru yah Pak Emir?"

"Iya nih, kenalkan partner baru gue. Kami kelihatan mirip kan?" jawab Emir dengan pedenya.

"Iya, mirip kok dengan pak Emir," jawab perempuan itu sambil terus melirik ke arah Devano.

Seketika para karyawan perempuan lainnya melihat ke arah Devano. Melihat dirinya menjadi pusat perhatian, Devano hanya tersenyum membalas tatapan demi tatapan yang tertuju padanya.

"Hmm, ganteng nih ... senyumannya manis banget. Udah kayak artis-artis Korea aja." Itulah yang ada di pikiran 6 karyawan perempuan di dalam lift tersebut.

Pintu lift pun terbuka lebar, lalu mereka pun keluar dari lift di lantai 7 menuju kantin.

"Wah ... kantinnya ternyata besar juga yah dan kelihatan ramai sekali," batin Devano memperhatikan suasana kantin yang ramai di penuhi oleh para pegawai yang bekerja di perusahaan ini.

Kantin di sini mirip food court di mall, lebih dari 20 stand yang menyajikan aneka makanan dan minuman yang tentu saja harus mengikuti standar kebersihan yang di tentukan oleh perusahaan.

Terlihat beraneka ragam makanan dan minuman tersedia lengkap di kantin tersebut. Jadi karyawan yang merasa lapar dan haus tidak perlu keluar kantor untuk sekedar mengisi perut mereka yang keroncongan.

"Bang, toilet di mana yah?" tanya Devano yang ingin buang air kecil setelah berdecak kagum memperhatikan suasana kantin.

"Oh, toiletnya di sana paling ujung sebelah kanan," kata Emir memberi petunjuk. "Gue langsung pesan makan yah. Di tempat sana, gue tunggu di situ!" tambah Emir sambil menunjuk tempat.

"Oke Bang, selesai dari toilet saya langsung nyusul. Terima kasih yah Bang." Devano langsung bergegas pergi menuju toilet.

"Gue kagum banget sama tuh anak, etika dan moralnya masih terjaga. Orang tuanya pasti mendidiknya dengan baik," ucap Emir bermonolog sambil memandang punggung Devano yang perlahan menjauh.

Setelah hampir lima menit, Devano langsung kembali menuju kantin. Suasana kantin terlihat tambah ramai oleh karyawan yang bekerja di perusahaan ini.

Bahkan ada beberapa karyawan yang lain masih mencari-cari tempat duduk. Tak terkecuali dengan Devano yang juga sedang mencari-cari seniornya Emir.

"Tadi katanya di tempat sana, tapi gak kelihatan. Apa sudah selesai makanannya yah? Apa saya terlalu lama di toilet?" Pertanyaan yang melintas di pikiran Devano.

Devano pun kembali mencari keberadaan seniornya Emir dan akhirnya menemukannya. "Oh itu dia, lagi ngobrol sama perempuan." Devano langsung berjalan ke arah Emir.

Entah siapa perempuan cantik yang sedang bersama Emir, Devano tidak tahu. Perempuan berkulit putih dengan mata yang indah, membuat siapa saja pria yang melihatnya menjadi tertarik. Namun, pandangan Devano hanya berfokus pada seniornya Emir.

...~ Bersambung ~...

