Hari ini semua taruna dan taruni sudah bersiap di lapangan. Di dekat mereka terdapat tas atau koper yang berisi seragam dan barang bawaan mereka. Setelah sah diterima sebagai taruna karbol, mereka akan diberangkatkan ke Akademi Militer di Magelang untuk menjalani pendidikan integrasi bersama taruna Akmil dan AAL. Mereka akan tinggal selama satu tahun dan menjalani pendidikan militer.
Wakil gubernur AAU melepas 150 taruna dan taruni yang akan berangkat menuju Magelang. Selama setahun penuh mereka akan dididik dasar-dasar kemiliteran, berlatih fisik, latihan memegang dan menembakkan senjata, bertahan hidup, sekaligus mengatur strategi pertahanan. Satu per satu taruna masuk ke dalam kendaraan yang sudah disiapkan.
Setiap taruna yang mendaftar di AAU atau angkatan lain memang wajib menjalani pendidkan militer selama setahun penuh. Setelah pendidikan militer mereka selesai, barulah mereka kembali ke akademi masing-masing. Pelatihan militer ini bertujuan untuk mengubah budaya dan cara berpikir sipil menjadi militer. Taruna dan taruni akan ditempa jasmani dan mentalnya pada pelatihan ini agar bisa menjadi prajurit TNI yang tangguh, pantang menyerah dan memiliki jiwa nasionalis tinggi.
Magelang dipilih sebagai tempat akademi militer, karena lokasi ini memiliki latar belakang militer yang kuat, karena menjadi lokasi parade tentara Belanda. Kota ini juga dianggap penting, karena di sini terdapat gunung Tidar, yang dianggap sebagai titik pusat Jawa atau sering disebut sebagai pakuning tanah Jawa.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya mereka tiba di akademi militer. Kedatangan mereka bersamaan juga dengan kedatangan taruna dari akademi angkatan laut dan akademi polisi. Taruna angkatan darat yang memang menempuh pendidikan di sini juga sudah berkumpul di lapangan. Mereka semua akan berbaur, agar tidak terjadi chauvinisme terhadap angkatan masing-masing.
Seluruh taruna dan taruni berkumpul dan mendengarkan sambutan dari gubernur akademi militer. Setelah selesai, mereka dipersilahkan menuju asrama yang akan ditempati selama menjalani pendidikan. Para senior membimbing junior mereka menuju asrama. Peraturan di sini tidak beda dengan peraturan di akademi masing-masing.
Azzam, Eko, Zakariya dan Seno ditempatkan satu barak bersama taruna lainnya. Di barak ini terdapat 12 kasur dan lemari yang disusun berdampingan serta berhadapan. Selain mereka, terdapat juga taruna dari Akmil, AAL dan Akpol. Dengan cepat mereka membereskan pakaian dan sepatu ke dalam lemari. Nanti akan ada pelatih yang memeriksa kerapihan lemari mereka.
Tempat tidur Azzam berhadapan dengan Eko, di samping kanannya adalah Zakariya, sedang di samping kirinya adalah taruna dari Akmil. Sambil membereskan barang bawaannya, mereka berkenalan sambil mengatakan dari mana mereka berasal. Taruna Akmil yang ada di samping kiri Azzam bernama Yakob dan berasal dari Ambon.
“Kalian sudah bisa makan cepat?” tanya Yakob dengan aksen khas Ambon.
“Masih usaha,” jawab Eko sambil tertawa.
“Sebenarnya yang kasihan itu para taruni. Kemarin ada taruni yang nangis karena tidak bisa menghabiskan makanannya. Kami semua kena hukum.”
“Sama. Kita juga. kayanya harus ada strateginya nih. Biasanya taruni yang susah ngabisin makanan. Gimana kalau pas makan, harus ada taruni di meja kita, supaya kita bisa bantu dia ngabisin makanan,” usul Azzam.
“Usul bagus. Saya siap bagian habiskan makanan, hahaha..” seru Yakob.
Tubuh Yakob tidak terlalu tinggi, 168 cm. Namun tubuhnya lumayan berisi dan cukup kekar juga. menurut pengakuannya, ini adalah percobaan ketiganya melamar ke Akmil. Dua tahun sebelumnya, dia tidak lolos pantukhir. Baru tahun sekarang dia berhasil lolos dan bisa menyandang status sebagai taruna Akmil.
“Selama dua tahun, saya terus latih fisik. Saya belajar bagaimana cara hidup tentara, termasuk latihan fisik dan soal makan. Tahun ini saya berhasil diterima jadi taruna. Kalau kalian bagaimana? Apa ini percobaan pertama kalian?”
Azzam, Zakariya, Eko dan Seno mengangguk bersamaan. Tahun ini adalah percobaan pertama mereka dan langsung diterima sebagai taruna. Hampir semua taruna yang ada di barak ini sama seperti para taruna karbol, baru pertama mencoba mengikuti seleksi. Tapi Yakob tidak sendirian, ada juga taruna dari AL yang baru masuk di tahun keduanya.
