Cahaya bulan telah masuk menyinari malam yang begitu kelam. Azeela baru selesai kuliah sekitar jam delapan malam dini hari. Hari ini ia selesai kuliah lebih awal. Gadis itu berjalan perlahan menyusuri setiap area jalan raya sambil melihat-lihat suasana disekitarnya. Ia terus berjalan perlahan sampai suatu hal menghentikan langkah Azeela.
Gadis malang itu berhenti tepat di depan Bar yang berada tidak terlalu jauh dari rumah kediamannya. Ia memasuki Bar itu perlahan. Dari Gerak gerik dan gestur tubuh yang diperlihatkan oleh Azeela, seperti nya gadis itu sedang mencari seseorang. Dan benar saja, Azeela berjalan ke satu meja.
Sesampai ia dimeja itu, gadis itu langsung saja membalik meja itu sambil berteriak "Ayah....!". Dengan marah bercampur tangis. "Kenapa ayah selalu duduk disini!". Ucap Azeela dengan Isak tangis yang tidak terbendung lagi.
Ayah Azeela yang melihat sang putri marah dan menangis perlahan berjalan pergi meninggalkan Bar itu dengan sempoyongan. Azeela juga ikut meninggalkan Bar itu. Gadis itu berlari ke arah jembatan kemudian berteriak histeris untuk melepaskan kekecewaannya.
Setelah ia merasa amarahnya sudah mulai reda, gadis itu berjalan perlahan untuk menuju rumahnya. Sampai di rumah, azeela melihat kamar ibunya. Gadis itu melihat sang ibu sedang tertidur dengan nyaman di kasur batangan yang hanya beralaskan tikar di dekat lantai tanpa ada sofa (tempat tidur). Air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya tanpa suara.
Azeela yang menyadari air mata itu mulai membasahi pipinya, ia menyeka air itu perlahan dengan lengan bajunya. Setelah itu ia berjalan perlahan menaiki tangga kayu di lantai dua, untuk masuk kamar. Kamar yang sederhana yang hanya dibaluti kayu dari dinding sampai lantainya.
Kamar yang bukan hanya sekedar tempat tidur bagi Azeela tapi juga sebagai tempat persembunyian dari hiruk pikuk kehidupan yang menyeramkan diluar kamarnya. Sampai dikamar gadis itu duduk di sudut kasurnya sambil menangis tanpa suara. Saking terluka batinnya, gadis itu sampai tidak bisa mengeluarkan suara di selah tangisnya.
Hanya air mata yang mengalir deras membasahi pipinya yang manis dan merona. Ibu Azeela terbangun dari tidurnya karena mendengar sang suami berteriak untuk dibukakan pintu utama. Seperti nya Azeela sengaja mengunci pintu itu agar sang ayah tidak bisa masuk kedalam rumah.
Ibu Azeela membuka pintu dan syok melihat keadaan sang suami dalam keadaan penuh luka dan darah. Kaki sang suami yang sudah pincang dari dulu, tambah susah ia gerakan karena ada luka di lututnya seperti luka ditebas benda tajam. Kulit lutut kakinya terbuka dengan luka cukup dalam. Kepalanya di aliri darah. Entah apa yang terjadi dengan ayah Azeela selepas mereka bertemu tadi. Ibu Azeela berteriak histeris di sertai tangis.
"Yaaa tuhann... Ada apa ini masss!. Apa yang terjadi dengan mu mass?". Ucap Youna lirih.
Youna ibunya Azeela bergegas mengambil kotak P3K untuk segera mengobati luka sang suami. Azeela yang mendengar ibunya berteriak, ia tersadar dari lamunannya. Ia menyeka air mata yang masih tersisa di pipinya. Kemudian segera turun menuju sumber suara.
Sampai di ruang tamu Azeela juga terkejut sambil menutup rapat mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Air mata pun kembali membasahi pipinya. Gadis malang itu berlari menghampiri ibu dan ayahnya. "Buu, ayah kenapa buk?". Tanya Azeela lirih.
"Ibu juga tidak tahu nak. Cepat kamu telepon ambulans zel. Kondisi ayah kamu sangat buruk nak!". Ucap Youna ibunya Azeela dengan pelan dan terbata-bata. Azeela langsung menghubungi ambulans. Ayah Azeela sangat lemas dan wajahnya mulai pucat. Seperti nya pria itu sudah banyak kekurangan darah.
Darah terus mengalir di kaki maupun di kepala Sutomo ayahnya Azeela. Ayah Azeela mulai bersuara perlahan "maafkan saya Youna". Ucap Sutomo sambil melihat kearah Youna. "Maafkan ayah nak". Ucap Sutomo pada Azeela sambil memegang perlahan pipi sang anak dan Sutomo kembali tak sadarkan diri.
Melihat Sutomo yang sudah tidak sadarkan diri lagi, Youna menangis histeris sambil memeluk tubuh sang suami. Azeela yang melihat sang ayah sudah tak sadarkan diri. Juga ikut menangis sambil menggigit lengan tangannya agar Isak tangisnya tak terdengar oleh ibunya.
Ambulans sudah datang di depan rumah Azeela. Sutomo segera dilarikan ke rumah sakit terdekat dalam kondisi kritis. Azeela dan ibunya juga ikut menemani Sutomo dalam mobil ambulan menuju rumah sakit. Tak berselang waktu lama, ambulans yang membawa Sutomo sampai di rumah sakit.
Sutomo langsung dilarikan ke ruang UGD untuk segera mendapatkan penanganan medis. Azeela dan ibunya menunggu di luar ruangan. Gadis malang itu menghapus air matanya dan berusaha tegar demi ibunya. Ia memeluk dan berusaha menenangkan ibunya.
"Azel yakin, ayah pasti baik-baik aja Bu". Ucap Azeela sambil perlahan menghapus air mata sang ibu. Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruang UGD. "Keluarga pasien?". Tanya dokter pada Youna dan Azeela yang sedang duduk di kursi samping ruang UGD.
"Ya dok. Saya istrinya. Bagaimana kondisi suami saya dok?". Tanya ibunya Azeela pada dokter.
"Baik, saya akan menjelaskan pada ibu kalau sewaktu saya memeriksa pasien, kondisi pasien sudah dalam fase yang bisa dibilang sangat kritis. Suami ibu mengalami pendarahan dimana-mana. Pertama, kepala pasien sebelah kiri, terdapat luka robek yang cukup dalam sehingga sangat banyak mengeluarkan darah meski sebelumnya sudah ibuk bantu perban juga tapi hal itu tidak cukup membantu untuk menghentikan perdarahan karena lukanya sangat fatal. Kedua, Suami ibu juga memiliki luka yang dalam di kaki kanannya. Dan hal itu juga mengakibatkan pendarahan. Kami sudah menjahit setiap luka dan melakukan upaya sebaik mungkin untuk menyelamatkan pasien. Tapi... (Dokter menghentikan ucapannya. Dan Ibu Azeela mulai sedikit oleng. Azeela menahan agar ibunya tidak jatuh kelantai)".
"Tapi apa dok?". Tanya ibu dan anak itu serempak.
"Tapi... Mohon maaf.., nyawa suami ibuk sudah tidak dapat terselamat kan. Karena sebelum kami sempat melakukan transfusi darah pada pasien, pasien sudah lebih dulu menghembuskan napas terakhirnya. Saya dan tim sudah berusaha semaksimal mungkin namun takdir berkehendak lain. Saya turut berduka cita untuk ibuk dan keluarga". Jelas dokter itu.
Mendengar ucapan dokter itu, Youna lemas dan terjatuh kelantai. Azeela menahan tangis nya. Ia berusaha menguatkan diri dan membantu ibunya untuk kembali berdiri. Dokter yang menangani Sutomo pamit pergi untuk memeriksa pasien berikutnya.
Jenazah Sutomo sudah di tutup dengan kain putih dan petugas segera memindahkannya keruang jenazah. Youna dan Azeela yang melihat orang yang mereka sayang dibawa petugas ke ruang jenazah berlari mengejar petugas itu dan menghentikannya. "Kalian mau bawa suami saya kemana?". Bentak ibu Azeela.
Petugas itu pun berhenti. Youna dan Azeela berdiri di depan jenazah Sutomo. Youra perlahan membuka kain putih yang menutupi sang suami. Ia ingin melihat wajah suaminya untuk terakhir kalinya. Kain yang menutupi Sutomo telah terbuka.
Terlihat wajah Sutomo yang sudah pucat tanpa darah dan sekujur tubuhnya sudah terasa dingin dan kaku. Ibu Azeela meraba perlahan wajah sang suami dan kemudian memeluk erat tubuh sang suami sambil tidak hentinya menangis.
Melihat isak tangis sang ibu, gadis malang itu sudah tidak sanggup lagi untuk membendung air matanya. Azeela pergi berlari meninggalkan ibu dan jenazah ayahnya. Ia keluar dari rumah sakit itu dengan sedikit sempoyongan. Tubuhnya terasa lemas dan tak berdaya karena habis menyaksikan kejadian pahit yang terjadi hari ini di dalam keluarga nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
mom mimu
mampir nyicil, semangat terus kak 💪🏻💪🏻💪🏻 dua iklan mendarat...
2023-10-31
1
auliasiamatir
sabar ya zeela
2023-10-09
0
Sena judifa
siapa sh pelakunya? muara cinta kita hadir
2023-10-07
0