Terpopuler

Comments

Maya●●●

Maya●●●

malah enak ya. jadi nggak tertekan

2023-11-10

2

Maya●●●

Maya●●●

jojoba lah. jomblo2 bahagia

2023-11-10

1

ⁱˡˢ ᵈʸᵈᶻᵘ💻💐

ⁱˡˢ ᵈʸᵈᶻᵘ💻💐

ah masa sih? jadi penasaran sama senyumannya

2023-10-11

1

lihat semua
Episodes
1 Menuju Kantor
2 Ruangan Kerja Baru
3 Senior bagaikan Sahabat
4 Menikah?
5 Keinginan Ibu
6 Wanita yang Mirip
7 Berkhayal
8 Jalan Bareng
9 Presdir
10 Calon Pendamping Hidup?
11 Obrolan Devano dan Naura
12 Ruangan Presdir
13 Curhatan Presdir
14 Tidak Terduga
15 Putri Presdir
16 Obrolan Devano dan Luna
17 Ajakan Renatta
18 Obrolan Devano dan Renatta
19 Jawaban Devano
20 Berita Bahagia
21 Pulang Kampung
22 Kehangatan Keluarga
23 Mimpi
24 Gelisah
25 Ada dengan Ibu?
26 Rumah Sakit
27 Saling Menguatkan
28 Merasa Tenang
29 Membaik
30 Kembali Memburuk
31 Ikhlas
32 Rindu Ibu
33 Jabatan Baru
34 Makan siang bersama Keluarga Presdir
35 Permintaan pertama Stephanus
36 Permintaan kedua Stephanus
37 Pilihan yang Sulit
38 Acara Syukuran
39 Jalan-jalan
40 Kembali Bertemu
41 Kecemasan Diva
42 Pilihan Devano
43 Jawaban Devano
44 Reaksi Keisha
45 Memberi Pemahaman
46 Keisha Kabur?
47 Keberadaan Keisha
48 Kekhawatiran Stephanus
49 Mencari Keisha
50 Membatalkan Perjodohan
51 Melihat Naura
52 Bersedia Menikah
53 Ibunya Keisha Sadar
54 Obrolan Keisha dengan Ibunya
55 Rencana Pernikahan
56 Acara Pernikahan
57 Cincin Pernikahan
58 Akrab
59 Pelukan
60 Siapa yang Telpon?
61 Saling Diam
62 Rasa Benci
63 Tersadar
64 Belajar Melayani Suami
65 Pisah Rumah
66 Pisah Kamar
67 Memberi Pemahaman
68 Kehidupan Terbalik
69 Kedatangan Seseorang
70 Merahasiakan
71 Ada Apa dengan Keisha?
72 Bertukar Pesan
73 Pemandangan yang Baru
74 Tugas Dadakan
75 Bantuan Devano
76 Kemana Keisha?
77 Mau Sampai Kapan?
78 OTW ke Surabaya
79 Dia adalah Istriku
80 Berjanji
81 Jatuh dalam Pelukan
82 Tantangan
83 Lagu untuk Seseorang
84 Perihal Naura
85 Minta di Temanin
86 Merasa Nyaman dalam Pelukan
87 Surat Cinta
88 Berkunjung ke Sebuah Tempat
89 Terharu
90 Suami Idaman
91 Kejutan
92 Pulang terlambat
93 Minta Maaf
94 Salah Sangka
95 Kecemburuan Naura
96 Kecemburuan Keisha
97 Putus
98 Kedekatan Naura dan Luna
99 Rindu
100 Video Call
101 Kisah yang Terulang
102 Perubahan Sikap Devano
103 Acara Gathering
104 Belum Saatnya
105 Lomba Kreasi Seni
106 Tunangan?
107 Cinta Segitiga
108 Di Pijitin?
109 Devano Sakit?
110 Perubahan Sikap Keisha
111 Perasaan Naura
112 Modus
113 Pertemuan yang tak diharapkan
114 Takdir Jodoh
115 Patah Hati
116 Ingin Bertemu
117 Bertemu di kafe
118 ID Card siapa?
119 Cemburu
120 Sahabat terbaik
121 Keisha Berulah
122 Marah
123 Butik
124 Kakaknya Tiara
125 Nasihat
126 Video call
127 Konveksi
128 Berbagi Pengalaman berumah tangga
129 Malu
130 Dia Suami Aku
131 Pulang
132 Nginap di Hotel
133 Siapkah Keisha?
134 Berusaha Bersabar
135 Masalah datang
136 Kedatangan Nuelman
137 Kekecewaan Devano
138 Pulang ke Rumah
139 Maafkan aku
140 Ada Apa dengan Keisha?
141 Rumah Sakit
142 Akur
143 Istri yang Sesungguhnya
144 Malam yang Berharga
145 Kesakitan
146 Ketagihan
147 Rindu
148 Devano ketemu Nuelman?
149 Bertemu dengan Nuelman
150 Rencana apa lagi?
151 Kembali ke Rumah
152 Lega
153 Mandi Bareng
154 Pertanyaan Keisha
155 Siapa yang Datang?
156 Rencana Resepsi Pernikahan
157 Cucu?
Episodes

