Suami Pelunas Hutang 17

Watik akhirnya menerima lamaran Danu. Sepertinya memang itu adalah jalan keluar dari apa yang ia hadapi sekarang. Terlebih uang 100 juta itu sudah ditangan mereka. Ya, semalam Danu dan Mira datang untuk memberikan uang tersebut kepada keluarga Watik.

Setelah Sarti mengatakan bahwa Watik menerima lamaran Danu,sarti langsung menghubungi Mira. Dan tak berselang lama Mira bersama Danu datang menyerahkan uang tersebut. Tidak hanya itu mereka juga memberi beberapa seserahan yang rupanya sudah dipersiapkan jauh haru sebelumnya.

Seperti sudah tahu bahwa Watik akan menerima pinangan Danu, semua pun sudah tersedia dengan rapi. Saat itu juga mereka langsung menetapkan tanggal untuk menikah. Danu dan Mitra ingin segera melangsungkannya.

" Baik Bu Sarti kami akan datang ke rumah sekarang ini juga." Begitulah jawaban Mira.

Terlihat wajah penuh antusias disana, tapi Mira yang lebih merasakan hal itu. Tidak ada yang tahu apa yang direncanakan oleh pasangan kaya tersebut. Tapi yang jelas keduanya sungguh senang mendengar Watik mau menikah dengan Danu.

Di sisi lain Sarti langsung berbinar matanya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan uang sebanyak itu. Ia pikir paling Danu hanya akan memberi berapa juta saja. Sarti jelas merasa di atas angin, pun dengan Watik

" Kan apa ibuk bilang. Kamu ndak akan rugi nikah dengan pak Danu. Dah besok berikan uang itu kepada Ratih, Tapi jangan ful, berikan saja setengahnya. 25 juta saja. Anggap saja yang setengahnya itu ganti rugi kita udah mengeluarkan biaya untuk nikahan kemarin."

Watik mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang ibu. Ia tentu tidak akan rela memberikan uang yang begitu besar itu kepada Ratih. Sekalipun itu adalah tanggung jawabnya untuk membayar hutang.

Tapi rupanya hal tersebut belum diketahui oleh Hari. Baik Sarti maupun Watik belum memberitahu rencana pernikahan Watik. Entah mengapa Sarti juga belum mengabari hal baik itu, setidaknya itulah yang Sarti pikirkan.

🍀🍀🍀

Hari malam ini masih pulang ke rumah Ratih. Sebenarnya Ratih sudah enggan menerima kepulangan Hari. Dengan tegas, Ratih meminta Hari untuk segera pergi dari rumah. Mengingat bagaimana Hari berzina dengan Cita membuat Ratih muak dan jijik melihat wajah pria itu.

" Ooh kamu mengusirku?"

" Ya, betul. Sekalian talak aku. Rumah tangga kita tidak akan bisa diselamatkan. Bukankah kamu baru saja berzina dengan wanita murahan itu? Maka pergilah ke tempatnya dan jangan lagi kamu mencari ku."

Sejenak Hari terkejut mendengar penuturan Ratih tapi detik berikutnya pria itu menyeringai. Bukannya menuruti apa keinginan Ratih, ia malah melenggang terus masuk ke rumah lalu terus masuk ke kamar. Dengan santainya Hari merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Ratih yang melihat ulah Hari seperti itu sangat geram. Tidak ada sedikitpun rasa bersalah di wajah Hari. Ingin rasanya Ratih menarik tangan hari dan melemparkan semua barang-barangnya keluar. Tapi apa daya tubuhnya begitu lemah. Entah mengapa hari ini sepertinya ia merasa sangat capek dan tidak bertenaga. Padahal tadi pagi saat menuju ke kantor polisi dia masih sangat bersemangat.

" Lalu apa mau mu. Hari, jangan seenaknya sendiri. Pergilah ke rumah jalangg mu itu. Berpuas-puas lah kau berzina dengannya tapi jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di rumah ini." Ratih tak lagi bicara sopan. Ia enggan memanggil Hari menggunakan sapaan. Ratih dengan lantang menyebutkan nama Hari dengan penuh penekanan.

Hari bangkit dari posisi tidurnya. Ia menatap Ratih dengan seksama. Dilihatnya wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu dengan tatapan yang membuat Ratih bergidik. Satu hal yabg baru disadari Hari, Ratih begitu cantik. Bahkan tanpa polesan make up, istrinya itu sangat cantik.

