Kediaman Abi sudah mulai ramai dengan kedatangan anak, cucu dan para sahabatnya. Mereka berkumpul di hari Minggu ini, selain sebagai kebiasaan keluarga, juga sebagai ajang perpisahan bagi Azzam. Besok pemuda itu akan berangkat ke Yogyakarta, tepatnya ke daerah Sleman, untuk menempuh pendidikan di akademi angkatan udara.
Pagi harinya, diadakan dulu acara pengajian untuk mendoakan cucu tercinta, agar selamat dan lancar selama menempuh pendidikan. Sepanjang hari, Nina, Adinda dan Nara tidak melepaskan Azzam. Ketiga wanita itu selalu berada di sisi pemuda itu. Mulai besok, mereka akan jarang bertemu dengannya.
“Nenek.. ninda… mama… aku pinjam Azzam bentar, ya. Dari tadi dikekepin terus, tar bulukan tuh anak,” celetuk Zar.
“Ngga bisa. Azzam di sini aja,” cegah Nina.
“Ya ampun nenek, kita pinjam sebentar aja. Nanti aku kembaliin utuh kok. Ok ya, para wanita cantik.”
Zar mengedipkan matanya, seraya menarik Azzam menjauh. Azzam cukup lega sang kakak datang menyelamatkannya. Sedari tadi telinganya tak berhenti mendengar nasehat oleh ketiga wanita itu. Perutnya juga sudah kenyang dijejali makanan.
“Makasih ya, bang. Akhirnya aku bisa lepas juga dari para wanita cantik pada zamannya.”
“Hahaha… kedengaran mereka, bisa dijewer estafet, lo.”
Kedua pria itu segera menuju halaman belakang. Mereka menaiki rumah pohon yang usianya sudah lumayan tua. Di sana, Arya, Firhan, Sam, Gilang, Dipa, Farzan dan Alden sudah menunggu. Kedatangan keduanya disambut senang oleh semuanya. Arya meminta Azzam duduk di dekatnya. Dirangkulnya adik sepupunya itu. Walau berat, tapi dia harus melepas Azzam mengejar cita-citanya dan tentu saja mendoakannya.
“Zam.. lo beneran udah mantap mau jadi TNI?” tanya Arya.
“Pikirin lagi, Zam. Ngga mudah jadi taruna,” timpal Firhan.
“Alhamdulillah, udah gue pikirin, dan gue udah yakin banget.”
“Hati-hati selama di sana. Lo tau sendiri kan, udah banyak kejadian akademi kaya gitu kena kasus bully. Bully nya ngga tanggung-tanggung, disiksa. Apalagi yang namanya senioritas dominan banget di sana,” pungkas Alden.
“Iya, doain aja gue bisa menyelesaikan studi dan jadi perwira TNI AU.”
“Aamiin.. yang kenceng,” teriak Gilang.
Sam mengambil camilan yang tersedia, lalu menyodorkannya ke dekat Azzam. Pemuda itu langsung menolaknya. Perutnya sudah hampir meledak, saat Nina dan Adinda terus memintanya memakan makanan olahan mereka berdua.
“Sebenernya yang cocok jadi TNI itu si Zar,” celetuk Arya.
“Ck.. kasihan komandannya kalau bang Zar yang jadi taruna. Tiap hari harus ke dokter THT, periksain kupingnya, hahaha..” timpal Sam.
“Kebayang kalau bang Zar jadi taruna, tiap hari ngoceh mulu. Pas lagi lari pagi atau latihan militer, mulutnya ngga bisa diem. Apa aja pasti dikomentarin,” sambung Firhan.
“Kalau pas lagi latihan covering sama camouflage, pasti langsung ketahuan. Mulut embernya susah mingkem, hahaha,” lanjut Farzan.
“Teroooosss.. lanjutkan, mumpung yang punya nama lagi boker,” celetuk Zar.
“Hahaha..”
Azzam tak bisa menahan tawanya. Pastinya dia akan merindukan momen seperti ini. Berkumpul bersama kakak dan para sepupunya. Pemuda itu berusaha merekam apa yang terjadi hari ini. Kenangan indah seperti ini akan menjadi obat untuknya di saat kerinduan melanda.
“Azzam!! Dipanggil kakek!!”
Terdengar suara Stella memanggil pemuda itu. Azzam bangun dari duduknya, kemudian turun dari rumah pohon. Dia segera menuju gazebo yang ada di halaman bekalang. Di sana pandawa lima sudah menunggunya. Abi menepuk ruang kosong di sebelahnya. Azzam segera duduk di samping sang kakek.
