Suami Pelunas Hutang 06

Ratih kembali melaksanakan aktivitasnya seperti biasa. Setiap pagi ia akan pergi ke toko miliknya. Meskipun tidak besar tapi itu cukup laris. Pelanggannya lumayan banyak, karena memang toko bahan kue miliknya termasuk komplit.

Tapi, jika ada pesanan catering seperti nasi box atau snack, Ratih akan libur datang ke toko. Dia hanya akan datang sejenak untu memeriksa.

" Haaah, bismillaah, semoga hari ini semua baik-baik saja. Minta kerjasamanya ya sayang."

Ratih membuang nafasnya perlahan. Ia mengusap perutnya yang masih rata dan berbicara kepada bayi yang belum besar itu.

Ratih tidak mengalami mual muntah layaknya ibu hamil muda. Hanya saja bawaannya lemes dan mengantuk.

Ia pun bersiap menyalakan motornya. Namun tiba-tiba motornya dimatikan dan kunci nya diambil. Ratih tentu saja terkejut. Saat melihat Hari yang melakukan itu .

" Mau kemana hmm, kamu terlihat begitu pucat. Istirahatlah. Toko biarkanlah buka, tanpa kamu datang pun tetap akan jalan bukan? Turun dan kembali masuk, aku bawakan bubur ayam kesukaanmu."

Ratih semakin terkejut saat Hari mengatakan semua hal tersebut. Bagaimana tidak, sebulan menikah sikap Hari menjadi berubah. Tidak lagi perhatian seperti saat mereka berpacaran. Dan pagi ini, Hari kembali menjadi Hari dimana mereka masih pacaran dulu. Tapi Ratih tidak mau besar kepala dulu. Dia harus tetap memasang sikap waspada kepada suaminya tersebut.

" Baik, terimakasih. Aku akan menelpon dulu."

Hari mengangguk dan tersenyum. Pria itu melenggang masuk terlebih dulu.

" Halo Nia, mbak hari ini nggak ke toko ya. Kamu awasi saja, kalau ada apa-apa hubungi mbak."

" Baik mbak. Siap laksanakan."

Ratih menutup kembali panggilannya. Biasanya ia akan menghubungi Watik. Tapi saat rahu fakta bahwa Ibunya Hari mengetahui hubungan Hari dengan wanita lain maka kesimpulan yang diambil Ratih adalah Watik juga pasti tahu

Pertanyaannya, mengapa mereka semua diam saja? Mengapa Watik tidak memberitahunya, dimana Ratih sungguh sudah menganggap Watik adalah kakaknya.

" Ah sudahlah, percuma bertanya-tanya saat ini. Tidak akan ada jawaban yang aku dapatkan. Tapi aku yakin semua ini akan terjawab nanti. Kita lihat saja apakah Mas Hari tulus akan berubah atau hanya sekedar omong kosong."

Ratih menggelengkan kepalanya pelan, mengusir kalimat-kalimat tanya yang muncul di kepalanya. Ia kemudian masuk ke dalam rumah seperti apa yang Hari perintahkan.

Ratih langsung menuju ke dapur, di sana ada sebuah rumah makan. Bubur ayam yang tadi dikatakan oleh Hari sudah berpindah wadah. Dari styrofoam ke mangkok lengkap dnegan kuah dna isinya. Ratih tersenyum simpul. " Satu usaha yang bagus," gumamnya lirih.

Ia mengacuhkan semua yang ada di kepalanya. Saat ini melihat bubur ayam tersebut membuat nafsuu maknanya meningkat.ratih pun langsung menyantapnya hingga tandas udak bersisa.

" Alhamdulillaah," ucap Ratih saat ia selesai makan.

" Apa sudah kenyang? Adakah makanan lain yang kamu inginkan?" Hari tiba-tiba muncul dari belakang dan memegang kedua bahu Ratih. Sebuah ciuman Hari daratkan di kepala istrinya itu. Sepertinya Hari baru saja selesai mandi, satu hal yang jarang dia lakukan saat pulang kerja shift malam. Tapi Ratih acuh. Ia hanya terkejut dengan sikap Hari yang tiba-tiba berubah.

" Terimakasih untuk bubur ayamnya. Saat ini aku belum ingin apa-apa."

" Baiklah kalau begitu. Aku akan tidur dulu. Jika menginginkan sesuatu, jangan ragu untuk membangunkan aku."

