“Telur siapa, ini?!!”
Dengan tetap memegang telur di tangannya, mata sang pelatih melihat pada taruna dan taruni di depannya. Masih belum ada yang menjawab pertanyaannya. Seno masih bimbang, jawab terkena hukuman, tidak jawab juga sama. Hanya saja mungkin hukuman jika tidak ada yang menjawab lebih berat. Istilahnya Seno itu, maju kena mundur kena.
“Telur siapa, ini?!!” tanya pelatih itu lagi.
“Siap! Telur saya, komandan!” teriak Seno sambil mengangkat sebelah tangannya.
Pelatih itu berjalan mendekati Seno. Sontak semua mata taruna dan taruni tertuju pada Seno. Dalam hati mereka berkata, aduuhh... alamat kena hukum lagi.
“Banyak orang tidak bisa makan. Tapi kamu malah membuang-buang makanan!”
“Siap! Saya tidak buang telurnya. Telurnya tidak sengaja jatuh.”
“Jaga telur satu saja kamu ngga mampu. Gimana mau jaga negara?!”
Seno hanya menundukkan kepalanya. Gara-gara legokan tanah, dia harus kehilangan telurnya dan sudah pasti akan terkena hukuman. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga.
“Semuanya! Kalian merayap sampai ke pos!!”
“Siap, laksanakan!!”
Semua taruna dan tarunia langsung berbaring di tanah dengan posisi menelungkup. Kemudian mereka mulai bergerak, merayap dengan senjata di tangannya, menuju pos.
“Hadeuh.. kemarin dihukum gara-gara iki, sekarang gara-gara telor,” ujar Zakaria pelan.
“Endhogku ilang, endhogku malang. Apes.. apes…” sambung Seno.
“Telurmu yang di bawah, hilang juga ngga?” sahut Yakob.
Azzam terus merayap sambil menundukkan kepala, untuk menyembunyikan senyumnya. Di saat terkena hukuman pun, teman-temannya ini selalu bisa membuatnya tersenyum. Mereka semua terus bergerak sampai tiba di pos.
🌻🌻🌻
Malamnya, setelah apel malam, semua taruna dan taruni dipersilahkan kembali ke asrama. Mereka masih mempunyai waktu setengah jam sebelum jam tidur. Hal tersebut dimanfaatkan oleh para taruna untuk mencuci atau menyetrika seragam.
Azzam membawa pakaiannya yang sudah kering untuk disetrika. Sejak menjadi taruna, pria itu harus terbiasa melakukan apa-apa sendiri, termasuk mencuci dan menyetrika. Tidak ada orang lain yang membantunya, seperti saat di rumah. Willi, teman satu baraknya yang berasal dari AAL juga ikut menyetrika seperti dirinya. Sedang Zakariya, Eko dan Seno mencuci baju. Yakob mencuci sepatunya.
“Masak-masak sendiri. Makan makan sendiri. Cuci baju sendiri. Tidurpun sendiri.”
Dengan cengkok dangdutnya, Zakaria menyanyikan lagu milik Caca Handika yang sangat populer di masanya, sampai sekarang.
“Tarik mang!” seru Seno sambil memutar-mutar pakaian yang akan dicucinya.
“Yiihaaaa..” sambung Yakob. Pinggul pria itu bergoyang ke kanan dan kiri.
Sementara Eko, menggoyang-goyangkan kepalanya sambil mengucek baju. Willi yang berada di dekat Azzam, menggerak-gerakkan jempolnya. Azzam sendiri hanya menggerakkan kepalanya pelan, dengan wajah tak henti menyunggingkan senyuman. Momen seperti ini yang menjadi pelepas penat setelah seharian berlatih.
Selesai dengan kegiatannya, semua taruna masuk ke dalam barak atau kamar masing-masing. Karena lonceng belum berbunyi, mereka masih berbincang di dalam kamar. Mereka membahas insiden telur yang terjadi tadi siang.
“Eh Seno.. itu telurmu baik-baik sajakah?” ledek Yakob.
“Jangan bahas lagi. apes bener aku. Udah ngga bisa makan telor, dihukum juga.”
“Hahahaha..”
“Harusnya waktu komandan bilang ‘jaga telur satu saja tidak becus, apalagi jaga negara’, kamu jawab ‘saya sudah berat menjaga dua telur saya komandan’ hahaha..”
“Hahaha..”
“Dasar wedus,” omel Seno sambil tertawa.
“Aduuh..”