“Kamu sudah menyiapkan semua kebutuhanmu?”
“Sudah, kek. Nanti malam tinggal dipacking.”
“Jaga kesehatan, Zam.. KiJo doakan semoga kamu bisa mencapai apa yang kamu cita-citakan. Walau berat melepasmu, tapi KiJo sadar, kalau kami harus mendukung apa yang kamu lakukan. Selama itu positif dan baik untukmu.”
Raut kelegaan terlihat di wajah Azzam. Dari semua orang di keluarganya, Jojolah yang paling menentang keputusannya. Pria itu sempat tidak ingin bertemu dengan Azzam, bahkan sampai melakukan aksi mogok makan. Tapi beruntung, sang kakek berhasil membujuknya. Tentu saja dibantu oleh grandpa, opa dan juga eyangnya.
“Azzam, ketika kamu sudah masuk dan diterima sebagai taruna, maka di saat itu kamu harus menanggalkan nama besar Hikmat di belakang namamu. Statusmu sama seperti taruna yang lainnya. Kamu harus mematuhi pengajar dan juga komandan sebagai atasanmu. Tapi.. kalau kamu membutuhkan bantuan, jangan segan untuk datang pada kakek, pasti kakek akan membantumu. Grandpa, KiJo, Eyang dan opa juga pasti akan membantumu.”
“Iya, kek.”
“Grandpa yakin, kalau kamu bisa menggapai cita-citamu.”
“Aamiin.. makasih, grandpa.”
“Eyang pengen lihat kamu melakukan atraksi pesawat tempur saat ulang tahun kemerdekaan kita.”
“Kalau kamu mau atraksi pakai parasut, jangan lupa sebut nama KiJo tiga kali sebelum terjun,” celetuk Jojo.
“Biar apa, KiJo?”
“Biar kamu mendarat dengan selamat.”
“Musyrik, jangan didengerin. Kalau kamu nyebut nama KiJo, doamu ngga akan dikabulin. Dia itu lagi dimusuhin malaikat,” ujar Abi asal.
“Mendarat ngga, nyangkut iya kalau nyebut nama KiJo, hahaha..” sambung Kevin.
Jojo mendengus kesal. Dilihatnya wajah Abi dan Kevin bergantian dengan wajah keki. Azzam memeluk akinya ini. Mendapat pelukan dari sang cucu, kekesalan Jojo menguap begitu saja.
“Kakek, KiJo, grandpa, eyang dan opa harus tetap sehat ya. Begitu aku lulus dan jadi pilot pesawat tempur, aku masih mau berkumpul dengan kalian semua. Kalian harus tetap sehat, lihat aku nikah dan punya anak.”
“In Syaa Allah, semoga saja kami semua diberi umur panjang dan bisa melihatmu berkeluarga,” ujar Juna.
“Aamiin.. setiap shalat, aku bakal berdoa untuk kakek, KiJo, grandpa, eyang dan opa.”
“Kalau nanti kamu sudah lulus dan berhasil menjadi pilot pesawat tempur, bilang saja kalau mau dijodohkan,” ujar Abi.
“Kamu udah punya calon, belum?” tanya Jojo.
“Ya ampun, aku belum mikir ke sana, KiJo.”
“Masa? Terus Soraya gimana?” Cakra menaikturunkan alisnya.
“Dia sahabat aku, eyang.”
“Sahabat aja, atau sahabat tapi mesra?” goda Juna.
“Sahabat aja, grandpa. Soraya itu baik, ngga neko-neko, ngga kecentilan. Pokoknya aku suka aja berteman dengan dia.”
“Yakin? Kali aja kamu mau ngikutin jejak grandpa dan grandma? Mereka kan awalnya dari sahabat, jadi nikah,” ujar Jojo.
“Mereka nikah karena andil kakek.”
“Heleh.. bangga banget,” celetuk Kevin.
“Ngga usah komen. Di antara kita, kamu yang paling mengenaskan. Kalau ngga dijodohin sama mamamu, sampe sekarang pasti jadi jomblo tua,” balas Abi.
“Alot juga,” timpal Jojo.
“Untung ngga bulukan,” sambung Cakra.
“Untung juga Rindu mau terima dia.”
“Hahaha..”
