Keesokan harinya, para taruna masih harus menjalani latihan berganda. Kali ini mereka akan melakukan latihan ilmu medan. Latihan ini bertujuan menguji taruna tentang pengetahuan ilmu medan, orientasi peta dan bagaimana caranya menggunakan kompas, baik pada siang hari, maupun malam hari. Pelatihan pertama yang dilakukan adalah penggunaan kompas siang dan jalan peta.
Para taruna dibekali secarik kertas berupa peta dan juga kompas. Mereka berjalan mengikuti petunjuk yang diberikan. Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok. Satu kelompok terdiri atas sepuluh taruna. Azzam berada satu kelompok dengan Eko, Seno, Yakob dan enam orang lainnya.
Mereka berjalan menyusuri hutan sambil terus melihat peta di tangannya. Kesepuluh taruna tersebut berhenti untuk mencari arah yang benar, kemana mereka harus pergi. Azzam menggunakan kompas di tangannya, dan mulai mencari arah. Eko dengan peta di tangannya terus berbicara dengan Azzam. Menyesuaikan arah yang didapatkan oleh rekannya itu.
“Zam.. apa yang kau lihat?” tanya Yakob.
“Lihat arah, emangnya lihat apalagi selain itu?”
“Kok kompasku beda, ya.”
“Beda gimana?” tanya Seno.
“Kompasku ini bisa lihat cewek cantik.”
“Preeettt..”
“Hahaha..”
Yakob dan yang lainnya terdiam ketika ada pelatih mendekat. Pelatih tersebut menanyakan kemajuan dari kelompok ini, dan meminta mereka meneruskan perjalanan, sampai tiba di titik yang sudah ditentukan.
Pelatihan ini berlangsung sampai malam hari. Taruna masih harus berjalan dengan menggunakan bantuan kompas malam. Mereka berkumpul dan menerima arahan dari sang pelatih. Azzam dan kelompoknya berjalan menyusuri hutan hanya mengandalkan kompas di tangannya. mereka harus berhati-hati, karena keadaan sekeliling begitu gelap.
“Ssssttt.. gimana kalau di sini kita ketemu tentara Jepang tanpa kepala?” tanya Seno sambil berbisik.
“No.. jangan gitu, berdoa yang baik-baik saja,” ujar Eko.
“Kalau ketemu, mau aku kasih kamu sebagai tumbalnya. Biar di copot kepala kau, dan tempel di badannya,” jawab Yakob.
“Astaga.”
Azzam hanya mengulum senyumnya saja mendengarkan percakapan ketiga temannya. Dia terus berkonsentrasi berjalan dengan sesekali melihat kompas di tangannya. Menentukan arah di siang hari saja sudah sulit, apalagi di malam hari. Mereka harus berhati-hati dan teliti agar bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Tanpa mereka ketahui, para pelatih juga sudah menyiapkan kejutan untuk mereka. Beberapa dari pelatih sudah berdandan seperti makhluk astral. Ada yang berpenampilan seperti pocong, ada yang seperti kuntilanak. Mereka juga sudah menyiapkan hantu tentara Jepang tanpa kepala yang diletakkan di tempat yang cukup gelap.
Zakaria dan Willi berjalan melintasi pepohonan besar. Di sana pelatih yang berdandan seperti pocong sudah bersiap. Ketika keduanya melintasi pohon di mana dia bersembunyi, secara tiba-tiba dia meloncat ke depan mereka. Willi yang terkejut langsung berteriak kencang.
“AAAAAA…”
Sama seperti Willi, pemuda itu juga terkejut dengan kehadiran pocong. Dia berteriak, melainkan melakukan gerakan refleks yang tidak hanya mengejutkan sang pocong tapi juga Willi. Dia mengayunkan senjata di tangannya ke kepala pocong tersebut. Untuk saja sang pocong dapat menahan senjata tersebut.
“MAAF KOMANDAN!!” seru Zakaria ketika tahu yang dipukulnya ternyata adalah salah satu pelatih.
“Sana jalan.”
“Siap, komandan!”
Keduanya segera berlalu meninggalkan sang pocong. Willi tidak bisa menahan tawanya. Sedang Zakaria hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pelatih lain yang merekam adegan tersebut juga tidak bisa menahan tawanya. Hampir saja sang pocong mendapat penganiayaan dari taruna yang diganggunya.
Di sisi lain, Yakob dan Azzam yang berjalan bersama juga sudah siap menerima godaan dari makhluk astral. Dari balik pohon besar, muncul pelatih yang mengenakan kostum kuntilanak saat Azzam dan Yakob melintas. Awalnya mereka terkejut, tapi saat tahu kalau itu adalah pelatihnya, mereka hanya tertawa saja. Yakob mendekati sang kunti sambil berjoged India.
“Mehndi laga rakhna. Doli saja ke rakhna. Mehndi laga rakhna. Doli saja ke rakhna. Lene tujhe o gori. Aayenge tere sajna.”
Pelatih yang berkostum kunti itu juga ikut menari mendengar Yakob bernyanyi. Dia menarik tangan Azzam kemudian memutarnya. Azzam tak bisa menahan tawanya. Di tengah keletihan saat latihan berganda, dia masih bisa mendapatkan hiburan menjelang tengah malam.
Lain lagi dengan Seno yang berjalan bersama dengan Eko. Mereka berjalan melintasi jalan yang cukup gelap dan kanan, kiri ditumbuhi pepohonan. Langkah Seno terhenti ketika melihat sosok hantu yang menjadi mitos tempat ini. Hantu tentara Jepang tanpa kepala. Pemuda itu menarik-narik tangan Eko.
“Ko..”
“Apa?”
“I… itu.. ada hantu tentara Jepang tanpa kepala.”
“Mana?”
