Setelah beberapa hari berjibaku dengan serangkaian latihan yang menguras fisik dan juga emosi, akhirnya latihan berganda selesai juga dilaksanakan. Para taruna berkumpul di lapangan. Sebelum kembali ke akademi militer, mereka akan melakukan apel pembubaran latihan berganda.
Wakil komandan memberikan sambutan sekaligus ucapan selamat pada para taruna yang sudah berhasil menjalankan latihan berganda ini. Latihan berganda ini dilakukan, selain untuk menguji para taruna dalam mengaplikasikan materi yang sudah diterimanya, sekaligus dijadikan bahan evaluasi bagi para pelatih untuk kelangsungan pendidikan taruna selanjutnya.
Sebelum kembali ke kendaraan, para taruna melakukan yel-yel terlebih dahulu. Mereka berkumpul sesuai kelompoknya masing-masing. Pada pelatihan ini, para taruna terbagi dalam tiga batalyon. Azzam berada satu batalyon dengan Yakob, Eko, Seno, Zakaria dan Willi. Keenamnya tergabung dalam batalyon dua. Masing-masing batalyon bersiap untuk melakukan yel-yel, beradu kompak dengan kelompok lain. Yel-yel dimulai dari batalyon satu. Sang komandan maju ke depan dan memberikan instruksi.
“Batalyon satu!!”
“EEEEE…. EEEEEE… KAMI TARUNA SIAP BERJUANG MENJADI YANG TERBAIK.”
Kompak taruna yang tergabung dalam batalyon satu menghentakkan kakinya sambil bertepuk tangan.
“BATALYON SATU.. MANA DONG TEPUK TANGANNYA? BATALYON SATU MANA DOOOONG… TEPUK TANGANNYA?”
Semua taruna yang tergabung dalam batalyon satu menepukkan tangannya. Komandan yang memimpin anak buahnya memberi aba-aba untuk memulai nyanyian yel-yel mereka.
“BATALYON SATU GAGAH PERKASA, YANG DITEMPA AGAR BERMENTAL BAJA. BATALYON SATU PANTANG MENYERAH, DI SINILAH TEMPAT KAMI DITEMPA. BATALYON SATU.. BATALYON SATU.. KEBANGGAAN KITA SEMUA!”
“Siaaaappp..”
“KAMI INI BATALYON SATU, TEMPATNYA TARUNA JUARA. DI SINI BUKAN ANAK-ANAK MANJA, TEMPATNYA TARUNA BELA NEGARA. DI SINI BUKAN ANAK-ANAK MANJA. BATALYON SATUUU.. SELALU JUARA. BATALYON SATU MEMANG JUARA, BATALYON SATU MEMANG PERKASA. JANGAN DENGAR ORANG BICARA. MONYET JUGA BILANG JUARA. BATALYON SATU MEMANG JUARA!”
Usai batalyon melakukan aksi yel-yel, kali ini giliran batalyon dua yang melakukannya. Azzam dan yang lainnya segera bersiap. Mereka berbaris, dengan komandan berada di bagian depan. Terdengar suara sang komandan berteriak memberi aba-aba.
“Batalyon dua!!”
“DES… DES… DES.. BATALYON DUA YEAAAHH… DES… DES.. DES… BATALYON DUA YEAAAAHHH… TARUNA MENTAL BAJA YESSSS… SIAP JADI ABDI NEGARA YESSSS…”
Begitu komandan memanggil kelompok mereka, semuanya mulai meneriakkan yel-yel, tangan mereka terkepal sambil bergerak ke depan. Sambil berteriak mereka menepukkan tangan dan menghentak-hetakkan kaki.
“LALALALALALALA.. LALALALALALA…”
Mereka bertepuk tangan dan mulai bersenandung dengan menggunakan irama lagu Berondong Tua milik Siti Badriah.
“KAMI PARA TARUNA! GAGAH-GAGAH ORANGNYA! NGGA SUKA HURA-HURA! TAPI BOHONG SEMUA AAAA! KAMI PARA TARUNA! GAGAH-GAGAH ORANGNYA! NGGA SUKA HURA-HURA! TAPI BOHONG SEMUA AAAA! TU.. WA.. GA.. PAT.. GUNG GALEGA LEGALEGUNG GALEGA LEGUNG.. GALEGA LEGALEGUNG GALEGA LEGUNG!”
Kompak mereka maju sambil terus mengucapkan kata galega legung. Tubuhnya mereka dalam posisi setengah jongkok, bergerak maju sambil menggerakkan tangannya seperti baris berbaris. Kemudian mundur ke belakang dengan gerakan dan ucapan yang sama. Mereka bergerak maju mundur dengan kompak. Suara hentakan sepatu dan tepukan tangan mereka terdengar sangat berirama. Komandan kembali memberikan aba-aba pada para taruna. Mereka melanjutkan nyanyiannya, kali ini sambil menepuk tangan dan dadanya.
