"Pengawal! Bawa ibu suri Mei-mei dan cambuk dia 50 kali." Ucap kaisar Zhaoyang dingin.
Kaisar Zhaoyang sangat kecewa dengan semua yang sudah ibunya lakukan kepada permaisurinya selama ini. Hal yang membuatnya bingung ialah, kenapa ia tidak mengingat apapun.
"Yang mulia kaisar, minumlah obat penawar ini." Ucap permaisuri Xio Lu dengan menyodorkan sebuah botol penawar racun pemberian dari Xia sahabatnya yang ia keluarkan dari balik hanfunya.
Mengambil botol itu tanpa ragu kaisar Zhaoyang pun langsung menenggak habis isi di dalam botol itu.
Glek
Kemudian setelah itu, kaisar Zhaoyang langsung memuntahkan seteguk darah kental berwarna hitam pekat.
"Ahkkk..." Menggeram tertahan kaisar Zhaoyang saat kepalanya tiba-tiba saja merasakan sakit luar biasa.
Perlahan rasa sakit itu mereda dan kaisar Zhaoyang pun kembali tenang.
"Racun yang bereaksi di tubuh yang mulia, membuat yang mulia melupakan semua kenangan tertentu, karena racun itu memang di ciptakan untuk suatu tujuan yang aku juga tidak tau untuk apa." Jelas permaisuri Xio Lu.
"Siapa yang berani melakukan ini?" Ucap kaisar Zhaoyang marah.
"Bisa jadi orang itu, orang terdekat yang mulia kaisar sendiri." Ucap permaisuri Xio Lu.
Berpikir keras tentang apa yang di ucapkan oleh permaisuri Xio Lu.
"Apa mungkin semua ini sengaja dilakukan oleh ibu suri untuk memisahkan kita?" Tanya kaisar Zhaoyang tiba-tiba.
Mendengar ucapan kaisar Zhaoyang, membuat permaisuri Xio Lu tersenyum miring.
"Itu memang masuk akal, karena selama yang mulia kaisar Zhaoyang pergi untuk berperang di perbatasan, aku di asingkan di hutan kematian, aku tidak di beri makan dan minum. Aku menjadi sangat lemah dan tersiksa." Ucap permaisuri Xio Lu dramatis.
Mengepalkan tangannya kuat, kaisar Zhaoyang emosinya bertambah saat ia mengetahui sebuah fakta lagi bahwa ibunya dengan tega ingin memisahkan ia dan permaisuri Xio Lu dengan memberikan sebuah racun yang membuat ia lupa dengan wanita yang sangat di cintainya.
"Beristirahatlah, aku akan menemui ibu suri." Ucap kaisar Zhaoyang.
"Tapi aku ingin ikut." Rengek permaisuri Xio Lu.
Menghela nafasnya pelan.
"Baiklah, ayo kita pergi." Ucap kaisar Zhaoyang akhirnya setuju untuk membawa permaisuri Xio Lu ikut dengannya.
Mereka berdua pun beranjak dari sana dengan bergandengan tangan menuju tempat dimana ibu suri Mei-mei akan di hukum cambuk.
Di ruang bawah tanah
Ctas
Ctas
Ctas
Suara nyaring dari aktivitas para prajurit istana yang menghempaskan cambuk ke tubuh ibu suri Mei-mei.
"Akhh... Ssstttt." Pekik tertahan dan desisan keluar dari mulut ibu suri.
Saat sampai di tempat dimana ibu suri Mei-mei sedang di hukum cambuk, permaisuri Xio Lu tersenyum iblis di balik cadarnya saat ia melihat langsung bagaimana tersiksanya ibu suri Mei-mei yang sombong dan jahat itu pikirnya.
"Hahaha... Rasakan itu wanita tua! Tidak perlu aku mengotori tanganku, bahkan anakmu sendiri yang akan menyiksamu!" Tawa sinis permaisuri Xio Lu didalam hatinya.
"Salam yang mulia." Ucap kedua prajurit yang sedang memberikan hukuman cambuk kepada ibu suri Mei-mei saat mereka melihat kaisar Zhaoyang dan permaisuri Xio Lu.
