Suami Pelunas Hutang 07

Di dalam toko, Watik sedikit merasa kesal saat ia tahu bukan dirinya yang dihubungi oleh Ratih tapi malah Nia. Nia mengatakan kepada semua karyawan toko bahwa Ratih tidak masuk hari ini.

" Kok Ratih nggak nelpon aku sih, kok malah nelpon kamu."

" Waduh Mbak Watik, Nia juga tidak tahu. Soalnya Mbak Ratih cuma bilang nggak masuk hari ini dan ndak ngomong apa-apa lagi."

Watik melengos lalu pergi keluar daro toko. Nia hanya membuang nafasnya kasar diikuti tatapan tidak mengerti dari rekannya yang lain. Kasak-kusuk pun di mulai. Beberapa orang memang tidak menyukai sifat Watik yang kadang semena-mena. Mentang-mentang dia adalah saudara ipar pemilik Toko, Watik tak jarang suka memerintah. Ia juga enggan ikut beres-beres atau mendisplay bahan-bahan yang baru datang. Watik hanya ingin berdiri di kasir. Padahal oleh Ratih kasir sudah ada sendiri. Watik juga sering bolos kerja, dan itu dilakukan setiap tahu kalau Ratih tidka datang ke toko.

" Sok-sokan, padahal cuma ipar tapi gayanya dah kayak owner."

" Iyo, maleske. Sok bos lagi."

" Sudah, stop gibahnya. Kerja lagi, bentar lagi toko ready buka. Siap-siap menerima serbuan pelanggan."

" Siap!"

Suasana Toko kembali cair saat Nia berkata hal tersebut. Ia tentu tahu banyak yang tidka suka dengan Watik terlebih saat Ratih menjadi iparnya. Hal itu sudah dimulai ketika Ratih masih berpacaran dengan Hari. Sebenarnya Watik jika dibelakang Ratih suka berbicara buruk tentang pemilik tok mereka. Namun mereka tidak mau ambil pusing. Jelas mereka lebih mendukung Ratih, karena jauh sebelum Watik dekat dengan Ratih, mereka lebih dulu dekat.

Ratih bagi mereka bukan hanya sekedar bos tapi juga teman dan saudara. Tidak sedikit yang dibantu Ratih, maka dari itu karyawan yang berjumlah 5 orang, minus Watik sungguh loyal kepada Ratih.

Benar saja, tak lama toko di buka para pelanggan mulai berdatangan. Nia membuang nafasnya kasar saat tidak melihat Watik kembali lagi ke toko. Tapi dia tidak mau ambil pusing saat ini pelanggan menjadi prioritas utama ketimbang memikirkan kemana Watik pergi.

Ingin sekali Nia melaporkan hak ini kepada Ratih tapi Nia urung. Gadis itu tidak ingin hubungan ipar mereka rusak. Jadi Nia memilih untuk diam, dan itu pun berlaku untuk karyawan yang lain. Nia mengatakan pada keempat rekannya untuk tidak bicara apa-apa mengenai Watik. Mereka pun setuju apalagi setelah alasan yang Nia buat.

Tapi pertanyaannya harus sampai kapan untuk memendam itu semua. Bukankah ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa sepandai-pandainya tupai melompat maka akan jatuh juga. Maka dari itu sepandainya mereka menyimpan rahasia pasti akan ketahuan.

" Jika sampai saatnya tiba, biarlah Mbak Ratih tahu sendiri dan bukannya dari kami. Hanya doa yang terbaik yang bisa aku panjatkan untuk Mbak Rati," gumam Nia lirih ditengah-tengah kegiatannya menghitung barang belanjaan pembeli.

🍀🍀🍀

Watik bersungut-sungut sambil terus mengendarai motornya. Ia sangat kesal atas apa yang Ratih lakukan. Ia merasa Ratih berubah. Tapi ia pun tidak bisa melakukan apa-apa. Bagaimana juga Ratih pernah menolongnya, 50 juta itu. Meskipun ia sudah menganggap lunas hal tersebut karena telah menyodorkan Hari untuk Ratih.

Sungguh picik pikiran Watik ini. Fia mendapat kan aoa yang diinginkan tanpa memedulikan perasaan orang lain. Menikah bukan ajang main-main, tapi sepertinya Watik acuh akan hal itu.

Jika Watik peduli, setidaknya ia meminta Hari untuk berhenti berhubungan dengan Cita tapi ini tidak, Watik acuh. Pun sama yang dilakukan oleh Sarti. Sarti seperti juga tidak peduli dengan kehidupan rumah tangga putranya itu.

Memang benar orang tua dau saudara tidak berhak untuk ikut campur urusan rumah tangga anak-anak mereka. Tapi jika pihak anaknya yang salah dalam hal ini adalah Haris, sebagai orang tua seharusnya Sarti menasehati. Bukan malah membiarkan Hari berlaju seperti itu.

