Suami Pelunas Hutang 04

Brak!!!

" Sialan, ini semua gara-gara mbak. Kalau mbak nggak nyuruh aku nikahi Ratih, nggak akan aku dalam posisi serba salah gini."

" Apa an sih dateng-dateng, ngoceh nggak jelas gini. Nyalahin mbak pula."

Watik dan Sarti jelas kaget melihat kedatangan Hari yang langsung marah-marah. Ditambah Hari membuka pintu rumah itu dengan kakinya. Sungguh seperti tidka punya adab. Tapi bukan itu yang jadi perhatian Watik dan Sarti, melainkan ocehan Hari. Tapi sesaat kemudian mereka kembali fokus menyaksikan acara televisi.

Hari memang terlihat marah, pria itu menjatuhkan dirinya di sofa tempat mereka sekarang menonton tayangan televisi. Hari bersungut-sungut ketika kedua wanita beda usia itu mengacuhkannya. Padahal sudah jelas sekali Hari ingin mengadu.

" Ibuk sama mbak dengerin aku nggak sih. Kalian ini lho enak-enakan santai di rumah tanpa tahu apa yang sekarang aku hadepi."

Watik dan Sarti saling pandang. Sarti pun mengambil remote tv lalu mematikannya dan fokus dengan putra bungsu nya itu. " Ada apa ceritakan."

Hari mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara kasar. Kini ibu dan kakak perempuannya itu memperhatikan dirinya yang siap untuk bercerita. " Ratih hamil," ucapnya singkat.

" Oooh, ya bagus." Reaksi Sarti dan juga Watik terlihat datar dan biasa. Watik sendiri beberapa kali melihat Ratih memakan rujak di siang hari sebagai ganti makan siang. Padahal Watik tahu persis bahwa Ratih tidak suka makanan berasa asam . Sedangkan Sartinah menilai itu hal yang wajar. Mereka sudah menikah selama sebulan, jadi jika ada kabar hamil tentu itu sudah biasa.

" Lhoo, kok ibuk sama mbak tenang-tenang aja sih," protes Hari.

" Lhaa kamu maunya piye? Kita harus bilang wouw gitu, atau memberi ucapan selamat kayak konten-konten di yutup tok-tok. Elaah lah biasa kan. Malah bagus kalau Ratih hamil."

" Apa yang dikatakan mbak mu bener. Apa lagi kalau anak mu nanti laki-laki, dia bisa mewarisi apa yang sekarang dimiliki Ratih."

Hari terdiam dengan ucapan ibu dan mbak nya itu. Bagaimana bisa mereka seenteng itu mengatakan hal tersebut. Ini hidupnya sedang carut marut. Keinginan menikah dengan sang kekasih jelas kandas dan bahkan bisa jadi kekasihnya itu akan menikah dengan pria lain. Hari tentu tidak mau itu.

" Ndak bisa, perjanjian kan aku hanya akan menikahi Ratih sebulan lalu menjatuhkan talak. Itu yang mbak katakan padaku saat mbak memintaku menikahi Ratih karena mbak mau ngutang sama dia. Mbak minta aku deketin dia biar Ratih jatuh cinta padaku dan mau menikah dengan ku."

Watik terdiam apa yang dikatakan oleh hari sepenuhnya fakta. Sekitar 7 bulan yang lalu, Wati yang terhimpit hutang kepada seorang jasa peminjaman uang sungguh kesulitan melunasi hutangnya.

Ingin meminjam kepada Raih tentu saja tidak enak karena jumlah uang yang bukan sedikit. 50 juta di sebuah kota kecil provinsi Jawa Tengah tentu merupakan nominal yang besar. Maka dari itu Watik meminta Hari mendekati Ratih. Awalnya Hari menolak, apalagi dia sudah punya kekasih yakni Cita.

" Wes to Har, tolong lah mbak mu. Dari pada mbak mu nanti di tangkap polisi, kita juga yang akan malu. Coba kamu bayangin kalau orang tua Cita tahu mbakmu jadi narapidana, mereka bisa nolak kamu dan mungkin Cita juga ndak mau punya ipar narapidana." Sarti bicara panjang lebar mencoba meyakinkan putra bungsunya.

Hari terdiam, ia meminta waktu sekitar 2 hari untuk berpikir, dan pada akhirnya Hari menyetujui keinginan Watik.

Watik jelas tahu sifat Ratih, gadis itu adalah gadis yang baik dan tidak tega-an terhadap orang yang membutuhkan. Namun, Watik harus main cantik yakni bagaimana meminjam uang tanpa harus mengembalikannya dan cara nya adalah membuat mereka menjadi bagian dari keluarga Ratih.

