Selama beberapa hari ini Ratih merasa begitu tenang pasalnya Hari tidak terlihat pulang ke rumah. Ia merasakan menemukan sesuatu kebahagiaan saat tengah sendiri. Bukan sendiri sekarang, tapi berdua dengan bayi yang ada di dalam kandungannya.
Setiap hari Jumat, Ratih memang meliburkan tokonya. Maka dari itu saat ini dia tengah duduk santai di rumah sambil membuka artikel seputar kehamilan.
Tapi sepertinya ketenangan yang ia rasakan tidak akan bertahan lama saat suara motor berhenti tepat di depan rumah. Ratih jelas tahu bahwa itu adalah motor milik Hari. Seakan mengingat bahwa dia harus memiliki bukti untuk pengajuan pisahnya, Ratih langsung memposisikan ponselnya dalam keadaan siap merekam.
Dan benar saja, Hari masuk rumha dalam keadaan marah. Ia membuka pintu dengan menggunakan kakinya. Braaak ... ! Pintu rumah Ratih di tendang oleh Hari.
Dengan wajah penuh kemarahan
hari menarik jilbab Ratih. Setelah mengetahui bahwa Hari selingkuh dan menyakiti dirinya, Ratih tidak pernah lagi menampilkan tubuh dan rambutnya. Di rumah ia selalu menggunakan pakaian tertutup dan juga jilbab.
" Awww sakit mas. Kau kenapa hah! Beberapa hari tidak pulang, dan pulang-pulang memperlakukanku begini."
" Brengsek, asuuu, celengg, gara-gara kamu. Semua ini gara-gara kamu bangsat. Cita bertunangan dnegan pria lain. Dia akan menikah dengan pria lain. Dia tidak mau menungguku. Semua ini gara-gara kamu dan bayi sialan yang ada dalam perutmu itu."
Air mata Ratih hendak luruh saat mendengar Hari mencaci darah dagingnya sendiri. Tampaknya otak pria ini sungguh sudah tidak waras. Dengan tega dia memaki buah hatinya sendiri.
Ratih berusaha untuk tetap tenang. Ia harus kuat dan berusaha untuk melindungi perutnya. Hari berusaha untuk menyakiti perut Ratih.
Seperti orang yang kesetanan, Hari membanting tubuh Ratih ke lantai. Ia juga hendak menginjak perut istrinya itu. Ratih yang sigap langsung meraih kursi plastik di sampingnya dan sekuat tenaga melemparkan ke arah Hari.
" Ooh melawan kamu ya!"
" Lha gila apa aku ndak ngelawan. Aku harus diam saja begitu melihatmu menyakiti tubuhku? Tidaka akan mas. Aku sudah cukup merasa sakit atas ulahmu dna keluargamu. Kalian sungguh manusia-manusia tidka punya hati."
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Ratih. Cairna merah keluar dari sudut bibir wanita itu. Tapi Ratih tidak terlihat kesakitan. Dia malah tersenyum sinis ke arah Hari.
" Aku yakin hidupmu tidak akan pernah tenang mas. Begitu banyak hal buruk yang kamu lakukan. Jadi bertaubatlah sebelum terlambat."
Prang
Klontang
Hari melemparkan sebuah vas bunga lalu pergi meninggalkan Ratih. Tidak ada air mata yang keluar dari wanita itu. Tampaknya air mata Ratih sudah kering. Ia mengambil ponselnya lalu mematikan videonya.
" Aku harap ini cukup jadi bukti. Kalau pun bukti perselingkuhan tidak ku dapat tapi ini cukup untuk membuat laporan tentang KDRT."
Ratih masuk ke kamarnya. Membuka satu persatu pakaian miliknya dan berdiri di depan cermin. Terlihat beberapa memar dan luka di sana. Ia membuka lemari bajunya dan mengambil baju bersih untuk berganti. Tak lupa hijab ia kenakan senada dengan baju yang ia pakai. Ratih juga mengambil masker lalu memakainya untuk menutupi sudut bibirnya yang terluka dan pipinya yang merah karena tamparan Hari.
" Aku harus membuat laporan ke kantor polisi segera agar bisa melakukan visum. Sungguh aku ingin segera lepas dari jerat pria itu dan juga keluarganya."
