Kamar Sang Raja

Aku kembali mencerna apa yang baru saja kudengar diucapkan oleh Evander.

"A-apa maksudmu? Ikut ke kamarmu?" tanyaku dengan nada sinis.

Evander terlihat tersinggung oleh pertanyaanku yang bernada sinis. Aku memang sengaja tidak menyembunyikan kejengkelanku terhadapnya. Apa-apaan ini? Kenapa dia dengan begitu mudahnya mengajakku ke kamarnya? Apa dia pikir aku adalah seorang gadis murahan? Dasar bedebah sialan!

"Aku tidak akan meu melakukannya!" jeritku dan segera membalik badanku untuk berlari meninggalkannya.

Aku berlari tanpa menoleh ke belakang. Aku akan pergi dari tempat ini. Aku akan mencari sendiri keberadaan pintu rahasia itu. Aku tidak akan sudi lagi tinggal lebih lama di tempat ini dengan seorang pria yang pikirannya menjijikkan seperti Evander, pikirku dalam hati.

Aku menyusun rencana untuk menemukan pintu rahasia itu. Pertama, mungkin aku harus mengarah ke hutan terlebih dahulu. Ya, aku melangkahkan kakiku dengan mantab. Aku begitu optimis bahwa aku pasti bisa menemukannya tanpa Evander. Aku harus pulang sekarang juga. Aku harus segera meninggalkan tempat ini.

Tiba-tiba langkahku terhenti karena aku menabrak dada seorang pria yang tiba-tiba muncul di hadapanku menghalangi jalanku. Aku nyaris saja terhuyung dan jatuh ke belakang saking kagetnya.

Pandanganku mengarah ke atas untuk melihat pria yang aku yakin aku mengenalnya dari pakaian yang sedang ia kenakan saat ini. Aku melihat ke atas. Ya, benar saja, pria ini adaah Evander. Aku tidak herang dengan kekuatan supernya. Ia bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya hanya dengan kedipan mata.

Hah, aku menyadari kebodohanku barusan. Mana mungkin aku bisa kebur dari pria seperti ini? Sedangkan aku tidak memiliki kekuatan apa-apa. Aku mendengus kesal.

Aku membalas tatapan Evander yang saat itu sedang menatapku dengan pandangan jengkel yang bercampur geli. Aku bahkan melihat bibirnya terangkat di sudut untuk membentuk sebuah cengiran yang mungkin sedang ditahannya saat itu.

"Kau mau kemana?" tanyanya dengan senyum yang ditahan.

Aku memalingkan wajahku dan tidak menjawab. Aku melipat kedua tanganku di depan dada untuk melindungi diriku.

"Dasar gadis nakal!" ujarnya dan menjewer telingaku.

"Au...!" seruku kaget karena dia menjewer telinga kiriku. Aku masih mengernyit kesakitan ketika aku menyentuh telingaku di tempat dia menjewerku beberapa saat yang lalu.

"Kenapa kau mencubit telingaku?" tanyaku dengan nada marah yang sengaja tidak aku tutupi.

"Hah? Kau bertanya kenapa?" tanyanya seraya memajukan wajahnya dan mendekatkannya ke arahku.

Aku sontak menjauhkan wajahku dari wajahnya dan mengerucutkan bibirku dengan jengkel.

"Kau pikir aku mengajakmu ke kamarku untuk apa? Dasar gadis bodoh!" Ia menghela nafas dengan kesal.

Kenapa saat ini justru dia menjadi kesal terhadapku? Dasar pria aneh, batinku. Aku menggigit bibirku karena aku tidak tahu harus berkata apa.

"Hei, dengar! Aku mengajakmu untuk tinggal di kamarku karena di sanalah satu-satunya tempat teraman di dalam istana untuk saat ini. Kau tahu kan, saat ini kondisi di istana masih tidak aman. Aku ingin kau berada di tempat yang aman. Itu sebabnya aku mengajakmu ke kamarku. Jangan berpikir macam-macam, Nona!" dengusnya di akhir kalimat.

Aku merasakan pipiku menghangat karena malu. Sial! Bagaimana mungkin aku tadi berpikir yang tidak-tidak? Ah, aku benar-benar malu. Mungkin saat ini wajahku memerah seperti udang rebus. Aku menundukkan wajahku karena malu. Aku tidak tahu harus berkata apa.

"Lagi pula, kau pikir kau bisa keluar dari tempat ini tanpa bantuanku?" ia tertawa.

Aku masih menunduk dan tidak menjawab. Saat ini aku terjebak. Aku terjebak di negeri dongeng ini. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengikuti Evander. Toh, barusan dia bilang bahwa dia ingin aku berada di tempat yang aman. Aku menyadari bahwa saat ini, situasi di istana masih genting sejak kejadian di lembah naga.

"Mmm... Maafkan aku," bisikku sambil tertunduk lesu.

"Tidak perlu meminta maaf," Evander mengusap lembut bahuku, "Aku mengerti kekhawatiranmu tadi." Ia menambahkan sambil tertawa.

Aku menengadah dan menatapnya. Ku rasa untuk saat ini, satu-satunya pilihan adalah mempercayainya.

