Usai shalat taraweh berjamaah, semua kembali ke kediaman Abi. Stella dan Geya yang kebetulan sedang berhalangan, membantu Naya dan Azra yang juga sedang tidak bisa menunaikan shalat. Aneka hidangan untuk makan sudah tersedia di ruangan tengah. Semua langsung mengambil posisi masing-masing.
Azzam memandangi aneka hidangan yang tersaji. Hampir setahun lamanya, lidahnya terbiasa mengkonsumsi, tempe, tahu, telur dan aneka sayuran lainnya. Jarang-jarang dia bisa menikmati ayam atau daging. Nasi yang biasa dimakannya juga jauh dari kata pulen. Azzam menerima piring yang sudah diambilkan nasi oleh kakaknya.
“Zam.. katanya kalau tentara makan nasinya tuh yang beras pera gitu ya,” tanya Firhan.
“Iya. Kalo di kita, beras raskin gitu deh.”
“Itu teori tojaiyah namanya,” celetuk Zar.
“Maksudnya?”
“Ya lo dilatih sebagai TNI, kan diharuskan untuk menjaga persatuan, sesama taruna juga harus saling bantu, yang salah satu, yang dihukum semua. Tapi kenapa nasi tidak memberi contoh yang baik. Yang makan harus kompak, sedangkan nasi malah napsi-napsi, egois banget. Pas diraup pake tangan, buyar kemana-mana, hahaha…”
“Dasar somplak, ngomong panjang kali lebar kali tinggi kaga ada manfaatnya,” ledek Arya.
“Jangan ngobrol aja, ayo makan.”
Mendengar ucapan Kenzie, mereka langsung menutup mulut dan mulai berkonsentrasi dengan makanan masing-masing. Sesuai kebiasaan, Azzam menghabiskan makanan di piringnya dengan cepat. Tak sampai lima menit, nasi beserta lauknya sudah masuk ke dalam perutnya.
“Buset Zam.. cepet amat lo makan, kaga dikunyah apa?” tanya Ervano.
“Makannya jangan cepat-cepat, Zam. Ngga bagus buat pencernaan kamu,” ujar Nina.
“Udah kebiasaan nek. Kalau pelatihan, kita harus habisin makanan ngga boleh lebih dari tiga menit. Makanya udah kebiasaan.”
“Hah? Serius? Tiga menit? Kaga keselek tuh?” tanya Zar.
“Gila tiga menit, gue mah baru lima suap kali,” timpal Arya.
“Ya gitu deh. Di sana itu serba tertib, serba cepat. Makan atau mandi, waktunya terbatas. Kalau salah, semua pasti kena hukum.”
Abi terseyum melihat cucunya yang sudah mulai terbiasa hidup ala militer, padahal belum ada satu tahun Azzam berada di sana. Pria itu bangga sekaligus salut pada cucunya ini. Azzam memiliki tekad yang kuat untuk menggapai cita-citanya sebagai TNi Angkatan Udara.
“Untung KiJomu ngga ikut latihan bareng kamu. Kalau dia makan ala tentara, yang ada gigi palsunya copot semua, hahaha..” seru Abi.
“Bagus komandanmu bukan kakek Abi. Kalau komandannya dia, begitu salah langsung dikirim nemenin komodo,” balas Jojo.
“Hahaha…”
“Lebih parah lagi kalau komandannya opamu. Yang ada para taruna puyeng diperintah pake bahasa isyarat sama dia,” celetuk Cakra.
“Kenapa pake bahasa isyarat, eyang?” tanya Arya.
“Opa kamu itu pelit, saking pelitnya, ngomong aja dia ngirit, hahaha..” jawab Anfa.
“Tapi kalau komandannya, grandpa, pasti pada senang. Soalnya grandpa kan baik hati, ramah dan tidak bikin turun bero. Pasti grandpa bakalan banyak penggemarnya di sana,” ujar Juna memuji dirinya sendiri.
“Narsis..” seru Abi, Jojo, dan Cakra bersamaan.
“Udah tua juga masih ada tebar pesona,” sambung Kevin. Namun hanya dibalas oleh Juna dengan suara tawanya saja.
Setelah acara makan bersama, mereka tidak langsung pulang, melainkan masih berkumpul dan berbincang. Para tetua memilih berbincang di dalam. Kenzie dan yang lain berbincang di teras. Seperti biasa, mereka pasti membahas tentang pekerjaan. Istri-istri mereka berada di dapur, membereskan peralatan dan sisa-sisa makanan. Sedang para cucu berkumpul di halaman belakang. mereka melanjutkan obrolan saat makan tadi.
