Azzam memarkirkan kendaraannya di depan kediaman Soraya. Sesuai janjinya, hari ini dia akan berjalan-jalan dengan gadis itu. Cukup lama tidak bertemu, tidak ada salahnya jika mereka menghabiskan waktu di saat ada kesempatan. Lagi pula Soraya sangat menyenangkan dan sudah menjadi sahabatnya selama ini.
Kedatangan Azzam disambut oleh Fadli, ayah dari Soraya. Pria itu mempersilahkan Azzam menunggu di dalam, karena anaknya masih bersiap-siap. Fadli dan Azzam duduk di ruang tamu. Pria ini memang sudah lama mengenal Azzam, apalagi keluarganya. Pemuda di hadapannya ini selalu bersikap sopan dan santun jika bertemu dengannya.
“Bagaimana kabarmu, Zam?”
“Alhamdulillah baik, om.”
“Betah di asrama?”
“Betah ngga betah tetap harus betah kan, om.”
“Hahaha.. iya juga. Menjadi tentara itu ngga mudah. Butuh tekad yang kuat dan kemauan yang keras. latihannya juga bukan main-main, menguras tenaga dan mental juga.”
“Iya, om. Bener-bener harus siap mental.”
“Sekarang masih di Magelang apa sudah kembali ke Sleman?”
“Masih di Magelang, om. Mungkin dua bulan lagi baru balik ke Sleman.”
“Rencananya kamu mau ambil jurusan apa?”
“Teknik Aeronautika Pertahanan, om.”
“Mudah-mudahan lancar ya.”
“Aamiin..”
“Eh keasikan ngobrol jadi lupa, mau minum apa?”
“Ngga usah repot-repot, om.”
“Soraya mana, ya. Anak perempuan kalau dandan persis seperti ibunya, lama.”
“Pengalaman pribadi ya, om.”
“Hahaha.. begitulah.”
Lima menit kemudian, Soraya muncul. Gadis itu sudah rapih mengenakan setelah tunik berwarna abu muda, dengan kerudung corak. Tas selempang sudah tersampir di bahunya. Dia segera mendekati papanya, kemudian mencium punggung tangannya. Azzam berdiri, dan melakukan hal yang sama. Setelahnya, keduanya segera naik ke dalam mobil.
“Kita mau kemana?” tanya Azzam.
“Ke Lembang aja yuk. Kan ada tempat wisata yang baru. Pasti kamu belum tahu.”
“Ok deh.”
Setelah mengenakan seat belt-nya, Azzam mulai menjalankan kendaraannya. Pria itu segera mengambil arah ke ledeng untuk menuju Lembang. Cukup lama juga dia tidak mengunjungi Lembang. Setiap berkunjung ke sana, Azzam tidak pernah absen untuk membeli ketan bakar. Dan saat pulang nanti, pasti pemuda itu akan membeli susu murni dan yoghurt.
Kali ini mereka akan mengunjungi Rumah Belanda. Rumah Belanda adalah salah satu tempat wisata yang ada di daerah Maribaya – Lembang. Sesuai namanya, tempat wisata ini mengusung tema negeri kincir angin. Di sini kita bisa melihat replika negera Belanda yang sangat mirip dengan aslinya.
Setelah membayar tiket masuk, Azzam dan Soraya segera masuk ke dalamnya. Selain bangunan khas negera Belanda, di sini juga terdapat miniatur kincir angina, khas negeri tersebut. Ada juga rumah berbentuk klompen, sandal unik buatan Belanda. Selain itu, terdapat juga penyewaan kostum. Soraya mengajak Azzam untuk menyewa kostum. Dia ingin penampilannya jika mengenakan pakaian ala noni Belanda.
Soraya memilih mengenakan pakaian tradisional yang paling populer, klederdracht namanya. warna bajunya didominasi warna hitam, dengan topi runcing berwarna putih bernama njekither plus sepatu kayu atau klompen. Demi Soraya, Azzam juga bersedia mengenakan kostum khas kompeni. Dia mengenakan celana gombrang berwarna hitam, dengan baju merah, plus songkok tinggi. Jika dilihat sekilas, mereka sudah seperti model salah produk asal Belanda.
Setelah berganti pakaian, mereka meneruskan untuk berjalan-jalan. Terkadang mereka berhenti untuk mengambil gambar. Lebih banyak Azzam yang mengambil gambar Soraya, sedang dirinya sangat malas untuk berfoto. Melihat Soraya yang tersenyum bahagia, ada kepuasan tersendiri di hati Azzam. Setidaknya dia bisa membuat sahabatnya bahagia.