“KALAU ABANG PULANG LATIHAN. BAU APEK TIDAK KARUAN. APALAGI KALAU PULANG MALAM. MARAH YANG DIDAPAT. BATALYON DUA.. BATALYON DUA.. BATALYON DUA.. TIADA DUANYA!!! BATALYON DUA.. BATALYON DUA.. BATALYON DUA.. TIADA DUANYA!!!”
Semuanya bersorak ketika selesai melakukan yel-yel. Setelah batalyon dua, kini giliran batalyon tiga yang akan melakukan yel-yel. Komandan yang memimpin yel-yel maju ke depan memberikan aba-aba.
“Batalyon tiga!!”
“AAAAAUUUUUMMM….”
“Batalyon tiga!!”
“AAAAAUUUUMMM…”
Suara tepukan tangan dan hentakan kaki langsung terdengar ketika mereka bersiap dengan yel-yelnya. Suara dan gerakan kaki mereka terdengar seirama
“OOOOOO… BATALYON TIGA… OOOOO… PARA TARUNA.. GAGAH-GAGAH ORANGNYA.. MENTAL BAJA JIWANYA.. WE ARE THE CHAMPION AWE.. AWE.. AWE.. BATALYON TIGA HEY.. WE AWE AWE AWE AWE AWE AWE.. HEY… WE AWE AWE AWE AWE AWE AWE.. WEAA.. WEOO.. DI SINI DISIPLIN YANG PALING TINGGI. TARUNA SUDAH PASTI YANG PALING OKE. WE ARE WE ARE ROCK YOU!!”
Sang komandan terus memberikan aba-aba. Kini mereka bertepuk tangan, kemudian menepukkan tangan ke dada sambil terus bernyanyi.
“BATALYON TIGA.. AYO KAWAN.. TUNJUKKAN KITA TERDEPAN.. TAKLUKKAN SEMUA LAWAN. KUYAKIN KITA PASTI MENANG. OOOO LELELEAA AAAA OOOO LELELEOOO OOOO..”
Adu yel-yel akhirnya berakhir sudah. Para pelatih yang melihat mereka beryel-yel hanya tertawa saja. Mereka semua terlihat begitu bersemangat ketika melakukan yel-yel. Keletihan yang mereka lakukan selama latihan berganda seakan hilang begitu saja. Kekompakan mereka melakukan yel-yel memperlihatkan ikatan di antara mereka sudah mulai terjalin dengan erat. Selama hampir satu tahun melewati suka dan duka bersama.
Usai kegiatan yel-yel yang begitu ramai, namun juga berhasil menambah semangat taruna, mereka segera naik ke truk militer untuk membawa mereka kembali ke akademi militer. Beberapa warga yang ada di sekitar kompleks militer tersebut melambaikan tangan ketika kendaraan mereka melintas.
🌻🌻🌻
Tidak terasa pelatihan integrasi selama setahun yang dilakukan di akademi militer berakhir sudah. Para taruna dan taruni berhasil menjalani pendidikan dengan baik. bukan hanya mendapatkan pendidikan militer, tetapi mereka juga menjalin persahabatan dengan taruna dari akademi lain. Seperti halnya Azzam yang bersahabat baik dengan Yakob dari akademi militer dan Willi dari akademi angkatan laut.
Sudah tiba waktunya mereka kembali ke akademi masing-masing dan melanjutkan pendidikan di sana. Sebelum mereka kembali, para pelatih mengadakan acara perpisahan untuk para taruna yang sudah selesai menempuh pendidikan integrasi ini. Acara digelar malam hari di lapangan tempat mereka biasa berlatih. Mereka duduk bersama mengelilingi api unggun sambil menikmati hiburan yang ditampilkan oleh para taruna.
Zakaria dan Yakob tidak mau ketinggalan untuk memberikan hiburan bagi rekan-rekannya. Mereka memutuskan untuk menyanyikan salah satu lagu yang berasal dari film India terkenal. Film tersebut dibintangi oleh Shah Rukh Khan, aktor favorit Zakaria sejak kecil. Bersama dengan Yakob, dia akan menyanyikan lagu Tujh Mein Rab Dikhta Hai dari film Rab Ne Bana Di Jodi. Seperti biasa, Eko yang akan mengiringi mereka bernyanyi dengan gitar.
Sambil menunggu giliran untuk tampil, mereka bersiap-siap. Yakob sudah membawa selendang yang akan digunakannya saat menyanyi. Rencananya, dia akan berperan sebagai Anuskha Sharma, aktris perempuan dalam film tersebut. Baru membayangkan Yakob bergaya seperti artis India tersebut, Azzam tidak bisa menahan tawanya.
