Suami Pelunas Hutang 08

Semakin hari perilaku Hari semakin baik kepada Ratih hingga Ratih memutuskan untuk menerima Hari lagi. Meskipun hatinya tidak lagi mencinta seperti dulu tapi ada hal lain yang ingin dia perjuangkan yakni anak. Terlihat seperti alasan klise, tapi sungguh Ratih ingin anaknya kelak lahir disaksikan oleh ayahnya.

" Apa sudah mau berangkat ke toko?"

" Iya mas, beberapa hari toko tidak ku cek. Bukannya apa-apa, aku perlu cek barang yang habis juga."

" Baiklah, aku akan mengantarmu."

" Tidak perlu mas, kan mas juga mau berangkat kerja. Berangkat saja, ak bisa kok bawa motor."

Hari mengangguk, ia kemudian pergi berangkat ke pabrik. Sebelum pergi Hari menyempatkan untuk mencium pucuk kepala Ratih dan mengusap perut istrinya itu.

Cesss

Hati Ratih tersentuh oleh setiap perlakuan Hari akhir-akhir ini. Suaminya itu menunjukkan perubahan yang sungguh drastis. Hari memang menunjukkan dan membuktikan bahwa ucapannya kali itu benar adanya. Ia janji berubah dan Hari menepatinya.

Hari kembali menjadi Hari saat mereka berpacaran dulu. Perhatian, dengan menanyakan kabar, menanyakan apa yang diinginkan Ratih dan menanyakan kesehatan Ratih.

" Apa aku benar-benar harus memberikan kesempatan pada kamu mas?"

Ratih menghela nafasnya dan berbicara lirih setelah Hari berlalu pergi. Ingin rasanya Ratih memercayai semuanya tapi entah mengapa hatinya seakan berat.

Ia pun mengunci rumah dan bersiap menuju ke toko. Sudah beberapa hari dia tidak memeriksa. Hanya Nia yang memberi laporan tentang keadaan toko dan ketersediaan bahan.

Brummmm

Ratih menyalakan motor bebeknya. Dengan mengucapkan doa terlebih dulu Ratih langsung mengendarai motornya menuju toko. Sepanjang perjalanan itu Ratih memikirkan perubahan sikap Hari.

Ckiiit

Ratih memarkirkan motornya tepat di depan toko miliknya. Tukan parkir yang biasa ada di sana sudah paham dna langsung membantu Ratih memposisikan motor miliknya.

" Matursuwun pak."

" Sami-sami mbak. Mbak Ratih kok baru kelihatan. Kemana saja."

" Masuk angin pak jadi di rumah."

Pak Parkir hanya ber ooh ria. Ratih kemudian berlalu masuk ke toko nya. Jam masih menunjukkan pukul 8.00 pagi, jadi tanda BUKA di kaca toko belum di tempel.

Ia memindai seluruh isi toko, semua tengah sibuk melakukan stok barang. Kemarin setelah Nia memberi tahu mengenai apa saja yang kosong, Ratih langsung menghubungi supplier dan beruntung hari itu juga barang dikirim meskipun sedikit telat karena sudah mepet magrib. Toko milik Ratih sendiri hanya buka dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 17.00.

" Mbak Ratih udah sehat."

" Alhamdulillaah sudah, gimana aman to? Oh iya kok aku ndak lihat mbak Watik. Apa belum datang?"

Nia terdiam mendengar pertanyaan dari Ratih. Gadis itu sedikit ragu untuk mengatakan apa yang terjadi. Ratih bisa melihat hal tersebut dari raut wajah Nia. Ia pun membawa Nia masuk ke sebuah rungan kecil yang ia fungsikan sebagai kantor. Di sana Ratih mengelola semua mengenai toko miliknya.

" Duduk Nia, dan apa yang ingin kamu katakan. Ayo bilang aja, ndak usah takut atau ragu."

Nia menghembuskan nafasnya pelan. Sungguh sebenarnya dia tidka ingin menyampaikan hal ini. Tapi sepertinya memang harus dikatakan.

" Mbak Watik semenjak mbak nggak masuk dia juga nggak masuk mbak. Dia cuma datang nanya Mbak Ratih masuk apa endak. Kalau ndak, dia pulang lagi. Kemarin pas hari pertama mbak ndak ke toko nelpon Nia, Mbak Watik nanya tapi sinis. Nanyain, kok mbak nggak nelpon dia, malah nelpon Nia."

Nia membuang nafasnya kasar. Ia sungguh tidka menyangka Watik akan berbuat begitu. Selama ini Watik selalu bersikap baik kepadanya.

" Sebenarnya ~"

" Sebenarnya apa Nia."