Pembicaraan masih didominasi kisah Azzam selama menjadi taruna. Pemuda itu menceritakan pengalamannya selama mengikuti pelatihan militer di Magelang. Banyak hal yang diceritakannya, dari mulai peraturan yang ketat, sampai masa-masa pelatihan yang melelahkan.
“Jadi setiap mau ngapa-ngapain kalian pasti baris dulu. Abis ngapa-ngapain juga baris lagi?” tanya Ervano.
“Iya.”
“Abis boker baris juga, ngga?” celetuk Zar.
“Abis boker ya cebok, bukan baris,” jawab Arya.
“Hahaha..”
“Kalau taruninya banyak?” tanya Arsy.
“Ngga banyak. Dari AAU aja cuma 10 orang. Tapi lumayanlah kalau digabung.”
“Yang taruni sama, kalau makan cuma tiga menit waktunya?” tanya Dayana.
“Ya, sama. Awal-awal kita sering kena hukuman karena taruninya ngga bisa ngabisin makan dalam waktu tiga menit.”
“Sekarang udah pada bisa?”
“Ada yang belum juga. Tapi kita siasatin, duduknya diseling, jadi kita bisa bantu taruni ngabisin makanan.”
“Cakep,” celetuk Zar.
Dayana membayangkan dirinya berada di posisi Azzam. Pasti dia tidak akan sanggup hidup dengan aturan ketat dan disiplin tinggi. Apalagi fisik mereka juga digojlok habis-habisan. Baru membayangkan saja sudah membuatnya mengangkat bendera putih.
“Latihan paling berat apa, Zam?”
“Sejauh ini menurutku yang paling berat dan menguji mental, latihan dopper.”
“Apaan tuh?”
“Kita merayap di kolam lumpur sambil ditembakin sama pelatih.”
“Nembaknya pake peluru kosong, apa peluru karet?”
“Peluru tajam lah.”
“Buset, yang bener? Kalau salah sasaran kan berabe.”
“Makanya penembak dopper itu ngga sembarangan. Penembak itu dari personel paskhas dan yang sudah sangat terlatih. Mereka ngga hanya harus punya kemampuan menembak, tapi harus ikut tes kejiwaan juga. Kan nembak itu ngga mudah, apalagi yang ditembak makhluk hidup dan taruna yang sedang berlatih. Beban mental juga buat penembaknya.”
“Oh gitu… ngeri juga ya. Gue yakin kalau si Zar jadi taruna, dia bakalan kencing di celana pas latihan dopper, hahaha..” seru Arya.
“Woi kampret, masih mending gue kencing di celana, nah elo boker di celana, hahaha..”
Gelak tawa kembali terdengar. Mendengar cerita Azzam tentang latihan dopper ngeri-ngeri sedap. Yang pasti latihan tersebut sangat menguji adrenalin. Merayap di tengah berondongan peluru seperti itu, tidak hanya membutuhkan mental yang kuat, tapi juga konsentrasi tinggi.
“Selain latihan dopper, apalagi yang bikin elo ketar-ketir?” tanya Sam.
“Makan nasi komando, hahaha…”
“Apaan tuh nasi komando?”
“Nasi komando tuh isinya nasi, sayur, lauk plus telur mentah. Lebih sering sih pake telur bebek. Diaduk-aduk terus dimakan.”
“HOEK…”
Arsy, Dayana dan Geya langsung mual mendengar cerita Azzam tentang nasi komando. Baru membayangkan bentuknya saja, sudah membuat perut mereka terasa diaduk-aduk. Azzam hanya terkekeh melihat reaksi ketiga gadis itu. Dulu juga dia merasakan hal yang sama. Tapi setelah merasakan nasi komando beberapa kali, lidahnya sudah mulai terbiasa.
“Harusnya pas makan nasi komando, lo bawa si pppsssttt,” celetuk Zar.
“Biar apa?”
“Biar ada yang bantuin elo ngabisin tuh nasi. Si pppsssttt kan apa aja digabres sama dia, hahaha..”
PLAK
PLAK
Dua buah pukulan mendarat di lengan Zar, sang pelaku sudah pasti adalah Stella. Itu adalah balasan atas apa yang pria itu lakukan. Pertama, Zar sudah seenaknya mengganti panggilannya menjadi pppsssttt. Kedua, pria itu sudah memfitnahnya dengan mengatakan dirinya tukang asal gabres makanan. Walau dia memang doyan makan, namun gadis itu akan berpikir ulang jika harus memakan nasi komando.