Updated 157 Episodes

1
Menuju Kantor
2
Ruangan Kerja Baru
3
Senior bagaikan Sahabat
4
Menikah?
5
Keinginan Ibu
6
Wanita yang Mirip
7
Berkhayal
8
Jalan Bareng
9
Presdir
10
Calon Pendamping Hidup?
11
Obrolan Devano dan Naura
12
Ruangan Presdir
13
Curhatan Presdir
14
Tidak Terduga
15
Putri Presdir
16
Obrolan Devano dan Luna
17
Ajakan Renatta
18
Obrolan Devano dan Renatta
19
Jawaban Devano
20
Berita Bahagia
21
Pulang Kampung
22
Kehangatan Keluarga
23
Mimpi
24
Gelisah
25
Ada dengan Ibu?
26
Rumah Sakit
27
Saling Menguatkan
28
Merasa Tenang
29
Membaik
30
Kembali Memburuk
31
Ikhlas
32
Rindu Ibu
33
Jabatan Baru
34
Makan siang bersama Keluarga Presdir
35
Permintaan pertama Stephanus
36
Permintaan kedua Stephanus
37
Pilihan yang Sulit
38
Acara Syukuran
39
Jalan-jalan
40
Kembali Bertemu
41
Kecemasan Diva
42
Pilihan Devano
43
Jawaban Devano
44
Reaksi Keisha
45
Memberi Pemahaman
46
Keisha Kabur?
47
Keberadaan Keisha
48
Kekhawatiran Stephanus
49
Mencari Keisha
50
Membatalkan Perjodohan
51
Melihat Naura
52
Bersedia Menikah
53
Ibunya Keisha Sadar
54
Obrolan Keisha dengan Ibunya
55
Rencana Pernikahan
56
Acara Pernikahan
57
Cincin Pernikahan
58
Akrab
59
Pelukan
60
Siapa yang Telpon?
61
Saling Diam
62
Rasa Benci
63
Tersadar
64
Belajar Melayani Suami
65
Pisah Rumah
66
Pisah Kamar
67
Memberi Pemahaman
68
Kehidupan Terbalik
69
Kedatangan Seseorang
70
Merahasiakan
71
Ada Apa dengan Keisha?
72
Bertukar Pesan
73
Pemandangan yang Baru
74
Tugas Dadakan
75
Bantuan Devano
76
Kemana Keisha?
77
Mau Sampai Kapan?
78
OTW ke Surabaya
79
Dia adalah Istriku
80
Berjanji
81
Jatuh dalam Pelukan
82
Tantangan
83
Lagu untuk Seseorang
84
Perihal Naura
85
Minta di Temanin
86
Merasa Nyaman dalam Pelukan
87
Surat Cinta
88
Berkunjung ke Sebuah Tempat
89
Terharu
90
Suami Idaman
91
Kejutan
92
Pulang terlambat
93
Minta Maaf
94
Salah Sangka
95
Kecemburuan Naura
96
Kecemburuan Keisha
97
Putus
98
Kedekatan Naura dan Luna
99
Rindu
100
Video Call
101
Kisah yang Terulang
102
Perubahan Sikap Devano
103
Acara Gathering
104
Belum Saatnya
105
Lomba Kreasi Seni
106
Tunangan?
107
Cinta Segitiga
108
Di Pijitin?
109
Devano Sakit?
110
Perubahan Sikap Keisha
111
Perasaan Naura
112
Modus
113
Pertemuan yang tak diharapkan
114
Takdir Jodoh
115
Patah Hati
116
Ingin Bertemu
117
Bertemu di kafe
118
ID Card siapa?
119
Cemburu
120
Sahabat terbaik
121
Keisha Berulah
122
Marah
123
Butik
124
Kakaknya Tiara
125
Nasihat
126
Video call
127
Konveksi
128
Berbagi Pengalaman berumah tangga
129
Malu
130
Dia Suami Aku
131
Pulang
132
Nginap di Hotel
133
Siapkah Keisha?
134
Berusaha Bersabar
135
Masalah datang
136
Kedatangan Nuelman
137
Kekecewaan Devano
138
Pulang ke Rumah
139
Maafkan aku
140
Ada Apa dengan Keisha?
141
Rumah Sakit
142
Akur
143
Istri yang Sesungguhnya
144
Malam yang Berharga
145
Kesakitan
146
Ketagihan
147
Rindu
148
Devano ketemu Nuelman?
149
Bertemu dengan Nuelman
150
Rencana apa lagi?
151
Kembali ke Rumah
152
Lega
153
Mandi Bareng
154
Pertanyaan Keisha
155
Siapa yang Datang?
156
Rencana Resepsi Pernikahan
157
Cucu?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!