Wajah sumringah para taruna terlihat saat menghadiri apel pagi. Hari ini mereka tampak bersemangat, karena sebentar lagi mereka akan keluar sejenak dari akademi militer untuk kembali ke keluarga masing-masing. Gubernur akademi militer maju ke depan untuk memberikan sambutannya. Hari ini dia akan melepas para taruna pulang untuk merayakan hari raya Idul fitri bersama keluarga tercinta.
Pria itu menyampaikan pesan-pesannya pada para taruna yang akan menjalani cuti hari raya. Menurutnya, pemberian cuti ini adalah bersifat dinas, yang bertujuan agar para taruna dapat merayakan idul fitri bersama keluarga di rumah. Selain itu, cuti ini menjadi salah satu bagian dari kesejahteraan moril bagi para taruna, agar lebih bersemangat lagi dalam menjalani latihan dan tugas-tugas belajar selanjutnya.
Cuti juga dimaksudkan sebagai sarana untuk menguji dan mengukur tingkat kemampuan mengendalikan diri dalam mematuhi semua norma dan aturan yang telah diterapkan dalam kehidupan keprajuritan pada saat melaksanakan cuti. Apakah yang telah mereka lakukan selama di asrama, dapat mereka terapkan juga saat berada di rumah dan lingkungan sekitarnya.
Setelah mengucapkan selamat hari raya idul fitri dan mohon maaf lahir batin, apel pagi dinyatakan selesai. Para taruna saling bersalaman dan meminta maaf sebelum kembali ke rumah. Dengan membawa sebongkah kerinduan, mereka keluar bersama dari akademi militer, menuju tujuan masing-masing.
Azzam berpisah dengan Eko dan Seno. Eko akan pulang ke Bantul, jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi asramanya sekarang. Tak lebih dari dua jam, pria itu sudah bisa berkumpul bersama keluarganya. Sedang Seno memilih pulang ke Banyuwangi dengan menggunakan transportasi darat. Pria itu pulang dengan menggunakan bis AKAP (Antar Kota Antar Provinsi).
Sementara Zakaria dan Azzam yang pulang ke daerah masing-masing, harus lebih dulu menuju Yogyakarta. Mereka akan menggunakan pesawat terbang untuk perjalanan mereka. Sejak Azzam mengabarkan kepulangannya, Kenzie sudah menyiapkan semuanya untuk menjemput sang anak. Pria itu mengutus supir untuk menjemput anaknya di asrama untuk diantar ke bandara Internasional Yogyakarta.
Azzam mengajak Zakaria pergi bersamanya. Seorang supir langsung menyambut kedua taruna tersebut. Setelah mereka naik ke dalam mobil, sang supir langsung menjalankan kendaraannya. Dalam hati Zakaria bersyukur memiliki sahabat sultan seperti Azzam. Selain tidak pernah bersikap sombong, Azzam juga tidak sungkan membantu teman-temannya. Termasuk mengajaknya ikut serta ke Yogyakarta.
“Kamu naik penerbangan jam berapa, Zam?”
“Kayanya begitu sampai, aku langsung terbang.”
“Masa? Perasaan penerbangan ke Bandung baru ada tiga jam lagi.”
“Aku bukan naik pesawat, tapi buroq, hahaha..” canda Azzam.
“Bisa ae kang cendol, hahaha..”
Supir yang mengendarai mobil yang ditumpangi Azzam mengulum senyumnya mendengar perbincangan dua orang di kursi penumpang bagian belakang. Azzam yang tak banyak bicara, mulai tertular kelakuan Zakaria yang sedikit nyeleneh.
“Zam.. itu kayanya si Niken, Cici sama istrinya Ruben Onsu suka sama kamu.”
“Istrinya Ruben Onsu, siapa?”
“Sarwendah, ah.. kamu itu ngga gaul soal artis.”
“Ngga penting juga, hahaha..”
“Mana yang bakal kamu pilih. Niken cantik, Sarwendah manis, Cici ayu.”
“Ngga adalah.”
“Masa? Tapi kayanya peluang lebih besar itu si Niken, soalnya dia satu akademi sama kita. Apalagi kalau sampai dia ambil jurusan yang sama kaya kamu. Ngomong-ngomong, nanti kamu mau ambil jurusan apa?”
“Jurusan Dago – Ledeng, hahaha..”
“Asem... Jurusan mana itu, hahaha…”
Sejak acara pesiar pertama mereka, ketiga taruni yang disebutkan Zakaria tadi memang sudah terlihat kalau tertarik pada dirinya. Namun Azzam sama sekali belum tertarik untuk menjalin hubungan dengan siapa pun. Sikapnya pada ketiga taruni itu, termasuk Zuhaidar sama saja, tidak ada yang dilebihkan. Namun sepertinya pesona dirinya terlalu kuat, dan membuat para taruni tersebut semakin menyukai gaya coolnya.