Tawa Yakob terhenti ketika merasakan perutnya melilit. Pria itu segera bangun dari duduknya lalu keluar dari kamar sambil memegangi bokongnya.
“Awas keluar di celana, hahaha..” seru Seno.
TENG
TENG
TENG
Mendengar suara lonceng, kompak, semua yang ada di dalam kamar, segera naik ke atas ranjang dan langsung tarik selimut. Jangan sampai pelatih datang menyidak mereka dalam keadaan belum siap tidur.
Baru lima menit mereka berbaring, terdengar suara langkah kaki mendekati kamar mereka. Tak lama kemudian pintu terbuka dan lampu yang sudah padam dinyalakan kembali. Para taruna yang belum tidur, langsung bangun dan berdiri di samping ranjang. Sang pelatih masuk lalu memeriksa isi kamar. Saat melewati ranjang Yakob, taruna tersebut tidak ada di tempatnya.
“Di mana teman kalian?!”
Yakob yang sudah selesai dengan urusannya, bergegas kembali ke kamar. Dia terkejut melihat sang pelatih ada di kamarnya. Segera saja dia masuk ke dalam. Dengan sikap sempurna, dia memberikan hormat pada sang pelatih.
“Dari mana kamu?”
“Siap! Lapor komandan, saya baru dari kamar mandi. Perut saya sakit.”
“Bagaimana sekarang?”
“Siap! Sudah lega, komandan!”
Setelah penghuni terakhir masuk ke dalam kamar, pelatih tersebut segera meninggalkan kamar. Semua taruna langsung mengangkat tangannya, memberi hormat. Setelah sang pelatih pergi, semua kembali ke ranjang masing-masing dan melanjutkan tidur mereka.
🌻🌻🌻
Tak terasa sudah tiga bulan lamanya Azzam menjalani pendidikan di akademi militer. Melakukan hal yang sama setiap harinya, dari mulai shubuh sampai malam, tentunya menimbulkan kejenuhan tersendiri untuk pemuda itu. Apalagi ditambah latihan fisik yang sangat menguras tenaga. Terkadang pemuda itu ingin menyerah, karena tidak kuat menghadapi kehidupan sebagai taruna.
Namun setiap rasa frustrasi menghampirinya, ada teman-temannya yang mampu menghapus rasa lelahnya, lewat tingkah konyol mereka. Terkadang mereka berbagi cerita dan itu bisa sedikit mengurangi beban di hati. Menghadapi hal yang sama, mereka pun saling memberikan semangat dan support.
Setelah tiga bulan, taruna diijinkan sudah untuk melakukan pesiar di akhir pekan. Setelah jam sepuluh pagi, taruna diperbolehkan keluar dari akademi. Selain itu, para pelatih juga memberi kesempatan pada mereka untuk menghubungi keluarga atau sanak saudara. Bagi yang ingin melakukan panggilan, mereka bisa berkumpul di aula. Pelatih memberikan waktu lima menit pada mereka untuk melakukan panggilan.
Dengan menggunakan telepon seluler milik para pelatih, taruna dan taruni mulai menghubungi keluarganya. Setelah mengantri, kini tiba giliran Azzam. Dia sudah tidak sabar untuk melakukan panggilan video pada sang mana. Namun sampai deringan terakhir, Nara belum menjawab panggilannya.
“Kenapa?” tanya sang pelatih.
“Siap! Mama saya jarang angkat telepon dari nomor tidak dikenal. Ijin untuk mengirimkan pesan, komandan.”
“Silahkan.”
“Siap, laksanakan!” dengan cepat Azzam mengirimkan pesan untuk mamanya.
[Ma, ini Azzam. Tolong angkat teleponnya]
Pesan yang dikirimkan Azzam langsung berubah tanda menjadi centang biru, karena Nara memang sedang online. Tak lama kemudian, ponsel sang pelatih bordering, Nara yang melakukan panggilan balik. Azzam segera menjawab panggilan video tersebut.
“Assalamu’alaikum, mama.”
“Waalaikumsalam. Azzam.. kamu sehat, nak?”
“Alhamdulillah, sehat, ma. Mama sendiri gimana?”
“Alhamdulillah, mama sehat, papa dan kakak-kakakmu juga sehat.”
“Kakek, nenek dan yang lain?”
“Semua juga sehat.”
“Papa mana, ma?”
“Sebentar.”
