Saat matahari pagi sudah mulai muncul menerangi langit, sekitar pukul setengah enam pagi di depan sebuah penginapan yang di depannya bertuliskan 'Penginapan Wei Hua'.
Xin Qian Li yang sudah bangun, ia langsung saja berjalan ke pasar untuk melihat-lihat.
"Ah... Udara sejuk di perkotaan, di jaman ini masih belum ada kendaraan yang memakai bahan bakar minyak. Jadi, suasana dan udaranya masih asri. Kalau tidak pasti udaranya sudah tercemar tidak akan mungkin senyaman dan sesejuk ini di saat pagi hari." Gumamnya dengan tersenyum di balik cadar.
Ia terus melangkahkan kakinya. Tepat saat ia hampir melewati sebuah toko alat musik, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah alat musik yang di petik kecapi bernama Guzheng.
"Indah sekali, aku ingin sekali mencobanya!" Ucapnya antusias.
Karena Xin Qian Li dulunya bahkan sekarang pun ia masih sangat menyukai apa saja yang berhubungan dengan musik.
Ia pun masuk kedalam toko alat musik itu.
"Hai paman, bolehkah aku mencoba memainkannya?" Ucapnya saat ia sudah berada di dalam.
"Silahkan nona." Ucap seorang pria paruh baya sang pemilik toko alat musik tradisional itu.
Mendengar kalau ia di perbolehkan mencoba alat musik itu, Xin Qian Li pun segera duduk di sebuah kursi dan mulai memetik senar Guzheng itu dengan lihai.
Dengan memejamkan matanya, ia perlahan mengeluarkan suaranya yang sangat merdu, Xin Qian Li bernyanyi dengan sangat menghayati sebuah lagu yang tiba-tiba saja muncul dalam pikirannya.
Ni shi wo weiyi de zhizhuo...
Kamu adalah satu-satunya yang aku inginkan...
Zhiyou ni neng rang wo kuaile...
Hanya dirimu yang bisa membuatku bahagia...
Ni shi wo yisheng de jituo...
Kamu adalah rezeki dalam hidupku...
Jiusuan wei ni futangdaohuo...
Meski aku harus melewati air dan api...
Ruguo wo wangle zenme ai ni...
Jika aku lupa cara mencintaimu...
Na yiding shi wo shiyi hunmi...
Saat itu kotaku pasti dalam keadaan koma...
Ruguo wo you tian turan liqi...
Jika aku tiba-tiba berdiri tinggi suatu hari nanti...
Na yiding shi buxiang tuolei ni...
Aku tidak akan pernah menyeretmu ke bawah...
Ruguo ni wangle hui jia de lu...
Jika kamu lupa jalan pulang...
Wo yuan zuo xingxing pei ni kangu...
Aku ingin menjadi bintang untuk mengawasimu...
Ruguo ni gudan yeli wu zhu...
Jika kamu kesepian di malam hari...
Hua zuomeng yu ni zhao zhao mu mu...
Aku akan menjadi mimpimu siang dan malam...
Ni shi wo weiyi de zhizhuo...
Kamu satu-satunya yang aku inginkan...
Zhiyou ni neng rang wo kuaile...
Hanya kamu yang bisa membuatku bahagia...
Ni shi wo yisheng de jituo...
Kamu rezeki dalam hidupku...
Jiusuan wei ni futangdaohuo...
Bahkan jika aku harus melewati api dan air untukmu...
Saat ia berhenti memetik senar Guzheng dan menghentikan nyanyiannya, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang luar biasa banyaknya.
"Wah... Dia hebat! Suaranya sangat merdu." Ucap seorang gadis berparas cantik. Sepertinya dia dari keluarga bangsawan.
"Dia sangat lihai memainkan alat musik tradisional. Sepertinya dia adalah seorang talent yang terkenal." Ucap gadis lain yang juga ada disana.
Dan masih banyak lagi Kalimat-kalimat yang di ucapkan banyak orang.
Ternyata saat ia bernyanyi dan memejamkan mata, banyak sekali orang-orang yang tertarik untuk melihat siapa orang yang sedang bernyanyi dengan suara yang sangat merdu.
Dengan sangat malu, Xin Qian Li ingin segera pergi dari sana, mengeluarkan satu koin emas dan memberikannya kepada pemilik toko kemudian ia langsung pergi dari sana.
"Terimakasih paman!" Ucapnya dengan terburu-buru.
"Ini terlalu banyak nona, tunggu sebentar kembaliannya!" Ucap pemilik toko itu setengah berteriak saat Xin Qian Li berlari menjauh.
"Tak perlu paman, anggap saja sisanya rejeki untukmu!" Balas Xin Qian Li yang juga berteriak.
Saat sudah cukup jauh dari kerumunan orang-orang tadi, ia akhirnya dapat bernafas lega.
"Huh... Astaga! Aku sangat malu di tonton banyak orang seperti tadi. Lagipula bagaimana bisa mereka semua datang kesana? Padahal aku masih ingin mencoba memainkan alat musik tradisional yang lain, sayang sekali." Gumamnya dengan sedikit kesal karena tidak bisa dengan puas mencoba banyak alat musik tradisional di toko itu.