***
Lain Ratih lain pula Hari. Karena kemarahannya mengetahui bahwa Cita bertunangan dengan Ridwan ia pun mencari Cita di kos nya. Padahal 3 hari yang lalu mereka baru saja pergi ke pantai berdua. Dan di sana Cita sama sekali tidak mengatakan apapun soal ia akan bertunangan dengan Ridwan.
Hari menyeringai saat melihat Cita ada di kos. Seperti biasa, dia akan memarkirkan motornya jauh dari tempat kos Cita agar tidak diketahui oleh orang sekitar.
Cekleek
Ngeeeek
" Mas, ngapain kamu di sini. Aku mau berangkat kerja."
Bukannya menjawab apa yang ditanyakan Cita, Hari malah menutup pintu dan korden jendela lalu dengan cepat mengungkung wanita itu.
Dengan sedikit brutal ia mencium bibir Cita dan membuka pakaian Cita yang sudah rapi tersebut.
" Massss, hen ti kan."
Kalimat Cita tertahan dengan sebuah desahhan. Pasalnya Hari mulai memainkan bagian sensitif milik Cita. Terang saja Cita tidak bisa menolak sentuhan Hari. Wanita itu sellau terlena dengan cara Hari mencumbu nya. Seperti sekarang, Cita yang pakaiannya sudah dilucuti oleh Hari hanya bisa pasrah dengan apa yang Hari lakukan.
Hentakan demi hentakan dilakukan Hari dan Cita begitu menikmatinya. Bahkan Cita sudah berkali-kali sampai pada puncaknya dibawah kungkungan Hari. Hari hanya tersenyum saat melihat Cita mengernagg. Terlihat wanita itu begitu puas.
" Kamu tetap masih menginginkan sayang. Nyatanya kamu begitu menikmatinya hmmm."
" Maaasss, lakukan lagi. Aku mau lagi."
Inilah yang disukai oleh Hari, mereka berdua selaku melakukan permainan ini dengan imbang. Dan Cita biasanya sellau meminta lebih memang sehingga membuat Hari sangat bersemangat.
" Tentu aku kan melakukannya untukmu. Sesuai dengan permintaanmu."
Keduanya kembali melakukan hal yang seharusnya tidka boleh mereka lakukan. Bagaimanpun Hari masih memiliki istri dan Cita, dia juga sudah bertunangan. Tapi agaknya akal sehat mereka sudah tidak lagi digunakan. Nafsuu memenuhi hati dan pikiran sehingga perilaku abnormal dijadikan sebuah hal yang biasa.
Ketika keduanya tengah berada pada puncak kenikmatan, tiba-tiba pintu kos milik Cita diketuk. Terang saja Hari dan Cita terkejut. Hari langsung mencabut miliknya yang tapi masih membenam di dalam tubuh Cita dan berlari ke kamar mandi. Cita juga langsung kembali berpakaian. Ia meraih sebuah daster yang semalam ia pakai. Tanpa mengenakan pakaian dalam nya, Cita berjalan pelan sambil mengatur nafasnya menuju ke pintu.
Cekleek
" Iya bu ada apa?"
" Ohh Dek Cita di rumah to. Saya pikIr pergi. Soalnya kok kayaknya tadi pagi di rumah ini , tapi kok lampu depan masih nyala."
" Iya bu, saya ndak kerja. Soalnya agak nggak enak badan."
" Oh ya sudah kalau begitu, semoga lekas sembuh ya."
Cita kembali menutup pintu kos nya saat ibu pemilik kos berlalu dari sana. Sebuah tarikan nafas lega dialkukan oleh Cita. Hampir saja mereka tadi ketahuan.
Hari keluar dari kamar mandi masih dalma keadaan polos ia menarik tubuh Cita dan mulai kembali mencumbu wanita itu.
" Mas, apakah belum puas juga."
" Aku tidak akan pernah puas dengan tubuhmu sayang. Kamu sellau menjadi candu bagiku."
Keduanya tersenyum, Hari menarik daster yang dikenakan Cita melemparkannya ke sembarang arah dan tubuh polos Cita terpampang nyata di depan matanya. Hari langsung membawa wanita itu diatas kasur lalu memulai kembali percintaan mereka.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Tuxepos Jasmine
boleh gak sihh si santet online nih laki???sumpah gw kesel bgt ada modelan laki modelan begini
2023-09-06
1