Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, para taruna akhirnya tiba di Bantir. Kendaraan yang mereka tumpangi memasuki gerbang kompleks militer tua di lereng gunung Ungaran. Di bagian depanyna tertera tulisan KOLAT RINDAM IV/DIPONEGORO. Masyarakat di sini menyebutnya barak tentara.
Bangunan ini didirikan oleh Belanda sebagai tempat pelatihan tentara. Saat penjajahan Jepang, digunakan sebagai tempat untuk keperluan perang. Dan sekarang digunakan oleh TNI. Sampai sekarang bangunan ini masih terawat dengan baik. Selain digunakan sebagai tempat latihan TNI, tempat ini juga sering digunakan oleh organisasi non militer untuk melakukan kegiatan diksar atau lainnya.
“Ada yang bilang tempat ini angker,” ujar Seno dengan suara berbisik, saat kendaraan yang ditumpanginya memasuki kompleks militer tersebut.
“Angker gimana?”
“Suka ada penampakan tentara Jepang tanpa kepala. Kalau ada yang lagi latihan diksar, suka ada peserta yang kesurupan juga.”
“Masa?”
“Iya. Makanya jangan sompral di sini.”
Percaya tak percaya, namun mereka mengikuti saja saran dari Seno. Di mana pun berada, kita memang harus menjaga tingkah laku dan ucapan kita. Dilihat dari sejarahnya, kompleks militer ini memang sudah berdiri lama. Tak heran kalau banyak rumor menyeramkan terjadi di sini. Perbincangan mereka selesai, ketika kendaraan berhenti.
Satu per satu taruna turun dari kendaraan militer. Mereka segera menuju lapangan yang ada di sana. Semua taruna berbaris mengikuti arahan komandannya. Barisan taruna dan taruni dibuat terpisah. Nantinya mereka akan melakukan latihan berganda secara terpisah.
Wakil komandan kembali maju ke depan. Sebelum latihan berganda dilakukan, pria itu kembali memberikan wejangannya. Tak banyak waktu yang dihabiskan untuk menyampaikan wejangan. Komandan pleton memberi aba-aba pada taruna untuk segera bersiap melakukan pelatihan pertama.
Latihan pertama yang akan mereka lakukan adalah menembak. Dengan membawa ransel dan senjata mereka segera menuju lokasi untuk melakukan latihan menembak. Keseluruhan taruna dibagi menjadi beberapa kelompok. Azzam dengan kelompoknya bersiap untuk melakukan latihan menembak. Terlebih dulu mereka mengambil peluru yang sudah disiapkan, baru kemudian menuju lokasi.
Azzam membidikkan senapannya dengan posisi berdiri. Matanya menatap lurus ke arah target di depan sana. Beberapa kali pemuda itu menembakkan senjatanya. Selanjutnya dia berlutut dan kembali menembakkan senjata. Terakhir, Azzam mengambil posisi tiarap. Setelah posisinya dirasa pas, dia menarik pelatuk dan menembakkan senjatanya beberapa kali. Latihan menembak selanjutnya dilakukan menggunakan pistol. Sama seperti tadi, Azzam mengarahkan pistol di tangannya, membidik target. Usai menembak, pelatih melihat hasil tembakan yang dilakukan oleh para taruna.
Usai melakukan latihan menembak, selanjutnya para taruna akan melakukan perembesan atau infiltrasi course. Perembesan adalah salah satu bentuk latihan militer yang bertujuan melatih keterampilan, dan ketangkasan prajurit untuk mendekati sasaran dengan melewati desingan tembakan senjata amunisi tajam.
Azzam dan yang lainnya berkumpul di parit yang ada di arena latihan. Mereka mengintip dari balik parit, dengan senjata di tangannya. Mereka bersiap untuk melakukan perembesan. Terlebih dulu mereka membaca situasi yang ada di depan sana. Perlahan Azzam merangkak naik, kemudian merayap di rerumputan.
Begitu para taruna sudah merayap, pelatih yang bersiap di belakang senjata mesin mulai menembakkan senjatanya. Desingan peluru terdengar saat Azzam merayap mendekati lokasi musuh. Sesekali pelatih melemparkan granat dan membuat suara dentuman. Dengan cepat Azzam merayap melewati kawat berduri. Tangan dan kakinya terus bergerak, merayap di bawah kawat.
Selanjutnya pemuda itu merayap di antara tanggul kayu yang lebarnya hanya sebatas tubuh saja. Pergerakannya semakin cepat ketika mendekati pembatas. Sesampainya di pembatas, mereka mengintip keadaan sekitar, baru kemudian berdiri dan menyerang lokasi musuh. Azzam menggerakkan senjatanya, seperti tengah melawan musuh dengan senapan sebagai senjata.
Latihan perembesan selesai, saat para taruna berhasil mencapai lokasi di mana musuh berada. Setelah latihan menembak dan perembesan selesai, para taruna dipersilahkan kembali ke barak untuk beristirahat. Besok mereka akan melakukan pelatihan HTF.
