Suami Pelunas Hutang 11

Ratih sudah rapi dan bersiap untuk mengurus perpisahannya. Sungguh ia tidak sanggup lagi hidup bersama pria yang berzina dengan wanita lain sedangkan ia masih memiliki seorang istri yang sehat.

Hari yang berada di sofa ruang tamu mengerutkan keningnya melihat Ratih yang membawa beberapa dokumen. Ia bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Ratih sehingga membuat semua dokumen tersebut jatuh berhamburan.

" Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Hari sengit.

" Ngurus cerai, apa lagi?" jawab Ratih ketus.

Hari terlihat murka. Padahal dia kemarin juga mengharapkan bisa cepat berpisah dari Ratih, tapi saat Ratih mengatakan itu Hari merasa tidak terima. Ia kemudian kembali menarik tangan Ratih dan menghempaskannya ke kursi dengan begitu kasar.

Dugh

Kening Ratih terkena sandaran tangan, sedikit berdarah. Tapi Hari seakan tidak peduli. Pria itu acuh melihat kening Ratih yang merah dan berdarah tersebut. Seakan tidak punya hati, Hari malah menatap sinis. Ia mengambil semua dokumen yang jatuh di lantai dan membawanya masuk ke ruangan lain lain menguncinya. Ratih menyusul dari belakang mencoba menghalangi apa yang dilakukan Hari tapi lagi dan lagi, tenaganya kalah cepat dan kalah kuat dari Hari.

" Tidak semudah itu aku melepas mu. Kamu harus merasakan bagaimana hidup menderita. Semua rencanaku berantakan karena menikahi mu."

" Hei, apa kamu amnesia mas. Kamu yang mendekatiku duluan. Kamu yang memintaku menikah dengan mu. Apa aku pernah mengejar mu? Tidak sekalipun! Aku tidak pernah mengejar mu! Kamu yang mengejar ku!"

Hari sedikit terhenyak, apa yang dikatakan oleh Ratih itu memang semuanya benar. Meskipun itu bukan keinginannya secara pribadi alias atas suruhan kakak dan ibunya, tapi memang dialah yang mengejar Ratih terlebih dulu. Namun tak lama kemudian ia menyeringai. Seringai yang membuat Ratih sedikit takut. Hari yang sekarang benar-benar tidak Ratih kenali atau mungkin memang sikap dan sifat asli suaminya itu aslinya memang seperti ini.

Hari mendekati Ratih, semakin dekat dan mengikis jarak hingga tubuh Ratih tersudut ke tembok. Ia lalu mencengkeram erat dagu Ratih dan mendekatkan bibirnya di telinga milik Ratih.

" Asal kamu tahu, aku mendekatimu bukan karena aku menyukaimu atau bahkan mencintaimu. Aku mendekatimu karena membantu Mbak Watik. Mbak Watik mau meminjam uangmu dan aku harus membuatmu jatuh cinta padaku agar dia lebih mudah mendapatkan uang itu darimu."

Duaaaar

Bagai disambar petir di siang hari nan panas. Kata-kata Hari membuat Ratih terhenyak. Ia langsung merosotkan tubuhnya hingga terduduk di lantai. Matanya berkaca-kaca, tidak sanggup lagi menahan tangis, Ratih hanya menatap kosong ke depan.

Hari kemudian tertawa terbahak-bahak. " Jadi jangan terlalu percaya diri, dari awal aku tidak pernah mencintaimu asal kamu tahu."

" Lalu mengapa kamu menyentuhku. Mengapa kamu melakukan itu jika tidak mencintaiku! Bajingaan kamu Hari. Kamu sungguh pria biadab!"

" Asal kamu tahu, pria bisa melakukan itu meski tanpa cinta sekalipun. Tidak percaya, sini aku buktikan."

Hari menarik tubuh Ratih dam membawanya ke kamar. Ia langsung menghempaskan tubuh Ratih ke kasur. Hari menarik baju Ratih hingga kancingnya terlepas. Ia juga menarik jilbab Ratih sehingga penutup kepala itu terlepas dari kepalanya. Hari semakin bersemangat saat melihat bagian atas tubuh Ratih yang sudah sedikit terlihat. Kehamilan Ratih membuat gunungan itu terlihat lebih sekssi sekarang.