Menganggukkan kepalanya sekali tanda bahwa iya telah menerima hormat mereka.
"Lanjutnya." Ucap kaisar Zhaoyang datar.
Kedua prajurit itu melanjutkan pekerjaan mereka sesuai perintah dari junjungannya.
Ctas
Ctas
"Hiks... Ibu mohon berhenti Zhaoyang! Hiks... Aku ibumu! Kenapa hiks... Kau membela wanita sialan itu hiks..." Ucap ibu suri Mei-mei dengan berlinang air mata memohon kepada anaknya kaisar Zhaoyang.
"Ibu sudah sangat keterlaluan memperlakukan wanita yang sangat aku cintai dengan keji! Bahkan ibu dengan berani menyakiti wanita nomor satu di negeri Anming ini!" Jedanya. "Setelah hukuman cambuk selesai, kurung ibu suri di penjara!" Ucap kaisar Zhaoyang tak terbantahkan, kemudian ia membawa permaisuri Xio Lu pergi dari sana.
"Tidak! Zhaoyang! Lepaskan ibu! Tidakkkk!" Teriak ibu suri Mei-mei saat mendengar ucapan kaisar Zhaoyang.
Menoleh ke belakang, permaisuri Xio Lu mengedipkan matanya dan menunjukkan tatapan mengejek kepada ibu suri Mei-mei.
"Rasakan itu wanita tua!" Gumamnya didalam hati dengan perasaan senang.
Paviliun teratai
"Ah... nikmatnya!" Gumamnya saat ia menyesap teh yang di buat oleh Mei-yin pelayan pribadinya.
"Bagaimana ya nasib wanita tua itu di dalam penjara? Makan makanan yang menjijikan, tidur kedinginan, belum lagi disana minim pencahayaan pasti banyak sekali tikus! Hih... Menggelikan sekali." Ucapnya bermonolog sendiri.
"Tapi aku belum puas kalau belum melihatnya mati!" Jedanya. "Tunggu saja ajalmu! Aku tidak akan membiarkan wanita tua jahat sepertimu hidup tenang. Membiarkanmu tersiksa terlebih dahulu, setelah itu kau akan mati perlahan atau mati cepat! Itu semua akan aku atur semau ku!" Gumamnya sinis dengan tersenyum iblis.
"Sebaiknya aku istirahat, nanti malam aku akan pergi keluar istana." Jedanya. "Huizhong, apa kau punya ide kita akan kemana nanti malam?" Ucap permaisuri Xio Lu bertelepati kepada singa pendamping miliknya itu.
"Kita pergi ke rumah bordil saja. hehehe..." Ucap Huizhong Jun cengengesan.
"Sepertinya boleh juga, disana aku akan mendapatkan lebih banyak informasi tentang dunia ini." Ucap permaisuri Xio Lu bersemangat.
Mendengar ucapan antusias dari tuannya itu membuat Huizhong Jun beku tak dapat berbicara apa-apa lagi.
"Padahal kan aku hanya bercanda, kenapa Xio malah benar ingin pergi kesana?" Batinnya menjerit saat ia merasa sangat bodoh telah memberi saran yang akan membuatnya ikut terseret.
"Xio, kau serius ingin pergi ke rumah bordil? Coba pikirkan lagi!" Ucap Huizhong Jun bernegosiasi.
"Aku akan tetap kesana, lagipula aku tidak pernah ketempat itu, apa salahnya untuk mencoba sekali." Ucap permaisuri Xio Lu enteng tanpa berpikir panjang.
Diruang dimensi, Huizhong Jun memukul kepalanya berkali-kali.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" Gumamnya sendiri.
"Aku ingin istirahat." Ucap permaisuri Xio Lu beranjak dari sana kemudian ia masuk kedalam kamarnya dan berjalan menuju tempat tidur, ia berbaring di atas peraduan dengan nyaman.
"Selamat tidur." Ucap permaisuri Xio Lu mulai memejamkan matanya.
Sedangkan di tempat lain
"Ka, kita makan disana saja." Ucap Xia He mengajak sang kakak kembarnya makan di sebuah rumah makan di pinggiran yang ada di pasar.