Tak terasa perjalanan mereka berakhir, ketika mobil yang ditumpangi berbelok memasuki pelataran parkir bandara Internasional Yogyakarta. Setelah mengeluarkan barang bawaannya dan mengucapkan terima kasih pada supir yang sudah mengantar mereka dengan selamat, keduanya segera memasuki bandara.
“Hati-hati di jalan Zak,” ujar Azzam.
“Kamu juga. Sampai ketemu di asrama lagi.”
Keduanya berpisah ketika sampai di bagian dalam bandara. Zakaria akan menuju kota Makassar dengan menggunakan pesawat komersil. Dari sana dia akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jalur darat. Sedang Azzam terbang ke Bandung dengan menggunakan pesawat jet pribadi milik keluarga Hikmat. Kedua pria itu berpelukan sebentar, sebelum menuju gerbang masing-masing.
Setelah melewati boarding pass, Azzam terus berjalan. Salah satu crew pesawat sudah menunggunya, dan memandunya menuju pesawat. Seorang pramugari menyambut kedatangan pria itu, begitu dia menaiki pesawat.
“Selamat datang mas Azzam.”
“Terima kasih, kak.”
“Sehat, mas?”
“Alhamdulillah.”
Azzam menaruh ransel yang dibawanya ke tempatnya, baru kemudian duduk di dalam pesawat yang hanya diisi olehnya dan empat orang crew, sudah termasuk pilot dan co pilotnya. Pria itu memakai sabuk pengamannya, ketika pesawat mulai bergerak. kecepatan pesawat semakin meninggi dan perlahan burung besi itu mulai tinggal landas. Azzam melepaskan sabuk pengamannya. Matanya terus tertuju pada jendela di sampingnya. Baru saja meninggalkan asrama dan berpisah dengan temannya beberapa jam, tapi dia sudah merindukan mereka semua.
🌻🌻🌻
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Azzaaaaamm…”
Nara langsung memeluk anak bungsunya itu. Sedari tadi dia sudah tidak sabar menunggu kepulangan Azzam. Mendengar suara Nara, Kenzie yang berada di ruang kerja pribadinya, segera keluar. Azzam melepaskan diri dari pelukan mamanya, kemudian menghampiri papanya. Diciumnya punggung tangan pria itu, lalu memeluknya.
“Sehat, Zam?”
“Alhamdulillah.”
“Bagaimana perjalananmu?”
“Lancar, aman dan terkendali, komandan.”
“Hahaha…”
Suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga tergesa. Dua kakak kembar Azzam muncul. Mereka segaja pulang lebih awal dari kampus setelah mendengar kepulangan adik bungsu mereka.
“Azaaaammm..” panggil Arsy.
“Kakak.”
Arsy langsung memeluk adiknya ini, Azzam mengangkat tubuh kakaknya yang ramping ini dan menggendongnya. Wajah sumringah nampak di wajah kakak perempuannya ini. Dia sering mengeluh pada Kenzie karena sang adik sangat sulit dihubungi. Kalau pun menelpon, Tak banyak waktu yang dimiliki untuk melepas rindu.
Zar menurunkan Arsy dari gendongan Azzam. Gentian kini pria itu yang memeluk adiknya. Azzam langsung menurunkannya, ketika Zar juga ingin digendong olehnya. Tawa anak tertua Kenzie itu tertawa melihat reaksi adik bungsunya.
“Si abang ngga sadar body minta digendong. Kak Arsy enteng, kalo abang kan berat. Berat sama dosa, hahaha..”
“Sue.. lo. Gue laporin ke komandan elo, ya. Datang-datang udah berani PJD sama gue.”
“PJD apaan?”
“Penghinaan Jarak Dekat, hahaha…”
“Sudah.. sudah.. Azzam, kamu istirahat terus mandi. Kita mau ke rumah kakek. Dengar kamu pulang, kakek langsung adain acara buka bersama di rumahnya.”
“Iya, ma.”
Dengan membawa ranselnya, Azzam naik ke lantai dua untuk membersihkan diri. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu muka dengan para sesepuh, paman dan bibinya, serta saudara sepupunya. Sudah bisa dibayangkan keseruan yang akan terjadi di saat mereka bertemu nanti.
