Suami Pelunas Hutang 02

Tekad Ratih sudah bulat. Ia akan mengajukan gugatan ke pengadilan. Semalaman Ratih sudah memikirkan hal ini. Dia terbiasa hidup sendiri, jadi apa salahnya ia hidup sendirian lagi. Bahkan tadi malam pun Ratih tidak tidur sekamar bersama Hari  beruntung Hari memang sedang mendapat jatah shift malam.

" Baiklah, semua berkas sudah siap. Aku harus berangkat sekarang."

Nguuuuung

Bruuk

" Ratih!"

Hari terkejut saat berteriak saat melihat Ratih yang jatuh tak sadarkan diri di depan pintu kamar. Pria itu langsung melempar tas yang disandangnya ke sembarang arah dan berlari menghampiri sang istri. Hari mencoba menepuk-nepuk kedua pipi Ratih tapi tidak ada respon. Ia meletakkan Ratih sejenak dan memanggil bantuan. Beberapa tetangga datang dan membantu Hari membawa Ratih ke klinik terdekat.

Sepintas raut waja Hari terlihat khawatir. Namun apa persisnya yang dirasakan pria itu tidak ada yang tahu kecuali dia dan Tuhan, mungkin.

" Kamu kenapa Tih, kalau kamu sakit waaah tambah repot lagi nanti aku. Huh!"

Waaah, benar-benar raut wajah tidak mencerminkan isi hati seseorang. Bisa para tetangga lihat betapa khawatirnya Hari terhadap Ratih. Namun rupanya bukan khawatir istrinya sakit tapi khawatir jika dia nanti lah yang repot jika istrinya sakit.

Atas bantuan tetangga yang memiliki mobil, Ratih di gendong oleh Hari masuk ke dalam klinik. Beruntung Klinik tidak ramai saat pagi begitu. 

Para tetangga yang membantu berpamitan, Hari mengucapkan terimakasih dan ia kini sedang menunggu Ratih diperiksa. Sungguh Hari tidak ingin terjadi apa-apa kepada Ratih. Jelas Hari tidak mau mengurus istri yang sakit.

" Pak, istrinya sudah siuman. Dan ada kabar bagus untuk anda. Selamat ya, sebentar lagi Anda akan jadi ayah. Istri Anda tengah hamil. Usia kehamilan nya baru 3 minggu."

Haro berdiri mematung. Terkejut? Pasti, bagaimana tidak terkejut saat mengetahui kabar kehamilan Ratih. Rencana dia ingin mentalak Ratih otomatis tidak bisa. Padahal dia sudah berjanji kepada Cita untuk segera menikahi wanita itu.

" Mas pokoknya kamu harus segera pisah. Kalau nggak, aku beneran mau nikah sama Ridwan."

" Lhoo kok gitu. Kan kamu udah janji kau nunggu aku. Iya aku bakalan nalak Ratih. Lagi pula urusan itu sudah selesai. Jadi nggak akan lagi lah susah-susah."

Hari teringat pembicaraannya dengan Cita beberapa hari yang lalu. Ya, sang kekasih ternyata juga mempunyai hubungan serius dengan pria lain. Bahkan mereka merencanakan pernikahan juga. Tapi Cita masih berharap Hari segera berpisah sehingga mereka bisa melancarkan hubungan mereka yang tersendat karena Hari harus menikah dengan Ratih.

" Arghhh, sialan. Mengapa bisa hamil sih. Jadi sekarang dia hamil anakku. Terus aku harus gimana." Hari bergumam pelan sambil mengacak rambutnya dengan kasar. Ia kini dilema, antara bertahan atau melanjutkan rencana menalak sang istri. Satu hal yang Hari ketahui, ia tidak boleh mentalak istrinya ketika tengah hamil.

Dengan pikiran yang masih berkecamuk, Hari masuk ke ruang pemeriksaan. Di sana Ratih masih terbaring di brankar dengan infus yang menempel pada tangan kirinya. Terlihat wajah pucat Ratih ditambah mata yang sembab.

" Tih ... " Hari memanggil Ratih lirih. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Sakit sungguh jika mengingat apa yang diperbuat Hari kemarin. Terlebih kata-kata Hari yang mengatakan bahwa sang ibu mertua juga mengetahui hubungan Hari dengan wanita lain.

