Lembah Sarang Naga

Aku merasa takut dengan apa yang aku rasakan saat ini. Aku mengingatkan diriku sendiri bahwa aku bersikap baik pada Evander agar aku bisa menemukan pintu rahasia untuk kembali ke duniaku sendiri. Aku tidak boleh berpikir selain itu. Aku harus fokus. Aku menyingkirkan semua pikiran tentang Evander dari benakku.

Aku menoleh ke samping dan terkesima dengan pemandangan air terjun yang sempat aku lihat ketika pertama kali aku datang kemari. Air terjun itu begitu tinggi seolah melukis tebing tinggi yang ada di sebelah kanan kami. Riak airnya memantulkan cahaya matahari yang saat itu sedang bersinar terang.

Azelyn terbang semakin mendekat ke arah air terjun itu. Saat ini aku bisa merasakan tetesan uap air yang berasal dari percikan air terjun itu. Aku tertawa girang saat merasakan sensasi terbang yang laur biasa. Ini benar-benar pengalaman yang seru.

"Kau menyukainya?" tanya Evander sedikit berteriak untuk mengalahkan suara deburan air terjun yang jatuh.

"Tentu saja!" balasku dengan antusias.

"Aku akan membawamu ke tempat yang paling aku sukai," suara Azelyn terdengar di dalam kepalaku.

Aku menoleh ke belakang dan tatapanku bertemu dengan tatapan Evander.

"Nanti kau akan tahu," bisiknya.

Aku kembali menatap ke depan. Kali ini Azelyn terbang menjauhi air terjun dan mengarah ke arah barat laut. Aku tidak tahu dia akan membawa kami kemana. Mungkin ke suatu tempat yang dia sebut sebagai tempat favoritnya. Kurasa aku akan segera mengetahuinya.

Air terjun itu sudah tampak semakin menjauh. Kami mengarah ke arah sebuah lembah yang berada di antara dua tebing yang dipenuhi oleh pepohonan. Lembah itu terasa begitu tenang dan hijau. Azelyn terbang semakin pelan dan rendah. Mungkin inilah tempat yang dia maksud tadi. Kenapa ini menjadi tempat favoritnya? Aku juga tidak tahu. Bagiku ini terlihat seperti lembah biasa saja.

Kami akhirnya mendarat dengan suara gedebuk keras suara kepakan sayap Azelyn. Evander melepaskan kedua tangannya dari pinggangku dan dia bersiap untuk turun.

"Ayo," ajaknya dan mengulurkan tangan ke arahku.

"Aku bisa turun sendiri," balasku.

Dia mengangguk dan turun dengan lincah. Aku melepaskan sabuk pengaman yang terpasang di pahaku dan hendak turun dari pelana. Aku turun dengan perlahan dari tubuh raksasa Azelyn.

"Sepertinya kau jago memanjat pohon," gurau Evander.

Aku memutar kedua bola mataku ke arahnya. Ia tertawa melihat wajahku.

"Apakah ini yang dimaksud tempat favoritnya?" Aku bertanya sambil mengerling ke arah Azelyn.

"Ini adalah tempat tinggalnya," jawabnya.

Aku mengedarkan pandanganku berkeliling dan tidak melihat ada hal yang istimewa di sini. Mungkin naga memiliki selera yang berbeda dengan ras lainnya, batinku.

Azelyn mengeluarkan asap dari cuping hidungnya. Ia menatap tepat ke arahku. Tatapannya terasa begitu intens hingga aku merasa tubuhku menjadi kikuk.

"Ayo, ikutlah denganku," suaranya terdengar di kepalaku.

Azelyn berjalan dengan pelan dan kami berdua mengikutinya di belakangnya.

"Sudah berapa lama kau memelihara naga?" tanyaku penasaran.

"Jauh lebih lama dari yang bisa kau bayangkan," cengirnya.

Jawabannya membuatku bingung.

"Bagi kami, naga adalah hewan yang istimewa." Dia melanjutkan.

Aku mengangguk seolah mengerti apa yang yang dia katakan.

"Naga memiliki kekuatan sihir yang sebanding dengan kekuatan sihir kaum elf." Ia menjelaskannya seperti seorang pemandu wisata.

Aku menatapnya dan lagi-lagi menyadari bahwa aku saat ini aku sedang berjalan bersama raja kaum elf dan naga kesayangannya. Entah apa lagi yang akan aku hadapi setelah ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!