🌻🌻🌻
Kediaman Abi sudah ramai didatangi oleh sanak saudara. Para pandawa sudah berkumpul, full team bersama istrinya masing-masing. Mereka sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan cucu kesayangan yang tengah digembleng menjadi Tentara Nasional Indonesia. Adinda sudah membuatkan makanan kesukaan cucunya ini, begitu pula dengan Nina.
Semua anak-anak mereka juga sudah berkumpul, termasuk pada cucu. Aneka hidangan untuk berbuka juga sudah disiapkan. Mulai dari takjil, sampai makanan berat. Sebelumnya, Sam, Geya dan Gilang membagikan takjil gratis pada pengojek online dan juga orang-orang yang melintas di jalan raya, dekat jalan masuk kompleks.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Cucu kakek…”
Abi menyambut gembira kedatangan Azzam. Pemuda itu mencium punggung tangan para tetua satu per satu. Bergantian Nina dan Adinda memeluk dan mencium cucu mereka yang tinggal jauh dari rumah.
“Bagaimana kabar cucu, nenek?” tanya Nina.
“Alhamdulillah baik, nek.”
“Kulit kamu kok agak gelap sekarang,” sambung Adinda.
“Ya kan, aku sering latihan di bawah matahari, ninda.”
“Tapi gantengnya masih kelihatan. Malah tambah gagah sekarang.”
“Aamiin..”
Setelah mendatangi para tetua, kini Azzam bertemu dengan saudara sepupunya. Bergantian mereka memeluk calon tentara ini. Sam dan Dipta memuji tubuh Azzam yang semakin terbentuk saja.
“Gimana Zam, rasanya jadi taruna?”
“Nano-nano deh.”
“Lo udah punya sobat di sana?”
“Udah. Teman satu barak di akmil. Pada kocak-kocak. Ada yang dari Ambon, namanya Yakob. Ternyata dia tahu soal keluarga Hikmat. Ada Willi, dari Manado. Kalau sesama karbol, ada Eko dari Bantul, Seno dari Banyuwangi, sama Zakaria dari Sinjay.”
“Beuh.. itu yang namanya Zakaria, panggilannya apa? Jangan-jangan *****, hahaha..”
Keseruan bercerita mereka terinterupsi ketika Zahra meminta semua anak-anak berkumpul di ruang tengah, sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang. Zahra, Freya, Anya dan Nara mulai menuangkan es buah ke dalam wadah, agar lebih mudah saat bedug menjelang dan tidak berebutan.
Akhirnya adzan yang ditunggu-tunggu sejak tadi terdengar juga. Mereka langsung mengambil minuman untuk membatalkan puasa. Abi dan para sahabatnya hanya meminum air putih dan memakan kurma saja sebagai takjilnya. Perut mereka sudah tidak kuat kalau harus banyak mengkonsumsi makanan sebelum melakukan shalat.
“Ini makan beratnya mau abis maghriban atau abis taraweh?” tanya Ravin sambil melihat pada anak-anak.
“Abis taraweh aja, pa.”
“Ya sudah.”
Setelah menghabiskan takjil, mereka shalat berjamaah secara bergantian. Sambil menunggu waktu isya tiba, ada yang mengemil, ada yang mengobrol, ada juga yang memilih tadarus, seperti yang dilakukan oleh Azzam.
Saat adzan isya berkumandang, kompak mereka segera bersiap dan menuju masjid untuk menunaikan shalat isya berjamaah, disambung dengan shalat taraweh. Saat yang lain sedang bersiap, nampak Stella dan Geya hanya duduk santai saja.
“Eh kalian ngga ke masjid?” tanya Arya.
“Lagi cuti,” jawab Stella.
“Cuti sih cuti, tapi awas aja tuh makanan jangan lo embat semua,” celetuk Zar.
“Rese, lo! Sana shalat, jangan mikirin makanan mulu.”
Azzam merangkul kakak dan kakak sepupunya ini, kemudian berjalan bersama menuju masjid yang letaknya ada di bagian depan kompleks. Para jamaah mulai berdatangan dan memenuhi bagian dalam masjid.
🌻🌻🌻
Kita healing dulu ya. Kasihan Azzam di Akmil, jadi aku suruh mudik aja dulu🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Khoirul Anam
kalo dgr nama Abi lgsg ke inget pas Msh muda nya, awal2 ktmu Nina ya Allah msh membekas banget, jutek, judes, mulutnya pedes bgt kalo ngomong, "g butuh perawat ktnya " mini obat lgsg dr mulut Nina 😁😁😅😅😅, eh skrg udh punya cucu y Bi....
2024-02-27
1
reza indrayana
SeruUu. .😘😘😘
2024-01-14
3
DhilaZiya Ulyl
meluuuuu........ 😂😂😂
2023-12-14
1