Usai apel pagi, taruna bersiap untuk mengikuti latihan menembak. Latihan menembak ini menjadi salah satu latihan dasar yang harus dimiliki taruna saat pelatihan integrasi. Latihan menembak akan dilakukan selama dua hari. Dalam latihan ini, taruna akan menerima beberapa materi, seperti pengenalan senjata, karakteristik senjata, sifat khusus senjata, bekerjanya senjata, gangguan dan cara mengatasi, bongkar pasang senjata, pengetahuan sasaran dan teknik menembak.
Setelah materi di atas dikuasi, mereka akan belajar secara langsung teknik menembak. Dalam teknik ini meliputi, teknik membidik, sikap menembak, teknik menarik pelatuk, kemudian menembak nol benar, tembakan pelan sikap berdiri, tembak cepat sikap tiarap dan berlutut, dan diakhiri dengan tembakan beruntun dengan sikap tiarap, berlutut, membungkuk serta berjalan.
Taruna bergantian mencoba membongkar dan memasang senjata. Senjata yang digunakan adalah pistol G2 combat, buatan Pindad. Pelatih memberikan contoh cara membongkar, kemudian memasang kembali senjata. Tangannya bergerak cepat memasang magasin, mengokang senjata, kemudian membidiknya ke arah sasaran. Pelatih tersebut kemudian memerintahkan untuk memasangnya kembali.
Azzam maju setelah gilirannya tiba. Diambilnya senjata tersebut, ditekannya tombol yang ada di dekat pelatuk untuk mengeluarkan magasin. Kemudian dia menarik bagian atas senjata, lalu menguncinya. Setelahnya pemuda itu kembali memasang magasin, menarik pelatuk dan mengarahkan senjata pada target. Pelatih yang ada di dekatnya membenarkan posisi tubuhnya saat membidik.
“Ingat, saat menembak harus ‘nabitepi’, nafas – bidik – tekan – picu.”
Azzam memeragakan apa yang dikatakan pelatihnya. Pemuda itu menarik nafas, kemudian membidik pistol di tangannya, jarinya menekan pelatuk, kemudian menembakkannya.
“Bagus.. ulangi!”
Azzam kembali mengulangi apa yang dilakukannya tadi. Selesai melakukan itu, bergantian taruna yang lain mencoba menembak dengan pistol G2 combat tersebut. Semuanya diberikan kesempatan untuk memegang dan menembak target dengan senjata buatan asli Indonesia tersebut.
Keesokan harinya, latihan menembak masih berlanjut. Kali ini para taruna menggunakan senjata laras panjang. Mereka dilatih untuk menembak target dengan gaya tiarap, berlutut, berdiri dan berjalan. Sebisa mungkin mereka harus mengenai sasaran di depan sana. Nanti pelatih akan memeriksa apakah tembakan yang mereka lakukan tepat mengenai sasaran.
Dengan senjata di tangannya Azzam membidik sasaran di depannya. Sebelah matanya terpejam, sedang sebelahnya lagi menatap tajam pada target di depannya, tubuhnya dalam posisi tiarap. Jarinya mulai menarik pelatuk dan menembakkan peluru. Kemudian pemuda itu menembak dengan cara berlutut, lalu mengulangi apa yang dilakukannya tadi. Kemudian Azzam berdiri dan mulai menembak. Terakhir pemuda itu berjalan sambil menembakkan senjata.
Seno, Eko Zakaria, Willi dan Yakob juga melakukan pelatihan yang sama dengan Azzam. Sama seperti Azzam, Yakob juga berhasil menembak sasaran dengan tepat, begitu pula dengan Willi, Zakaria dan Seno. Hanya Eko saja yang masih tertinggal. Namun pemuda itu tidak menyerah dan terus melakukan yang terbaik. Walau dalam hal menembak, Eko di belakang teman-temannya, namun semangat pemuda itu patut diacungi jempol, dan sang pelatih juga mengakui kegigihan Eko.
