"Emang luka saya separah itu?. Saya merasa baik-baik saja". Ucap Azeela dengan polosnyo.
Zalan sedikit kesal dengan respon Azeela yang datar itu. Pria itu malas melanjutkan pembicaraannya di rumah sakit. "Kita bahas ini di rumah saja nanti". Ujar Zalan.
"Umm... oke". Ucap gadis ayu itu dengan santai. Azeela berganti pakaian dulu di toilet. Setelah selesai ganti pakaian, gadis itu ingin membuka perban yang ada di kepalanya. Ia merasa kepalanya baik-baik saja. Zalan menghentikan tindakan bodoh Azeela itu.
"Apa yang kamu lakukan?". Tegas Zalan sambil menghentikan tangan Azeela membuka perban.
"Buka perbannya. Emangnya kenapa sih?". Ucap gadis itu lembut.
Zalan bilang pada Azeela kalau tindakan ia yang sangat gegabah itu bisa menimbulkan masalah besar. Orang pasti akan bertanya-tanya dan curiga. Kenapa kamu cepat sekali pulih dari luka yang cukup dalam dan banyak kehabisan darah.
Mereka pasti akan merasa hal itu tidak wajar. Dan posisi Zalan dan Azeela di masa ini akan terbongkar. Zalan tidak ingin hal itu terjadi. Mendengar ucapan dari Zalan, Azeela menyadari keteledorannya. Ia minta maaf pada Zalan. Pria tampan itu memaklumi Azeela. "Lain kali harus lebih hati-hati". Ujar Zalan jutek.
Azeela hanya mendaham dan senyum sinis pada pria tampan disampingnya. Gadis itu masih kesal dengan sikap pria itu. "Kenapa ia selalu berlagak so cool seperti itu". Batin Azeela.
"Duduk di kursi roda ini". Ujar Zalan sambil menyodorkan kursi roda pada Azeela.
"Harus bangat kayak gini?". Sinis Azeela.
Zalan meminta Azeela untuk tidak banyak tanya. Azeela dengan jengkel menuruti perintah Zalan untuk duduk di kursi roda dan pura-pura masih belum terlalu pulih. "Jangan lupa wajah lesuhnya di pasang. Nanti dokter nggak percaya lagi". Ucap Zalan. Azeela hanya mendaham.
Mereka berdua menuju resepsionis. Pria itu mengurus ke pulangan Azeela. Setelah semuanya selesai, Zalan mendorong kursi roda Azeela sampai ke mobilnya. Sampai depan mobil ia memapa Azeela untuk masuk. Setelah itu menaruh kursi roda di begasi. Mobil Zalan pun berlalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Dalam perjalanan pulang mereka berdua hanya diam. Azeela mengelus-elus sendiri tangannya karena merasa kedinginan. Zalan yang melihat itu tiba-tiba menghentikan mobilnya. Pria itu keluar dari mobilnya menuju bagasi. Azeela bingung dengan sikap dosen muda itu. Zalan kembali masuk ke mobil dan memberikan jaket pada Azeela.
"Pakai ini". Ujar Zalan datar. Kemudian pria itu kembali mengemudi. Azeela memakai jaket itu dengan perasaan campur aduk. Gadis itu memalingkan muka nya ke kiri sambil tersenyum tipis. Setelah itu kembali memasang ekspresi datar lagi. Ia tidak ingin Zalan tahu bahwa perhatian kecil dari Zalan bikin dia nyaman.
Tak berselang waktu lama, mereka sampai di rumah dengan suasana malam yang sudah mulai larut. Zalan dan Azeela tidak bertegur sapa. Mereka langsung masuk ke kamar masing-masing untuk bersih-bersih. Selesai mandi Azeela bersiap-siap untuk segera istirahat. Gadis ayu itu berbaring dengan nyaman di kasur nya. Ia kembali teringat cerita ibunya sewaktu di rumah sakit.
"Ibu begitu mencintai ayah. Gue bisa lihat dari sorot mata ibu yang sangat berbinar-binar penuh cinta ketika menceritakan awal ia bisa sama ayah. Tapi yang sampai sekarang tidak gue mengerti kenapa di masa depan keluarga ibu jadi berantakan. Bahkan ayah tidak sama dengan apa yang diceritakan ibu tadi siang. Sifat ayah jauh berbeda di masa depan. Apa yang membuat ayah yang penyayang menjadi dingin seperti itu pada gue dan ibu dimasa depan. Pasti terjadi sesuatu di tahun ini. Pasti ada yang ayah tutupi dari gue. Bahkan juga dari ibu. Gue harus cari tahu kejadian apa yang bikin ayah jadi berubah". Gumam Azeela dalam hati.
Suara ketukan pintu menghentikan lamunan Azeela. "Ya?". Sahut Azeela sambil berjalan untuk membuka pintu. Zalan berdiri di depan pintu kamar Azeela.
"Sebelum tidur makan dulu. Saya tidak mau makanan yang saya beli tadi mubazir". Ujar Zalan datar sambil berlalu pergi.
Azeela benar-benar bingung dengan tingkah pria itu. "Mubazirrrr! Alasan. Bilang aja khawatir sama gue karena tadi siang belum sempat makan". Dumel Azeela sambil menaikan satu alisnya.
Azeela sampai di meja makan. Gadis itu langsung memakan sup ayam yang sudah di panas kan kembali oleh Zalan. Ketika sedang makan, Azeela baru teringat dengan kejadian yang menimpa Amelda di kampus. "Ada yang ingin saya bicara kan sama kamu soal Amelda". Ucap Azeela sambil masih melahap sup.
"Habis kan saja makanan nya dulu. Setelah itu baru bicara". Ujar Zalan sambil kembali melanjutkan cuci piring nya. Azeela hanya mendaham tanda mengerti.
Setelah selesai makan Azeela menaruh piring kotor di wastafel. "Kalau selesai makan piringnya jangan lupa di cuci. Anak gadis tapi suka berantakan". Ujar Zalan kemudian berlalu pergi membaca buku di ruang tamu.
Azeela meledek Zalan dari belakang. Gadis itu memerengkan bibirnya. "Sok bersih bangat tu orang". Batin Azeela sambil mencuci piringnya. Selesai cuci piring Azeela hendak pergi istirahat ke kamarnya.
"Apa yang kamu ketahui tentang Amelda?". Ucap Zalan pada Azeela tapi matanya tetap fokus baca buku.
Mendengar suara Zalan gadis ayu itu memutar arah dan duduk di sofa depan Zalan. "Oo soal itu. Ternyata Amelda benar di teror. Saya lihat sendiri gadis itu di teror dengan kotak merah". Tutur Azeela sambil memasakan wajah khawatir pada Amelda.
"Apa isi kotak itu?". Tanya Zalan dengan spontan menutup buku bacaannya. Azeela menceritakan semua yang di lihatnya di kampus. Sampai kejadian bagaimana ia bisa terjatuh dari tangga. "Kulit pisang?". Ucap Zalan sambil berpikir.
"Kamu yakin yang bikin kamu tergelincir itu kulit pisang?". Tanya Zalan untuk memastikan.
"Ia. Saya sangat yakin". Jawab Azeela dengan penuh percaya diri.
Zalan merasa kejadian yang menimpa Azeela sudah di rencana kan. Zalan bilang pada Azeela sewaktu Azeela di larikan ke rumah sakit, Zalan menyelidiki kejadian itu. Ia memeriksa CCTV tapi tidak menemukan apa-apa. Bahkan tidak ada kulit pisang di tangga itu. Seolah-olah seseorang sudah membersihkan jejak. Azeela pun jadi bingung. "Kenapa orang itu mengincarku?". Gumam Azeela.
"Kamu yakin tidak ada yang melihat mu sewaktu mengikuti Amelda?". Tanya Zalan.
"Entah lah. Seingat saya hanya ada kami berdua di gerbang belakang itu". Ucap Azeela sambil kembali mengingat saat ia mengawasi Amelda.
"Jangan bilang....,". Ucapan Zalan terhenti.
Azeela seolah paham dengan apa yang sedang di pikirkan oleh Zalan. "Bisa jadi si. Pelakunya lihat aku mengawasi Amelda. Ia merasa terancam kemudian bikin aku celaka". Ujar Azeela.
"Artinya pelakunya ada di kampus Itu. Kita harus lebih hati-hati dalam bertindak. Bisa jadi pelakunya tidak sendiri". Tutur Zalan. Azeela mengangguk tanda setuju dengan ucapan Zalan.
"Seperti nya ada sesuatu yang terlewat!". Ucap Zalan tiba-tiba. Pria itu bergegas menuju ruang rahasia mereka. Mereka mendiskusikan hal tersebut cukup lama. Zalan dan Azeela membaca semua dokumen terkait khasus-khasus yang akan terjadi di tahun 2005.
"Pasti ada hal yang terlewatkan oleh saya". Gumam Zalan dengan tetap fokus menbaca berkas-berkas yang telah ia kumpulkan selama ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Sena judifa
muara cinta kita mampir thor
2023-10-31
1
Putra Al - Bantani
sifat yang bagus
2023-10-20
0