Hari melenggang masuk ke dalam kamar yang satunya. Bukan kamar mereka berdua. Ratih sedikit bernafas lega saat melihat itu. Kini dalam dirinya terdapat dua sisi. Sati sisi mulai percaya bahwa Hari akan berubah tapi di sisi lain masih bersikukuh bahwa Hari belum berubah. Ia tidak boleh secepat itu percaya dengan tindakan Hari yang masih awal itu.

Di dalam kamar Hari menyeringai. Apa yang Cita katakan adalah sangat tepat. Cita mengatakan kepada Hari untuk berbuat baik kepada Ratih selama kehamilannya hingga akhirnya nanti akan menceraikannya. Dan, semuanya berhasil memang. Bisa Hari lihat Ratih mulai mau menerimanya.

Satu niat tersembunyi yang dimiliki Cita yakni ia ingin Ratih mengalami sakit hati yang sebenarnya nanti saat bercerai. Sebuah skenario yang sangat apik, dibikin saja dulu maka dia akan sangat hancur saat berpisah nanti.

Cita jelas masih tidak terima. Gara-gara Ratih ia gagal untuk menikah dengan Hari. Dan sekarang harus menunggu 8 bulan untuk dapat berpisah.

" Aku sudah melakukan semua yang kamu katakan sayang."

" Bagus mas, terus saja lakukan itu."

" Baiklah, sesuai keinginanmu cintaku."

Hari menyudahi acara berkirim pesan. Ia laku mematikan ponselnya dan memejamkan matanya. Rasa kantuk itu menyerang. Meskipun ia semalam bolos dari tempat kerja, tapi kegiatan malam yang ia lakukan bersama sang kekasih membuatnya lelah di pagi hari.

Lain dengan Cita. Rupanya hari ini dia off kerja alias jatah libur. Tapi wanita itu terlihat sudah rapi dan cantik. Dengan menggunakan celana jins panjang dipadukan kaos warna pink dan jaket denim Cita sudah siap untum pergi.

Ya, rupanya ia ada janji dengan Ridwan. Semalam ia menyanggupi ajakan Ridwan untuk pergi ke pantai. Ridwan yang hari ini juga mendapat jatah libur mengajak Cita untum pergi bersama.

Tiiiin

Sebuah klakson mobil dibunyikan. Cita yang paham pun langsung berlari keluar. Tak lupa ia mengunci pintu kos.

" Maaf ya nggak turun. Ribet parkirnya nanti kan mau langsungan."

" Iya ndak apa bang. Kita mau kemana bang."

" Ikut aja. Kamu pasti suka, lumayan buat ngilangin stres karena kerjaan."

Cita mengangguk dan tersenyum. Tak lupa Ridwan memakaikan seatbelt Cita sebuah perbuatan simpel tapi mamou membuat Cita tersentuh.

" Terimakasih bang."

Ridwan tersenyum, pria itu kemudian menekan pedal gasnya dalam-dalam dan mulai melakukan mobilnya. Ia akan membawa Cita refreshing hari ini. Beberapa hari yang lalu Cita selalu mengeluh bahwa pikirannya sumpek dan hatinya selalu kesal. Maka dari itu Ridwan akan membawa Cita ke laut. Ridwan sungguh senang jika bisa membuat Cita merasa bahagia.

Cita yang sedari masuk mobil jujur tidak bisa berhenti menatap Ridwan. Tidak dipungkiri Ridwan memiliki wajah wajah yang tampan. Lihatlah, dia juga mapan.

" Sepertinya tidak ada salahnya jika menerima ajakan pria ini untuk menikah. Menunggu Mas Hari selama 8 bulan itu sungguh lama. Ya kalau dia jadi cerai, kalau nggak. Bisa lumutan aku nungguin. Fix, kalau Bang Ridwan nanti minta aku buat nikah aku bakalan setuju."

Cita bermonolog dalam hatinya. sepertinya kali ini keputusannya sudah matang untuk menerima lamaran dari Ridwan. Sebuah pertimbangan yang ia pikirkan rupanya membuahkan hasil seperti yang akan ia jadikan jawaban jika Ridwan kembali melamarnya.

TBC

Note: maaf ya readers, tadi bab nya aku hapus soalnya kelewat.

Aku akan up ulang

Terpopuler

Comments

marie_shitie💤💤

marie_shitie💤💤

tetep g mau rugi y kamu,cwe matre dan murahan bgt siiih

2023-09-10

0

marie_shitie💤💤

marie_shitie💤💤

yang salah ya si Watik m si hari lah keluarga benalu tapi g tau diri

2023-09-10

0

Îen

Îen

ihhh kezeeeeL....antagonisnya masa beruntung bgt disini....di cintain sm 2 cwo dgn tulus🙄🙄🙄🙄🙄🙄

2023-09-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!