Kendaraan yang membawa para taruna dan taruni dari akademi militer, akhirnya tiba di akademi angkatan udara. Dengan membawa barang bawaannya, para taruna kembali ke kamarnya masing-masing. Mereka segera membereskan barang-barang mereka. Sama seperti di akademi militer, aturan di sini pun sama ketatnya.
Azzam menata kamarnya dengan rapih. Pakaian dinasnya dilipat rapih dan dimasukkan ke dalam lemari. Sepatu diletakkan di bagian luar kamar. Meja belajarnya pun sudah diatur dengan rapih. Buku-buku disusun sejajar, alat tulis berada di dalam laci dan laptop berada di atas meja.
Terdengar suara lonceng dua kali, pertanda sudah waktunya mereka makan siang. Azzam segera keluar dari kamarnya. Bersamaan dengan dirinya, Seno, Eko dan Zakaria keluar dari kamar masing-masing. Keempatnya segera menuju ruang makan bersama taruna yang lain.
“Zam.. kamu ambil jurusan apa?” tanya Zakaria.
“Aeronautika pertahanan.”
“Sama kaya aku. Kita bakalan sekelas,” ujar Eko sambil tersenyum. Azzam menganggukkan kepalanya.
“Kamu ambil apa?” tanya Seno Zakaria.
“Industri pertahanan. Kamu sendiri?”
“Elektro pertahanan.”
“Ternyata cuma Azzam sama Eko aja yang satu jurusan.”
Keempatnya segera menuju ruang makan. Mereka berbaris bersama taruna yang lain. Menunggu giliran untuk masuk ke dalam ruangan. Azzam diikuti yang lain menuju meja yang ada di bagian ujung setelah mendapatkan makanan. Niken dan Zuhaidar mengikuti mereka ke meja yang sama. Niken masih membutuhkan bantuan para taruna untuk menghabiskan makanannya.
Niken duduk di antara Zakaria dan Seno, kedua pria ini memang sering membantunya menghabiskan makanan saat berada di akademi militer. Begitu pelatih mempersilahkan mereka untuk makan, dengan cepat Zakaria mengambil nasi dan lauk dari piring Niken, begitu pula Seno. Azzam dan Eko menghabiskan makanannya sendiri, begitu pula dengan Zuhaidar.
🌻🌻🌻
Usai apel pagi, semua taruna mulai mengikuti pendidikan akedemik. Azzam dan Eko masuk ke dalam kelas yang sama. Dari 150 taruna angkatan udara yang diterima tahun ini, hanya 32 orang saja yang mengambil jurusan aeronautika pertahanan. Setelah Azzam dan Eko duduk di tempat masing-masing, nampak Niken memasuki kelas. Gadis itu juga mengambil jurusan yang sama dengan Azzam.
Melihat keberadaan Azzam di dalam kelas, tentu saja membuat Niken senang. Tak disangka, ternyata pemuda itu mengambil jurusan yang sama. Niken mengambil tempat di depan Azzam yang kebetulan kosong. Dia menganggukkan kepalanya pada Azzam sebelum mendaratkan bokongnya di kursi.
Ketika kembali ke akademi angkatan udara, para taruna melanjutkan pendidikan ke semester tiga. Semester satu dan dua sudah mereka lewati di akademi militer. Selama dua semester tersebut, mereka dibekali ilmu tentang pertahanan dan bela negara. Sedang saat kembali ke akademi udara, mereka akan belajar sesuai jurusan yang diambil.
Terdapat tiga jurusan di akademi udara, teknik aeronautika pertahanan, teknik industri pertahanan dan teknik elektro pertahanan. Teknik aeronautika pertahanan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan pengkajian, perencanaan, dan pembuatan mesin-mesin berkemampuan terbang, atau teknik-teknik pengoperasian pesawat terbang dan roket di atmosfer. Karenanya tidak banyak taruna yang mengambil jurusan ini, karena tingkat kesulitannya.