" Sebenarnya Mbak Watik sering melakukan itu. Mbak Watik juga sering ngomongin Mbak Ratih di belakang. Tapi kita nggak percaya, kita lebih dulu kenal Mbak Ratih jadi kita lebih tahu siapa Mbak Ratih."

Ratih membuang nafasnya dengan kasar. Ia sungguh tidak menyangka ternyata Watik sungguh tidak tulus. Dalam hati Ratih mulai berprasangka, apa jangan-jangan kedekatannya dengan Hari juga sebuah rencana. Ratih kemudian menggelengkan kepalanya, membuang semua pikiran buruknya itu. Ia tidak boleh ber su'uzhon, bagaimana pun juga mereka telah menikah dan bahkan akan memiliki anak. Ratih hanya berharap kedepannya akan lebih baik lagi.

" Ya sudah Nia, terimakasih untuk informasinya. Nanti aku akan menanyai Mbak Watik secara pribadi."

Nia mengangguk, dan kemudian keluar dari ruangan Ratih untuk melanjutkan pekerjaannya.

Ratih mengambil ponselnya dan menekan nomor Watik. Dua sampai tiga kali ia membuat panggilan tapi tidak di jawab oleh kakak iparnya tersebut. " Huft, kenapa sih ini orang. Ya sudahlah terserah."

Ratih meletakkan kembali ponselnya. Mood nya berubah jadi buruk. Sungguh selama hamil ini mood Ratih naik turun, tapi beruntung ia masih bisa mengolah emosinya itu jadi tidak sewaktu-waktu meledak.

🍀🍀🍀

Di dalam rumah Watik terus diomeli oleh Sarti. Bagaimana tidak, dia dari kemarin hanya di rumah dan tidak mau berangkat bekerja. Tapi bukan itu sebenarnya yang membuat Sarti kesal. Wanita paruh baya tersebut kesal karena Watik tidak mau menemui Tuan Danu saat datang ke rumah.

Ya, tadi malam Danu datang untuk menyampaikan keinginannya meminang Watik lagi. Ia sungguh serius ingin menikahi Watik, bahkan istri Danu yang bernama Miranti pun ikut serta.

Mira mengatakan memberi izin kepada suaminya untuk menikahi Watik. Sebuah janji diberikan Danu kepada Sarti bahwa dia akan menikahi Watik secara negara juga bukan hanya sekedar nikah siri.

Namun, sepertinya Watik bergeming. Bahkan ia tidka mau menemui Danu dan Mira.

" Ya sudah Bu Sarti tidak apa-apa. Mungkin Watik belum siap bertemu kami. Kami akan menunggu jawaban Watik."

" Baik Tuan Danu, Nyonya Mira, maafkan Watik ya. Nanti saya akan coba membujuknya."

Danu dan Mira pamit untuk pulang. Sarti sungguh amat kesal dengan putrinya itu hingga sekarang. Malam sudah berganti siang, kekesalan Sarti sungguh belum juga reda.

Dugh dugh dugh

" Watik metu (keluar)!!! Jangan di dalam melulu. Kamu bener-bener bikin ibu malu."

Di dalam Kamar Watik hanya menutup kedua telinganya dengan tangannya. Ia malas sekali mendengarkan ibunya yang dari semalam mengomel tiada habisnya.

" Ibu cerewet amat sih. Buk aku tuh ya, ndak mau nikah sama pria beristri."

" Terus kamu mau nikah sama siapa. Parman? Yang udah nipu kamu itu sampai kamu kebingungan buat bayar utang ke orang. Goblok, laki-laki kayak gitu masih kamu tangisi sampai sekarang."

Watik memejamkan matanya. Ia tahu, dirinya cukup bodoh karena bisa dikelabui parman. Tapi sebenarnya bukan itu yang dia sulit melupakan parman. Watik, sudah melepaskan semuanya kepada pria itu. Termakan janji setiap Parman namun semuanya hanya sebuah tipuan.

" Apa aku harus menerima Tuan Banu itu, tapi bagaimana jika dia tahu kalau aku ... ."

TBC

Terpopuler

Comments

marie_shitie💤💤

marie_shitie💤💤

memang keluarga lu bego yg satu di tipu laki yg satu tukang nipu perempuan belgedes memang

2023-09-10

1

Îen

Îen

aku pengen skip aja bab2 yg bikin nyesek tp penasaran😭😭😭😭😭😭 gmn dong...abis emosi liat female leadnya rada bloon....ga bs liat klo dikelilingin sm keluarga munafik yg cm manfaatin dia doang😡😡😡😡😡

2023-09-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!