Suami Pelunas Hutang 09

Ratih membiarkan Watik yang tak kunjung berangkat ke toko. Sudah 3 hari semenjak ia kembali ke toko tapi Watik juga belum kelihatan batang hidungnya. Setiap dihubungi selalu tidak diangkat. Ingin mengadu kepada Hari, Ratih urung. Ia memilih diam dan membiarkan hal tersebut.

Sambil menunggu suaminya pulang kerja Ratih bertekad untuk memasak. Selama beberapa hari semenjak kejadian pingsan itu Ratih tidak banyak mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi kali ini dia sedang ingin makan nasi soto. Maka dari itu Ratih sebelum pulang ke rumah sudah mampir dulu ke pasar untuk membeli bahan-bahan keperluan membuat soto ayam.

" Haaah, ini pasti enak. Pengen ya nak, sabar ya ibu masak dulu."

Ratih mengusap perutnya lembut sebelum memulia aktivitasnya. Ia kemudian mengeluarkan semua bahan dan mulai meracik bumbu. Tapi sebuah teriakan keras di dengar Ratih dari pintu depan rumahnya.

" Ratih ... Ratih ... Ini ibu."

Ratih meninggalkan semua yang ia kerjakan dna berjalan ke arah pintu rumah lalu membukanya. " Oh ibu, masuk bu."

Ratih ingin meraih tangan Sarti namun Sarti mengacuhkan uluran tangan Ratih. Hati Ratih pun mencelos bahkan ibu mertua nya juga ikut berubah sikapnya. Setidaknya itu yang Ratih rasakan saat ini. Tatapan Sarti tak lagi lembut seperti sebelum ia menikah.

Haaaah, Ratih menghembuskan nafasnya kasar. Tapi ia tetap berusaha tersenyum di depan ibu mertuanya tersebut.

" Apa apa bu?"

" Kamu ini lho Tih. Mbak mu ndak masuk kerja kok ndak ditanya, ndak di jenguk. Kebangeten."

Ratih mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Senyum terbaik ia tampilkan sebelum menanggapi ucapan sang ibu mertua.

" Sebelumnya maaf bu, Ratih sudah nelpon Mbak Watik, tapi sama sekali ndak diangkat. Ratih mau ke rumah ibuk, tapi badan Ratih lemes. Mas Hari sudah cerita pasti kalau Ratih sedang hamil."

" Halah, hamil jangan dijadiin alasan. Ibuk ini lho jaman hamil Watik sama Hari dulu kuat-kuat saja malah ibuk dulu tetep bisa jualan di pasar. Jangan manja, nanti anakmu manja. Ke rumah ibuk tunggu, bujukin mbakyu mu."

Sarti melenggang pergi dari rumah Watik tanpa permisi tanpa salam. Sungguh membuat mood Ratih hancur. Ia lagi-lagi tidak menyangka bahwa Sarti bersikap begitu, atau apakah memang sifat aslinya seperti itu dna selama ini hanya kepura-puraan semata.

" Sebenarnya apa yang belum ku ketahui ini."

Ratih urung untuk membuat soto. seleranya langsung hilang. Yang tadinya ia sangat lapar kini tiba-tiba terasa kenyang. Ratih berganti baju lalu menuju ke rumah sang ibu mertua. Padahal hari sudah senja dan sebentar lagi magrib tapi Ratih tetap berangkat. Ia tidak ingin masalah ini semakin panjang. Lebih baik mengalah untuk sementara ini.

Ratih mengendarai motornya pelan-pelan. Saat ia melewati sebuah tempat kost ia sekelebat melihat sosok Hari, suaminya. Entah itu merupakan feeling tajam seorang istri atau bukan tapi meskipun hanya sekelebat saja ia yakin bahwa itu adalah suaminya.

Ratih akhirnya menghentikan motornya di tempat sedikit jauh dari kost tersebut. Ia tidak jadi pergi ke rumah ibu mertuanya. Urusan ini jelas lebih penting dari pada Watik.

Ratih berjalan mengendap, seminimal mungkin membuat suara agar tidak ketahuan.

" Apa yang Mas Hari lakuin di sini?"

Dada Ratih bergemuruh. Sebuah prasangka sudah ada di pikirannya. Semakin mendekat ke tempat itu semakin cepat jantung Ratih berdetak. Bahkan tiba-tiba dada Ratih semakin sesak.

" Aah mas .... Ini ... ."

