Hutan Misterius

Keesokan harinya, aku berusaha untuk tetap beraktivitas normal seperti biasanya. Aku berusaha untuk melupakan mimpiku semalam. Aku juga berusaha untuk mengenyahkan ingatanku akan bisikan yang terasa terlalu nyata di telingaku.

Di kota kecil ini, aku tinggal sendirian. Ayahku telah meninggal sejak aku masih sangat kecil. Aku bahkan tidak bisa mengingat wajahnya dengan jelas saat ini. ku tidak mengerti mengapa ibuku tidak memiliki satupun foto ayahku. Seharusnya pasangan akan selalu menyimpan foto satu sama lain bukan? Ah, sudahlah. Mungkin memang ibuku tipikal wanita yang tidak terlalu menyukai hal-hal klise semacam itu.

Sementara ibuku, dia tinggal bersama suami barunya di belahan bumi yang lain. Aku dan dia bukan hanya terpisah beberapa kota, melainkan kami berjarak antar benua. Ibuku menikah dengan seorang pria asal turki yang ia temuai ketika ia sedang berlibur di sebuah pantai beberapa tahun lalu.

Bukannya ia sengaja meninggalkan ku di kota kecil ini, melainkan aku memang tidak ingin terus-menerus tinggal dan menjadi beban baginya. Hingga aku memutuskan untuk hidup mandiri dengan bekerja sebagai penjaga toko di kota ini. Aku harap ibuku bisa hidup bahagia dengan suaminya.

Aku tidak memiliki banyak teman saat ini. Aku tipikal orang yang lebih menyukai kesendirian. Mungkin hal ini terjadi karena aku memang sudah terbiasa hidup mandiri sejak lama. Bahkan selama ini pun aku tidak pernah memiliki teman dekat untuk berbagi cerita. Toh, hidupku tidak memiliki hal-hal yang menyenangkan untuk diceritakan.

Aku menghabiskan sarapanku pagi ini yang hanya berisi omelet telur dan segelas jus jeruk. Aku meraih tasku dan bersiap untuk berangkat bekerja. Aku meninggalkan rumah dan mengendarai mobil tuaku yang belakangan ini sering mogok.

Aku melaju meninggalkan rumah dan menuju ke arah toko tempatku bekerja. Dalam perjalanan menuju toko, aku melewati sebuah pinggiran hutan yang jujur saja selalu membuat bulu kudukku merinding ketika aku melintasinya. Aku selalu berharap mobil tuaku tidak akan pernah mogok di tempat seperti ini.

Selama ini aku sering mendengar tentang kisah-kisah yang beredar di masyarakat bahwa hutan ini adalah hutan yang misterius. Beberapa tahun lalu ada dua orang remaja yang mencoba menjelajah ke dalam hutan itu namun mereka berdua tidak pernah kembali lagi ke sini. Tim penyelamat melakukan pencarian selama berhari-hari namun tetap saja tidak membuahkan hasil.

Aku mencoba menepis ingatan tentang hal itu. Beberapa menit lagi aku akan sampai ke tempat kerjaku. Aku menambah kecepatan mobilku. Tiba-tiba mobilku berhenti dan mogok. Sial! Hal yang tak kuharapkan akhirnya terjadi.

Aku mencoba menghidupkan mesinnya beberapa kali namun nihil. Aku memukulkan tinjuku pada setir.

"Dasar mobil sialan!" umpatku.

Aku menjulurkan kepalaku ke luar jendela mobil dan berharap akan ada siapapun yang melewati jalan ini untuk menolongku. Namun tampaknya pagi ini jalanan begitu sepi. Aku menghela nafas dengan kesal. Aku melirik jam tangan di pergelangan tanganku. Aku pasti akan terlambat, batinku.

Aku melangkah keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan kencang hingga mobil ku seolah akan terpental ke samping. Aku menendang ban mobilku untuk mengalihkan emosiku yang mulai ingin meledak keluar.

Aku melihat sebuah mobil sedan melaju kencang ke arahku. Aku mencoba melambaikan tanganku ke arah mobil itu dan berharap siapapun orang yang mengendarainya akan menolongku. Mobil itu melewati ku tanpa memelankan lajunya sedikitpun. Huft.

Aku menyandarkan tubuhku ke bagian samping mobilku. Sudah beberapa menit berlalu namun tidak ada kendaraan lagi yang melewati jalan ini. Ini benar-benar kota kecil yang sepi. Aku benar-benar sial!

