Sehari setelah pesta pertunangannya dengan Airin, Kai memenuhi janji yang ia katakan pada Krystal kemarin malam. Cowok itu datang ke rumah Krystal untuk menemui Ryan Aji Pangestu, pemilik Department Store di Jakarta sekaligus ayah dari Krystal dan Airin.
Kedatangan Kai disambut baik oleh kedua calon mertuanya, terutama ibu Airin. Perempuan paruh baya itu begitu senang lantaran Kai jarang sekali berkunjung ke rumahnya.
"Airin masih ada pemotretan, Kai," ujar Maria dengan wajah sumringah.
"Iya Tante, saya udah tahu," balas Kai asal yang sebenarnya ia tidak tahu Airin ada dimana. "Saya ke sini mau minta izin."
"Loh ... izin apa? Kayaknya serius sekali," sahut Ryan yang duduk di sofa depannya.
"Di kantor kekurangan karyawan, Om. Saya mau minta Krystal buat bantu-bantu kantor untuk beberapa bulan, dan juga katanya Krystal sebentar lagi skripsi, jadi sekalian aja obeservasi di perusahaan saya."
Ryan mengangguk setuju. "Bagus itu, jadi om juga bisa sekalian titip Krystal sama kamu."
"Pasti, Om." Kai melirik sebentar ke arah tangga, dimana Krystal sedang mencuri dengar percakapan mereka. "Tapi ... saya juga mau minta izin sama Om dan Tante."
Dari atas tangga, Krystal tak henti-hentinya berdoa agar kedua orang tuanya menyetujui permintaan Kai yang ingin membawa dirinya keluar dari rumah ini.
"Karena perusahaan saya dari sini terlalu jauh, jadi saya menyiapkan apartemen untuk Krystal di dekat perusahaan." Kai menjelaskan.
"Jadi Krystal tinggal di apartemen?" selak Maria.
Kai mengangguk. "Iya Tante, itu juga untuk mempermudah Krystal datang ke perusahaan."
"Gak bisa!" tolak Maria langsung.
Krystal menghela, ia sudah yakin akan berakhir seperti ini. Gadis itu menggigit ujung kukunya sambil memohon ke arah Kai yang juga melihatnya.
"Loh, kenapa gak bisa, Mah?" Ryan bersuara dengan nada tidak setuju pada Maria. "Bagus dong Kai masih mau ngasih apartemen buat Krystal."
"Mama gak mau Krystal keluar dari rumah ini!"
"Kenapa?" Ryan bertanya tegas.
Wajah Maria sudah mengeras, Kai bisa melihat jika perempuan paruh baya itu tidak menyukai permintaannya.
"Gak bisa, Pah. Krystal masih kecil untuk tinggal sendirian."
"Maaf Tante." Kai menyela. "Kalo saya pikir ini juga demi kebaikan Krystal. Sama seperti Airin, Krystal juga bisa belajar menjadi dewasa dan mandiri, dia bukan anak kecil lagi, Krystal sudah dua puluh satu tahun. Dan saya pikir dia sudah bebas menentukan apa yang dia mau untuk masa depannya," ungkap Kai.
Maria menggeleng tegas. "Tapi Tante gak setuju! Krystal gak usahlah kerja di tempat kamu."
"Mama! apa-apaan, sih?" protes Ryan kesal. "Krystal itu kerja di tempat Kai untuk belajar, untuk masa depannya juga. Kok malah dilarang."
"Ya, tapi kan—"
"Mah." Krystal berjalan turun dari tangga menghampiri mereka semua. Wajahnya sedikit pucat, dan matanya mulai menggenang. "Aku mau kerja di tempatnya Kak Kai. Aku mau banget," mohonnya.
Mendengar itu, membuat Maria semakin meradang. ia membentak Krystal keras, "kamu mending masuk ke kamar!"
"Mah ...," lirih Krystal.
"Mama bilang enggak!"
"Mah, aku mohon." Pintanya lagi sambil berjalan ke arah Maria. "Aku janji deh gak akan pergi ke mana-mana, cuma kerja abis itu pulang ke apartemen, udah itu aja. Aku gak akan main, gak akan jalan-jalan. Aku juga bakalan pulang ke rumah kalo libur. Please, Mah ...."
"Krystal!" Maria kembali membentak.
"Tante." Kai menarik napasnya dalam. "Maaf banget saya harus bicara ini. Tapi Krystal juga butuh kebebasan, dia butuh berteman, butuh main. Krystal bukan anak-anak lagi, dia juga perlu bergaul dengan gadis seumurannya."
Maria terdiam dengan napas memburu. Ia terlihat begitu emosi, apalagi saat Krystal mulai membantahnya tadi.
"Kai bener, Mah. Kasian Krystal gak punya temen kalo kamu seperti itu terus sama dia," timpal Ryan.
Maria menggeleng keras. "Enggak, mama gak setuju!"
"Mah ...," bujuk Krystal.
"Jadi kamu sengaja nyuruh Kai dateng ke sini buat bantuin kamu?" Bentak Maria sembari berdiri di depannya. "Kamu Mama besarin bukannya bersyukur, tapi ma—"
"Mah, stop!" tegur Ryan yang merasa Maria sudah hampir kelewat batas.
Sementara itu, Krystal sudah meremat dress rumahnya dengan mata berkaca-kaca yang sekali kedip saja air mata itu pasti akan tumpah.
"Aku minta maaf, Mah," lirih gadis itu menunduk.
Ryan berdiri, menarik tangan Maria untuk ia bawa menjauh dari Krystal. Sebelum itu, Ryan menoleh pada Kai dan meminta cowok itu untuk membawa Krystal pergi dari sana.
Setelah Ryan membawa Maria masuk ke dalam kamar mereka. Kai segera menghampiri Krystal yang masih berdiri kaku dengan wajah menunduk. Tubuh gadis itu bergetar seiring isakan kecil yang keluar dari bibirnya.
Kai ikut merasakan apa yang Krystal rasakan. Ia tidak pernah mengira kalau akan separah ini. Apa yang dikatakan Krystal memang benar, tidak mudah meminta izin Maria untuk membawanya keluar dari rumah.
"Jangan nangis." Kai menarik Krystal ke dalam pelukannya. "Gak pa-pa, Tante Maria pasti kasih izin, kok," ujarnya lagi sambil mengusap belakang kepala dan punggung gadis itu bergantian.
Krystal melingkarkan tangannya di pinggang Kai untuk mengeratkan pelukan itu. Ia menangis lebih keras lagi, menyembunyikan wajahnya di dada bidang cowok itu.
"Nanti gue coba bicara lagi sama Tante Maria."
"Gak usah, Kak. Kayaknya aku emang gak bisa keluar dari rumah ini," balas Krystal di tengah-tengah isak tangisnya.
"Bisa kok ... gue bakalan usahain."
Krystal semakin mengeratkan pelukan itu, menangis lebih kencang lagi hingga Kai menggelengkan kepalanya pusing.
Mendengar perempuan menangis adalah masalah terbesar dalam hidupnya. Kai paling tidak suka mendengar atau melihat perempuan menangis karena baginya itu merepotkan. Coba garis bawahi kata merepotkannya.
"Berhenti dong nangisnya, nanti air mata lo abis kalo nangis terus," ledek Kai, mencoba mencairkan suasana.
tapi, bukannya berhenti, Krystal malah semakin meraung, membuat kemeja Kai basah karena terkena air matanya. Cowok itu menghela napas berat. Seumur hidupnya, ia tidak pernah menghadapi seorang gadis sampai se-frustasi ini. Itulah mengapa ia tidak ingin bermain hati dengan perempuan, karena kaum mayoritas itu benar-benar merepotkan.
"Udah-udah. Gue traktri mekdi deh, mau gak?"
Mendengar tawaran itu refleks Krystal menghentikan tangisnya. Ia menarik diri untuk menjangkau pandangannya dengan Kai.
"Beneran?" Krystal bertanya dengan wajah menggemaskan dan berlinang air mata. Hidungnya juga memerah.
"Iya, asal lo berhenti nangis, pusing gue dengernya," keluh Kai masih dengan posisi berpelukan.
Krystal mengangguk patuh, mirip anak anjing yang siap diberi makan. Tangannya buru-buru menghapus genangan air mata itu, lalu bibirnya ia tarik selebar mungkin untuk membentuk sebuah senyuman.
"Aku udah gak nangis. Ayo kita beli mekdi."
Dan dari situlah Kai berpikir dua kali untuk mempertemukan jerry dengan Krystal, karena jujur, ia seperti melecehkan gadis di bawah umur.
***
berikan cinta pada penulis sebanyak mungkin dengan menekan bintang, like dan komen !!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 183 Episodes
Comments
🦋🦋Lore Cia🦋🦋
rasa bersalah cuma sepintas setelah nya yg ada hanya rasa candu😁🙄🙄🙄
2024-01-07
0
Tian™
Kwkwk mekdi dong sogokannya🤭🤭🤭
2023-09-11
0
💜💜 Mrs. Azalia Kim 💜💜
tuhhh tau kan ...tapi sebentar lagi juga ketemu Jerry 🤣
2022-08-25
0