🌻🌻🌻
Hari berikutnya para taruna akan melakukan latihan HTF atau How To Find a Fighter. Pada latihan ini, taruna akan berjalan sejauh enam sampai delapan kilometer di medan yang bervariasi, seperti jalan datar, tanjakan, turunan, bebatuan, parit, jalan berlumpur dan beraspal. Taruna juga dilengkapi dengan pelengkapan tempur, seperti senjata organik senapan dan pistol, peples atau tempat air minum, kopelrim, draghrim, helm baja, sangkur dan ransel punggung dengan berat kira-kira kurang lebih lima kilogram.
Di sepanjang rute yang dilalui, dikombinasikan dengan pos pengujian materi tertentu, seperti repling, naik togle, luncuran, turun hesty, jaring pendarat, rayapan tali satu, jembatan tali tiga, jembatan tali dua, dan lempika (lempar pisau dan kapak).
Azzam memasuki hutan tempat latihan HTF dengan jarak antara satu dan yang lainnya sekitar satu meter. Pemuda itu kemudian menuju pos yang menguji materi beladiri. Bersama dua taruna lainnya, Azzam memeragakan gerakan yang diminta oleh pelatih.
“Kuda-kura kiri depan! Hait!”
Azzam menggerakkan kaki kanannya mundur satu langkah ke belakang. Posisi kaki sedikit menekuk dengan kaki kiri berada di depan. Tangan kanannya berada di dekat dada dengan posisi terkepal dan tangan kirinya berada di depan dengan telapak tangan terbuka.
“Maju pukulan sejajar. Hait!”
“Hait!”
Kaki kanan Azam maju ke depan seraya menggerakkan tangan kanannya ke depan dengan posisi mengepal, sedang tangan kiri berada di atas pinggang dengan posisi mengepal juga. dia melakukannya bergantian kanan dan kiri.
“Mundur, tolak atas. Hait!”
“Hait!”
Kaki kiri Azzam mundur ke belakang, tangan kanan diangkat ke atas sedang tangan kanan berada di samping pinggang. Dia melakukan hal yang sama untuk kaki kanan dan tangan kirinya.
“Maju parangan dua. Hait!”
“Hait!”
Kaki kanan Azzam maju ke depan seiring dengan gerakan tangan kanannya seperti sedang menebas dengan posisi telapak tangan terbuka dan menghadap ke atas. Tangan kiri berada di samping pinggang. Dia melakukan gerakan serupa untuk kaki dan tangan kirinya.
“Mundur tolak atas. Hait!!”
“Hait!”
Ketiga taruna itu melakukan gerakan mundur tolak atas seperti yang tadi diperagakan.
“Kembali ke sikap!”
“Baik!”
Ketiganya menurunkan tangan ke bawah dengan posisi menyilang, kemudian menggerakkannya ke samping, merapatkan kaki, lalu mengambil sikap istirahat.
“Selesai. Senjata diambil, cek perlengkapan.”
Azzam mengambil ransel dan senjatanya, kemudian melanjutkan perjalanan. Kali ini dia menuju pos jembatan tali tiga. Di sana seorang pelatih sudah menunggunya.
“Lapor. Satu empat tujuh, siap melakukan peluncuran.”
“Laksanakan!”
“Siap laksanakan!”
Azzam mulai menyebrangi jembatan tali tiga. Jembatan ini terbuat dari tali tambang. Satu tali berada di bagian bawah, berfungsi sebagai pijakan, sedang dua tali berada di sisi kanan dan kiri, berfungsi sebagai pegangan. Dengan gerakan pelan namun pasti, Azzam melewati rintangan ini, sambil meneriakkan sesuatu.
Pos selanjutnya adalah peluncuran. Azzam mengambil tali tambang yang sudah dibuat simpul di bagian ujungnya. Dia terus berjalan menuju lokasi peluncuran. Kegiatan ini sama dengan flying fox, hanya saja kali ini taruna tidak menggunakan tali karmantel di tubuhnya. Mereka hanya mengandalkan tambang di tangannya untuk meluncur. Tambang yang tadi diambil Azzam, digantungkan ke tali seluncuran. Kedua tangannya berpegangan pada sisi tali berbentuk melingkar.
“Lapor. Satu empat tujuh siap meluncur!”
“Laksanakan!”
“Siap, laksanakan!”
Setelah yakin kedua tangannya memegang tali tambang dengan benar, Azzam pun mulai meluncur. Tubuhnya terus bergerak mengikuti arah tali, melewati sungai di bawahnya, sampai tiba di ujung. Selanjutnya dia melanjutkan perjalanan. Tambang yang dipakainya tadi simpan di kendaraan yang ada tak jauh dari lokasi akhir peluncuran.
Kini Azzam menyusuri sungai kecil berbatu. Sungai ini lebih tepat disebut parit, karena tidak terlalu lebar dan airnya juga tidak deras. Azzam menundukkan tubuhnya, saat melewati lorong parit. Dia keluar dari parit, lalu naik ke atas, menuju pos selanjutnya, yakni pos jaring pendarat. Dia harus melewati jaring agar dapat melanjutkan perjalanannya.