🌻🌻🌻
Hari ini para taruna dapat sedikit refreshing dalam menjalani pelatihan. Pasalnya khusus hari ini, akademi militer mengadakan acara donor darah yang diselenggarakan di Artos mall. Acara kemanusiaan ini merupakan salah satu rangkaian Hari Bhakti Taruna. Donor darah sengaja diselenggarakan di Artos mall, agar masyarakat umum juga bisa menjadi bagian kegiatan ini. Selain itu, pihak akademi juga mengudang mahasiswa perguruan tinggi yang berada di Magelang.
Keramaian langsung terasa ketika Azzam dan yang lain memasuki gedung pusat perbelanjaan tersebut. Ratusan taruna sudah berada di sana dan siap menyumbangkan darah bagi kemanusiaan. Petugas dari PMI sudah menyiapkan blankar yang digunakan para penyumbang darah untuk berbaring. Azzam dan yang lain dengan sabar menunggu antrian. Hanya Zakaria saja yang terlihat tidak tenang selama mengantri.
Sebelum diambil darahnya, para pendonor harus menjalani pemeriksaan lebih dulu. Bagi yang belum tahu golongan darahnya, bisa mengecek lebih dulu. Selain itu, semua pendonor harus melakukan pengukuran tekanan darah. Jika darah mereka rendah atau tinggi, maka tidak diperkenankan untuk menjadi pendonor.
Setelah menunggu hampir dua jam lamanya, akhirnya tiba giliran Azzam untuk mendonorkan darahnya. Pemuda itu diminta berbaring di atas blankar. Petugas segera menusukkan jarum ke lengannya. Mata Azzam terus memandangi darahnya yang mengaliri selang dan berkumpul di kantong darah.
Usai Azzam, berturut-turut Yakob, Eko, Seno dan Willi maju untuk diambil darahnya. Wajah Zakaria nampak pucat. Kakinya terus bergerak-gerak, pertanda kalau pemuda itu sedang gelisah. Tentu saja hal ini mengundang kecurigaan yang lainnya.
“Kamu kenapa, Zak?” tanya Azzam.
“Ngga apa-apa.”
“Sana buruan maju,” ujar Seno.
“Kalau tidak ikut donor darah, tidak apa-apa, kan?”
“Kenapa?” tanya Eko.
“Jangan begitu Zak.. golongan darahmu itu AB. Golongan darah ini paling langka di Indonesia. Dengan kamu menjadi pendonor, maka kamu bisa membantu orang yang membutuhkan darah yang sama denganmu,” tutur Yakob panjang lebar.
“Bukannya aku ngga mau, tapi..”
“Tapi apa? Jangan bilang kamu takut jarum suntik.”
Mulut Zakaria langsung terbungkam begitu mendengar ucapan Azzam. Dia memang takut dengan jarum suntik. Saat SD saja, dia sampai harus dikejar-kejar oleh guru di sekolahnya, saat ada kegiatan imuninasi. Belum juga jarum suntik mengenai kulitnya, dia sudah menangis dan meraung-raung ketakutan.
“Kau itu, badan saja kekar, tapi takut jarum suntik,” ledek Yakob.
“Itu jarumnya kecil, Zak, ngga bakal bikin badan kamu bolong,” sambung Seno sambil terkekeh.
“Aku beneran takut.”
“Ayo lawan ketakutan kamu. Kita-kita bakal temani kamu,” bujuk Azzam.
“Ngga mau.”
Zakaria masih bersikeras untuk tidak melakukan donor darah. Rasanya dia ingin kabur saja dari tempat ini. Di saat teman-temannya sedang membujuk, salah seorang pelatih datang menghampiri mereka.
“Kalian sudah donor?!”
“Siap, sudah komandan!” jawab Yakob.
“Tapi Zakaria belum komandan,” sambung Seno.
“Tunggu apa lagi kamu? Ayo sana!”
“Lapor komandan, saya takut,” jawab Zakaria.
“Kamu.. badan gede gini masa takut sama jarum suntik. Cepat bangun! Kalian.. bantu rekan kalian!”