Apalagi Ratih memang yatim piatu, dan Watik yakin bahwa Ratih selama ini juga tidak memiliki kekasih. Ini pasti kesempatan bagus untuk mengambil hati Ratih.

Misi Watik pun dijalankan, biasanya Watik selalu pergi dan berangkat ke toko sendirian kini dia meminta Hari untuk mengantar. Ia juga berkata kepada Ratih kalau Hari ingin berkenalan lebih dekat dengan Ratih. Awalnya ratih tidak terlalu menanggapi, tapi lambat laun perhatian Hari dan apa yang dilakukan hari membuat ratih luluh. Sekitar 2 bulan pendekatan dan akhirnya mereka pun sepakat untuk menjalin kasih.

Pada saat semuanya sudah terkondisi sesuai dengan rencana Watik, ia pun memberanikan diri untuk mengutarakan niatnya.

" Tih, mbak mau ngomong. Tapi sebenarnya mbak ndak enak banget ngomong begini. Tapi mbak kepaksa."

" Ada apa mbak ngomong aja."

" Gini Tih, mbak mau pinjam uang 70 juta. Kalau mbak nggak segera bayar mbak bakalan dibawa ke polisi. uang itu sebenarnya adalah untuk mengganti kerugian dan biaya perawatan Hari. Hari pernah menabrak seseorang."

Watik sungguh lihai. Dia menjual nama Hari agar Ratih semakin merasa iba. Ratih tentu terkejut mendengar semua yang dikatakan oleg Watik. Gadis itu terlihat bimbang. 70 juta bukanlah uang yang sedikit.

" Kalau ndak ada ya udah Tih nggak apa-apa. Mungkin nasib mbak yang harus masuk bui."

" Bukan mbak, bukan begitu. Aku ada Mbak tapi cuma 50 juta. Itu pun tabungan dari almarhum bapak yang katanya untuk aku menikah nanti."

Di balik kepalanya yang menunduk, Watik tersenyum lebar. ia yakin akan berhasil mendapatkan uang tersebut. Watik memutar otaknya untuk mencari sebuah cara agar Ratih mau memberikan uang tersebut. Dan sebuah ide melintas di hadapannya.

" Tih, apakah kamu mau menikah dengan Hari." Ratih seketika tersipu saat Watik mengatakan hal tersebut. Jujur dia memang sudah mencintai Hari tapi Hari belumlah mengajaknya untuk serius. Kesempatan itu lah yang digunakan untuk Watik untuk mendesak Ratih.

" Begini saja Tih, kamu tidak perlu memikirkan untuk biaya pernikahan nanti. Biar Hari dan kami yang mengurus. Bagaimana?"

Ratih terdiam, apakah benar-benar Hari akan menikah dengannya. Mungkin inilah yang dinamakan tidak ada logika saat merasakan cinta. Hari belum mengatakan apapun pada nya tapi Ratih begitu percaya dengan ucapan Watik. Ratih beranggapan dengan apa yang dikatakan Watik merupakan sebuah sinyal bahwa Hari akan menikahinya.

" Baik mbak, besok aku akan ke bank dan mentransfer uang tersebut ke rekening mbak. Aku harap masalah mbak cepat selesai."

Greb

Watik langsung memeluk Ratih dan berucap dengan nada haru. Padahal di balik tubuh Ratih Watik tersenyum puas. Rencananya berhasil, tentu saja ia sangat senang. Jeratan rentenir itu bisa ia selesaikan tanpa kebingungan lagi.

Kembali ke masa sekarang, Watik melihat dengan sinis ke arah Hari.

" Halah, kamu doyan juga. Kalau ndak doyan ndak mungkin Ratih bisa hamil."

" Bukan masalah doyan ndak doyan mbak, masalahnya aku ndak cinta sama Ratih. Laah ada barang bagus di hadapan mata masa nggak ku embat. Pokonya setelah Ratih melahirkan aku tetep bakalan pisah."

TBC

Terpopuler

Comments

Memyr 67

Memyr 67

goblog aja hari, mau dijadikan jaminan utang kakaknya. kakaknya sudah dapat uang pelunas utang juga nggak mau tau, nasib adeknya. seneng seneng sendiri. kakak durjana adek goblog.

2025-02-06

0

marie_shitie💤💤

marie_shitie💤💤

lah lu masih PNY orang tua tapi kyk g di ajarin m orang tua... pake ngehina Ratih yg yatim-piatu LG Situ dipake g ajaran orang tua

2023-09-10

0

Is Wanthi

Is Wanthi

jangankan kota kota kecil,yg katanya Tangerang kota besar aja sungguh sulit nyari nyari duit segitu,,

2023-09-02

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!