“Zam.. nih gue kasih tau. Pas elo latihan dopper, lo kudu, wajib bawa abang lo. Tuh mulut merepetnya bisa bikin peluru minder, hahahaha…” balas Stella.
“Buset mulutnya si Zar beneran lemes kalau sampe bisa bikin peluru minder,” sambung Arya.
“Si Zar kalau daftar dari taruna, bakal langsung dipulangin sama komandannya. Mencoreng citra tentara. Mana ada tentara yang mulutnya persis kaya petasan renteng, hahaha..”
“Pas latihan mulutnya pasti dikaretin dulu,” sambung Ervano.
“Karetnya lima, biar kaga lepas,” lanjut Arsy.
“Hahaha..”
“Dasar kamvret,” rutuk Zar.
Tak ayal Azzam ikut tertawa mendengar celeteukan demi celetukan yang disampaikan para sepupunya. Hal inilah yang sangat dirindukannya jika sedang berada jauh dari keluarga besarnya.
🌻🌻🌻
Suara takbir bergema sejak semalam, menandakan sudah saatnya umat muslim merayakan kemenangan setelah satu bulan penuh berpuasa menahan haus, lapar dan juga nafsu. Kini tiba saatnya merayakan hari kemenangan. Sejak shubuh, orang-orang sudah bersiap untuk mengikuti shalat ied di masjid. Tak terkecuali Kenzie dan keluarga kecilnya. Kesibukan sudah nampak di kediaman pria itu.
Kenzie, Zar dan Azzam sudah siap di ruang tengah. Mereka nampak tampan mengenakan baju koko, sarung dan juga kopeah. Ketiganya masih menunggu Nara dan Arsy yang masih bersiap. Tak lama kemudian kedua wanita itu muncul. Dengan mengenakan kaftan berwarna putih dan mukena serta sajadah di tangannya, mereka bersiap ke masjid.
Setelah siap, mereka segera menuju masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Kelimanya memilih berjalan kaki menuju masjid, bersama para tetangga lainnya. Sudah banyak jamaah yang datang. Kenzie. Zar dan Azzam segera menuju barisan laki-laki, sedang Nara dan Arsy menuju barisan wanita.
Usai melaksanakan shalat ied, mendengarkan ceramah dan bersalaman dengan para tetangga, Kenzie beserta keluarganya bersiap menuju kediaman Juna. Sebagai yang tertua, kediaman Juna memang selalu dijadikan tempat berkumpul saat hari raya idul fitri. Abi, Cakra, Jojo dan Anfa langsung mendatangi rumah pria itu selesai soal ied bersama anak-anak mereka tentunya.
Hanya Kevin saja yang datang belakangan. Sudah tiga tahun ini rumah Kevin selalu dijadikan ajang berkumpul untuk para keponakannya, karena semua kakaknya sudah berpulang ke Rahmatullah. Setelah shalat ied, para keponakannya selalu datang untuk melakukan tradisi sungkeman dan makan bersama. Freya dan Alisha yang selalu menyiapkan hidangan untuk open house. Selepas dzuhur, barulah mereka menuju kediaman Juna.
Untuk lebaran kali ini tidak ada perubahan. Semua keluarga Hikmat berkumpul di kediaman Juna. Pertama-tama, para sesepuh yang bermaafan, kemudian mereka duduk berjejer, anak dan cucu mereka bersiap untuk melakukan sungkeman dan saling bermaaf-maafan. Usai acara sungkeman, dilanjutkan dengan menikmati hidangan yang sudah tersedia sambil bercengkerama.
“Kakek, mana angpawnya?” tanya Zar.
“Nanti tunggu opamu dulu, biar sekalian.”
“Asik.”
Walau cucu mereka tidak pernah kekurangan uang, namun tradisi memberi angpaw masih diberlakukan di keluarga ini. Mereka senang saja mendapat salam tempel, berapa pun jumlahnya.
Personil terakhir yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. setelah semua anak dan cucu sungkeman pada personil terakhir pandawa lima, Kevin bersiap untuk memberikan salam tempel pada cucu-cucunya. Abi, Juna, Cakra, Jojo, Anfa dan Kevin duduk berjejer, bersiap untuk memberikan uang untuk cucu-cucu mereka. Sang penerima dana BLT sudah mengantri dengan tertib.
🌻🌻🌻
Yang mau dapet dana BLT dari Pandawa Lima plus Anfa, antri!🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Mama Rara
kl beneran ada di real world...aku juga mau ngantriii angpaw teeehh
2024-06-07
1
DhilaZiya Ulyl
siyaaap mamake.... 😂
2023-12-14
2
DhilaZiya Ulyl
😂🤣🤣🤣
2023-12-14
2