Tak lama setelah Zalan dan Azeela menginggalkan TKP, Rashilah dan Timsar sampai di tepi jurang. Gadis muda itu menunjuk tubuh Tamil yang tergeletak di balik pohon pinus. Salah satu timsar memeriksa kondisi Tamil. "Syukurlah ia masih bernapas. Cepat bawa ke rumah sakit". Ucap salah satu timsar.
Semua timsar menginggalkan TKP. Kejadian hari ini benar-benar telah berubah. Pria paru baya itu selamat. Ia tidak jadi jatuh ke jurang. Pria itu hanya pingsan di tepi jurang. Kesimpulan dari polisi terkait kasus ini, karena Tamil kelelahan melakukan pendakian, di tambah hari hujan deras, akhirnya pingsan. Rashilah juga memberikan kesaksian yang demikian.
Gadis itu sedang asik mendengarkan lagu di tengah derasnya hujan. Ketika ia terus berjalan, ia mendengar suara orang yang sedang kesakitan, ia menuju sumber suara. Sampai di sumber suara, gadis itu melihat Tamil sudah terkapar tak berdaya. Ia pun bergegas mencari bantuan sampai ia tergelincir karena terlalu terburu-buru. Kata Rahsilah ia tidak melihat orang lain di situ. Ia hanya melihat pria tua itu yang sudah pingsan.
Zalan dan Azeela sampai di mobil. Melihat kondisi Zalan yang begitu lemah, akhirnya Azeela putuskan untuk menyetir mobil itu. Saat perjalanan menuju rumah, Zalan pingsan. Azeela yang melihat itu sangat khawatir dengan kondisi pria di sampingnya.
Gadis ayu itu mempercepat mengendarai mobilnya. Akhirnya sampai rumah dengan kondisi basah kuyup. Keluar dari mobil, Azeela memapah Zalan untuk masuk ke rumah mereka dengan mengecek situasi di sekitar dulu. Karena Azeela tidak ingin ada yang melihat kondisi Zalan yang berlumur darah dan basah kuyup. Takutnya jika ada yang melihat nantinya akan timbul masalah baru.
Sampai dalam rumah, Azeela menidurkan Zalan di sofa ruang tamu. Setelah itu ia berjalan ke kamar Zalan untuk mengambil handuk. Gadis ayu itu mengeringkan badan Zalan. Pria tampan itu masih dalam keadaan pingsan. Setelah selesai mengeringkan badan Zalan, Azeela mengambil kotak P3K, ia mengobati luka di perut Zalan.
Ketika Azeela membersihkan bekas darah di perut Zalan, gadis itu kaget melihat sudah tidak ada luka bekas tusukan kayu di perut pria itu. Yang ada sekarang hanya bekas darahnya saja. "Apa yang dikatakan Zalan waktu itu benar-benar nyata". Gumam Azeela.
"Sepertinya bentar lagi Zalan akan bangung. Mungkin tubuhnya butuh istirahat sebentar". Ujar Azeela sambil berjalan menuju kamar mandi untuk merendam handuk, dan sapu tangan yang sebelumnya ia gunakan untuk membersihkan darah di perut Zalan. Setelah itu Azeela juga mengeringkan badannya di kamar mandi.
Selesai berganti pakaian, Azeela berjalan perlahan menuju kamarnya untuk mengeringkan rambut. Namun tiba-tiba kepala gandis ayu itu pusing. Tak begitu jauh dari pintu kamar mandi, Azeela pingsan.
Tubuh gadis ayu itu tergeletak di lantai. Bibir gadis malang itu begitu pucat. Sepertinya Azeela sangat kelelahan dan kedinginan. Wajar saja mereka berdua begitu kelelahan karena hari ini melewati perjalanan yang begitu panjang disertai hujan yang begitu lebat.
Lima belas menit kemudian, Zalan tersadar. Pria itu duduk sambil meregangkan otot-otot tangannya dan merilexkan tubuhnya. Zalan mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sepertinya dosen muda itu sedang mencari dimana keberadaan Azeela.
Zalan berjalan ke dapur untuk minum air panas agar tubuhnya sedikit lebih hangat. Setelah itu ia masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Selesai ganti pakaian, Zalan mengetuk pintu kamar Azeela. Namun tidak ada jawaban. Karena tidak ada jawaban, Zalan membuka perlahan pintu kamar gadis ayu itu.
"Tidak ada siapa-siapa. Kemana perginya gadis itu?". Gumam Zalan. Kemudian meninggalkan kamar Azeela. Pria itu berjalan ke arah kamar mandi yang tidak jauh dari ruang tamu. Ketika sampai, ia melihat seorang gadis yang tergeletak lemas di lantai.
Zalan menggendong Azeela ke kamar tamu. Sampai di kamar pria itu membaringkan tubuh Azeela di kasur. Zalan mengecek suhu tubuh Azeela. "Tinggi sekali panas nya". Ujar Zalan sambil berjalan meninggalkan kamar Azeela menuju dapur. Pria itu mengambil air panas dan kompresan untuk menurunkan panas pada tubuh Azeela.
Sambil menunggu Azeela untuk siuman, Zalan kembali ke dapur membuat teh tawar panas untuk Azeela jika gadis itu telah sadar nanti. Azeela mulai bangun. Gadis itu perlahan mencoba untuk duduk di kasurnya.
Zalan yang baru sampai di kamar dengan membawa secangkir teh di tangannya melihat Azeela dalam keadaan masih pusing memaksakan dirinya untuk duduk, Zalan bergerak cepat menarok cangkir yang di bawahnya ke atas meja dan membantu Azeela untuk duduk.
"Masih pusing?". Tanya Zalan sambil berjalan mengambil secangkir air teh. "Minum ini. Biar tubuh kamu sedikit lebih hangat". Ucap Zalan sambil memberikan teh itu pada Azeela. Tanpa penolakan Azeela langsung meminum habis teh itu.
"Gimana?. Udah sedikit mendingan?". Pria itu kembali melontarkan pertanyaan.
"Udah lumayan". Ucap Azeela dengan datar. Mendengar itu Zalan meminta Azeela lanjut istirahat. "Apa yang sebenarnya terjadi tadi lan?". Ujar Azeela sambil menatap Zalan dengan ekspresi butuh jawaban.
"Kita bahas itu besok aja ya!". Pinta Zalan dengan nada bicara yang pelan.
"Pliss! (Menyatukan kedua telapak tangannya). Saya nggak bakal bisa istirahat kalau nggak dengar ceritanya sekarang juga". Ujar Azeela.
Zalan menghela napas pendek. "Ummm... baik lah". Ucap Zalan. Azeela tersenyum mendengar jawaban dari Zalan. Pria tampan itu menceritakan bagaimana kejadian setelah mereka berdua memutuskan untuk berpisah arah agar cepat menemukan pak Tamil.
Kata Zalan sewaktu ia bertemu kembali dengan pak Tamil, pria paru baya itu sudah bergelantungan di akar dekat jurang. Ia meminta tolong untuk di bantu naik. Zalan yang melihat itu berusaha membantu pak Tamil untuk naik kembali ke atas. Zalan mencari sesuatu untuk membantu Pak Tamil naik. Dan dosen muda itu berhasil menyelamatkan Pak Tamil untuk tidak jatuh ke jurang.
Sampai di atas, seseorang dengan jas hujan hitam dan pakai topeng datang ingin menusuk Pak Tamil. Zalan yang melihat itu berusaha melindungi pria paru baya itu. Alhasil perut Zalan tertusuk kayu runcing yang awalnya di arahkan orang bertopeng itu pada Pak Tamil justru mengenai Zalan karena ia melindungi pria paru baya itu.
Pak Tamil berusaha untuk menghentikan tindakan orang bertopeng itu, namun pria paru baya itu terlempar cukup jauh dari posisi Zalan tertusuk. Melihat Zalan sudah sekarat, orang bertopeng itu berlalu pergi. Zalan yang setengah sadar masih berusaha untuk mengejar orang itu. Namun di tengah pengejaran, tubuh Zalan ambruk ke tanah. Zalan sudah tidak sadarkan diri lagi. "Dan saat saya bangun, kamu udah ada di depan saya". Tutur Zalan.
"Kira-kira siap orang itu!. Apa mungkin dia pelaku yang sama dengan kasus pembunuhan berantai yang akan terjadi bentar lagi?. Tapi apa tujuannya. Kenapa ia juga mengincar kakek!". Gumam Azeela sambil berpikir.
"Entah lah!. Tidak usah terlalu dipikirkan. Sekarang istirahat lah. Saya juga mau istirahat". Ujar Zalan sambil berdiri dari kursi di meja kamar Azeela.
Gadis ayu itu mengangguk pelan. "Makasih". Ucap Azeela sambil sedikit tersenyum.
"Ya sama-sama. Saya juga mau bilang makasih. Karena tadi kamu juga udah rawat saya. Jadi sekarang kita impas". Ujar Zalan dengan ekspresi datar.
"Oke". Ucap Azeela singkat. Zalan pun berlalu pergi meninggalkan kamar Azeela. Setelah Zalan pergi, gadis ayu itu kembali berbaring dan mencoba untuk istirahat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Sena judifa
orang yg sama kh
2023-11-09
0