Hari berdiri laku berjalan perlahan menghampiri Ratih yang berdiri di depan pintu kamar. Ratih pun beringsut mundur. Ia merasa takut dnegan apa yang Hari lakukan.

" Mau apa kamu!" ucap Ratih dnegan sikap waspada.

" Aku baru sadar, kamu sangat cantik Tih. Bahkan kamu lebih cantik dari pada Cita. Tubuhmu semakin berisi juga. Aku jadi ingin."

" Jangan gila kamu Hari. Aku tidak sudi menjadi objek nafsuu bejat mu itu."

Ratih terus melangkahkan kakinya mundur. Sepertinya ia harus bersiap untuk lari. Terlebih tatapan Hari sudah dipenuhi dengan kabut gairah. Ratih jelas bisa melihat itu. Ia pun langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat. Tapi sayang Hari bisa menarik jilbab Ratih sehingga membuat Ratih hampir terjengkang.

" Lepaskan aku Har!"

" Tidak sayang, aku tidak akan melepaskan kamu. Bukankah aku suamimu. Maka biarkan aku menikmati tubuhmu hmmm."

Ratih bergidik ngeri. Ia berusaha terus untuk melepaskan diri dari Hari. Sepertinya pria itu saat ini benar-benar tidak sedang dalam kondisi normal.

" Tidak, aku tidak boleh sampai tersentuh oleh pria brengsek ini."

Ratih akhirnya memilih melepaskan jilbab instan tersebut. Bruk ... Hari terjatuh duduk dan Ratih terus berlari ke luar rumah. Di depan rumahnya ada sebuah handuk. Ia langsung menyambarnya dan menutupkan ke kepalanya. Ratih berusaha sebisa mungkin berlari menjauh. Dilihatnya Hari dibelakang masih berusaha untuk mengejarnya. Tapi pria itu tidak berlari, ia hanya berjalan dengan cepat.

" Kemana aku harus pergi sekarang. sedangkan aku tidak membawa apapun."

Ratih sungguh bingung. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Saat inu yang Ratih lakukan adalah berusaha sejauh mungkin lari dari jangkauan Hari. Ia kembali melihat ke belakang dan Hari sudah tidak terlihat mengejarnya.

Ratih akhirnya memilih untuk duduk istirahat sejenak. Malam menunjukkan pukul 20.00, jadi keadaan sekitar sudah mulai sepi. Saat ia tengah menetralkan degup jantungnya tiba-tiba bahunya disentuh oleh seseorang. Ratih sungguh terkejut, ia bahkan sampai reflek berdiri dan menampik tangan itu.

" Lepaskan aku!" ucap Ratih sedikit lebih keras.

" Ratih? Ini aku. Kamu ngapain malam-malam begini di luar. Dan apa yang ada di kepalamu itu?" ucap seseorang dengan perasaan penuh dengan keheranan.

Ratih membulatkan matanya saat melihat siapa yang ada di depannya. Tapi sedetik kemudian ia membuang nafasnya penuh kelegaan. Paling tidak itu bukanlah Hari.

" Mas Raka, saya tadi ... ."

Ratih menjelaskan apa yang terjadi. Raka sungguh terkejut mendengar setiap apa yang Ratih katakan. Ia merasa geram dengan ulah suami Ratih itu.

" Mari ikut pulang bersamaku," ajak Raka.

Ratih mengerutkan kedua alisnya saat Raka mengatakan hal tersebut. Ia tentu tidak mengerti maksud ucapan pria yang berstatus sebagai pengacara itu.

" Jangan bingung begitu dna juga jangan khawatir. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Mari ikut aku pulang, paling tidak kamu aman di rumah ku. Kamu tidak mungkin kembali ke rumah bukan?"

Ratih mengangguk, ia tidak punya pilihan lain saat ini selain mengikuti usul Raka. Tampaknya ia segera harus ke pengadilan agar perceraiannya segera bisa diurus. Ratih tidak bisa berlama-lama hidup dengan Hari.

TBC

Terpopuler

Comments

marie_shitie💤💤

marie_shitie💤💤

hey,nikah Ratih modal sendiri ya bukan dari situ,, harusnya utang km tuh bukan 50jt doang tapi 75juta

2023-09-10

0

Tuxepos Jasmine

Tuxepos Jasmine

pen rasanya nyiram si hari pake air keras🙄🙄🙄🙄

2023-09-08

1

Tuxepos Jasmine

Tuxepos Jasmine

ihhhh makin gregetan akutuhhhh bacanya😷😷😷

2023-09-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!