Saat sedang berbincang, terdengar suara lonceng. Semua segera keluar dan berbaris di lapangan. Mereka harus sudah memulai kegiatan di Akmil ini. Semua taruna dan taruni berbaris rapih di lapangan.
🌻🌻🌻
Berada di Akmil, Azzam mulai menjalani hari-harinya sebagai taruna. Semua kegiatan yang dilakukannya sudah diatur dari mulai bangun tidur, sampai hendak tidur lagi. para taruna sudah dibangunkan pukul empat shubuh. Bagi yang beragama Islam, langsung bersiap untuk menunaikan shalat shubuh. Untuk yang non muslim, bersiap untuk olahraga pagi.
Usai melaksanakan shalat shubuh, semua taruna berkumpul di lapangan. Mereka bersiap untuk berolahraga pagi. Seorang pelatih datang dan memberi aba-aba pada taruna dan taruni untuk bersiap lari mengelilingi Akmil. Beberapa senior mengikuti dan mengawasi mereka. Semua taruna berlari sambil menyanyikan lagu-lagu yang membangkitkan semangat patriotisme.
“Selamat datang pahlawan muda. Lama nian kami rindukan dikau. Bertahun bercerai mata. Kini kita dapat berjumpa pula.”
Sebelum berangkat ke Sleman, Azzam memang sudah banyak mencari informasi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia TNI. Termasuk lagu-lagu yang mereka nyanyikan saat sedang berlari. Tak jarang dia ikut menyanyikannya dengan suara keras, sampai terdengar protesan dari Zar. Namun ternyata latihannya berguna untuk saat ini.
Setelah berlari, olahraga dilanjutkan dengan melakukan aktivitas fisik lainnya. Para taruni dan taruna ditempatkan terpisah. Ada seorang pelatih yang memandu mereka melakukan olah fisik. Para taruna diminta melakukan push up sebanyak 30 kali, dilanjut dengan sit up sebanyak 30 kali juga. Eko nampak kesulitan menyelesaikan push up-nya. Berkali-kali pelatih meneriakinya dan memintanya mengulang.
Usai olahraga, mereka dipersilahkan kembali ke asrama untuk istirahat sejenak dan membersihkan diri. Dikarenakan kapasitas kamar mandi yang tidak sesuai dengan jumlah taruna, maka mereka diharuskan mandi dengan kecepatan kilat. Waktu mereka untuk mandi tidak lebih dari tiga menit, karena harus bergantian dengan taruna lainnya.
Bergiliran mereka memasuki kamar mandi. Antrian di kamar mandi, sudah seperti antrian sembako saja. Selesai mandi, mereka langsung berpakaian dan bersiap untuk apel pagi. Seno masih mengenakan sabuknya, ketika terdengar suara lonceng. Buru-buru pria itu menyelesaikan kegiatannya. Azzam membantu Seno merapihkan pakaian, kemudian bergegas menuju lapangan.
🌻🌻🌻
Pelatihan di akademi militer ini memang terasa berat untuk para taruna dan taruni. Fisik mereka digojlok sampai ke titik penghabisan. Waktu tidur mereka pun terbatas. Setelah apel malam, mereka dipersilahkan kembali ke barak. Sebelum tidur, banyak dari mereka yang memanfaatkan waktu dengan mencuci pakaian, menyetrika atau mencuci sepatu. Setiap detik yang ada dimanfaatkan dengan baik untuk mereka.
Hari ini mereka kembali akan melakukan pelatihan. Dengan menggunakan pakaian loreng, mereka menuju tempat latihan. Sebagai awal, mereka diminta berlari dengan membawa beban sebanyak dua puluh kilo di punggungnya. Di tangan mereka terdapat senjata. Seorang pelatih memberi aba-aba. Serentak mereka segera berlari mengikuti arahan pelatih.
Usia berlari, mereka diminta berlatih ketangkasan. Mereka harus berlari melewati lubang ban mobil. Setelah berlari satu putaran, mereka kemudian berlari melewati lubang ban. Selain tidak boleh terjatuh, waktu yang harus mereka lalui juga harus cepat. Untuk latihan kali ini tidak banyak yang menemui kesulitan.
Setelahnya, pelatih meminta para taruna melakukan latihan merayap. Di punggung mereka terdapat ransel, kepala memakai helm dan tangan memegang senjata. Latihan merayap ini dilakukan di tempat terbuka. Kemudian berlanjut merayap di bawah kawat berduri.
Azzam mulai merayap dengan senjata di tangannya. Tubuhnya terus bergerak melewati kawat berduri yang tingginya hanya beberapa senti saja. Di samping kanan, kiri dan belakangnya taruna lain menyusul. Azzam menggerakan kaki dan sikutnya dengan hati-hati, jangan sampai kepala atau ranselnya tersangkut di kawat berduri tersebut.