Usai berjalan-jalan dan berfoto, mereka kembali ke tempat penyewaan kostum. Azzam hanya kuat memakainya selama setengah jam saja. Setelahnya mereka segera menuju café untuk menikmati makanan khas negeri kincir angina tersebut. Soraya membuka-buka buku menu, mencari makanan yang terasa pas di lidahnya.
“Kalau kroketten apa, ya?” tanya Soraya.
“Masa kamu ngga tahu. Itu kroket kentang yang isinya rogut sayuran.”
“Oh itu… iya, ya.. dari namanya aja udah mirip. Aku mau deh kroketten. Kamu mau apa, Zam?”
“Macaroni schotel sama patatje oorlog.”
“Apaan tuh patatje apa? Susah banget.”
“Patatje oorlog atau bahasa Indonya, kentang goreng perang.”
“Hahaha.. ada-ada aja.”
Soraya melambaikan tangannya, seorang pelayan datang dan mencatat pesanan mereka. Keduanya kompak memesan macaroni schotel, ditambah patatje oorlog dan kroketten. Untuk minumnya, mereka memesan jus buah saja. Setelah mencatat pesanan, pelayan tersebut segera meninggalkan meja.
“Gimana Zam, pelatihan di Magelang?”
“Ya gitu deh. Cape dan menguras mental.”
“Aku baca ada latihan yang serem banget tuh, yang disuruh merayap terus ditembakin. Aku lupa namanya.”
“Dopper.”
“Nah iya, dopper. Kamu udah latihan itu?”
“Udah. Aslinya emang tegang banget. Benar-benar uji nyali. Salah dikit aja, taruhannya nyawa.”
“Salut aku sama kamu, Zam.”
“Biasa ajalah. Di sana bukan cuma aku aja, dan mereka juga sanggup kok.”
“Maksudku, kamu selama ini kan terbiasa hidup enak. Di rumah juga ada yang bantu ngurus rumah. Makan juga selalu enak. Nah selama jadi taruna kan kehidupan kamu seratus delapan puluh derajat terbalik. Makanya aku salut sama kamu. Jarang ada loh laki-laki yang terbiasa hidup enak, mau digembleng jadi tentara.”
Apa yang dikatakan Soraya memang benar. Di awal-awal, sebenarnya Azzam cukup kesulitan untuk beradaptasi. Misalnya saja dari makanan yang harus dikonsumsi. Lidahnya sudah terbiasa makan makanan enak, kini harus terbiasa makan ala kadarnya. Belum lagi latihan fisik yang menguras tenaga, mengerjakan semuanya seorang diri, seperti mencuci dan menyetrika. Namun itu semua membuatnya menjadi orang yang lebih mandiri.
“Kamu sendiri gimana?”
“Ya gitu deh. Ngga ada yang menarik buat diceritain. Hidupku mah datar-datar aja. Paling kalau tantangan itu, kita disuruh buat media buat bantu belajar di kelas. Atau buat konten belajar yang ngga monoton buat anak-anak. Itu aja sih.”
“Tapi ngga semua orang punya bakat seperti kamu, mengajar.”
Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Harum keju langsung tercium indra penciuman mereka dari macaroni schotel yanga masih hangat. Dengan cepat keduanya menikmati makanan tersebut. Kembali ke Bandung, membuat Azzam bisa kembali menikmati makanan yang sudah jarang ditemuinya ketika pelatihan. Kecuali saat pesiar, baru mereka bisa mencicipi makanan di luar asrama.
“Habis dari sini, mau kemana?” tanya Azzam.
“Aku mau ke mau cari barang buat bikin alat peraga.”
“Udah tahu mau bikin apa?”
“Tahu. Aku mau bikin alat peraga buat ngajar bahasa Inggris. Kebanyakan murid SD itu susah kalau belajar bahasa Inggris. Aku mau buat alat peraga biar pada cepat ngerti.”
“Bagus, tuh. Udah tahu mau buat apa?”
“Udah.”
“Ya udah, nanti aku antar.”
Soraya menganggukkan kepalanya. Mendapat dukungan dari Azzam tentu saja membuatnya senang. Berteman lama dengan pemuda itu, tentu saja Soraya paham bagaimana karakternya. Azzam tidak suka perempuan agresif. Dia lebih senang perempuan yang pintar dan pandai menjaga diri. Karenanya Soraya tidak pernah bersikap berlebihan pada Azzam. Terbukti sampai sekarang pemuda itu nyaman berteman dengannya.