Layar ponsel menunjukkan pergerakan Nara. Wanita itu menuju ruang kerja suaminya. Dari lantai atas, Arsy dan Zar turun bersamaan. Sekilas mereka melihat wajah Azzam di ponsel mamanya. Bergegas kedua orang tersebut mengikuti Nara ke ruang kerja pribadi Kenzie. Nara berdiri di dekat kursi kerja suaminya. Wajah Kenzie terlihat sumringah melihat anak bungsunya.
“Papa..” panggil Azzam.
“Azzam.. anak papa, bagaimana kabarmu?”
“Alhamdulillah, baik, pa. Semua berkat doa mama dan papa.”
“Azzam..” Arsy muncul, seraya melambaikan tangannya ke layar ponsel.
“Kak Arsy…”
“Oii.. mas bro.. sehat, kan?” sambung Zar.
“Alhamdulillah. Aku kangen kalian.”
“Kita juga kangen sama kamu. Gimana pendidikanmu? Lancar?” tanya Kenzie.
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Azzam. Rasa senang bercampur haru memenuhi hatinya. Kerinduan akan orang-orang terdekatnya, akhirnya bisa dilepaskan, walau hanya lewat sambungan video. Mata pemuda itu nampak berkaca-kaca.
“Yang kuat ya, sayang. Mama dan papa akan selalu mendoakanmu. Mama yakin, kamu akan menjadi taruna terbaik dan bisa meraih cita-citamu.”
“Aamiin..” suara Azzam terdengar tercekat.
Pemuda itu melirik jam yang tergantung di dinding. Waktu lima menit yang diberikan padanya sudah habis. Walau masih belum puas melepas rindu dengan semua keluarganya, namun dia juga harus memberikan kesempatan pada rekannya yang lain untuk menghubungi keluarganya.
“Ma.. pa.. aku cuma dikasih waktu sebentar buat telelpon. Aku cuma mau kasih kabar aja kalau aku sehat dan baik-baik aja. Salam buat kakek, nenek, KiJo, Ninda, granpa, grandma, eyang kakung, eyang putri, opa, oma, dan yang lainnya.”
“Iya, sayang.”
“Sehat-sehat ya, mama, papa, kakak dan abang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan video pun berakhir. Azzam menyusut sudut matanya yang berair, kemudian menyerahkan ponsel pada sang pelatih. Setelah memberi hormat, pemuda itu segera keluar dari ruangan. Eko, Zakaria dan Seno yang sudah selesai menghubungi keluarganya, melambaikan tangan pada Azzam.
“Kita boleh keluar. Ada rencana kemana?” tanya Zakaria.
“Bebas aja. Enaknya kemana?”
“Jalan-jalan, makan, nonton,” usul Seno.
“Boleh.”
“Yakob sama Willi mau ikut kita katanya.”
“Oke.”
Bergegas keempatnya kembali ke kamar. mereka hendak mengganti pakaian dinasnya. Untuk acara pesiar, mereka memiliki seragam sendiri yang harus dikenakan saat keluar asrama. Jika keluar di siang hari, maka mereka akan mengenakan pakaian dinas pesiar siang. Jika keluar di malam hari, maka pakaian dinas pesiar malam yang dikenakan.
Kegembiraan nampak di wajah keenam pemuda itu saat meninggalkan akademi militer. Akhirnya mereka bisa keluar sejenak dari asrama. Kesempatan ini tentu saja digunakan mereka untuk refreshing. Mereka sepakat mengunjungi Armada Town Square atau yang biasa disebut Artos mall.
Yakob berteriak senang saat melangkahkan kaki memasuki gedung mall. Selama mengelilingi mall, wajah pria itu tidak berhenti tersenyum. Mata pengunjung yang dilintasi mereka, selalu melihat pada para taruna gagah tersebut. Apalagi kalau bukan karena seragam yang mereka kenakan.
“Makan, yuk,” ajak Yakob.
“Boleh. Mau makan di mana?” tanya Azzam.
“Makan di tempat yang enak.”
Mata Azzam berkeliling, kemudian menangkap sebuah café yang ada di sebelah kanannya. Pemuda itu segera mengajak teman yang lain ke sana. Saat akan memasuki café, mereka berpapasan dengan taruni yang juga sedang berjalan-jalan ke sini.
“Azzam...”
🌻🌻🌻
Beuuuh... Fans Azzam nongol🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Kas Mi
konyol2 tmn2.y azzam..😁😄
2024-01-19
1
anonim
part ini bikin ngakak abiiiiissss...
tapi terharu juga saat diijinkan tlp hubungi keluarga
2024-01-15
1
DhilaZiya Ulyl
ojo smpe ndog seng kui ilang..... ancur dunia perkembangbiakan🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-12-14
2