Dengan sigap, Yakob dan Seno langsung berdiri dan bersiap untuk mengantar Zakaria menemui petugas. Pelatih tersebut segera berlalu setelah mengatakan perintahnya. Yakob melihat pada Eko, Azzam dan Willi.
“Kalian cari si Idar,” ujar Yakob.
“Buat apa?”
“Biar si Zakaria ngga teriak-teriak waktu donor. Pasti dia gengsi kalau nangis di depan si Idar.”
Mata Zakaria melotot mendengar ucapan Yakob. Azzam, Willi dan Eko segera berpencar untuk mencari Zuhaidar. Sementara Zakaria masih bertahan, saat Yakob dan Seno menariknya. Sebisa mungkin pemuda itu bertahan. Namun tenaga Yakob yang berduet dengan Seno, lebih kuat darinya.
“Hai..” panggil Azzam ketika melihat Zuhaidar baru saja selesai donor.
“Hai juga,” jawab salah satu mahasiswi yang juga mengikuti kegiatan ini.
Dia dan beberapa temannya berdiri di dekat Zuhaidar. Kening Azzam berkerut saat tahu yang menjawab panggilannya adalah orang lain. Zuhaidar bergegas mendekati Azzam diikuti Niken di belakangnya.
“Ada apa?”
“Ikut aku.”
“Kemana?”
“Ikut aja.”
Mau tak mau, Zuhaidar dan Niken mengikuti Azzam. Mereka menuju blankar di mana Zakaria berada. Pemuda itu nampak sedang merengek pada petugas, dan meminta jangan ditusuk menggunakan jarum. Yakob menolehkan wajah Zakaria padanya.
“Tatap mata saya..”
“Kaga mau.. tambah stress lihat muka si abang.”
“Hahaha..” Seno tak dapat menahan tawanya.
“Aaaaaaa…. Tolong.. jangaaaaaann…. Aku takuuuuuut… toloooooooonng…”
“Heh.. berisik kali kau ini. Masa sama jarum suntik aja takut. Dasar cemen.”
Perkataan Zuhaidar sontak membuat Zakaria terbungkam. Tentu saja pemuda itu malu begitu tahu ada Zuhaidar di dekatnya. Diam-diam Zakaria memang menyukai Zuhaidar. Walau wajahnya tidak secantik Niken, Sarwendah atay Cici, namun Zuhaidar memiliki keistimewaan sendiri di matanya. Melihat Zakaria yang tidak memberontak lagi, sang petugas langsung menyuntikkan jarum ke lengannya.
“Aaaaaaaarrgggg!!”
“Hahahaha..”
Bukannya merasa empati, tapi para sahabatnya justru menertawakannya, termasuk Zuhaidar dan Niken. Selama darahnya disedot, Zakaria tidak berani melihat. Pemuda itu hanya memejamkan matanya saja. Bibirnya terus saja membacakan doa-doa yang diketahuinya.
“Jangan lupa doa mau makan, Zak,” celetuk Azzam.
“Sama doa masuk WC,” sambung Seno.
“Tapi jangan doa mau tidur,” pungkas Eko.
“Hahaha..”
Sang petugas pun tak ayal ikut tersenyum mendengar celetukan-celetukan dari para taruna tersebut. Setelah sepuluh menit, akhirnya proses donor darah yang penuh drama selesai juga. Zakaria bersorak senang karena berhasil melewati kegiatan menyeramkan dan mencekam ini dengan selamat.
🌻🌻🌻
Siapa yang takut jarum suntik, kaya Zakaria🙋
Kalau aku seumur² belum pernah donor darah, ngga pernah lolos pemeriksaan🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
ꪶꫝAaliyah Salsabilaꪶꫝ
Sama mamake aku juga tensi nya selalu rendah mana golongan darah ku AB rhesus negatif makanya sayang aja padahal dibutuhkan apalah dayaku tidak boleh 😢😢😢😢
2023-12-17
2
DhilaZiya Ulyl
podo mamake.... slalu rendah.....
2023-12-14
1
DhilaZiya Ulyl
weeiis mamake jago..... 👍
2023-12-14
1