Keduanya kembali melanjutkan acara makannya. Lebih tepatnya Azzam menunggu Soraya menghabiskan makannya. Sedang makanan miliknya sudah masuk semuanya ke dalam perut.
🌻🌻🌻
Setelah membeli susu murni dan yoghurt, Azzam dan Soraya kembali ke kota Bandung. Mereka langsung menuju mal. Sesuai janjinya, Azzam akan menemani Soraya mencari bahan untuk membuat alat peraga. Mereka masuk ke toko yang menjual alat tulis dan buku-buku.
Usai berkeliling cukup lama, akhirnya gadis itu mendapatkan barang-barang yang dibutuhkannya. Keduanya kemudian menuju mushola untuk menunaikan shalat dzuhur. Sehabis itu, mereka menuju tempat bermain game. Lokasi tempat permainan bersebrangan dengan bioskop. Azzam melihat poster film Transformer terpajang di dekat pintu masuk bioskop. Dia jadi tertarik untuk menontonnya.
“Kamu pasti mau nonton transformers, ya?” terka Soraya.
“Iya. Ternyata sequel terbarunya udah keluar.”
“Ayo aja kalau kamu mau nonton.”
“Sebentar.”
Azzam merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Kemudian dia menghubungi Arsy. Pemuda itu ingin mengajak kakaknya nonton bersama. Rasanya tidak nyaman saja nonton berdua dengan Soraya, walau di studio banyak orang. Untung saja Arsy tidak ada kegiatan lain dan langsung menyetujuinya. Dia akan langsung menuju mal di mana Azzam dan Soraya berada.
“Gimana?” tanya Soraya.
“Ayo. Kita beli tiketnya dulu.”
Sambil menunggu Arsy, Azzam membeli tiker lebih dulu. Sudah banyak pengunjung yang membeli tiket film ini. Untung saja masih tersedia tiga kursi di bagian atas. Usai membeli tiket, keduanya menuju tempat permainan. Waktu tayang masih menyisakan setengah jam lagi.
Dua puluh menit kemudian Arsy tiba. Begitu sang kakak sampai, Azzam dan Soraya langsung menuju bioskop, karena pintu studio juga sudah terbuka. Sudah banyak penonton yang masuk ketika mereka masuk ke dalamnya. Arsy yang tahu kalau Soraya menyukai adiknya, meminta Azzam duduk di tengah.
Lima belas menit berlalu, baik Azzam dan Soraya sudah tenggelam dalam keseruan jalan cerita film yang mereka tonton. Sedangkan Arsy malah mengantuk. Sebelum Azzam menelponnya, dia baru saja meminum obat flu. Dan sekarang dia mulai merasakan efek kantuknya. Kepalanya beberapa kali terkulai saat gadis itu mulai terlelap.
“Kakak ngantuk?” tanya Azzam.
“Iya. Tadi sebelum pergi, kakak minum obat flu.”
“Harusnya kakak bilang, jangan maksain.”
“Ngga apa-apa. Kapan lagi bisa nonton sama kamu.”
“Mau pulang aja?”
“Jangan. Udah kamu nonton aja. Kakak mau tidur.”
“Ya udah, kakak tidur aja. Nanti aku bangunin kalau udah selesai.”
Arsy menganggukkan kepalanya. Matanya semakin berat saja, dan tidak bisa ditahan lagi. Azzam menarik kepala sang kakak, lalu merebahkan ke bahunya. Arsy mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman. Tangannya memeluk lengan Azzam. Dan tak lama kemudian, dia sudah tertidur.
Apa yang dilakukan Azzam, tertangkap oleh Soraya. Dibalik sikapnya yang dingin dan tidak banyak bicara, Azzam adalah sosok yang penyayang. Terlihat bagaimana dia memperlakukan sang kakak. Seandainya dia dan Azzam berjodoh, mungkin dia akan menjadi wanita paling berbahagia di dunia ini.
🌻🌻🌻
Perasaan Azzam sama Soraya gimana sih sebenernya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
DhilaZiya Ulyl
lhaaa mamake nanya.kita... trus kita nanya sapa??? 😂😂😂😂😂
manut bae lah wis.... seng penting Azzam bahagia😂
2023-12-14
5
Khodijah Cyti
oalaah bikin baper anak orang aja
2023-12-03
2
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦ᖇ!ᖇ!ᗴ🦩💜⃞⃟𝓛 E𝆯⃟🚀
hemmmm aq baru baca sampai bab ini, blm tau azzam jodohnya siapa. tp gmn ya kurang sreg sm soraya, dia kya ga jd diri sendiri, kya brusaha baik spya tetep deket sm azzam.
2023-11-15
2