Bruuuummmm
Ckiiiit
Suara motor berhenti tepat di depan rumah. Ratih sungguh enggan keluar untuk melihat wajah Hari. Bayangan percintaan Hari tadi saat senja membuat rasa yang campur aduk dalam dirinya. Marah, jijik, muak, kesal, pokoknya semua rasa buruk itu kini memenuhi hatinya. Bahkan rasanya Ratih ingin bisa memukul wajah Hari saat ini juga.
Mungkin benar dia adalah orang baru yang datang ke kehidupan cinta Hari dan Cita. Tapi posisi saat ini mereka adalah suami istri. Seharusnya baik Hari maupun wanita itu tentu tahu batasan dan bukannya malah jadi semakin bebas berhubungan.
" Atau jangan-jangan sebelum menikah dengan ku mereka juga sudah seperti itu. Nauzubillaah. "
Ratih bergidik saat kembali mengingat kejadian tadi sore. Ia mengusap perutnya dengan lembut. Mengatakan hal-hal baik dan kata-kata untuk saling menguatkan.
" Kita kudu kuat ya nak. Kita nggak boleh lemah. Kita harus minta keadilan."
Suara pintu kamar Ratih di ketuk oleh Hari. Dari luar kamar, pria itu memanggil Ratih dengan sangat lembut dan manis. Hari mengatakan bahwa ia membawa singkong keju untuk istrinya. Ratih mengepalkan tangannya. Wanita itu berjalam keluar kamar dan saat membuka pintu kamar sebuah tamparan Ratih layangkan di pipi Hari.
Plak
" Ratih, apa-apa an kamu. Dasar istri kurang ajar. Suami pulang kerja bukannya disambut malah kayak gini. Apa kamu tidak punya aturan hah.nggak pernah diajari!"
" Yakin pulang kerja, bukan pulang habis bercinta dengan ****** tak tahu diri itu. San jangan bicara kepadaku soal peraturan. Aku tahu persis apa yang harus ku lakukan untuk menghadapi pria macam kamu!"
Deg
Hari terkejut mendengar ucapan Ratih. Bagaimana Ratih bisa tahu apa yang dia lakukan bersama Cita tadi. Tunggu, Hari mencoba menelisik wajah Ratih. Apakah istrinya itu hanya berbicara asal atau benar-benar tahu apa yang sudah dia perbuat.
" Kenapa? Kaget, bertanya, dari mana aku tahu. Mas inget, sepandai-pandainya kamu menyembunyikan sesuatu pasti akan ketahuan. Apalagi yang kamu sembunyikan adalah bangkai busuk, jelas sekali mudah tercium bau busuknya."
Plak
Greb
" Arghhhh, lepasin mas. Kau menyakitiku."
Hari melayangkan tamparan ke wajah Ratih. Ia kemudian mencengkeram pergelangan tangan Ratih dengan sangat kuat dan melemparkan tubuh Ratih diatas tempat tidur.
Hari sungguh marah dan tidak terima Ratih mengumpamakan hubungannya dengan Cita seperi sebuah bangkai busuk. Hari dengan tega ia mencekik leher Ratih. Ratih berusaha memberontak, ia memukul-mukul tangan Hari. Tapi tenaganya jelas tidak sekuat tengah Hari.
Ratih kemudian tersenyum ke arah Hari dengan posisi lehernya di cekik," Bunuh saja aku mas. Itu lebih baik dari pada aku hidup dengan sejuta rasa sakit yang kau berikan." Ratih mengucapkan kalimat itu dengan suara yang tertahan. Tapi Hari masih bisa mendengarnya.
Seolah sadar, Hari langsung melepaskan tangannya dari leher Ratih. Pria itu memundurkan tubuhnya. Hingga mentok ke dinding. Ratih terbatuk-batuk. Tangan Hari yang tadi bertengger di leher Ratih jelas meninggalkan bekas kemerahan.
" Kenapa berhenti, takut? Kan bagus kalau aku mati. Kamu bisa dengan senang hati berzina dengan wanita itu. Inget dosa mas, hiiih kalau aku takut. Dan, mulai sekarang tidurlah di ruang lain. Aku tidak sudi sekamar dengan pria yang bercinta dengan wanita lain."
Tangan hari terangkat ke atas, posisi sudah siap untuk menampar Ratih. Tapi bukannya mundur, Ratih malah maju memposisikan wajahnya. " Mau tampar lagi, nih lakukan sepuas mu."
