Ratih menangis tersedu sesaat setelah selesai melakukan kuret. Satu-satunya semangatnya untuk menjalani hidup kini pun sudah diambil. Ia sangat sedih, hidupnya seakan hancur sekarang.
" Mengapa Rabb, mengapa Engkau tega mengambil terkahir hal yang membuatku ingin terus bertahan hidup. Apa kesalahan yang pernah kulakukan sehingga cobaan hidupmu begitu berat. Bapak, ibi dan sekarang anakku. Mengapa kau mengambil semuanya. Mengapa tidak sekalian hidupku Kau ambil."
Ratih menangis pilu. Siapa yang tidak kehilangan sesuatu paling berharga yang saat ini dimiliki, semua pasti akan merasakan apa yang Ratih rasakan. Anak merupakan hadiah terbesar yang diinginkan seorang wanita setelah menikah. Meskipun pernikahan Ratih tidaklah bahagia tapi anaknya merupakan sumber kebahagiaan barunya.
Raka yang saat ini berada di depan pintu ruang rawat tak kuasa juga menahan sesak di dada melihat wanita yang baru ia kenal itu begitu menderita. Tidak ia sangka air matanya pun terjun bebas. Raka sungguh bisa merasakan sakit yang saat ini dirasakan oleh Ratih. Awalnya Raka ingin membiarkan Ratih sendiri, tapi ia khawatir. Ia takut Ratih berbuat yang tidak-tidak dan akhirnya Raka pun masuk ke ruang rawat wanita itu.
" Ratih,"
Panggilan Raka membuat Ratih menghapus cepat air matanya. Wanita itu lalu tersenyum ke arah Raka. Raka jelas tidak membalas senyuman Ratih karena ia tahu itu hanyalah kamuflase yang saat ini dilakukan wanita itu. Ratih hanya menutupi rasa sakit yang saat ini dia rasakan.
Raka mendekat ke brankar tempat Ratih berbaring, ia lalu menarik kursi dan duduk di sana. Dilihatnya wanita itu dengan lekat, jelas sekali tergambar di wajah Ratih bahwa ia sangat sedih dan menderita.
" Tih, menangislah. Buang senyummu itu. Jika saat ini kamu ingin menangis maka lakukan. Kamu tidak perlu berpura-pura kuat jika memang kamu tidak kuat sekarang."
Dan benar saja, setelah Raka menyelesaikan kalimatnya Ratih menangis. Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Raka hanya diam dan membiarkan Ratih menumpahkan air matanya untuk meluapkan semua rasa sakit yang selama ini ia rasakan.
" Menangis, tapi setelah itu istighfar."
" Apa aku begitu buruk hingga hidupku dipenuhi dengan luka? Apa aku tidak boleh merasa bahagia? Mengapa aku harus merasakan ini semua?"
Raka terdiam, ia tentu tidak bisa menjawab semua yang Ratih tanyakan. Kata 'sabar' yang akan Raka ucapkan oun urung. Kata itu jelas tidak akan bisa menguatkan Ratih disaat seperti ini. Raka bangkit dari duduknya. Entah mendapat keberanian dari mana pria itu merengkuh tubuh Ratih dan membawanya kedalam dekapannya.
" Aku tidak tahu bagaimana harus berkata. Aku hanya bisa mengatakan, bahwa aku yakin suatu saat nanti kamu akan merasakan apa yang namanya kebahagiaan."
Ratih tergugu di dekapan Raka. Paling tidak saat ini ia merasa ada yang peduli dnegan tulus terhadap dirinya yang mana tidak pernah ia rasakan setelah kedua orang tuanya meninggal.
" Bodo amat dia masih sah status istri orang. Aku kasihan sungguh sama wanita ini. Beban yang dipikulnya begitu berat."
Fitri dan Barja yang hendak masuk ke ruangan pun urung saat mendengar tangis Ratih dan apa yang dilakukan sang putra. Sebenarnya Fitri tidak masalah Raka peduli dengan Ratih. Tapi bagaimanapun Raka harus bisa membatasi diri, Ratih saat ini posisi nya masih wanita bersuami. Ia tidak ingin Ratih nantinya malah dituduh balim dan Raka juga jadi sasaran fitnah.
" Aku harus ngandani (nasehati) Raka ini pak. Dia nggak boleh kayak gitu."
" Iyo bu, tapi nanti. Ibu denger sendiri to, Ratih begitu menderita. Dari suara tangisnya saja terdengar sangat memilukan."
Fitri mengangguk setuju, ia akhirnya memilih duduk di kursi tunggu depan ruang rawat. Ia tentu tahu bagaimana rasa kehilangan buah hati yang diharapkan. Fitri pernah mengalaminya saat hamil anak kedua, yakni calon adik Raka. Ia pun merasa begitu sedih, tapi dia masih beruntung karena memiliki suami dna keluarga. Sangat jauh berbeda dengan Ratih.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya Hari yang gagal menemui Cita malam itu tetap tidak bisa bertemu pagi ini. Pasalnya hari ini dia akan menikahkan Watik. Sebagai adik lelaki dia mempunyai kewajiban untuk menjadi wali nikah Watik, karena memang ayah mereka sudah tiada.