Kevin tak bisa membalas lagi. Habis sudah dia dijadikan bulan-bulanan oleh para sahabatnya. Azzam pun ikut tertawa sambil memperhatikan wajah pandawa lima, satu per satu. Dia bersyukur semua anggota keluarganya memberikan kenangan manis padanya, sebelum berangkat menimba ilmu di akademi angkatan udara.
🌻🌻🌻
Nara membantu anaknya berkemas. Dia menyusun pakaian Azzam ke dalam koper. Tidak banyak pakaian yang dibawa anak bungsunya itu. Selain pakaian, Azzam juga membawa laptop dan juga peralatan lain untuk menunjang dirinya dalam belajar. Berkat bantuan sang mama, acara packing berjalan lebih cepat.
“Jangan lupa bawa obat-obatan juga.”
“Iya, ma. Paling aku bawa paracetamol sama vitamin aja. Kan di sana juga ada klinik, kalau aku sakit.”
“Makan yang teratur.”
“Pasti, ma. Di sana kan kita belajar disiplin, semuanya sudah diatur, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Jam makan kita juga udah pasti dijadwal setiap harinya.”
“Kamu jangan lupa kasih kabar sama mama.”
“Iya, ma. Tapi selama tiga bulan, kita belum boleh komunikasi.”
“Kenapa?”
“Sengaja, ma. Biar kita bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun semangat korps dengan taruna yang lain. Nanti kalau udah tiga bulan, kita baru boleh pegang hape, tapi itu juga pas jam bebas atau waktu pelesir. Di luar waktu itu, ngga boleh.”
“Oh gitu.. pokoknya, setiap kamu punya kesempatan buat pegang hape, kamu harus hubungi mama.”
“Iya, mama sayang.”
Azzam menaruh koper di dekat pintu, dan tas ransel di atas meja belajarnya. Kemudian pemuda itu menghampiri mamanya dan memeluknya. Dia tahu kalau Nara masih berat melepasnya. Ibu mana yang tahan tinggal berjauhan dengan anaknya. Azzam mengajak Nara duduk di sisi ranjang.
“Mama ngga usah khawatir. Aku minta doanya aja dari mama. Doa mama dan papa yang akan membantuku menggapai cita-citaku, ya mama sayang.”
“Iya, sayang. Tapi mama rasanya masih belum puas ngurus kamu. Besok kamu udah harus masuk asrama. Dan mungkin kamu baru bisa pulang pas lebaran aja. Mama pasti kangen banget sama kamu.”
“Jaman kan udah canggih, ma. Nanti kalau pas libur atau jam bebas, aku video call sama mama.”
“Iya, sayang.”
Nara mencium kening anak bungsunya itu, lalu memeluknya erat. Pelukannya terurai ketika mendengar ketukan di pintu. Ternyata sang suami yang datang ke kamar anak bungsunya. Kenzie mendekat, lalu mendudukkan diri di samping Azzam.
“Sudah selesai packingnya?”
“Sudah, pa.”
“Tidak ada yang tertinggal?”
“Ngga ada, pa. Aku dibantu mama packing, makanya cepat beres.”
“Besok, papa dan mama yang akan mengantarmu ke Sleman.”
“Iya, pa.”
“Sekarang kamu istirahat, sudah malam. Kita harus berangkat pagi-pagi.”
“Iya, pa.”
Kenzie mengusak puncak kepala anaknya, kemudian mengajak istrinya keluar dari kamar sang anak. Sepeninggal kedua orang tuanya, Azzam menutup pintu kamarnya. Saat akan naik ke ranjang, pandangannya tertuju pada figura yang ada di atas meja belajarnya. Diambilnya figura tersebut. Di sana terpasang foto keluarganya. Mereka berfoto bersama saat liburan bersama tahun lalu. Azzam mengambil figura tersebut, lalu memasukkannya ke dalam ransel. Dia akan membawa foto tersebut, sebagai penyemangatnya di sana.
🌻🌻🌻
Cerita ini bermula saat Azzam baru mau jadi taruna, ya. Jadi kakak dan para sepupunya masih pada jomblo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 200 Episodes
Comments
EmakKece
Sleman itu nama Kabupaten thor, kalo org sini (jateng/jogja) lebih familiar nyebut lokasi AAU daerah Maguwo/Maguwoharjo
2024-11-13
1
Mur Wati
sabar ya bang Kevin
2024-04-26
1
Mur Wati
papa abi masih Istiqomah sama bon cabenya😃
2024-04-26
1