" Jangan bicara di sini. Kita bicara setelah sampai rumah," ucap Ratih tegas.

Hari hanya mengangguk tanpa suara. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Ia lalu duduk dan menunggu infus tersebut habis. Kata dokter, Ratih boleh pulang setelah cairan infus tersebut habis.

🍀🍀🍀

Keduanya duduk di ruang tamu. Baik Ratih maupun Hari kini terdiam. Mereka sepertinya tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. 

" Baiklah, mari kita bicara," ucap Ratih memecah keheningan yang beberapa saat tercipta itu. 

Ratih mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia memejamkan matanya sejenak mengumpulkan semua tenaga dan juga keberaniannya.

" Mari kita berpi~."

" Aku tidak akan menceraikanmu. Kau sedang hamil anakku sekarang."

Ratih tentu terkejut, bukannya kemarin sepertinya Hari begitu acuh. Terlebih saat ia bersama wanita muda itu, Hari tampak sengaja memperlihatkan kedekatannya. Ia juga mengaku mereka pacaran lama, tapi mengapa dia tidak setuju saat Ratih menginginkan perpisahan?

" Terus, maumu aku harus menerima kelakuan burukmu itu. Aku tidak sudi."

" Bukan Ratih, bukan begitu. Aku ... Aku akan berubah. Demi anak kita. Aku berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan Cita. Sungguh, aku mengatakan ini dengan kesungguhan hati."

Ratih memicingkan matanya. Ia mencoba mencari tahu kesungguhan itu dari wajah sang suami. Memang terlihat kesungguhan di sana  tapi Ratih tidak ingin serta merta percaya. Hatinya sudah terlanjur sakit kemarin.

Melihat keraguan dari wajah Ratih, Hari berpikir keras. Ia harus membuat Ratih percaya. Sekarang Ratih tengah mengandung anaknya, cita-cita Sarti adalah memiliki cucu laki-laki. Maka dari itu Hari harus bisa menahan dirinya hingga ia mengetahui jenis kelamin anak yang dikandung Ratih.

" Aku mohon Tih, beri aku kesempatan. Aku janji akan berubah."

" Aku tidak akan langsung mempercayaimu. Kita lihat saja bagaimana kedepannya kamu bersikap kepadaku. Jika kamu bisa membuktikan bahwa kamu benar-benar berubah maka aku akan memikirkan kembali untuk berpisah atau tidak."

Ratih berdiri dari duduknya dan melenggang masuk ke kamar. Wanita itu mengusap perutnya yang masih rata, kali ini hidupnya tidak lagi sendiri. Ada nyawa di dalam tubuhnya yang harus diperhatikan.

" Ibu, akan selalu melindungimu nak."

Di luar kamar Hari mengepalkan erat kedua tangannya. Kesal sekali rasanya saat ini. Ia sudah berusaha merendahkan dirinya di hadapan Ratih, tapi Ratih tampak acuh.

" Wanita sialan, kalau saja kamu tidak hamil aku tidak sudi memohon. Mau tidak mau aku harus membatalkan rencana ku dan semua ini harus ku bicarakan kepada ibu dan Mbak Watik. Cita ... Aaah kampret. Aku lupa soal Cita. Aku juga harus ngomong ke dia kalau Ratih hamil. Haisssh, semakin ribet pula hidupku ini. Semua gara-gara Mbak Watik, kalau dia nggak nyuruh aku buta deketin dan nikahi Ratih saat ini aku pasti udah bahagia hidup dengan  Cita. Kampret memang Mbak Watik. Huh!"

TBC

Terpopuler

Comments

Yuli Anti

Yuli Anti

sikampret hari marah2🤭

2023-09-03

1

Tuxepos Jasmine

Tuxepos Jasmine

yelaaaahhh pake acara hamil lg😪😪😪😪😪😪 jd panjang dah nih urusan...kaga bs cerai dr suami racun modelan si hari😷😷😷😷😷😷

2023-09-02

2

Nikita Ferlanda

Nikita Ferlanda

tetap semangat othor kesayangan

2023-09-01

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!