Ratih berusaha bangkit dari kasur, ia tentu tidak sudi tubuhnya di sentuh kembali oleh pria yang juga menyentuh wanita lain. Tatapan jijik dan marah Ratih layangkan kepada Hari.

Ratih terus beringsut mundur, hingga ia berhasil turun dari kasur. Di sebelah nakas ada mukena miliknya ia mengambilnya dan langsung menutupi tubuh bagian atasnya dengan itu.

Hari tentu kesal, ia menarik tangan Ratih kembali dan membuat Ratih jatuh lagi di kasur. Hari langsung mengungkung Ratih di sana.

" Please, lepasin aku. Jika kamu tidak mencintaiku jangan berbuat seperi binatang. Aku sungguh tidak ridho kamu melakukan itu padaku. Aku tidak ikhlas kamu menyentuh tubuhku."

" Bukankah istri harus menuruti kemauan suami termasuk untuk berhubungan."

" Ya, jika suaminya adalah suami yang benar-benar mencintai istrinya. Bukan suami yang membagi tubuhnya kepada wanita lain."

Duagh

Ratih berhasil menendang Hari saat pria itu lengah. Ia pun turun dari kasur dan lari menuju kamar mandi lalu menguncinya dengan rapat. Ratih menumpahkan semua rasa sakit hatinya dengan air mata yang terus mengalir deras. Fakta yang ia tahu sungguh mengejutkan dirinya. Rupanya Hari hanya digunakan sebagai alat untuk keluarga Hari mengambil uang milik Ratih.

Entah kata apa yang tepat mewakili itu. Suami pelunas hutang, ya mungkin perumpamaan itu yang tepat untuk menggambarkan keadaan dirinya saat ini.

Hari diberikan oleh Watik agar Ratih mau meminjamkan uang kepada nya. Tanpa Ratih tahu semua itu sudah direncanakan. Kedekatan dirinya dan Hari merupakan rencana yang disusun Watik. Dengan dalih akan membiayai pesta pernikahan tapi nyatanya tidak. Bahkan untuk seserahan saja Ratih membelinya dengan uangnya sendiri.

" Bodoh, aku bener-bener bodoh. Bisa-bisanya aku tidak menyadari semua itu."

Sesal adalah kata yang percuma saat ini. Bagaimanapun ia harus bangkit, ada anak dalam perutnya yang harus ia perjuangkan. Ia benci pada suaminya, tapi dia tidak membenci anak yang ia kandung.

Ratih mengusap air matanya, ia mendekatkan telinganya ke arah pintu. Mencoba mencuri dengar mengenai pergerakan Hari. Dirasa tidak ada suara, Ratih memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi. Wanita itu bernafas lega saat mengetahui Hari sudah tidak ada di kamar dan pergi dari rumah. Ia kemudian berganti pakaian dan mencoba membuka ruangan dimana Hari tadi menyimpan semua berkas-berkas yang akan ia gunakan untuk mengajukan pisah.

Klek klek klek

" Sepertinya harus panggil tukang kunci. Tapi kelamaan."

Ratih berlalu kebelakang rumah. Mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuka pintu itu dengan paksa. Linggis, Ratih melihat besi panjang itu. Dengan kedua tangannya , Ratih mengambil benda tersebut dan membawanya ke depan.

Jlug

Percobaan pertama belum membuahkan hasil. Ratih kembali mencoba untuk mengayunkan linggis itu ke pintu lagi.

Jlug ... Jlug ... Jlug

Klaaak

Ratih tersenyum lebar, akhirnya pintu ruangan itu bisa terbuka. Ratih meletakkan linggisnya lalu mencari dimana dokumen yang ia butuhkan untuk mengajukan gugatan.

Satu per satu Ratih membuka lemari yang ada di sana. Beruntung di dalam juga bukan lemari yang ada kuncinya.

" Dapat, aku harus bergegas untuk mengajukan gugatan ini."

Ratih tidak akan menunggu lagi. Ia rasa semuanya sudah cukup. Janji manis Hari yang ingin berubah jelas hanya bohong belaka. Ia tidak akan lagi percaya dengan semua itu. Saat ini yang ada dalam pikiran Ratih hanya bagaimana berpisah dan merawat buah hatinya.

TBC

Terpopuler

Comments

Tuxepos Jasmine

Tuxepos Jasmine

smoga sesegera mungkin ratih pisah sm keluarga gila itu😷😷😷😷😷

2023-09-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!