Azzam menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan dan kiri usai perkuliahan. Kepalanya terasa pegal karena terlalu sering menunduk. Banyak yang harus dia catat dari penjelasan dosen untuk mata kuliah fisika terapan. Para taruna belum keluar dari kelas setelah perkuliahan pertama berakhir. Mereka masih menunggu dosen selanjutnya.
Tak berapa lama kemudian, dosen yang mengajar mata kuliah Lambangja dan kesehatan terbang masuk ke dalam kelas. Azzam dan yang lain kembali membuka buku mereka dan menyimak penjelasan sang dosen.
🌻🌻🌻
Semenjak kembali ke akademi angkatan udara, para taruna tidak terlalu banyak melakukan pelatihan fisik seperti saat di akademi militer. Mereka sekarang disibukkan dengan pendidikan akademik. Waktu pun terasa berjalan lebih cepat. Di tahun kedua ini, mereka sudah bisa menggunakan ponsel di saat waktu libur.
Setelah jam sepuluh pagi, banyak para taruna dan taruni yang keluar dari akademi untuk menghabiskan waktu pesiar mereka. Azzam dan Eko tidak bisa pergi pesiar, karena masih ada tugas yang harus diselesaikan, begitu pula dengan Seno. Zakaria sebenarnya bisa pergi keluar karena tugasnya sudah selesai, tapi pemuda itu memilih membantu Zuhaidar membereskan tugasnya. Mereka memang berada di jurusan yang sama.
Usai mengerjakan tugasnya, Azzam keluar dari kamarnya. Eko yang sudah selesai juga keluar dari kamarnya. Mereka keluar dari bangunan flat tempat mereka tinggal, dan memilih berjalan-jalan di seputar sana.
“Zam.. katanya praktek para dasar tahun ini Bandung, ya.”
“Iya, katanya sih di Bandung.”
“Wah enak ya, keluargamu pasti bisa nonton pas nanti kita praktek terjun payung. Pas wing day juga mereka bisa pakein brevet di dada kamu.”
“Orang tuamu juga bisa.”
“Mana bisa, Zam. Mereka ngga punya uang buat pergi ke Bandung.”
Wajah Eko nampak sedih saat mengatakan itu. Kalau saja latihan para dasar dilakukan di Yogyakarta atau Semarang, orang tuanya pasti memaksakan datang. Tapi jika harus ke Bandung, mereka harus mengeluarkan biaya lebih. Salah satu tujuan Eko memasuki akademi ini adalah untuk meringankan beban orang tuanya. Karena menempuh pendidikan di sini tidak harus mengeluarkan biaya, alias gratis. Jadi tidak mungkin rasanya dia meminta orang tuanya datang ke Bandung saat praktek pada dasar nanti.
“Ko.. kamu anak ke berapa?”
“Anak pertama. Aku punya satu orang adik perempuan. Gendis namanya. Sekarang dia kelas tiga MTs.”
“Kapan-kapan aku boleh nginep di rumahmu?”
“Wah rumahku jelek, Zam. Kamu yakin mau nginep di rumahku?”
“Kalau boleh.”
“Ya bolehlah. Kalau kamu mau, nanti pas pesiar lagi, kita ijin bermalam di luar. Gimana?”
“Boleh. Abis praktek para dasar aja, gimana?”
“Boleh.. boleh..”
“Ajak Zak sama Seno juga. Siapa tau mereka mau ikut.”
“Okelah. Nanti kita cabut singkong sama ubi.”
“Boleh.”
Eko terlihat gembira saat Azzam mengatakan ingin menginap di rumahnya. Dia tidak menyangka, anak konglomerat seperti Azzam mau berkunjung dan tinggal di rumahnya yang tidak seberapa besar, bahkan bisa dikatakan sempit.
“Aku mau telepon keluargaku dulu.”