“Lapor. Satu empat tujuh siap naiki jaring darat.”
“Laksanakan!”
“Siap laksanakan!”
Satu per satu Azzam menaiki jaring pendarat yang terbuat dari tali tambang sampai ke atas. Tangan dan kakinya bergerak seirama agar dirinya bisa cepat naik, meloncatinya dan kemudian bergerak turun. Berikutnya, dia akan menuju pos jembatan tali dua.
“Lapor. Satu empat tujuh siap menyebrangi jembatan tali dua.”
“Laksanakan!”
“Siap, laksanakan!”
Jembatan yang disebrangi Azzam kali ini sama seperti jembatan tali tiga. Namun jembatan ini hanya menggunakan dua tali saja. Satu untuk berpegangan, dan satu lagi untuk menapak. Sambil berpegangan pada tali dan mengatur keseimbangan, kaki Azzam mulai bergerak melintasi jembatan dengan hati-hati.
Usai melewati jembatan tali dua, kali ini Azzam akan melewati rayapan tali satu. Azzam memposisikan tubuhnya tiarap di atas tali. Kedua tangannya memegang erat tali, kaki kanannya di tekuk dan mengaitkan tali ke kakinya, sedang kaki kirinya tetap dalam posisi lurus. Tangan Azzam maju, kemudian menarik tubuhnya, begitu seterusnya hingga sampai di ujung. Jangan ditanya bagaimana bentuk telapak tangannya, karena sering bersentuhan dengan tali tambang, sudah pasti telapak tangannya terasa kasar, bahkan mungkin terdapat kapalan juga.
Uji fisik dalam latihan HTF tidak berhenti sampai di situ. Azzam masih harus melewati pos lain yang tidak kalah sulit. Kali ini dia menuju pos repling. Dengan menggunakan tambang, pemuda itu menuruni tebing. Sesekali kakinya bertolak pada tebing, memudahkannya untuk sampai ke bawah.
“Lapor. Satu empat tujuh, siap menaiki toggle.”
“Laksanakan!”
“Siap, laksanakan!”
Latihan menaiki togle, adalah latihan menaiki jalan menanjak dengan bantuan tali tambang. Azzam mengambil tali tambang yang sudah disiapkan, kemudian mulai menaiki jalan menanjak yang sulit dilalui dengan berjalan kaki, hingga dibutuhkan alat bantu. Di sini taruna menggunakan tali sebagai tempat berpegangan untuk sampai ke tujuan. Setelah berhasil sampai di atas, dia segera menuju pos selanjutnya, yakni perkelahian sangkur dan lempika (lemparan pisau dan kapak).
Sangkur adalah senjata tajam atau pisau yang ditempatkan pada ujung senapan. Azzam bersiap dengan sangkurnya, kemudian dia mulai memeragakan perkelahian sangkur. Dia bergerak mengikuti arahan pelatih, menyerang target yang dijadikan objek pertarungan sangkur.
Kemudian pemuda itu memperlihatkan kebolehannya melempar pisau. Dia memegang bilah pisau bilah pisau dengan tangan kanannya, lalu melemparkan ke arah target. Pria itu melakukan hal tersebut sebanyak tiga kali, barulah pelatih menyatakan latihan lempika selesai.
Latihan terus berlanjut, kini dia menuju pos turun hesty. Latihan turun hesty adalah kegiatan menuruni medan miring menggunakan alat berupa tali.
“Lapor. Satu empat tujuh, siap turun hesty.”
“Laksanakan!”
“Siap, laksanakan!”
Dengan kedua tangan berpegangan pada tali, Azzam mulai menuruni medan miring tersebut. Dia harus berhati-hati dalam memijak, karena permukaan tanah tidak rata dan juga terdapat lubang atau akar pohon.
Pelatihan hesty merupakan latihan penutup dalam kegiatan HTF ini. Tenaga taruna terkuras cukup banyak, karena harus melalui berbagai medan yang sulit. Pelatihan hari ini usai dan akan dilanjut besok dengan pelatihan yang berbeda.
🌻🌻🌻
Ngebayanginnya aja, aku udah cape duluan🤭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
Kas Mi
huus..huus..cpe bgt latihan.y hri ni..😄😃
2024-01-26
1
DhilaZiya Ulyl
biyuuuh mamake..... iso sedetail iku..... nek aq melu latihan kui kyk e semput disek bar latihan 1😂😂😂😂....lg baca gini ae ikut capek 🤭🤭🤭
mangaaat pak tara..... 👍👍👍👍
2023-12-14
2
🍭ͪ ͩᵇᵃˢᵉ fj⏤͟͟͞R ¢ᖱ'D⃤ ̐
jadi nambah pengetahuan ,meski cuma warga sipil yang awam dengan segala hal yang berkaitan dengan militer.
2023-11-13
2