TENG
TENG
TENG
Lonceng berbunyi tiga kali. Para taruna yang masih berada di kamar mereka, langsung keluar menuju lapangan. Yakob yang belum selesai memakai sepatu, segera berlari. Dia berlari menggunakan sebelah kakinya, sedang tangannya berusaha memakaikan sepatu yang sebelah. Sesampainya di lapangan, dia segera masuk ke dalam barisan dan merapihkan tali sepatunya.
Usai apel pagi, semua taruna segera memulai latihan. Kali ini, mereka akan melakukan pelatihan fisik lagi. Setelah berlari dengan membawa beban seberat dua puluh kilo, mereka akan berlatih rappelling atau repling. Taruna akan dibawa ke ketinggian tertentu, kemudian turun dengan menggunakan tali dengan papan sebagai tumpuannya.
Secara bergiliran, taruna diminta naik ke atas, kemudian turun dengan menggunakan tali. Mereka menggelantung, kemudian mengarahkan kakinya ke papan sebagai tolakan, begitu seterusnya sampai tiba di bawah.
Kaki Yakob bergerak-gerak tak karuan. Wajahnya mulai memucat, dia paling benci latihan seperti ini. kini giliran barisan Yakob diminta untuk maju. Azzam maju lebih dulu, sedang Yakob memilih di bagian paling belakang. Dengan cepat Azzam menaiki tangga dan sampai ke atas.
Pelatih yang menunggu di atas, membantu memasangkan tali karmantel, carabiner, harness dan descender ke tubuh pemuda ini. Sebelumnya, Azzam sudah sering melakukan repling bersama dengan kakak dan kakak sepupunya. Dengan mudah dia dapat melakukannya dengan baik, dan sampai di bawah dengan selamat.
Seno, Eko, Zakaria dan Willi naik bergantian untuk melakukan repling. Kini giliran Yakob yang akan melakukannya. Begitu sampai di atas, keringat dingin mulai bercucuran di tubuh Yakob. Pria itu jatuh terduduk dengan tubuh bergetar. Kini giliran Yakob untuk melakukan repling tiba. Sang pelatih mendekatinya.
“Ayo..”
“Ngga mau, ndan… takut, ndan,” ujar Yakob. Pria itu hampir saja menangis.
“Kamu.. badan kekar, muka seram, tapi takut ketinggian. Ayo berdiri!”
“Takut, ndan. Saya turun saja.”
“Kalau turun harus lompat!”
“Ngga mau.”
Dengan paksa pelatih tersebut menarik Yakob hingga berdiri. Tubuh pria itu semakin bergetar ketika pelatihnya memakaikan peralatan padanya. Setelah peralatan terpasang, dia segera membawa Yakob ke tepi.
“Ndan.. jangan, ndan.. tolong.”
Sang pelatih terus mendekatnya ke pinggir, hingga kakinya tidak bisa menapak lagi, dan tubuhnya tergantung di atas.
“Komandan!! Tolong!!! Turunin saya!!”
“Kamu cuma bisa turun dengan cara lompat. Ayo lompat!!”
Mau tidak mau, Yakob harus melompat, untuk bisa turun. Dia memegang tali erat-erat, lalu mengayunkan tubuhnya ke papan. Dengan kaki sebagai tumpuan, dia kembali menolakkan tubuhnya dan bergerak turun. Tali yang menopang tubuhnya bergoyang-goyang, hingga dirinya tidak bisa mencapai papan.
“KOMANDAN, TOLOOOONG!! SAYA BELUM NIKAH!! TOLOOOONG!!!”
“Hahaha…”
“Demi Tuhan Yesus, tolonglah hamba-Mu ini. tolonglah hambamu ini, Tuhaaaaaaannn!!!”
Teman-teman Yakob dan para pelatih malah tertawa melihat pria itu yang semakin ketakutan. Yakob terus berjuang menggerakkan tubuhnya, hingga akhirnya dia bisa mencapai papan kembali dan turun dengan selamat. Pria itu jatuh terduduk dengan lemas dan tubuh bercucuran keringat.
“Hebat! Besok kita latihan lagi,” ujar sang pelatih.
“Tidaaaakkk..”
“Hahaha…”
Setelah melakukan repling yang mendebarkan bagi mereka yang takut ketinggian, pelatihan terus berlanjut. Mereka dibawa ke pinggir danau. Para taruna akan melakukan flying fox, namun ketika berada di tengah danau, mereka dilepaskan dan harus berenang sampai ke tepian.
Azzam memakai peralatannya, sang pekatih segera mendorong pemuda itu. Tubuh Azzam meluncur, begitu sampai di tengah, pemuda itu melepaskan pegangannya, hingga tubuhnya jatuh ke air, Dengan cepat dia berenang menuju tepian. Di sana rekan-rekannya yang sudah melakukan lebih dulu sudah sampai.
“AAAAAAAAA!!!”
Terdengar teriakan kencang Yakob ketika pria itu meluncur. Belum sampai ke tengah, kepalanya melihat ke bawah, tangannya terasa lemas dan pegangannya terlepas. Tubuhnya jatuh meluncur ke dalam air. Beberapa detik kemudian dia muncul ke permukaan, dan mulai berenang menuju tepian. Begitu pria itu sampai, tepuk tangan terdengar dari rekannya yang lain. Pria itu mengangkat kedua tangannya sambil berteriak puas.
🌻🌻🌻
Setelah apel malam, para taruna kembali ke asrama. Mereka melakukan aktivitas seperti biasa sebelum berangkat tidur. Kali ini Azzam dan kawan-kawannya masuk ke dalam barak lebih cepat. Yakob membaringkan tubuhnya di kasur. Latihan hari ini benar-benar menguji mentalnya. Dia harus mengalahkan ketakutannya akan ketinggian.
Usai memasukkan pakaian yang sudah disetrika ke dalam lemari, Zakaria tidak langsung naik ke atas kasur. Pria itu berdiri di tengah-tengah ruangan. Tangannya yang terkepal didekatkan ke mulutnya.
“Tes.. satu.. dua.. tiga.. perhatian.. perhatian..”
Semua yang ada di kamar langsung menolehkan kepalanya pada Zakaria. Setelah yakin semua orang melihat padanya, Zakaria melanjutkan kembali aksinya.
“Pada kesempatan kali ini, ijinkan saya… Zakaria Khan, menghibur anda semua.”
Zakaria membalikkan tubuhnya. Tangannya menyugar rambutnya ke belakang. Lalu pria itu merentangkan tangannya, dengan posisi tubuh menyamping.
“Bole chudiyan, bole kangna. Haai main ho gayi tere saajna. Tere bin jiyo naiyo lag da main te margaiya. Le jaa le jaa. Soniye le jaa le jaa. Dil le jaa le jaa, hooo..”
Zakariya menggerakkan tangan, bahu dan kepalanya. Gerakannya persis seperti Shah Rukh Khan dalam film Kabhie Kushie Kabhie Gum. Melihat itu, semua yang ada di dalam kamar langsung berdiri. Mereka ikut berjoged dengan lagu yang dinyanyikan oleh Zakariya, kecuali Azzam. Pemuda itu hanya duduk di tempatnya sambil menepukkan tangan. Senyum tak lepas dari wajahnya. Rasa penatnya tadi siang seolah menghilang melihat tingkah konyol teman-temannya.
“Bole chudiyan, bole kangna. Haai main ho gayi tere saajna. Tere bin jiyo naiyo lag da main te margaiya. Le jaa le jaa. Soniye le jaa le jaa. Dil le jaa le jaa, hooo..”