Eko berada di barisan paling belakang. Pemuda itu mulai merayap melewati kawat berduri. Awalnya semua lancar saja. Saat akan sudah hampir sampai ke ujung, tiba-tiba saja dia tidak bisa bergerak. Kepalanya menoleh, ternyata ujung ranselnya terkena kawat berduri. Eko menggerak-gerakkan tubuhnya, berusaha melepaskan diri dari kawat tersebut.
“Tulung.. iki tulung,” ujar Eko dengan suara berbisik. Semoga saja Zakaria yang ada di depannya, bisa mendengarnya.
“Zak.. tulung.. iki.. iki..” ujar Eko lagi. Mendengar namanya dipanggil, Zakaria menolehkan kepalanya.
“Apa?”
“Iki.. tulung.. iki..”
“Iki apaan? Iki anaknya Sule?”
“Haaiissshh.. Iki lho, tulung ransele kecantol.”
Zakaria melihat ke arah kawat, benar saja, ransel temannya tersangkut kawat berduri. Tapi dia sendiri bingung bagaimana cara menolongnya, sedangkan pelatih sudah berada di sampingnya.
“Taruna!!”
“Siap!!”
“Kenapa kalian egois sekali? Kalian tidak melihat ada teman kalian yang tertinggal?!” tangan pelatih itu menunjuk pada Eko yang masih belum keluar dari kawat berduri.
“Kalian itu harus melihat kanan, kiri, depan, belakang. Pastikan tidak ada teman kalian yang tertinggal! Kalau ini di medan perang, teman kalian sudah mati ditembak musuh!”
Pelatih tersebut menunjuk pada Azzam dan Zakaria untuk menolong Eko. Bergegas mereka mendekat, lalu melepaskan ujung ransel yang terkait kawat berduri. Ketiganya segera kembali ke dalam barisan.
“Jalan jongkok sampai ke pos!!”
Insiden tersangkutnya ransel Eko menyebabkan semua taruna terkena hukuman. Mereka berjalan jongkok menuju pos. Sebentar lagi adzan dzuhur akan berkumandang. Sudah waktunya mereka untuk shalat dan makan siang. Dengan senjata berada di belakang kepala, semua taruna mulai berjalan jongkok menuju pos mereka.
🌻🌻🌻
Usai menunaikan ibadah shalat dzuhur, semua taruna sudah berbaris. Di tangan mereka terdapat ompreng dan juga gelas. Satu per satu mereka mendekati pelatih untuk mendapatkan jatah makanan.
Ompreng milik Azzam ditambahkan nasi, tumis labu siam, telur bumbu kecap, kerupuk dan pisang. Setelah gelas yang dibawanya diisi air putih, pemuda itu segera menuju ke barisan. Di taruhnya ompreng di depannya, lalu dia duduk bersila. Menunggu taruna lain selesai mengambil makanan.
Dengan membawa ompreng yang sudah terisi makanan, Seno berjalan menuju barisan. Sebelah kakinya menginjak tanah yang sedikit legok, membuat ompreng di tangannya bergerak. Telur yang ada di atas jatuh ke tanah dan menggelinding sampai ke dekat kaki salah seorang pelatih. Seno buru-buru kembali ke barisannya, sebelum pelatih tersebut melihatnya.
Pelatih tersebut tidak menyadari keberadaan telur milik Seno. Dia terus mengawasi taruna yang sedang menghabiskan makanannya. Setelah tiga menit, terdengar aba-aba untuk menghentikan makan. Saat akan menaruh omprengnya yang sudah kosong, matanya melihat telur yang ada di dekat sepatunya. Diambilnya terlur tersebut kemudian berjalan ke depan barisan. Sambil mengangkat telur di tangannya, pelatih tersebut berteriak.
“Telur siapa, ini?!!”
🌻🌻🌻
Alamat dihukum lagi🤣
Mohon maaf kalau penjabaran kehidupan taruna di akademi masih banyak kekurangan. Aku cuma riset literatur aja. Dan penjabaran sesuai persepsiku aja ditambah pengalaman pernah nginep di kodim Meulaboh🤭 (pengalaman yang tidak pernah terlupakan). Jadi kalau masih jauh dari ekspektasi,mohon maaf🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
de_ayshie
risetnya keren uey, hampir detail banget itu 👍🏻👍🏻👍🏻
meski ga paham ama kehidupan hari2 para calon akmil,, ttp keren laah 🥰
2024-05-24
1
duoNaNa
endok....oh endok
2024-03-07
1
duoNaNa
novel ini bisa jadi bahan referensi bagi kaum awam yang tidak paham dengan dunia militer tetapi ingin mendaftarkam keluarganya jd tni 👍
2024-03-07
1