Diam-diam ada beberapa pasang mata yang tengah memperhatikan Azzam. Pria itu terlihat semakin ganteng saja ketika sedang tertawa. Sarwendah dan Cici tak lepas memandangi Azzam. Ini mungkin yang terakhir kalinya mereka bisa bersama pemuda itu. Besok Azzam sudah harus kembali ke akademi angkatan udara. Berbeda dengan Niken, gadis itu masih punya banyak kesempatan untuk mendekati Azzam karena mereka berada di akademi yang sama.
Setelah menunggu beberapa penampilan dari taruna yang lain, akhirnya tiba giliran Zakaria yang akan tampil duet bersama Yakob. Eko ikut di belakang mereka dengan membawa gitar di tangannya. Semua yang melihat langsung tertawa terbahak melihat penampilan Yakob. Kepalanya tertutup selendang panjang berwarna kuning, sangat kontras dengan warna kulitnya. Belum lagi gayanya yang dibuat seperti perempuan tak ayal terus mengocok perut orang yang melihatnya. Setelah Yakob berdiri di tengah bersama dengan Zakaria, Eko mulai memainkan gitarnya.
“Tu hi to jannat meri. Tu hi mera junoon. Tu hi to mannat meri. Tu hi rooh ka sukoon.”
Zakaria bernyanyi sambil melihat pada Yakob. Dia mengelilingi Yakob kemudian berjoged di depannya. Yakob menutupi wajahnya dengan selendang kuning sambil tersenyum. Tawa Azzam, Willi dan Seno langsung pecah. Eko pun tidak bisa menahan tawanya. Sambil mengiringi, pemuda itu terus tertawa.
“Tujh mein rab dektha hai. Yaara mein kya karu. Tujh mein rab dekhta hai. Yaara mein kya karu. Sajdhe sar jukhta hai. Yaara mein kya karu. Tujh mein rab dekhta hai. Yaara mein kya karu.”
Zakaria berjoged seperti Shah Rukh Khan dan Yakob pun ikut berjoged. Pria itu menggerak-gerakkan kepala dan bahunya seperti yang biasa orang India lakukan. Para pelatih yang melihat itu juga tidak bisa menahan tawanya. Bahkan ada yang tertawa sambil memegangi perutnya. Di akhir lagu, giliran Yakob yang bernyanyi. Dia menyanyikan lirik refrain dengan suara yang dibuat sengau.
“Tujh mein rab dektha hai. Yaara mein kya karu. Tujh mein rab dekhta hai. Yaara mein kya karu. Sajdhe sar jukhta hai. Yaara mein kya karu. Tujh mein rab dekhta hai. Yaara mein kya karu.”
Begitu penampilan keduanya berakhir, terdengar gemuruh tepuk tangan dari semua yang ada di sana. Azzam, Seno dan Willi berdiri untuk memberikan standing applause untuk penampilan apik sahabatnya. Zakaria dan Yakob membungkukkan tubuhnya, kemudian kembali ke tempatnya semula.
🌻🌻🌻
Para taruna masih berada di barak atau kamarnya sebelum acara apel pagi dimulai. Mereka masih membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang. Hari ini pendidikan integrasi berakhir. Para taruna akan kembali ke akademi masing-masing dan melanjutkan pendidikan di sana.
Azzam, Willi, Zakaria, Eko dan Seno sudah selesai mengepak tas mereka. Yakob, sedari tadi hanya membantu teman-temannya berkemas. Dia memang akan tetap tinggal di akmil sampai pendidikannya selesai. Karena di antara enam orang tersebut, hanya Yakob dan Willi yang berbeda. Yakob mengambil pendidikan angkatan darat, sedang Willi angkatan laut.
“Aku harap pertemanan kita bisa terus berlanjut. Masing-masing sudah punya nomor hape. Kita berkabar terus, ya.”
“Iya, bang. Tenang aja.”
“Kapan-kapan kita kumpul bareng saat pesiar. Kalian ke sini, bisa juga kita berkumpul di Sleman, atau mendatangi Willi di Krembangan.”
Kompak semua menganggukkan kepalanya. Selama setahun tinggal bersama, melalui suka duka selama latihan, tentu saja membuat hubungan mereka menjadi erat. Yakob memeluk Azzam, Eko, Seno, Zakaria dan Willi bergantian. Begitu pula dengan Willi. Mereka segera menuju lapangan dengan bawaan masing-masing. Apel pelepasan taruna kembali ke akademi akan segera dilaksanakan.
🌻🌻🌻
Yel-yel batalyon mana yang paling cetar?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
anonim
bahkan setelah jadi Jendral2 masih berteman yaa...
2024-01-16
1
Khodijah Cyti
kog aku yg sedih yaa
2023-12-04
2
🍭ͪ ͩᵇᵃˢᵉ fj⏤͟͟͞R ¢ᖱ'D⃤ ̐
sedih ya ketika sudah akrab,saling kenal malah harus terpisah karena kewajiban yang harus mereka jalankan masing².
2023-11-14
1