Pukul sepuluh pagi, Azzam sudah berada di akademi angkatan udara yang berada di daerah Sleman. Dia dan calon taruna lainnya kembali akan melakukan pantukhir atau pemantauan terakhir. Jika sebelumnya pantukhir dilaksanakan di tempat masing-masing mendaftar. Kali ini pantukhir akan dilakukan secara terpusat di akademi angkatan udara. Dari 305 taruna dan taruni yang datang di pantukhir kali ini, hanya 140 taruna dan 10 taruni saja yang diterima di akademi angkatan udara.
Azzam mendaftar di lanud Husein Sastranegara. Dia bersaing dengan banyaknya pelamar dan harus menjalani beberapa tes. Terakhir, dia bersaing dengan 21 casis saat melakukan pantukhir. Pertama-tama mereka melakukan tes administrasi, tes kesehatan dan tes psikologi. Setelah itu dilanjutkan dengan tes samapta dan tes postur.
Tes samapta sendiri terdiri atas tiga bagian, samapta A, B da C. Samapta A, casis harus lari selama 12 menit dengan tolak ukur jarak tempuh. Sampata B, casis diminta melakukan pull up, push up dan shuttle run. Sedang pada samapta C, dinilai dari kemampuan renang casis dengan jarak 25 meter dengan waktu tempuh sebagai tolak ukur.
Terakhir adalah tes postur. Di sini postur tubuh casis akan diteliti secara mendetil, meliputi bentuk tubuh, bentuk tangan, bentuk kaki, kondisi telapak tangan dan kaki, keseimbangan tubuh, geometri simetris tubuh casis, hingga cara berjalan setiap casis akan menjadi penilaian.
Sebelum mendaftar menjadi calon taruna AAU, tentu saja Azzam sudah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Azzam memiliki postur tubuh yang tinggi untuk anak seusianya. Saat mendaftar, usia Azzam 17 tahun lebih enam bulan, dan memiliki tinggi 181 cm, dengan berat badan ideal. Tidak terlalu kurus dan juga tidak terlalu gemuk. Dia juga sudah rajin melatih tubuhnya dengan melakukan kegiatan fisik, mempelajari beladiri dan juga berlatih renang. Tak heran kalau akhirnya, dia bisa mengalahkan para pesaingnya dan lolos pantukhir. Dari 21 orang casis, hanya 7 orang saja yang terpilih dari lanud Husein Sastranegara. Dan mereka kembali bersaing di pantukhir akhir.
Taruna dan taruni yang berhasil melewati pantukhir diumumkan keesokan harinya. Bagi yang tidak lolos, bisa mencoba kembali tahun depan. Sedang yang lolos, akan langsung mendapatkan pendidikan di akademi ini. Setelah pengumuman dilakukan, para orang tua diperkenankan untuk bertemu dengan anak mereka sebelum sang anak menjalani pendidikan.
Kenzie dan Nara sudah berada di akademi saat menerima kabar kalau sang anak lolos pantukhir dan secara resmi sudah diterima sebagai taruna AAU, atau yang biasa disebut sebagai taruna karbol.
Nara memeluk anaknya dengan erat. Doa-doa tak pernah lepas dari bibirnya saat melepas anak bungsunya menjadi taruna dan mendapatkan pendidikan dan pelatihan di kawah candradimuka. Kenzie juga memeluk sang anak dengan erat. Besar harapannya, sang anak bisa berhasil mencapai cita-cita yang diinginkannya.
“Jangan lupa shalat dan berdoa. Kamu berusaha menjadi taruna terbaik di sini, dan jangan lupa berdoa supaya diberi kemudahan. Hasil akhirnya serahkan pada Allah SWT. Usaha dan doa, tidak akan pernah mengkhianati hasil akhir.”
“Iya, pa.”
“Mama dan papa akan terus mendoakanmu. Doa kami, doamu dan usahamu akan berjalan selaras sampai kamu mencapai tujuanmu,” lanjut Nara.
“Terima kasih, ma. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik dan terus berdoa.”
“Jangan lupa kasih kabar, kalau kamu sudah diperbolehkan berkomunikasi.”
“Iya, ma.”
Sekali lagi, Azzam memeluk mama dan papanya. Pemuda itu kemudian bergabung dengan taruna dan taruni lainnya, membentuk barisan. Para orang tua yang mengantarkan anak mereka, dipersilahkan untuk kembali. Anak-anak mereka selama tiga bulan ke depan akan terputus dari dunia luar, untuk digembleng menjadi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara.
Guberbur AAU, Marsma TNI Cahyo Nugroho memberikan pidato singkatnya, menyambut kedatangan taruna dan taruni Akademi Angkatan Udara tahun ini. Tak lupa pria itu memberikan motivasi pada para taruna dan taruni, agar tetap fokus pada pendidikan dan menjadi lulusan TNI AU yang membanggakan dan dapat diandalkan. Setelah acara penyambutan singkat, para taruna dan taruni dipersilahkan menuju aula untuk pembagian seragam.