Mereka berdua masuk kedalam rumah makan itu. Mengedarkan pandangannya melihat tempat duduk yang masih kosong.
"Kebetulan sekali!" Ucap Xia He tersenyum senang.
Mereka berdua melangkah mendekati tempat duduk dua orang yang mereka kenali berada.
"Xin! Bingwen!" Ucap Xia He mengejutkan mereka berdua.
"Xia! Xiu! kalian ada disini? Duduklah." Ucap Xin Qian saat ia mengetahui bahwa yang mengejutkan mereka adalah kedua sahabat kembarnya itu.
"Terimakasih." Ucap Xia He dan kakak kembarnya kemudian mereka berdua ikut bergabung bersama Xin Qian dan Bingwen.
Mengangkat tangannya memanggil pelayan.
"Paman, tolong buatkan ayam bakar dua dan sup ikan dua." Jedanya. "Minumnya teh manis saja dua." Ucap Xia He memesan makanan dan minuman untuk ia dan kakak kembarnya.
Sesaat kemudian, makanan yang ia pesan datang. Mereka berdua pun langsung menyantap makanan yang di sajikan itu dengan lahap.
"Hem... Ayam bakarnya sangat enak!" Jedanya. "Lain kali aku akan makan disini lagi." Ucap Xia He di sela makannya yang sangat lahap.
"Pelan-pelan Xia, kalau makan begitu kau akan tersedak." Ucap Xin Qian memperingati yang hanya di balas sebuah anggukan kepala oleh Xia He.
Setelah selesai dengan makannya, mereka berempat pun mengobrol.
"Bagaimana dengan keluarga perdana menteri Li?" Tanya Xia He kepada Xin Qian Li.
"Mereka semua sudah aku lenyapkan. Aku sudah tidak sudi memakai marga keluarga perdana menteri itu lagi!" Ucap Xin Qian malas.
"Kita sama kalau begitu! Aku dan kakak juga sudah membunuh mereka semua. Tak tersisa satupun dari keluarga Jenderal besar itu." Ucap Xia He menceritakan kepada sahabatnya itu.
"Wah... Kalau begitu kita buat saja marga baru dan membeli sebuah kediaman untuk kita tempati." Ucap Xin Qian bersemangat.
"Itu ide yang bagus!" Jedanya. "Tapi aku dan kakak tidak memiliki uang yang banyak, kami hanya mempunyai sekantong uang yang kau beri waktu itu." Ucap Xia He lesu.
"Tenang saja, soal itu Bingwen sudah mengurusnya." Ucap Xin Qian.
"Benarkah? Apa marga baru yang cocok untuk kita?" Tanya Xia He antusias.
"Itu akan kita pikirkan nanti. Sekarang kita harus segera membawa Xio pergi dari istana." Ucap Xiu He tiba-tiba.
"Oh iya, aku sampai lupa soal Xio! Bagaimana ya kabarnya Xio sekarang?" Ucap Xia He.
"Memangnya Xio sedang apa di istana?" Tanya Xin Qian yang tidak tau kalau Xio sahabatnya itu berada di raga siapa.
"Xio adalah seorang permaisuri di kerajaan Tao ini. Aku takut terjadi sesuatu di istana jika dia tidak secepatnya keluar dari sana." Ucap Xiu He.
"Astaga! Lalu bagaimana caranya kita membantu Xio keluar dari sana?" Ucap Xin Qian panik.
"Nanti malam kita akan pergi ke rumah bordil. Disana kita akan bertemu dengan Xio." Ucap Xiu He.
"Hah? Untuk apa Xio pergi ke rumah bordil?" Ucap Xia He bingung.
"Mencari informasi." Jawab singkat Xiu.
"Baiklah kalau begitu kalian berdua ikut denganku ke penginapan saja, supaya nanti malam kita bisa pergi bersama." Ucap Xin Qian mengajak kedua sahabatnya untuk ikut bersamanya.
Sedangkan Bingwen? Ia hanya diam menyimak saja tanpa minat ikut bergabung dalam obrolan mereka.
"Baiklah, ayo pergi." Ucap Xin Qian.
Kemudian mereka berempat pun pergi dari rumah makan itu kembali menuju tempat penginapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments