Morena sedang duduk di sofa ruang tengah kediaman keluarga Atmadja. Perempuan paruh baya yang masih terlihat muda itu membolak balikan majalah di tangannya dengan serius. Namun, kegiatan itu terganggu begitu anak laki-laki yang kadar ketampanannya mampu menyaingi anggota Boy Band itu tiba-tiba menyerukan kepala di antara tangan dan majalah yang ia lihat, lalu menggunakan paha ibunya itu sebagai bantalan.
"Kaiiii!" sungut Morena. "Ngapain sih!"
Kai mengernyit. "Galak banget sih, Mah."
"Pake bantal dong, jangan tiduran di paha Mama gini." Morena berujar dengan wajah sebal.
"Enakan kayak gini, Mah," balas Kai yang mencoba menyamankan posisi kepalanya.
"Berat," protes Morena kesal. "Kamu tuh udah tua, masih aja kayak anak kecil."
Kai tercengang, membuka matanya lebar-lebar. Coba kalian garis bawahi kata tua itu. Benar-benar menjengkelkan.
"Aku belom tua, Mah."
"Anaknya Pak RT, umur 34 tahun itu udah punya anak dua, lah kamu? Istri aja Mama yang cariin." ejek Morena.
"Yaelah Mah, yang pentingkan anak Mama ini tetep tampan dan mempesona, banyak cewek yang rela antri cuma untuk aku jadiin istri."
Sontak Morena langsung memukul kepala anaknya menggunakan majalah dengan keras, hingga Kai meringis kesakitan. "Siapa itu? Bukan anak mama kayaknya!"
"Wah ...," Kai mengusap-usap kepalanya yang sakit. "Bilangin Papa nih aku gak dianggep anak."
"Bilang sana, Papa juga paling gak ngakuin kamu," sahut Morena sembari membuka majalahnya lagi.
Kai merengut, berdecak pelan sebelum akhirnya memejamkan mata di atas paha sang ibu yang terasa menenangkan.
"Gimana sama Airin?" Morena bertanya setelah satu halaman majalah ia buka.
Kai mendelik, lalu mendesah malas. "Gak gimana-gimana."
"Kok gitu?" tanya Morena sambil menutup majalah itu. "Kamu tuh udah tunangan sama dia, Kai. Gak boleh cuek-cuek gitu. Lagian Airin itu anaknya cantik, baik, pinter. Susah tau dapet calon istri kayak dia."
"Mama kalo lihat orang pasti cuma dari luarnya." Kai mencibir, merasa apa yang dikatakan Morena tidak seperti kenyataannya.
"Ya enggak lah, Mama 'kan kenal Tante Maria. Keluarga mereka tuh keluarga terpandang. Bibit, bebet, bobotnya mama udah tahu," jelas Morena sambil meletakan majalah yang ada di tangannya ke atas meja. "Airin udah paling pas deh."
Kai hanya mangut-mangut tanpa bisa protes, karena ia tahu ibunya akan selalu membanggakan Airin di depan dirinya.
Ngomong-ngomong tentang Airin, Kai jadi mengingat Krystal.
"Mah, kenapa sih Mama jodohin aku sama Airin? Kan Tante Maria juga punya anak cewek satu lagi."
"Krystal maksud kamu?" tebak Morena.
Kai mengangguk. "Umur aku sama Krystal juga gak jauh-jauh banget kok, kenapa harus Airin?"
"Emm ... soalnya waktu itu anak Om Ryan yang Mama tau, ya cuma Airin." Morena menunduk menatap Kai. "Emangnya kenapa?"
"Ya, gak pa-pa."
"Kamu suka Krystal?" Morena menerka.
Kai sontak tergelak kecang sambil memegangi perutnya, membuat Morena mengernyit bingung. "Mah, masa aku suka sama anak telat dewasa kayak dia. Gak mungkin lah."
"Biar gitu Krystal cantik loh. Mama kalo lihat dia inget muda, cantiknya juga kayak gitu." Morena terkikik geli, sementara Kai mendengkus malas. "Eh, tapi Kai, Mama kasian loh sama Krystal."
Seketika kening Kai mengkerut. "Kenapa?"
"Iya, ibunya meninggal pas dia masih umur tujuh tahun."
Kai membeliak, mengadah ke atas menatap wajah sang ibu dari bawah. "Loh. Maksudnya?"
"Krystal 'kan bukan anaknya Tante Maria."
Refleks Kai beringsut dari tidurannya, dan duduk tegak dengan wajah terkejut. "Terus anaknya siapa?"
"Selingkuhannya Om Ryan."
Kai terkejut dengan kerjapan mata aneh."M—maksud Mama?"
"Om Ryan selingkuh sama gadis kampung waktu bangun perusahaan di Bandung. Terus hamil, ya anaknya si Krystal itu."
Kai hanya terdiam bingung. Ia masih memproses setiap kalimat yang masuk ke dalam kepalanya, lalu mengaitkan semua kejadian yang ia lihat di dalam rumah Krystal kemarin.
"Mama sih juga baru tau dari Tante Indah."
Kai sudah tahu alasan Maria selalu membedakan Airin dengan Krystal. Pantas saja gadis itu selalu dilarang untuk bergaul, bahkan untuk pergi keluar rumah pun ia tidak diperbolehkan.
"Eh tapi ... kamu gak usah ungkit ini sama Airin ya. Mama takut Airin tersinggung," ujar Morena lagi yang mungkin tidak terdengar oleh Kai.
Cowok itu menggeleng dengan hembusan napas panjang. "Pantes ...."
"Hah? Kamu bilang apa?"
Kai tersadar, lalu menoleh. "Nggak, aku cuma lagi mikirin sesuatu."
"Mikir apa?" Morena menyipit. "Awas ya kalo kamu mikir buat kabur dari pernikahan."
"Kok Mama tahu?" Kai meledek.
"Kaiiii!" Morena mencubit perut anaknya dengan gemas. Ia benar-benar telah mengenal anaknya dengan sangat baik. Kai memang sulit untuk diatur, makanya menyangkut pernikahan Kai dengan Airin, Morena selalu mewanti-wanti anak itu agar tidak berbuat yang macam-macam.
"Jangan malu-maluin Mama di depan keluarganya Airin. Muka mama mau ditaro dimana! Awas ya kalo kamu berani!" ancam Morena.
Sementara itu, Kai hanya terkikik geli.
"Nggak, Mah. Aku gak akan kabur. Tapi palingan pas mau nikah ada cewek yang dateng sambil nangis-nangis," ledeknya lagi.
Dahi Morena mengernyit bingung. "Kenapa?"
"Minta tanggung jawab sama aku." Kai terkekeh geli sambil beringsut menghilang dari ruangan itu dan langsung membuat Morena berteriak kencang.
"KAIIIIIII!!!" Perempuan paruh baya itu menggeleng sambil memijat keningnya yang berdenyut. "AMPUN DEH! Anak cuma satu, tapi kelakuannya bikin kepala pusing terus."
***
Krystal sibuk menggerakan bola matanya ke segala arah begitu tubuhnya diajak masuk ke dalam ruangan kerja Kai. Decak kagum dari bibirnya tidak berhenti terdengar semenjak ia menginjakan kakinya di dalam gedung perusahaan itu.
Kai sendiri hanya mampu menggelengkan kepalanya tidak habis pikir melihat kelakuan Krystal yang terbilang sangat norak.
"Lo kan udah pernah ke sini."
"Iya, tapi aku gak sadar kalo ruangan kamu sebagus ini," sahut Krystal sambil terus memandang interior ruangan Kai yang memang di desain bergaya modern klasik dan begitu luas dengan satu buah sofa panjang dan dua sofa kecil, lalu lemari kaca yang besar serta meja kerja yang terlihat sangat maskulin bersama kursi hitam mewah.
"Ruangan ini juga bakalan jadi ruangan lo." Kai berjalan menuju kursinya. "Di depan sana, meja yang tadi kita lewatin. Cewek itu namanya Winda, dia yang bakalan bantuin lo selama observasi di sini."
Suara Kai terus terdengar di telinganya, sedangkan Krystal sedang sibuk mengelilingi ruangan luas itu sampai berhenti di depan jendela kaca besar dengan pemandangan langit Kota Jakarta.
"Wah ... keren banget ternyata kalo dilihat dari sini," ujar Krystal kagum.
Sementara itu, Kai masih berusaha menjelaskan tentang tata kerja selama Krystal di sini.
"Kalo ada pertanyaan tentang perusahaan ini, lo tanya sama Winda. Kalo ada yang gak lo ngerti tanya dia juga, pokoknya lo tanya dia, jangan tanya gue!"
"—aku bakalan betah banget ada di sini."
"—istirahat dimulai dari jam satu—"
"—ya ampun, ini foto kamu waktu masih kecil?"
"—di bawah ada cafetarian, lo bisa makan di sana—"
"—kamu dulu imut banget sih—"
"—sama karyawan yang lain, sekalian lo bersosialisasi."
"—kenapa sekarang jadi nyebelin kayak gini?"
Krystal tidak memperdulikan apapun yang Kai jelaskan padanya barusan. Ia terus berceloteh dan berjalan berkeliling ruangan, memuaskan mata dengan memandang ke seluruh penjuru.
"Lo dengerin gue gak sih?"
"Denger kak, denger." Krystal berlari ke sudut ruangan dengan satu pintu yang tertutup rapat. Ia membuka pintu itu dan tiba-tiba saja wajahnya terkejut berbinar. "Kaaakkk ... ini keren."
Kai menghela sambil memijat pangkal hidungnya pelan. Ia lantas melangkah mengikuti keberadaan gadis itu sekarang.
"Jangan ngebuka sembarang pintu!" sergah Kai saat melihat Krystal sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur bersprei putih yang ada di dalam ruangan itu.
"Kok bisa ada kamar di sini kak? Kamu tidur di sini? Aku gak tahu kalo di ruang kerja kamu ada kamarnya lagi." Krystal mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur hingga membuat sprei itu terlihat acak-acakan.
"Bos, ruangan kamu keren."
Kai mengernyit. Bos?
"Apa lo bilang?"
"Bos." ulangnya. Gadis itu tersenyum dan duduk di pinggiran kasur. "Aku kan sekarang kerja di sini, berarti kamu jadi bos aku."
Krystal beringsut, melangkah maju hingga berhenti di depan Kai. "Bos, kerjaan aku apa sekarang?"
"Gue bawa lo keluar dari rumah itu bukan untuk ngasih lo kerjaan di sini," ujar Kai.
"Terus?"
"Di kasur!" Krystal mengerjap. "Inget perjanjian kita?"
Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Krystal paham betul kemana arah pembicaraan Kai barusan. Mungkin ia lupa jika mereka masih punya perjanjian yang harus dilakukan sebagai balasan atas jasa Kai yang sudah mengeluarkan dirinya dari rumah itu.
"Inget kok," jawab Krystal sedikit kesal.
"Ya udah, nanti malem. Gue mau nagih itu," ujar Kai seraya berjalan keluar dari kamar itu. Krystal yang terkejut ikut berjalan membuntutinya dari belakang.
"Buru-buru banget sih, Kak? Kasih waktu sehari dong buat aku belajar."
Sontak langkah kaki Kai terhenti tiba-tiba, cowok itu menoleh ke belakang, menatap Krystal yang menatapnya dengan wajah polos menggemaskan.
"Lo mau apa?" tanyanya tidak percaya.
"Belajar," jawab Krystal polos.
Kai menarik napasnya dalam-dalam, meraup udara untuk membantunya bernapas. "Krystal ... seks gak butuh belajar. Itu naluri."
"Tapi 'kan aku belom pernah."
Sahutan itu terdengar sangat polos, membuat Kai kembali menghela. "Lo cukup ikutin naluri yang ada di tubuh lo."
"Emang bisa?"
God! Kai benar-benar dibuat pusing dengan gadis ini. Seharusnya ia menjauh dari Krystal sebelum batas kesabarannya terkuras habis.
"Cium gue," pinta Kai secara tiba-tiba yang sukses membuat Krystal menutup bibirnya. Gadis itu menggeleng. "Cium gue kayak yang lo lakuin di ruang janitor."
"Kak ...."
"Lo bisa ngebales ciuman gue waktu itu." Kai mengingatkan.
Krystal salah tingkah. Gadis itu meremat kedua tangannya gugup. "I-ya. Aku gak tahu kenapa tiba-tiba bisa ngelakuin itu."
"Karena lo ngikutin naluri lo!"
Gadis itu terpaku pada sorot mata yang sedang menatapnya dari atas itu. Kai menghela sambil menggeleng pusing. Seharusnya dari awal ia tidak perlu berharap lebih dengan gadis telat dewasa ini. Nyatanya, meniduri Krystal jauh lebih sulit dibanding diam-diam merokok di dalam kamar saat ia masih sekolah dulu.
"Gue salah berurusan sama anak kecil kayak lo." Kai berbalik, kembali melangkah menuju kursi hitam di belakang meja kerjanya.
Krystal tercengang, mulutnya terbuka lebar tidak terima dengan ucapan Kai barusan. "Apa kamu bilang?"
"Lo anak kecil!" tuduh Kai.
"Aku udah dewasa!"
"Cewek dewasa mana yang gak bisa ciuman?"
Dengan raut wajah marah yang sama sekali tidak terlihat menakutkan itu, Krystal menyentak tangan Kai cepat. Refleks tubuh cowok itu berbalik menghadapnya.
"Kamu pikir aku gak bisa!" tantangnya.
Tanpa pernah Kai duga, dan tak sedikitpun ada di dalam pikirannya. Tiba-tiba Krystal menarik pundaknya, berjinjit lalu menempelkan bibirnya dengan cara yang sangat amatiran.
Krystal memejamkan matanya dengan erat, meremat pundak Kai kuat-kuat untuk melampiaskan degub jantungnya yang menggila karena telah berhasil mencium seorang pria lebih dahulu.
Sedangkan Kai, cowok itu terpaku dengan mata mengerjap terkejut. Cukup lama untuk ia mengembalikan kesadaran, sebelum akhirnya Kai juga ikut memejamkan matanya dan menikmati ciuman Krystal.
Krystal menggerakan bibirnya kaku. Mengecup kecil-kecil bibir bagian bawah Kai, lalu **** bagian atas secara bergantian. Tangan Krystal yang tadinya berada di pundak Kai kini perlahan justru menelusuri dada, tengkuk hingga akhirnya melingkar semua di leher cowok itu.
Pertahanan Kai runtuh, yang tadinya ia ingin membiarkan gadis itu menciumnya tanpa ingin membalas, namun perlahan ikut menggerakan bibirnya.
Ciuman itu beralih menjadi lebih menuntut. Keduanya begitu menikmati bunyi kecupan yang membangkitkan gairah.
Krystal mendorong tubuh Kai pelan, tapi masih bisa membuat ciuman itu terlepas
"Jangan," tolak Krystal dengan napas terengah. "Nanti ada yang lihat." Lanjutnya masih di depan bibir Kai. Hidung mereka saling bergesekan dengan deru napas yang tidak teratur.
Kai terkekeh, mengecup hidung gadis itu gemas. "Pinter. Emang seharusnya cuma gue aja yang boleh lihat."
Lalu mereka saling menjauhkan diri. Krystal mengancingkan kembali kemejanya, sedangkan Kai mengambil jas-nya yang tersampir di kursi.
"Gue mau meeting, lo kalo mau apa-apa minta sama Winda," jelas Kai.
Krystal mengangguk setelah kancing bagian atasnya telah selesai terpasang. Gadis itu menatap Kai malu-malu, lalu beralih menatap ke segala arah.
"Jangan ngegemesin kayak gitu. Kalo gue gak meeting hari ini, bokap bakalan ngomel-ngomel." Lalu Kai mendekat, mengangkat tangannya untuk mengusak kepala gadis itu. "Gue meeting dulu ya, Bocil," ujar Kai lalu menghilang dari ruangan itu.
Dan Krystal sendiri pun tidak bisa lagi menahan degub jantungnya yang menggila. Ia meremat kuat-kuat ujung roknya, menarik napas lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Dada aku kenapa?" gumamnya pelan, bahkan hampir seperti bisikan.
****
tolong berikan cinta kalian untuk penulis dengan memberi vote, like dan komen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 183 Episodes
Comments
Kelabu Biru
untung ada pertinggallan yg free di sini karya Anna. yg lain pada bayar, walaupun ini cerita uda ku baca bolak-balik tapi aku tetep suka. Semoga aja bisa khilaf kembali kesini sekali aja 🥺
2023-04-18
5
May Keisya
ga mau bgt dibilang tua KAI😂😂...ga jauh2 bgt itu beda 2 Ampe 5 thn kai lah ini🤣🤣🤣
2023-01-24
1
dalla.dalla
ya, muka nya bakalan tetep d situ juga mah...
2022-08-10
0