" Bagaimana sayang, kamu suka?"

" Aku selalu suka dengan setiap apa yang kamu lakukan kepadaku mas."

Mata Ratih membulat sempurna saat ia melihat apa yang terjadi di dalam kamar kost tersebut. Meskipun jendela ditutup dengan gorden tapi ia masih bisa melihat apa yang ada di dalam.

Ratih membungkam mulutnya sendiri, mata membelalak, air mata terjun bebas dari sana semakin deras dan deras lagi. Di dalam itu, pria itu yang sedang mengerangg dengan begitu semangat di atas tubuh wanita lain adalah benar Hari suaminya.

Sungguh sakit hati Ratih bagai disayat oleh belati. Kemarin melihat suaminya bercumbu sudah sangat sakit. Ini dia melihat suaminya bercinta, rasanya dunia Ratih hancur seketika.

Ratih menjatuhkan tubuhnya di dapan kost tersebut. Ia, tersedu, adzan magrib berkumandang seolah mengingatkan Ratih untuk bangkit dan mengingat dia masih punya Tuhannya.

" Astagfirullahhaladzim ... Astagfirullahaladzim."

Ratih perlahan bangkit dari duduknya dan berlalu berjalan cepat kembali menuju motornya. Ia memutar arah, kembali pulang. Bodo amat masalah kakak iparnya itu. Saat ini tubuhnya lebih utama. Terlebih ada nyawa yang hidup didirinya.

" Ya Allaah, apa yang harus kau lakukan sekarang. Pisah. Ya aku harus minta perpisahan itu. Sungguh menjijikan, kelakuan mereka benar-benar sudah di luar batas.'

Ratih menguatkan hati, meskipun hancur hatinya ia harus berusaha untuk kuat.

Saat Ratih berusaha untuk menahan air matanya sepanjang jalam menuju rumah, maka Hari saat ini tengah memeluk tubuh Cita. Kedua orang yang baru saja bergelung panas itu terlihat begitu kelelahan. Tapi Hari kemudian bangkit dan mematikan lampu. Ia tadi lupa melakukan itu.

" Kenapa dimatikan?"

" Takut ada yang lihat dari luar. Meskipun motor ku parkir di mini market samping sana, dan sepatu aku masukkan orang bisa lihat lewat jendela bukan?"

Cita mengangguk dan tersenyum. Ia setuju saja dengan apa yang dilkaukan oleh Hari. Toh memang dia juga menikmatinya. Setiap tubuhnya disentuh oleh Hari selalu membuat wanita itu melayang.

Saat ini Cita sudah mulai meraba tubuh Hari kembali, membuat hasrat pria itu naik. " Apa kamu mau lagi?" Cita mengangguk manja. Hari sungguh suka dengan perbuatan Cita yang seperti ini. Dia pun merasa tubuh Cita selalu menjadi candu buatnya.

" Apa kamu tidak mendapatkan dari Ratih mas?"

" Oh ayolah sayang, jangan bicarakan dia saat aku sedang melakukan ini padamu."

Cita sudah berteriak saat Hari melakukan aksinya. Hari membungkam mulut Cita dengan bibirnya sendiri, agar suara itu tidak keluar lebih keras.

Saat seperti ini Cita sungguh lupa jika beberapa hari yang lalu di sudah menerima pinangan Ridwan. Bahkan cincin pemberian Ridwan itu melingkar di jari manis miliknya. Entah apa yang ada dalam pikiran dua orang tersebut.

Satu sisi Hari adalah pria beristri dan istrinya tengah mengandung. Di sisi lain adalah seorang wanita yang sudah berkomitmen dengan seorang pria, mengatakan sanggup untuk membina hubungan ke jenjang serius yakni sebuah pernikahan.

Tapi yang mereka lakukan sungguh di luar kenormalan. Sama-sama tidak bermoral dan sama-sama tidak berotak. Sudah menikah seharusnya Hari bisa berpikir lebih jauh, seharusnya pria itu bisa berpikir dewasa. Usia 28 tahun bukanlah usia abg yang masih memikirkan senang-senang.

" Baiklah, Cit. Aku harus pulang sebelum Ratih curiga. Ini sudah jam 9. Seharusnya kan aku pulang dati jam 5 tadi."

" Halaah, kamu rupanya masih takut dengan istrimu itu mas."

" Bukan takut, tapi kan kita sudah sepakat menunggu sampai dia lahiran. Jadi tunggu sebentar lagi."

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!