Tangan Seno menunjuk pada penampakan hantu yang berdiri di dekat pohon besar. Eko yang penasaran mendekati hantu tersebut. Setelah dilihat dengan seksama, ternyata itu hanyalah mannequin tanpa kepala. Timbul keisengannya mengerjai Seno. Eko langsung berlari meninggalkan Seno sambil berteriak.
“Hantu!!!”
“Ekooooo… tunggu…”
Secepat kilat Seno menyusul Eko yang sudah lari lebih dulu. tak berapa lama Eko berhenti. Pemuda itu tertawa melihat Seno yang menyusulnya sambil berteriak ketakutan.
“Hahahaha..”
“Asem koe..”
“Hahaha… ayo.”
Keduanya segera melanjutkan perjalanan. Jantung Seno masih berdebar gara-gara aksi konyol sahabatnya itu. Dia bisa bernafas lega ketika mereka sudah sampai di pos terakhir. Di sana nampak Zakaria, Willi, Azzam dan Yakob sudah sampai lebih dulu. Setelah para taruna berkumpul, mereka diperkenankan pulang ke barak. Azzam dan yang lain tidak bisa menahan tawa mendengar cerita Eko tentang Seno yang ketakutan ketika melihat penampakan hantu tentara Jepang jadi-jadian.
🌻🌻🌻
Hari berikutnya, mereka akan melakukan latihan niksarpur atau teknik dasar pertempuran. Para taruna dibawa ke tempat latihan untuk mengulang kembali teknik dasar pertempuran yang sudah pernah disampaikan sebelumnya.
Para taruna akan mengulangi materi dasar pergerakan dalam pelaksanaan patroli, dengan mengingat kembali materi 5M, yaitu menghilang, merayap, mengguling, membidik dan menembak. Kemampuan dasar ini mutlak dimiliki oleh taruna sebagai bekal dalam menjalankan tugasnya sebagai pelaksana tempur atau saat dalam tugas operasi.
Mereka bersiap melakukan latihan yang diarahkan oleh para pelatih. Para taruna merangkak, berguling, merayap dan melempar granat. Selanjutnya dengan menggunakan senapan, mulai membidik dan menembak target. Latihan berjalan sejak pagi hari sampai menjelang maghrib. Para taruna kembali ke barak untuk beristirahat sebentar, dan bersiap untuk melakukan latihan caraka.
Malam harinya, semua taruna berkumpul dan bersiap untuk melakukan latihan caraka. Mereka masih mengenakan pakaian dinas lapangan loreng, helm, menggendong ransel dan memegang senjata di tangannya. Wajah mereka ditutupi dengan cat hitam.
Caraka malam adalah suatu teknik komunikasi yang digunakan oleh tentara di jaman dulu, di saat teknologi belum modern seperti saat ini. Di mana tentara diberikan pesan oleh atasannya, dan pesan tersebut harus disampaikan pada tujuan, seluruh isi berita adalah rahasia dan tidak boleh dibocorkan oleh siapapun.
Satu per satu, taruna mendatangi pelatih. Mereka harus mengingat keseluruhan berita yang diberikan dan harus disampaikan secara benar, tanpa ada yang tertinggal sedikit pun. Pesan yang disampaikan, bukanlah pesan tertulis, jadi para taruna harus mengingatnya dengan jelas dan tidak salah saat penyampaian pesan nanti.
Setelah menerima pesan dari sang pelatih, Azzam bersama taruna yang lain mulai berjalan menyusuri hutan. Keadaan malam yang gelap, membuat mereka harus berhati-hati ketika bergerak. Azzam mencari orang yang akan menerima pesannya. Sepanjang jalan dia terus berusaha mengingat pesan yang diberikan padanya.
🌻🌻🌻
Latihan demi latihan sudah para taruna jalankan, mulai dari latihan menembak, perembesan, HTF, ilmu medan, niksarpur, caraka hingga sanjak. Kini saatnya mereka menjalani pelatihan terakhir. Mereka akan melakukan latihan pioneer. Seperti biasa, para taruna akan dibagi dalam beberapa kelompok. Mereka kembali melakukan latihan di lereng gunung Ungaran.
Azzam kali ini satu kelompok dengan Willi dan Zakaria. Bersama taruna lainnya mereka segera masuk ke dalam hutan. Sebelum melakukan latihan pioneer, mereka lebih dulu menghadap pada pelatih. Setelah mendapatkan pengarahan dari pelatih, mereka segera bergerak.
Begitu sampai di titik yang dituju, beberapa dari mereka mulai menggali lubang. Tanah dari hasil galian ditumpukkan di bagian depan, hingga membentuk seperti undakan. Setelah lubang atau parit yang mereka gali cukup dalam, di bagian depan, tepatnya di dekat undakan diberikan penghalang berupa tanaman.
Di bagian lain, para taruna mendirikan kemah untuk mereka berlindung. Sisanya bertugas untuk memasak. Secara bergantian mereka masuk ke dalam parit. Dengan senjata di tangannya, mereka mengintai dan tetap bersikap waspada melihat keadaan sekeliling. Yang telah selesai berjaga di parit, dapat kembali ke tenda dan menikmati makanan yang sudah disediakan.
🌻🌻🌻
Setelah Suddenly Married tamat, In Syaa Allah AZZAM bakalan up 2x sehari, tiap pagi dan sore🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
DhilaZiya Ulyl
alhamdulillah..... matursuwun mamake... sehat2 ya mamake😘😘😘😍😍😍😍
2023-12-14
2
DhilaZiya Ulyl
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 niat ngerjain taruna malah dikerjain... hampir aja 🤣
2023-12-14
1
Khodijah Cyti
si yakob temannya kajol 🤣🤣🤣
2023-12-04
1