Yakob menyambung lagu yang dinyanyikan Zakaria dengan suara yang dibuat sengau. Dia juga ikut berjoged India. Tawa Azzam pecah melihat tubuh Yakob yang kekar, dan wajahnya yang sangar bergoyang ala India.
TENG
TENG
TENG
Bunyi lonceng menghentikan kegembiraan mereka. Semuanya langsung menuju kasur untuk beristirahat. Yakob yang berada di bagian paling pinggir, mematikan lampu kamar lebih dulu, baru kemudian naik ke atas kasurnya.
☘️☘️☘️
Latihan hari-hari berikutnya yang harus dilakukan para taruna semakin berat saja. Tidak hanya menguras fisik, tapi juga mental. Kali ini mereka akan latihan di hutan. Dengan ransel di punggung dan senjata di tangan, mereka menyusuri hutan. Tidak itu saja, mereka melukis wajah mereka dengan cat. Ini adalah latihan kamuflase, menyamarkan wajah mereka agar tidak terlihat mencolok ketika berlindung. Tubuh mereka juga ditutupi dengan semak.
Setelah latihan menyusuri hutan, berlindung dan bertahan. Kini mereka akan melakukan pelatihan yang sangat berbahaya dan juga menguji mental. Semua taruna dibawa ke kolam berlumpur. Kolam tersebut sudah diberi jalur. Terdapat empat buah jalur di sana. Setiap jalur akan diisi oleh tiga orang taruna. Nantinya taruna diharuskan merayap sampai ke ujung. Saat mereka merayap, pelatih akan menembak mereka dari atas menggunakan peluru tajam dengan arah zig zag. Latihan seperti ini disebut latihan dopper. Latihan dopper termasuk salah satu latihan yang berbahaya, salah sedikit saja, maka nyawa taruhannya. Dan tidak semua negara menerapkan pola latihan ini di militernya.
Semua taruna sudah dikelompokkan, dan semuanya harus melakukan latihan ini. Pelatih berdiri di tengah-tengah para taruna. Mereka memang sudah mendengar tentang latihan ini. Dan tentu saja ada perasaan takut dan was-was merayapi mereka. Setelah fisik mereka digojlok habis-habisan tadi, sekarang mental mereka yang akan diuji.
“Kali ini kita akan latihan dopper. Latihan ini maksudkan untuk menguatkan mental kalian. Anggap saja kalian sedang berada di medan perang. Kalian berada dalam keadaan antara hidup dan mati. Yang harus kalian lakukan adalah bertahan hidup, bagaimana pun caranya, kalian harus sampai di ujung. Ingat! Konsentrasi!! Jangan biarkan suara peluru merusak konsentrasi kalian! Mengerti?!!”
“Siap, mengerti, komandan!!”
Semua barisan yang sudah dibentuk mulai memasuki kolam lumpur. Azzam berada di bagian depan, di belakangnya menyusul Eko, dan terakhir Willi. Ketiga taruna itu mulai bergerak, merayap di atas kolam lumpur, bersama taruna lainnya. Sementara penembak dopper, mulai menembakkan senjatanya.
Suara desingan peluru mengiringi perjalanan mereka sampai ke ujung. Para penembak terus menembak ke arah kanan dan kiri mereka secara zig zag. Eko hampir saja menangis. Dia benar-benar takut terkena peluru dari sang penembak. Namun pemuda itu teringat apa yang dikatakan pelatih. Eko berkonsentrasi terus merayap, mengikuti pergerakan Azzam.
Seperti halnya Eko, Azzam pun merasakan ketakutan yang sama. Cipratan lumpur dari peluru yang ditembakkan cukup membuat hatinya ketar-ketir. Azzam terus menguatkan diri dan berkonsentrasi untuk sampai ke ujung. Latihan kali ini benar-benar menguji mentalnya. Di tengah berondongan peluru, akhirnya Azzam, Eko dan Willi berhasil sampai di ujung. Tubuh mereka masih bergetar karena ketakutan yang melanda tadi.