Aku menoleh ke belakang dan melihat hutan di sana. Hutan itu nampak begitu hijau. Sinar matahari bersinar di antara celah-celah pepohonan. Aku kembali teringat akan kisah menghilangnya dua remaja beberapa tahun yang lalu. Aku segera memalingkan kepalaku dari hutan itu. Aku menunduk lesu.

Tiba-tiba aku merasakan hembusan angin dingin yang berasal dari hutan di belakangku.

"Ini hanya angin yang berasal dari pepohonan!" Aku meyakinkan diriku sendiri.

Namun anehnya, angin ini justru membuat bulu di belakang leherku berdiri. Aku menelan ludah dengan susah payah. Aku mencoba untuk mengambil nafas dalam dan menghembuskannya agar bisa menenangkan diriku yang sepertinya sudah mulai gelisah.

Aku bernyanyi pelan untuk mengalihkan kegelisahanku. Namun sepertinya nyanyianku tidak mampu meredakan rasa gelisah ku yang semakin meningkat. Aku menghentikan nyanyianku dan kembali merasakan bulu-bulu halus di leherku merinding.

"Cathleen, datanglah!"

Aku terlonjak kaget dan mataku membelalak ketika aku mendengar suara bisikan itu. Aku merasa tenggorokanku tercekat. Aku menoleh ke arah hutan di belakangku. Hening. Hanya dedaunan yang bergerak tertiup angin. Sudahlah, ini hanya ilusiku saja!

Aku kembali menyandarkan tubuhku pada mobilku. Aku menunggu kendaraan yang akan lewat dan mungkin aku akan menumpang sampai ke toko.

"Sayangku,"

Aku memekik dan menutup kedua telingaku dengan tanganku untuk meredam suara bisikan itu. Tidak! Tidak! Aku memejamkan mataku dan menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Tidak mungkin! Kenapa hutan itu seperti memanggilku? Itu adalah suara pria yang kudengar dalam mimpiku.

Aku meringkuk sambil memejamkan mataku. Kedua tanganku masih tetap menutup telingaku. Aku harus pergi dari tempat ini!

"Hei!" Aku mendengar suara samar-samar seseorang memanggilku.

"Hei, Cathleen! Mobilmu mogok lagi?"

Aku mencoba membuka mataku dan mendapati Aaron sedang melangkah keluar dari mobilnya dan berjalan ke arahku.

"Kenapa kau meringkuk seperti bayi ketakutan begitu?" Ia tertawa seraya mengulurkan sebelah tangannya ke arahku.

Aaron adalah teman kerjaku. Ia seorang pria muda dengan potongan rambut pendek seperti tentara. Dulu dia mengaku ingin menjadi tentara, namun karena ia tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolahnya, akhirnya ia memutuskan untuk bekerja. Dia adalah satu-satunya teman yang bisa dibilang "akrab" denganku di kota ini.

"Yeah, si rongsokan tua ini mulai berulah lagi," sungutku seraya memukul kap mobil tuaku.

"Kalau begitu ayo kau berangkat bersamaku saja," ujarnya mengerling ke arah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.

Aku menangguk dan berjalan bersamanya ke arah mobilnya. Kami berdua sudah berada di dalam mobilnya. Ia memutar lagu kesukaanku. Aku bersenandung mengikuti irama lagu. Ia mengemudikan mobilnya melaju ke arah tempat kami bekerja.

Suara bisikan itu terdengar lagi di telingaku. Sontak aku menoleh ke belakang dengan mata melotot ke arah hutan.

"Hei, sudahlah! Tidak akan ada seorangpun yang mencuri mobilmu!" Aaron mengucapkannya dengan tawa renyah yang membuatku jengkel.

Aku mendengus tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bisikan itu...

"Hei, kenapa kau menjadi begitu pendiam?" tanyanya.

"Mungkin karena aku sedang jengkel pada si rongsokan tua itu," tukasku.

Sebenarnya aku masih memikirkan bisikan itu. Aku yakin tadi bisikan itu berasal dari hutan itu. Kenapa seolah hutan itu memanggilku untuk mendatanginya. Kenapa pula suara pria dalam mimpiku sama dengan suara yang tadi aku dengar berasal dari hutan? Mungkin ini hanya halusinasiku saja, ujarku untuk menenangkan diriku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!