Keputusan menikahi Ratih adalah keputusan bersama, meskipun Sarti dan Watik yang mendesak. Seharusnya di sini Sarti dan Watik juga ikut andil untuk mengingatkan perbuatan yang salah dari Hari.

Mereka sudah mengambil keuntungan dari Ratih yang tidak sedikit. Bahkan saat membeli seserahan Ratih menggunakan uangnya sendiri. Dengan dalih uangnya sudah habis untuk biaya hajatan, Sarti meminta sedikit kelonggaran Ratih untuk menyiapkan seserahan.

Tidak ingin membuat keluarga Hari malu Ratih menyanggupi permintaan Sarti. Dalam pikiran Ratih, toh mereka akan jadi keluarga jadi apa salahnya saling membantu. Padahal pesta pernikahan yang dijanjikan juga tidak terlaksana. Sarti hanya mengadakan syukuran kecil-kecilan saja. Sungguh tidka sesuai dengan janji Watik saat ia meminjam uang.

Ratih hanya bisa pasrah, toh semuanya sidah terlanjut. Mau protes juga percuma. Jadi saat itu Ratih terima saja apa yang terjadi. Tidak ada pikiran buruk dalam hanya Ratih terhadap keluarga suaminya tersebut.

" Huh, kampret."

Braaak

" Woi, kalau naik motor lihat-lihat dong. Jangan ngelamun bahaya tahu."

" Asuuu!"

Bukannya meminta maaf atas kesalahannya, Watik malah mengumpat marah. Beruntung yang diserempet Watik adalah seorang pemuda yang sabar. Bayangkan jika itu adalah seorang yang juga pemarah, mungkin Watik akan dibawa ke kantor polisi.

Pemuda yang motornya diserempet oleh Watik hanya menggeleng pelan. Ia kemudian berlalu dari tempat itu. Sedangkan Watik, sepanjang jalan hanya menggerutu. Ia baru ingat bahwa ia sudah jauh berkendara.

" Laaah, aku ini mau kemana to. Wis pulang aja. Mau balik ke toko yo males."

Watik mengubah arah motornya menuju ke rumah. Ia juga bingung mau pergi kemana, maka dari itu ia memilih untuk pulang saja.

Sesampainya di rumah, Sarti mengerutkan kedua alisnya melihat putri sulungnya itu sudah pulang. Jam baru menunjukkan pukul 10 pagi. Sarti mengambil kesimpulan bahwa Watik pasti membolos.

" Ngopo kok pulang hmm?'

" Males di toko. Mending pulang."

" Wat, mbok ya kamu buruan rabi(nikah). Itulah ada Pak Danu mau nikahin kamu. Kemarin dia minta ke ibuk."

" Pak Danu? Dia udah punya istri bum, ndak mau lah aku jadi istri keduanya."

Sarti membuang nafasnya kasar. Usia Watik sudah 32 tahun. Di kampungnya Watik sudah sering dikatai perawan tua, terlebih Hari sudah menikah. Rumor yang beredar jika kakak perempuan dilangkahi adik laki-laki nya akan sulit dapat jodoh. Sarti sungguh takut akan hal tersebut. Maka dari itu saat Pak Danu, salah satu ornag kaya dikampung itu ingi Watik jadi istri keduanya membuat Sarto sangat bersemangat.

" Kamu mau nyari apalagi sih Wat. Pak Banu lho, ganteng, kaya, umur pak Banu aja baru 40 tahun. Belum tua itu. Mumpung ada yang mau sama kamu Wat. Kapan lagi, telinga ibuk sudah risih diomongin terus."

" Mbuh lah buk, ndak mau mikir. Wis, Watik mau ke kamar."

Brak

Watik menutup pintu kamarnya sedikit lebih keras membuat Sarti terperanjat. Dalam kamarnya watik langsung menangis. Dia jelas tahu omongan para tetangga, tapi ia memang belum punya keinginan menikah setelah sakit hati ditinggal sang kekasih.

TBC

Terpopuler

Comments

marie_shitie💤💤

marie_shitie💤💤

harus nya dah curiga lah wong,si hari kere masa km mau ajh sih di manfaatkan m keluarga benalu

2023-09-10

0

Îen

Îen

sebenernya aku ga begitu suka baca cerita ttg perselingkuhan RT krn menguras emosi bgt...ky pengen jambak2 para antagonisnya...apalagi klo protagonisnya menya menye ....makin gregetan dahhh bacanya😤😤😤😤

2023-09-02

0

Îen

Îen

sekeluarga kaga ada yg beres...smoga ratih cepet2 bebas dr keluarga gila ky mereka🤲🤲🤲🤲🤲

2023-09-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!