Usai latihan yang mendebarkan, para taruna dan taruni diberi waktu untuk istirahat. Mereka berkumpul di lapang yang cukup luas. Sudah waktunya bagi mereka untuk makan siang. Tiga keranjang berisi nasi bungkus sudah ada di depan mereka. Di samping keranjang, terdapat ember besar. Entah apa isi dari ember tersebut.
“Saya ucapkan selamat pada kalian semua yang sudah gagah berani melakukan latihan dopper. Atas kerja keras dan keberanian kalian, kami sudah menyiapkan makanan spesial untuk kalian. Nama makanan ini adalah nasi komando.”
Para pelatih mulai membagikan nasi bungkus pada para taruna. Setelah semua nasi dibagikan, pelatih memerintahkan membuka bungkus nasi, lalu menaruhnya di atas kepala. Semua taruna melakukan hal tersebut, nasi yang sudah terbuka sedikit, ditaruh di atas kepala mereka.
Para pelatih menuju ember besar, lalu mengambil sesuatu dari dalamnya. Mereka kembali ke barisan, dan memecahkan telur bebek mentah ke dalam bungkus nasi para taruna dan taruni. Setelah semua mendapatkan jatah telor mentah, barulah bungkus nasi diturunkan kembali. Semua taruna terkejut melihat nasi mereka yang dilengkapi tumis labu siam dan tempe mendoan, diberi telur bebek mentah di atasnya.
“Yang kalian pegang adalah nasi komando. Telur bebek mentah, bagus untuk mengembalikan stamina kalian. Aduk telur itu ke dalam nasi, lalu makan!”
Rata-rata para taruna tersebut hanya memandangi nasi mereka. Baru beberapa taruna saja yang mengaduk telur tersebut ke dalam nasi. Salah satunya adalah Yakob. Pria itu mengaduk nasi dengan telur, kemudian memakannya dengan lahap. Karena terus dipaksa, mau tak mau, para taruna mulai mengaduk dan coba memakannya.
HOEK
HOEK
Para taruni memuntahkan lagi makanan dari mulut mereka. Namun para pelatih tidak membiarkannya. Mereka terus memaksa agar para taruni tersebut memakan dan menghabiskan nasi komando tersebut. Niken, Sarwendah, Cici dan Zuhaidar sampai menangis, namun tetap tidak ada toleransi untuk mereka.
HOEK
Azzam memuntahkan kembali makanan yang masuk ke perutnya. Bau amis bercampur lendir yang berasal dari telur mentah, benar-benar membuat perutnya mual. Namun para pelatih tidak membiarkan mereka membuang makanan tersebut. Mereka, termasuk Azzam terus dipaksa untuk menelan makanan tersebut.
Buliran bening mengalir dari kedua mata Azzam, saat mati-matian menelan makanan tersebut. Dilawannya semua rasa mual yang melanda. Dia terus mensugesti dirinya, kalau yang dimakannya adalah makanan favoritnya. Rasa makanan tersebut sangat lezat dan harus dihabiskan olehnya.
🌻🌻🌻
Baru ngebayangin bentuk dan bau nasi Komando, aku udah mual duluan. Ditambah latihan dopper yang beresiko tinggi. Beneran angkat topi buat Tentara Indonesia✊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Nabila hasir
baca latihannya kok kayaknya berat banget yaa
2024-04-13
1
anonim
berat bener ya latihan ala militer
2024-01-15
1
ꪶꫝAaliyah Salsabilaꪶꫝ
Kalo merah telornya sih aku gak masalah dicampur nasi tapi kalo telor putihnya wadaaaawww aku yang biasa dulu di pramuka diajarin jorok&harus bisa seadanya pun mual lah, tapi emang kereeeennn sih TNI tuh gak kaya pendidikan ya yang satu lagi lembek lah yang itu 🤭🤭🤭
2023-12-16
2