Suami Pelunas Hutang 18

Hari tersenyum puas saat ini setelah membuat Ratih pergi dari rumah. Rupanya apa yang ia lakukan tadi hanya drama semata. Ia tidak benar-benar menginginkan tubuh Ratih. Ia sendiri enggan sebenarnya dengan adanya Ratih di hidupnya. Tapi mengingat semua rencana hidupnya berantakan gara-gara menikahi Ratih, Hari bertekad untuk mengerjai wanita itu terlebih dulu.

Tampaknya Hari pun tidak tahu bahwa apa yang ia lakukan selama ini sudah dilaporkan oleh Ratih ke kantor polisi. Hal itu berarti cepat atau lambat dia akan diperiksa oleh polisi. Hanya tinggal menunggu.

" Haaah menyenangkan sekali rasanya tidak ada wanita itu. Apa sebaiknya aku menghubungi Cita dan memintanya kemari?" gumam Hari pelan.

Hari kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi sang kekasih. Tapi tampaknya Cita tidak merespon. Beberapa kali Hari menelpon tapi Cita tidak menjawabnya. Pria itu pun penasaran mengapa sang kekasih tidak menanggapi panggilannya. Biasanya Cita selalu cepat merespon.

" Apa dia sudah tidur? Tidak mungkin, ini baru jam 8 malam. Cita tidak mungkin tidur secepat itu."

Hari merasa gelisah, ia lalu menyambar kunci motor dan menyalakan motornya. Hari berniat untuk datang menemui Cita di kost-an.

Seperti yang biasa ia lakukan, Hari memilih memarkirkan motornya di mini market. Tapi saat ia akan berjalan menuju kost Cita, dilihatnya Cita pergi keluar dengan seorang pria. Ridwan, pria itu adalah calon suami Cita.

Hari mengepalkan tangannya dengan erat. Ia sungguh marah, dirinya dibakar api cemburu. Ia jelas tidak menyukai Cita berjalan dengan pria lain selain dirinya. Apalagi tadi dia baru saja menikmati percintaan mereka.

" Sialan pria itu, aku tidak akan membiarkan Cita menikah dengannya."

Hari mengeram marah. Ia bertekad dan sebuah rencana ia susun di kepalanya. Bagaimanapun ia tidak akan membiarkan Cita dimiliki orang lain. Cita harus jadi miliknya. Obsesikah? Entahlah, tapi Cita sebenarnya juga tidak bisa melepaskan Hari. Hubungan yang dilakuakan dengan Ridwan pun jelas tidak menggunakan hati.

Hari tidak kembali pulang ke rumah. Dia memilih untuk menunggu Cita di kost-an. Ia akan menunggu Cita sampai kekasihnya itu pulang.

Di sisi lain, Cita bersama Ridwan sedang berada di mobil. Rencananya malam ini Ridwan akan membawa Cita makan malam bersama.

" Bagaimana apa kamu beneran siap menikah denganku? Aku akan mempersiapkan pernikahan kita sebulan lagi kalau kamu memang sudah siap Cit." Ridwan membuka pembicaraan. Ia menanyakan kesiapan tunangannya itu untuk menjajaki hubungan yang lebih serius yakni pernikahan.

" Bang, sebenarnya aku masih belum ingin menikah cepat. Umurku masih sangat muda. Baru 21 tahun, masih banyak yang ingin ku lakukan. Apakah abang beneran serius untuk menikahiku?"

Ridwan membuang nafasnya berat. Ia tentu dari awal sudah serius memilih Cita. Tapi tampaknya wanita itu belumlah berpikir seperti itu.

" Dari awal aku memintamu aku sudah serius. Jika kamu tidak ingin mengapa setuju untuk bertunangan kemarin. Cit, aku pria dewasa dan aku tidak pernah main-main dnegan hubungan ini. Aku beri kamu waktu dua hari, jika setuju maka bulan depan kita akan menikah. Tapi jika tidak setuju maka kita putuskan saja pertunangan kita ini." Ridwan menjelaskan semuanya panjang lebar.

Cita terhenyak mendengar penuturan Ridwan. Jika dibandingkan dnegan Hari, jelas Ridwan lebih dari segalanya. Tapi hatinya masih begitu terpaut dengan Hati. Wanita itu menjadi dilema. Meskipun demikian ia mencoba untuk berpikir realistis. Bersama Dengan Ridwan ia yakin pasti kehidupannya akan sangat baik.