Azzam mengeluarkan ponselnya, kemudian menghubungi keluarganya. Sampai panggilan berakhir, sang mama tidak menjawab panggilannya. Akhirnya Azzam memutuskan untuk menghubungi papanya melalui sambungan video call. Tidak sampai deringan ketiga, Kenzie langsung menjawabnya.
“Assalamu’alaikum,” wajah Kenzie langsung memenuhi layar ponsel.
“Waalaikumsalam. Sehat, pa?”
“Alhamdulillah. Kamu sendiri, gimana?”
“Alhamdulillah sehat juga. Mama mana? Aku telepon ngga diangkat.”
“Mamamu lagi mandi. Kamu sudah kembali ke Sleman?”
“Sudah, pa. Oh iya, dua bulan lagi, aku mau praktek para dasar di Bandung. Papa, mama, kakak dan abang bisa datang kan? Lokasinya di lanud Sulaiman.”
“Pasti papa akan datang.”
“Makasih, pa. Aku boleh minta sesuatu?”
“Apa?”
Sebelum menjawab pertanyaan Kenzie, Azzam beranjak dari tempatnya. Dia menjauh dari Eko, supaya sahabatnya itu tidak mendengar apa yang akan dikatakannya pada Kenzie. Setelah berada di tempat yang cukup jauh, barulah dia mengatakannya.
“Bisa papa suruh orang jemput orang tua temanku dan bawa mereka ke Bandung? Mereka pasti mau lihat anaknya praktek terjun payung. Rumahnya di Bantul. Nanti aku kasih alamat lengkapnya ke papa.”
“Gampang itu. Nanti papa akan suruh orang jemput mereka. Dia teman baikmu?”
Azzam senang saat Kenzie menyanggupi permintaannya. Dia sengaja menjauh dari Eko ketika mengatakan permintaannya ini. Pemuda itu ingin memberikan kejutan pada sahabatanya di hari wing day nanti.
“Iya, pa. Namanya Eko.”
“Oh.. papa kira namanya Dewi, Sinta atau Lala. Ternyata namanya Eko, hahaha..”
“Papa ada-ada aja.”
Senyum terkulum di wajah Azzam. Pasti papanya menyangka teman yang dibantunya adalah seorang perempuan. Ketika sedang asik mengobrol, Nara datang. Wanita itu terlihat senang melihat sang anak menghubungi mereka. Langsung saja dia menginterupsi pembicaraan ayah dan anak itu.
Eko yang masih berada di tempatnya, memandangi Azzam yang masih berbincang dengan keluarganya. Senyum tak lepas dari wajahnya. Eko ikut senang melihat Azzam seperti itu. Biasanya pemuda itu selalu menampilkan wajah serius dan jarang tersenyum. Tapi justru sikapnya yang seperti itu yang membuat banyak wanita tergila-gila padanya.
🌻🌻🌻
Bikin novel AZZAM itu sesuatu banget. Sebelum nulis bab, aku harus cari referensi buat bahan tulisan. Referensi bisa dari artikel atau video. Kadang Lamaan cari referensinya dari pada nulisnya. Sampe ditegur paksu, mau nulis atau nonton video?😂 Dia ngga tau aja bininya lagi ngintipin tentara latihan🤣 Jiaaahh.. Jadi curcol🤭 Udah ah, sekian dan belum terima gaji😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Nethijen Ambyaarrr
semangat maaaaakkkkThorrr, baca novel Azzam berasa aku yang jadi azzam nya.. semuanya perfect beedddd maakk, best dehh.. sehat sehat selalu maaaakkkk🥰😍
2024-03-01
1
DhilaZiya Ulyl
pantes.... kirain paksu mamake yg pak tara... kok kayak detail bingit ngejelasin kegiatan akmil taruna.....😅😅😅😅
2023-12-17
2
Khodijah Cyti
kalau suami ku pasti bilang, hp teruuuuus gitu Thor 😂😂😂😂😂
2023-12-04
1