Krystal berusaha membuka matanya saat merasakan seseorang mengecup bibirnya berulang-ulang. Ia mengerjap kecil untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Kak." panggilnya dengan suara serak bangun tidur. "Udah sampe?" tanya Krystal saat matanya terbuka sempurna dan mendapati Kai sedang tidur tengkurap di sebelahnya dengan tangan sebagai penyanggah.
"Kirain belom tidur," balas Kai yang kembali mengecup bibir Krystal.
Cowok itu masih mengenakan seragam kantornya, namun tanpa jas dan dengan lengan kemeja yang sudah digulung sampai siku.
"Tadinya cuma mau tidur-tiduran aja, eh ternyata ketiduran." Krystal merubah posisinya menghadap ke arah Kai, mereka saling pandang dengan jarak yang tipis.
"Masih ngantuk?" tanya Kai mengelus pipi Krystal.
Gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Kok kakak bisa masuk?"
"Lo lupa kemarin siapa yang setting passcode di pintu."
Krystal terdiam sebentar sambil mengerjap, mengingat kejadian kemarin, lalu tak lama bibirnya tertarik lucu. "Oh iya, aku lupa. Pantes kakak bisa masuk."
Setelah itu, keduanya sama-sama terdiam dengan mata yang saling berpandang.
Kai terdiam sambil berpikir dimana ia meletakan ** yang baru ia beli tadi, sementara Krystal terdiam karena merasakan perasaan asing yang menyusup masuk di sela-sela ia memandangi Kai.
"Kak—"
Belum sempat Krystal mengucapkan kalimatnya, Kai sudah lebih dulu membungkam gadis itu dengan sebuah ciuman. Kai menyerang bibir Krystal tanpa kesiapan dari gadis itu hingga membuat Krystal meraup udara dari mulutnya.
Tidak ada yang bisa menahan sebuah gairah. Apalagi jika sudah menahannya sejak beberapa hari yang lalu. Itu yang Kai rasakan saat melihat Krystal di meja restoran dalam pertemuan pertama mereka.
Saat itu Kai benar-benar menginginkan tubuh Krystal. Awalnya ia pikir Krystal sama seperti Airin, sudah terbiasa tidur dengan berbagai macam pria dan memandang seks seperti sebuah kebiasaan. Namun, pandangan itu berubah 180 derajat begitu ia berbicara dengan Krystal di dalam coffee shop waktu itu.
"Kak." Krystal menepuk-nepuk pundak Kai saat merasakan dirinya hampir kehabisan napas.
Kai menarik wajahnya dengan napas yang sama memburu dengan Krystal.
Gadis itu memejamkan matanya, menarik nafas banyak-banyak seolah sedang mengisi oksigen dalam paru-parunya yang hampir habis.
"Pelan-pelan," dengus Krystal. Matanya terbuka, namun napasnya masih terdengar putus-putus. "Kalo aku mati gimana?"
Kai tersenyum sambil mengecup hidung Krystal. "Sekarang lo udah siap kan?" ujarnya tanpa memperdulikan kekesalan Krystal.
Gadis itu bersemu, pipinya tiba-tiba memanas dan jantungnya berdetak lebih cepat. Bagaimanapun ia tidak pernah siap untuk kehilangan mahkotanya, tapi janji tetaplah janji, Krystal yakin sebanyak apapun ia menghindar, Kai tetap akan meminta itu.
"Gak akan sakit, gue janji," rayu Kai sambil kembali mengelus pipi gadis itu.
Krystal masih terdiam, ia terlalu bingung untuk merespon seperti apa. Karena jujur, ini pengalaman pertama untuknya, dan rasa takut itu pasti ada.
"Hm?" Kai bertanya lagi, dan kali ini dijawab dengan anggukan di kepala Krystal.
Tanpa menunggu waktu lama, Kai menarik dirinya, berdiri dengan kedua lutut, lalu mulai membuka satu persatu kancing kemeja miliknya dan melemparkannya ke lantai.
Krystal terkejut, ini pertama kalinya ia melihat tubuh laki-laki secara langsung. Tangannya refleks menutup kedua mata. "Kak ... aku malu."
Kai terkekeh. "Gak apa-apa. Buka aja mata lo."
Dengan ragu Krystal menurunkan tanganya dan membuka mata secara perlahan. Jujur, tubuh Kai sangat bagus, ia juga pernah melihat itu di dalam majalah yang ada di kamar Airin. Tapi, ia tidak pernah menyangka jika akan melihatnya secara langsung seperti saat ini.
Kai kembali mencium bibir Krystal, dengan lembut dan perlahan. Ia tidak ingin tergesah-gesah hingga membuat Krystal takut. Karena membujuk gadis itu sampai tahap ini saja rasanya sangat sulit.
Hisapan, kecupan, lumatan di atas bibirnya membuat Krystal *** pundak Kai erat. Sesekali bibirnya mengeluarkan desahan yang tertahan, apalagi saat tangan Kai mulai mengelus pahanya.
Krystal sedikit banyak sudah mulai mengerti apa yang harus ia lakukan ketika Kai menggigit bibirnya, menyusupkan lidahnya di sela-sela bibir. Lalu, perlahan Krystal mulai membalas belitan itu di dalam mulutnya.
Tubuh Krystal bergetar hebat saat satu tangan Kai masuk ke dalam kaosnya dan mengelus perutnya lembut. Sentuhan itu semakin menggila saat Kai menemukan dua buah gundukan sintal yang masih tertutup kain namun terasa pas di tangannya.
Kai *** kuat payudara Krystal, sementara bibirnya mulai turun menuju leher, pundak, dan kembali mengecupi telinga gadis itu. Hembusan napas Kai yang menyapu telinganya membuat Krystal merinding.
Lenguhan Krystal seolah menyulut gairah Kai lebih besar. Lantas ia mengangkat tubuh Krystal sedikit, lalu melepaskan kaos gadis itu melewati kepala.
Krystal tentu saja terkejut. Belum pernah ada laki-laki yang melihat tubuhnya tanpa baju, walaupun masih ada kain pelapis yang menutupi payudaranya.
"K—kak." Krystal berusaha menutupi tubuhnya, mencoba menggapai selimut, tapi Kai menahan itu.
Kedua tangan Krystal ia tahan ke atas, lalu dengan rakusnya ia mengecup kembali rahang Krystal, memberi jejak-jejak kepemilikannya.
Krystal mendongak, membiarkan Kai mencium lehernya dengan mudah. Rasa itu begitu membuncang, sesuatu dalam dirinya seolah menjerit nikmat.
Tidak sampai di situ saja Kai membuat Krystal merasa terkejut. Ia semakin panik ketika cowok itu melepas celana pendeknya, membuat Krystal hampir bertelanjang.
"K—kak, aku malu," lirihnya dengan terengah. "Kamu cowok pertama yang lihat ini."
Kai menyeringai di atas Krystal. Benar imajinasinya selama ini, gadis itu memang memiliki tubuh yang sexy. Mungkin tidak seperti milik Airin yang besar. Dada Krystal terlihat kecil namun sangat pas untuk tangannya.
Cowok itu membungkuk dengan kedua siku sebagai penyanggah.
"Gue tau itu." Kai kembali mencium Krystal, **** bibir atas dan bawahnya bergantian.
Semakin dalam ciuman itu, semakin dalam pula ingatan Kai tentang keberadaan ** yang baru saja ia beli. Kai tersentak, lalu melepas ciuman mereka.
"** gue ketinggalan di mobil."
"A—apa, Kak?" Krystal menelan ludahnya susah payah. "K—kondom?"
"Iya." Lantas Kai menarik diri, duduk di tepi kasur sambil merogoh handphonenya. Ia menghububgi seseorang.
Sementara itu, Krystal menarik selimut yang berada di kakinya, lalu melilitkan itu ke seluruh tubuh.
"Hallo, Jang ... lo dimana sekarang?" Kai mengacak rambutnya kesal. "Gue ketinggalan sesuatu di mobil ... lo bawain itu ke sini ya ... iya apartemen yang tadi ... kelamaan, bisa lebih cepet gak? Gue perlu banget itu barang ... Ya udah-ya udah, gak usah ...."
Kai melempar hapenya ke atas kasur, lalu mengusap wajahnya kasar. Cowok itu mendesah frustasi. Di saat seperti ini mengapa ia harus melupakan barang yang sangat penting itu.
Shit!
"Kakak kenapa?"
Kai menoleh dengan wajah mengeras dan merah. "Lo laper?"
Krystal mengangguk.
"Ya udah, pake baju lo, terus makan." Ia berdiri sambil kembali mengusap wajahnya gusar.
"Kakak juga makan?"
Kai menatap Krystal sekilas sebelum kembali berkata. "Lo duluan aja, gue mau keramas dulu."
***
Berikan cinta kalian pada penulis dengan menekan vote, like, dan memberikan komentar..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 183 Episodes
Comments
hasna asthyna
ahahahahaha daripada jebol mending didinginkan dulu lah yaaaa hahahaha
2023-10-01
2
Ning Vian
sabar ya jerry
2022-10-30
0
Sheril 25
🤣🤣🤣🤣sukurinnnnn
2022-07-18
0