" Tidak bang, tidak perlu dua hari untukku berpikir. Aku setuju menikah dengan abang."

Ridwan tersenyum senang. Ia mengusap lembut kepala Cita dan wanita itu tersenyum kecil. Biarlah ini jadi keputusannya saat ini. Sampai sekarang pun Hari belum ada pergerakan sama sekali. Maka dari itu Cita memutuskan untuk memilih mantap pada pilihannya menikah dengan Ridwan.

🍀🍀🍀

Ponsel Hari berdering, dilihatnya di layar pipih itu nama sang kakak. Ia pun langsung menjawabnya.

" Ya mbak, ada apa?"

" Pulanglah ke rumah sekarang, ada yang perlu kita bahas. Ini penting."

Hari membuang nafasnya kasar, niatnya mau menunggu Cita tapi sepertinya ia tidak akan bisa. Watik menyuruhnya pulang, sepertinya ada sesuatu yang tidka bisa ia abaikan. Jika biasanya Hari acuh, tapi sepertinya kali ini dia harus bergegas pulang.

Hari keluar dari kost-an Cita secara mengendap-endap sambil melihat ke sekeliling memastikan tidak ada irang yang melihat. Ia tentu tidak mau digrebeg warga. Bukan apa-apa, dia tentu akan malu jika itu terjadi.

" Aman."

Hari mengendarai motornya dan segera menuju ke rumah. Hanya 15 menit, jalanan kota kecil itu sungguh sangat sepi saat malam. Jadi dalam waktu singkat Hari bisa mencapai rumahnya.

Hari langsung masuk ke rumah, terlihat wajah-wajah bahagia dari ibu dan kakak perempuannya. Hari tentu bertanya-tanya akan hal tersebut.

" Lagi seneng kayaknya."

" Nih berikan ke istrimu. Bilang hutang kita lunas. Oh iya, kamu juga bisa menceraikannya besok, bahkan malam ini juga pun bisa. Tapi tunggu aku akan simpan dulu saja, nanti malah kamu pakai seneng-seneng sama cewekmu itu."

Uang yang tadinya hendak Watik berikan kepada hari agar diserahkan kepada Ratih urung diberikan. Ia menyimpan kembali. Ia akan memberikan kepada Hari besok setelah akad dilakukan.

Hari seketika bingung dengan Watik. Darimana Watik mendapatkan uang begitu banyaknya. Ia tentu tahu Watik hanya bekerja di toko kecil milik Ratih. Jadi sangat tidak mungkin kan Watik akan mendapatkan banyak uang dari sana.

" Nggak usah bingung gitu Har, itu uang seserahan dari Tuan Danu. Dia melamar mbak mu buat jadi istri keduanya."

Sarti yang paham wajah kebingungan di wajah putra bungsunya langsung menjelaskan apa yang terjadi. Hari sontak terkejut

" Apa? Kok mbak Watik mau sih. Istri kedua lho. Edan koe mbak."

Watik acuh dengan ucapan Hari. Ia tidak peduli dengan label istri kedua itu. Saat ini yang ia tahu bahwa ia memiliki apa yang tidak ia miliki sebelumnya. Ya semua uang itu dari Danu. Selain uang Danu juga memberikan pakaian bagus bahkan ponsel mahal keluaran terbaru. Bagaimana Watik tidak senang jika diberi semua benda itu.

Jadi istri kedua jelas tidak masalah, asalkan kebutuhan hidupnya tercukupi bahkan bisa dibilang lebih. Hari hanya menggeleng pelan, terserah apa kakaknya itu. Yang penting dia bisa lepas dari Ratih. Tapi saat memikirkan hal itu entah mengapa Hari merasa sedikit ada rasa mengganjal dalam hatinya.

" Aku merasa ini tidaklah sesederhana, mana ada wanita yang mau dimadu. Dan ini katanya istri pertama Danu yang meminta mbak watik secara langsung, sungguh hal yang sangat aneh."

TBC

Terpopuler

Comments

Joko Suprapto

Joko Suprapto

paling di jadikan pelacur di jual gtu

2023-12-06

1

Tuxepos Jasmine

Tuxepos Jasmine

sumpah beneran panasaran sm tujuan danu nikahin watik

2023-09-08

0

Ria Nasution

Ria Nasution

penderitaan Watik sudah menunggu di depan dan penyesalan pun akan tiada gunanya bagi hari sekeluarga

2023-09-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!