Selama menjadi taruna di AAU, mereka hanya diperbolehkan memakai pakaian atau seragam yang sudah disediakan pihak akademi, dari mulai seragam, sepatu, kaos kaki, sampai dalaman. Ada enam kategori seragam yang diberikan, yakni Pakaian Dinas Umum, Pakaian Dinas Harian, Pakaian Dinas Lapangan, Pakaian Dinas Pesiar, Pakaian Dinas Drumband dan Pakaian Olahraga. Dari enam kategori tersebut, masih dibagi lagi menjadi beberapa seragam, seperti pakaian dinas pesiar, terbagi atas pesiar siang dan malam. Total ada 13 seragam yang akan digunakan taruna selama menempuh pendidikan di akademi.
Begitu pembagian seragam selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pemberitahuan kegiatan selama di asrama. Mereka sudah diberi jadwal kegiatan, dari mulai bangun tidur sampai menjelang tidur. Satu yang mereka tahu, setiap akan dan sesudah melakukan kegiatan, mereka akan diminta berbaris. Bahkan saat akan dan selesai shalat berjamaah pun mereka diharuskan berbaris.
Setelah mendapatkan seragam dan mendengarkan aturan yang berlaku di asrama dan juga akademi, para taruna dipersilahkan kembali ke kamarnya masing-masing. Para taruna harus menjaga kerapihan kamar, setiap pagi, akan dilakukan pemeriksaan kamar. Jika ada kamar taruna yang berantakan, maka harus siap terkena hukuman.
Usai merapihkan pakaian di dalam kamarnya, Azzam keluar untuk berkenalan dengan taruna lainnya. Dalam menjalin semangat kebersamaan korps, tentu saja mereka harus saling mengenal satu sama lain. Azzam berkenalan dengan taruna di sebelah kanan, kiri dan depan kamarnya.
“Azzam, Bandung,” ujarnya memperkenalkan diri sambil bersalaman.
“Seno, Banyuwangi.”
“Eko, Bantul.”
“Zakaria, Sinjay.”
“Sinjay itu Sulawesi Selatan, ya?” tanya Seno dengan logat Jawanya yang kental.
“Iya.”
“Manggilnya apa nih yang enak?” tanya Eko.
“Bebas.”
“Jangan bebas, harus jelas. Soalnya nama kamu tuh kalau dipenggal ngga enak,” seru Seno. Sosok Seno terlihat yang paling humoris di antara yang lain.
“Ngga enak, gimana?” tanya Zakaria polos.
“Namamu kan Zakaria, kalau dipanggil dari belakang, Ria, kaya cewek. Kalau ngga salah, ada taruni yang namanya Ria juga. Kalau dari depan jadi….”
“Zakar, hahaha..” celetuk Azzam.
“Nah.. itu tau, hahaha..”
Sontak terdengar tawa empat orang tersebut, termasuk Zakaria. Awalnya dia tidak mempermasalahkan panggilan untuknya. Di kampungnya dulu, dia dipanggil Ria, santai-santai saja. Tapi di sini, sepertinya riskan memanggilnya dengan sebutan Ria. Apalagi ada taruni yang bernama Ria. Tapi kalau dipanggil *****, juga tidak enak di telinga.
“Terserah kalian ajalah, asal jangan ***** atau Ria.”
“Ehmm.. gimana kalau, Zak. Lebih keren, kan?” usul Azzam.
“Sekalian aja, Jack. Biar kaya orang bule,” celetuk Eko.
“Ngga pantes. Mohon maaf nih, mukamu ngga cocok jadi bule, hahaha,” lanjut Seno.
Dengan cepat pertemanan di antara keempatnya mulai terjalin. Mereka banyak bertukar informasi soal diri masing-masing. Keempatnya juga mendiskusikan jadwal yang sudah diberikan oleh pelatih. Yang mereka bingung adalah waktu makan yang hanya diberikan waktu tiga menit.
“Ngga salah nih, kalau makan cuma dikasih waktu tiga menit?” tanya Eko.
“Ya ini aturannya kaya gitu,” jawab Seno.
“Kalau lebih dari tiga menit gimana?”
“Bakalan kena hukum kayanya,” timpal Azzam.
“Waduh!”
Dari keempat orang tersebut, Eko terlihat paling panik. Sebelum masuk AAU, Eko termasuk orang yang paling lambat soal makan. Selain itu, porsi makannya juga tidak banyak. Saat menjadi taruna, kini dia harus siap dengan kehidupan yang penuh dengan kedisiplinan dan keteraturan, termasuk soal makan.
“Kenapa?” tanya Zakaria.