" Buk, mbak, apa ini nggak terlalu terburu-buru," tanya Hari. Sepertinya ia merasa bahwa pernikahan Watik ini dadakan sekali. Hari mempunyai feeling yang tidak enak.
" Alaah, sudah bagus mbak mu ada yang mau. Dia ki sudah tergolong kasep rabi ( telat nikah)," ujar Sarti.
Hari hanya pasrah, ia tak mau ambil pusing juga. Dia sendiri sudah pusing dengan kehidupannya. Lagi pula mulai sekarang hidup mereka akan menjadi urusan masing-masing.
Seketika Hari teringat Ratih. Ia semalam membuat Ratih pergi dari rumah, dan tentu dia tidak tahu kemana Ratih pergi dan tidur.
" Haishhh, kok malah jadi kepikiran wanita itu sih," gumam Hari pelan.
Tak berselang lama rombongan Danu datang. Pria itu di dampingi istrinya terlihat begitu tampan dan menawan. Istri Danu juga terlihat sangat cantik. Sesaat Watik merasa minder. Dalam hatinya berpikir, mengapa Mira begitu besar hati membiarkan dirinya dimadu. Bahkan rela untuk melamarkan wanita lain demi suaminya.
" Tidak ada wanita yang suka suaminya memiliki wanita lain, tapi mengapa Mbak Mira terlihat begitu bahagia?" Watik terus memikirkan hal tersebut.
Di sisi lain Mira yang sudah mendudukkan Danu di meja akad tersenyum lebar kepada sang suami. Ini sudah jadi keputusannya maka ia akan melakukan hingga akhir.
" Apa kamu benar yakin sayang?" bisik Danu kepada Mira.
" Mas, demi keturunan. Kamu tahu aku tidak mampu jadi kita akan memanfaatkan Watik untuk mengandung dan melahirkan anakmu tanpa dia berhak sedikitpun terhadap anak yang dilahirkannya." Mira mengatakan dengan yakin dan mantap.
Danu tersenyum dan mengangguk, ia lalu mencium kening Mira. Betapa cintanya ia kepada sang istri, dan sungguh sebenarnya dia tidak sudi menikah lagi. Tapi rengekan Mira membuatnya luluh.
" Aku berjanji tidak akan menyakiti hatimu Mir, kita sepakat hanya menggunakan wanita itu untuk mendapatkan anak. Selebihnya jangan harap dia bisa mendapatkan hati atau perhatianku."
Danu sudah berjanji dalam hatinya, ia sendiri tidak bisa mencinta wanita lain. Pernah suatu haru oleh Mira Danu didekatkan seorang gadis tapi tetap saja Danu enggan. Dna apada akhirnya mereka memilih menikahi Watik agar segera cepat mendapatkan keturunan.
Dari dalam rumah watik diantar oleh Sarti dan didudukkan disebelah Danu. Pria beristri itu tersenyum sepintas, menampilkan wajah seramah dan sebaik mungkin. Tapi tentu tidak ada yang tahu isi hatinya.
Di depan Danu sudah ada Hari, seorang penghulu pun siap untuk menikahkan Watik dan Danu.
" Saya terima nikah dan kawinnya Watik Indarsih binti Paimo dengan mas kawin tersebut tunai."
" Sah!"
Kalimat akad itu terucap dengan begitu lantang. Tidak ada rasa gugup sekalipun yang Danu rasakan. Disebelah Danu, sedikit jauh duduk Mira yang menyaksikan suaminya menikah. Ia tersenyum lebar.
" Sebentar lagi, ya sebentar lagi aku akan bisa menggendong bayi kecil yang mungil. Aku ingin punya anak banyak, dan tugas wanita itu untuk melakukannya."
Pikiran Mira jelas tidak seperti yang Watik pikirkan. Wanita itu tersenyum lebar, kini dia menjadi istri orang kaya. Dengan begitu tidak akan lagi ada orang yang memandang dirinya sebelah mata. Ia juga bisa menyombongkan hak itu kepada Ratih.
" Lihatlah Ratih, sekarang aku tidak perlu bekerja di toko kecilmu itu. Suamiku kaya. Dan aku yakin aku akan hidup enak setelah ini. Bukankah biasanya istri muda selalu lebih disayang, aku yakin itu."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
marie_shitie💤💤
heeeyyy,km cm jd alat pencetak anak ya g ad istimewa ny
2023-09-10
1
marie_shitie💤💤
kirain buat tumbal pesugihan lebih cocok sih si watik
2023-09-10
0