Hari kembali menarik tangannya dan berlalu keluar.
Ratih langsung menutup pintu kamar dan menguncinya rapat. Ia menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya berdetak keras, air matanya luruh. Ternyata dia tidak sekuat yang ia pikirkan. Ratih tersedu di dalam kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya mengingat semua perbuatan Hari.
" Ya Allaah, pria seperti apa yang sebenarnya aku nikahi ini? Mengapa dia sungguh tega terhadap istrinya. Berkhianat, berzina, memukul, mencekik, setelah ini apa lagi ya Allaah. Dari mana aku harus mulai meminta keadilan untuk hidupku dan hidup anak yang kau titipkan di rahimku ini."
🍀🍀🍀
Di rumah sang ibu mertua, Sarti sedari sore mengomel tiada henti karena Ratih yang ditunggu tak kunjung datang. Berkali-kali dia menghubungi Ratih tapi tidak juga di jawab. Apalagi ini sudah pukul 21.00 malam. Sudah tidak mungkin Ratih akan datang.
" Ibuk ngopo sih, dari tadi muter- muter ndak jelas begitu."
" Naah metu (keluar) juga kamu. Aku nunggu Ratih. Katane mau kesini tapi dah malam gini nggak kelihatan."
Watik mengerutkan kedua alisnya, ia tengah berpikir mau apa ibunya menyuruh adik iparnya itu untuk kemari. Ngomongin Ratih, Watik baru ingat kalau dia sudah beberapa hari ini tidak berangkat ke toko. Ia lalu berlari masuk ke dalam dan membuka ponselnya. Banyak sekali panggilan dan pesan yang masuk dari Ratih ia jumpai di sana.
" Sial, hp aku silent."
" Watik ... Watik! Kemari sebentar."
Watik yang berada di kamar jelas kesal, ia baru saja ingin menonton acara favoritnya dari ponsel tapi Sarti sudah memanggilnya dengan begitu keras. Mending kalau cuma memanggil, Sarti sambil menggedor pintu kamarnya.
" Apa an sih buk malem-malem heboh bener deh."
" Itu lihat Tuna Danu datang lagi."
Watik membulatkan matanya, ia menoleh ke arah ruang tamu. Tengah duduk di sana seorang pria dan seorang wanita yang Watik tahu mereka suami istri. Sebenarnya ada hal aneh yang menghampiri pikiran Watik. Mengapa sang istri begitu tela dimadu, siapa yang tidak mengenal Mira. Wanita itu sungguh cantik. Jika dibanding dengan dirinya jelas sangat jauh.
Dengan sangat terpaksa, Watik mengikuti Sarti untuk menemui Danu dan Mira. Ia duduk di sebelah Sarti dengan kepala tertunduk. Tanpa Watik duga, Mira langsung meraih kedua tangannya dan mengucapkan suatu hal yang membuat Watik lagi-lagi tidka habis pikir.
" Menikahlah dengan Mas Danu ya Wat. Aku mohon. Hanya kamu yang aku mau jadi maduku."
Watik hanya bisa terbengong mendengar perkataan Mira. Bagaimana bisa wanita cantik itu meminta pernikahan pada wanita lain untuk suaminya.
Sampai Danu dan Mira pergi Watik masib diam. Ia kini merasa dilema dengan hatinya. Apakah harus menerima Danu atau masih berharap pada Parman yang sampai saat ini hilang tanpa kabar.
Dijalan Danu dan Mira saling pandang dan tersenyum lebar. " Apa kamu yakin dia mau mas?"
" Aku yakin mau, kan kuberikan mahar yang membuatnya tidak bisa menolak. Kita lihat saja apa iya dia masih menolak jika 100 juta kita kasihkan kepadanya."
" Hahahha, kamu selalu licik mas."
TBC
Yuk dukung karya Author yang baru ini. Sambil nunggu yang sebelah. Hehehhe
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
marie_shitie💤💤
waktu karma mu datang Watik,,, hhaahhaahahs
2023-09-10
0
Tuxepos Jasmine
tp ky nya neraka nya watik bakal dimulai pas dia jd istrinya danu.....atleast dia bs ngerasain segala sakit yg ratih rasain
2023-09-04
1
Tuxepos Jasmine
nah teka teki lg ttg si watik😥😥😥😥😥
2023-09-04
0