“Aku kalau makan paling lama.”
“Sekarang kalau makan, langsung telen aja, ngga usah dikunyah, hahaha..” timpal Seno.
“Weh tambah bahaya itu.”
Bukan hanya Eko saja, tapi hampir semua taruna merasakan kekhawatiran yang sama, terutama para taruni. Mereka hanya bisa berdoa, semoga saja ada kelonggaran di masa-masa awal mereka menjadi taruna dan taruni.
🌻🌻🌻
Usai melaksanakan shalat isya berjamaah bagi yang melaksanakan, para taruna dan taruni langsung berbaris di depan ruang makan. Mereka masuk bergiliran setelah mendapat komando dari pelatih. Ruang makan di akademi ini cukup luas. Di dalamnya terdapat banyak meja panjang dan kursi untuk para taruna dan taruni menikmati hidangan. Satu meja terdiri dari enam kursi yang duduk berhadapan.
Para taruna dan taruni berbaris untuk mendapatkan ompreng atau tempat makan yang kemudian akan diisi dengan nasi, sayur, lauk dan buah. Azzam mengambil ompreng dan gelas yang terbuat dari alumunium dari tempatnya, kemudian menuju pelatih yang akan memberi mereka makanan. Dia terkejut dengan nasi yang dimasukkan ke dalam omprengnya. Porsinya lebih banyak dari porsi makannya sehari-hari.
Selanjutnya pelatih kedua memberikan sayur sop ke ompreng milik Azzam, kemudian pelatih berikutnya memberikan tempe mendoan dan kerupuk. Azzam kembali berjalan dan mendapatkan pisang sebagai buahnya. Terakhir, dia mendapatkan air putih untuk mengisi gelasnya. Setelah omprengnya terisi makanan, dia segera menuju meja yang sudah tertata rapih.
Zakaria, Eko dan Seno memillih duduk bersamanya. Mereka meletakkan ompreng dan gelas di atas, lalu duduk dengan sikap sempurna, menunggu taruna dan taruni lain selesai mengambil makanan. Setelah semua taruna dan taruni mengambil makanan, mereka masih harus menunggu ketua regu melapor pada pelatih, kalau mereka sudah siap untuk makan bersama. Sang pelatih membunyikan lonceng, tanda untuk semua berdoa sebelum makan. Kemudian dia membunyikan lonceng dua kali, tanda semua diperkenankan untuk makan.
Azzam memandangi sejenak ompreng miliknya. Hanya ada sayur sop, tempe mendoan dan kerupuk saja yang menjadi menu makannya sekarang. Nasinya juga tidak pulen, mirip seperti beras raskin. Hal ini berbanding jauh dengan menu yang biasa dinikmati olehnya ketika berada di rumah. Pemuda itu mulai menyantap makannya. Sebisa mungkin dia menghabiskan dengan cepat makanan tersebut, sebelum lonceng kembali berbunyi.
TENG
TENG
TENG
Lonceng berbunyi tiga kali. Terdengar suara pelatih meminta para taruna dan taruni menghentikan makan mereka. Beberapa pelatih memeriksa meja para taruna dan taruni baru. Hampir semua belum menghabiskan makan mereka. Berbeda dengan para senior yang sudah menghabiskan makan mereka. Bahkan tidak sebutir nasi pun tersisa di atas ompreng.
“Lambat!!” teriak salah satu pelatih.
“Semua taruna dan taruni baru!! Baris di lapangan!!”
“Siap, laksanakan!!”
Kompak mereka segera berdiri, dengan rapih mereka keluar dari ruang makan dan berbaris di lapangan. Mereka akan terkena hukuman karena tidak menghabiskan makanan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Mereka dihukum lari keliling lapangan sebanyak tiga putaran. Di antara para taruna, ada beberapa orang yang sudah menyelesaikan makannya, namun mereka juga ikut dihukum karena kesalahan teman-temannya. Kesalahan yang dilakukan satu atau dua orang, akan ditanggung oleh bersama. Ini dimaksudkan untuk menjaga kekompakan dan juga saling jaga antara taruna satu dan lainnya.
🌻🌻🌻
Itu gimana ceritanya makan cuma tiga menit🙀
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
monika leo samantha
Kata 'karbol' berasal dari bahasa Belanda yakni 'krullebol' . Artinya kurang lebih 'si keriting yang cerdas'. Panggilan tersebut diberikan oleh seorang dosen Belanda semasa Abdulrachman Saleh mengenyam pendidikan. Krullebol kemudian dilafalkan menjadi 'karbol' oleh orang Indonesia.
2024-04-18
1
duoNaNa
beneran totalitas dalam bercerita.
makasih mak e
2024-03-07
1
baby zid
sedikit koreksi Mamake penulisan yg tepat itu Sinjai bukan Sinjay
2024-01-25
0