"Baiklah, aku ikut denganmu."

ia mengangguk dan mengulurkan tangan kanannya ke arahku seperti bisanya saat ia hendak berjalan dan menuntunku. Aku menyambut uluran tangannya dan kami berdua melangkah menuju istana.

"Bagaimana kau bisa berpindah tempat secepat itu?" tanyaku dan menoleh ke arahnya dengan tatapan penasaran.

"Ya, itu adalah salah satu kekuatanku," jawabnya dan tersenyum.

"Apakah kau masih memiliki kekuatan super yang lain?"

Dia tertawa mendengar pertanyaanku.

"Kekuatan super? Kau terlalu banyak menonton film, Nona." Dia kembali tertawa.

"Baiklah, kurasa setelah ini aku akan mengetahui jauh lebih banyak tentangmu." ujarku.

Dia menatapku tepat di mata ketika aku mengatakan kalimat itu.

"Cathleen,"

Aku memalingkan wajahku ketika dia menyebut namaku dengan cara yang seperti itu. Aku menelan ludah dengan susah payah seolah tenggorokanku tercekat. Aku selalu merasa de javu ketika dia menyebut namaku dengan cara yang seperti itu.

Kami berjalan tanpa bercerita. Kami sudah sampai di halaman istana. Ternyata aku berlari cukup jauh tadi. Halaman istana tampak sepi. Aku memandang berkeliling tapi tidak melihat siapapun.

"Apa yang dilakukan Azelyn saat ini?" tanyaku ketika aku kembali teringat pada naga emas itu. Mengingatnya membuatku seolah aku merindukan binatang peliharaanku. Apakah saat ini kami sudah terikat sedalam itu? Entahlah.

"Dia pasti sedang berpatroli di bagian belakang istana." Dia menjawab singkat tanpa menoleh ke arahku.

Kami berdua memasuki istana dan aku kembali menemukan aula luas yang menyambut ku seperti saat pertama kalinya aku datang ke tempat ini. Namun saat ini aku tidak melihat keberadaan Baltazar.

"Apakah Baltazar adalah pelayan pribadimu?" tanyaku.

"Mmmmm.... Lebih dari itu." jawabnya.

"Maksudmu?"

"Nanti kau akan tahu dengan sendirinya."

Lagi-lagi dia menjawab pertanyaanku seperti teka-teki. Jawaban yang seolah mengandung misteri. Mungkin seperti inilah kebiasaan para elf, pikirku.

Ia menuntunku melewati lorong yang berseberangan dengan lorong yang mengarah ke ruang makan tempat aku ke sana beberapa saat yang lalu. Kali ini lorong yang kami tuju pastilah mengarah ke kamar pribadi Evander. Aku berjalan dan mengarahkan pandanganku ke dinding di sepanjang lorong.

Lorong ini juga sama seperti lorong yang mengarah ke ruang makan. Di sini terdapat banyak sekali hiasan dinding dan juga ornamen-ornamen yang tampak mewah dan indah. Aku begitu takjub dengan keindahan tepat ini.

Setelah berjalan selama beberapa menit. Aku menjumpai sepasang pintu emas berukurang besar yang nampak menjulang di hadapanku. Di atas pintu itu terdapat pahatan dari emas yang sepertinya merupakan tulisan para elf yang aku tidak tahu artinya.

"Apa arti tulisan itu?" Aku menunjuk ke atas, ke tempat pahatan yang nampak berkilauan itu.

"Kau benar-benar seperti anak kecil dengan rasa ingin tahu yang luar biasa, Nona." Dia mengangkat sebelah alisnya ke arahku.

"Tentu saja, ini tempat yang benar-benar asing bagiku," dengusku.

"Nanti kau akan tahu arti tulisan itu. Sekarang, masuklah bersamaku." Dia mengarahkan satu telapak tangannya menghadap ke arah pintu. Kemudian, bummm! Pintu itu membuka dengan sendirinya ke dalam dan menampakkan sebuah ruangan luas yang lebih pantas disebut dengan aula daripada kamar pribadi.

Ruangan itu berlantai marmer yang seketika seperti mengalirkan kesejukan ke arahku. Dinding-dindingnya berlapis emas seperti semua tempat di istana ini. Apakah elf memang sekaya ini? Mungkin Mereka tidak pernah kehabisan stok emas, pikirku konyol.

"Masuklah!" Evander memberikan isyarat padaku dengan tangannya agar aku melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

Aku melangkahkan kaki ke dalam dan Evander berjalan tepat di sampingku. Ketika kami sudah berada di dalam ruangan itu, tiba-tiba aku mendengar bunyi "bum" pelan dari belakangku ketika pintu itu tertutup dengan sendirinya.

Aku menoleh ke belakang dan menatap Evander dengan pandangan penuh tanya.

"Pintu itu hanya merespon pikiranku. Tidak ada orang lain yang bisa masuk ke ruangan ini tanpa seizinku." Ia menjawab rasa penasaranku.

Aku mengangguk takjub. Aku mengedarkan pandanganku berkeliling. Mungkin satu ruangan ini ukurannya lebih besar daripada rumahku di kota. Ada beberapa pilar besar yang membuat ruangan ini tampak semakin megah.

"Ini kamarmu?" tanyaku tidak percaya.

Evander mengangguk.

"Ini jauh lebih besar dari pada seluruh bangunan rumahku," bisikku takjub.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!