Ia melangkah kembali menyusuri setiap tempat di pasar kota itu.
Jangan tanyakan dimana siluman kuda bersayap miliknya, karena Bingwen saat ini berada di ruang dimensi miliknya tertidur dengan sangat lelapnya.
Jadilah sekarang ini Xin Qian Li hanya berjalan-jalan sendirian, anggap saja quality time pikirnya.
Membeli beberapa manisan jajanan pasar, ia sangat menikmati kegiatannya itu.
"Ah... Sendirian begini aku jadi rindu dengan mereka. Ada dimana kalian? Kenapa tidak mencari ku? Huh..." Gumamnya lesu saat ia mengingat ketiga sahabatnya.
Sedangkan di tempat yang tak terlalu jauh darinya, terlihat ada dua orang gadis kembar yang sedari tadi mengawasi setiap gerak geriknya.
"Astaga bodoh sekali dia, dimana instingnya seperti biasa? Apa kemampuannya sudah hilang! Kenapa dia tidak merasakan sama sekali kehadiran kita?" Ucap seorang gadis cantik yang tak lain ialah Xia He Tang yang merupakan salah satu sahabat dari Xin Qian Li yang ia rindukan.
"Dia tidak dapat merasakan kehadiran kita karena aku menggunakan sihir untuk membuat orang lain tidak bisa menyadari keberadaan kita." Jelas Xiu He Tang dengan tenang.
"Pantas saja!" Ucap Xia He Tang. Ia lupa kalau dunia yang saat ini mereka tinggali bukanlah seperti dunia mereka dahulu yaitu dunia modern. Sekarang yang ada di dunia ini serba sihir dan mantra.
"Kita temui dia." Ucap Xiu He Tang yang di anggukki oleh adiknya tanda bahwa ia setuju dengan perkataan sang kakak kembarnya itu.
Dengan menggunakan sihir elemen angin, mereka berdua terlihat seperti sebuah bayangan.
"Hai Xin!" Ucap Xia tiba-tiba mengagetkan sahabatnya itu saat sudah berada di sampingnya.
Terkejut bukan main, Xin Qian Li langsung bersiap menyerang. Namun, ia tidak jadi karena ia merasakan sangat mengenal siapa kedua orang gadis kembar di hadapannya ini.
Dengan pemikiran yang sulit, ia berucap dengan waspada dengan sekitarnya.
"Siapa kalian?" Jedanya. "Bagaimana bisa aku tidak merasakan kehadiran mereka?" Lanjutnya bergumam didalam hati.
"Namaku Xia He Tang dan ini kakak kembarku Xiu He Tang. Kami adalah sahabatmu Gabby." Ucap Xia memperkenalkan dirinya dengan menekan kalimat di akhir.
"A...apa maksudmu?" Tanya Xin Qian Li berdebar.
"Aku Issel dan ini Ela. Apa kau ingat dengan kami baby?" Goda Xia dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Deg
Perasaan bahagia Xin Qian Li rasakan saat ini, kedua gadis yang ada di hadapannya ini adalah kedua sahabatnya.
"Kalian." Ucap Xin dengan mata berkaca-kaca dan langsung memeluk kedua sahabatnya itu.
"Tentu saja ini kami, berkat doamu, sekarang kita bisa bersama lagi." Ucap Xia dengan ceria.
Melonggarkan pelukannya. "Benarkah seperti itu? Aku tak menyangka kalau doaku di dengar oleh sang maha pencipta." Ucap Xin dengan tersenyum senang.
"Apakah menyenangkan menjadi anak dari perdana menteri?" Ucap Xiu tiba-tiba dengan tersenyum mengejek.
Mendengar ucapan Xiu membuat Xin mendengus malas.
"Apanya yang enak! Hidupku sangat menderita kau tau, mereka memperlakukan pemilik tubuh ini tersiksa." Ucapnya malas.
"Benarkah? Kalau begitu bagus! Kita akan membalas semua perlakuan mereka, kami berdua juga mengalami hal yang sama denganmu. Kami sangat di benci oleh semua orang, bahkan ayah dan saudara kandung sekalipun!" Ucap Xia menggebu saat ia mengingat kembali apa yang ia dan kakak kembarnya alami saat masuk ke dunia yang aneh ini.
"Hm kau benar." Jedanya. " Lebih baik kita ke rumah makan milikku saja, mengobrol di jalan begini sangat tidak nyaman. Lihatlah sekeliling kita." Ucap Xin Qian Li mengajak kedua sahabatnya itu untuk pergi ke sebuah rumah makan miliknya yang kemarin baru saja ia beli.
Melihat sekeliling mereka, Xia menatap malas semua orang.
"Ayo kita pergi, mereka semua melihat kita seperti pencuri saja!" Ucap Xia kesal karena di tatap banyak orang yang ada di sana.
Kemudian mereka bertiga pun berjalan pergi dari sana menuju rumah makan milik Xin Qian Li.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments