Azeela juga lagi asik membaca dokumen terkait kasus itu. Gadis itu membacanya dengan bersadar di sofa ruang rahasia. Sesekali gadis itu menguap. Tapi tetap berusaha menyadarkan dirinya agar masih bisa membaca semua dokumen yang tersisa. Karena hari sudah semakin larut dan Azeela sudah lelah. Gadis cantik itu pun tertidur lelap di sofa itu.
Zalan masih terus membaca sampai ia menemukan satu kasus yang menurutnya berkaitan dengan pembunuhan berantai yang akan terjadi. Ia membaca kasus itu dengan teliti. "Tamil Amolta?". Gumam Zalan kaget.
Zalan terus membaca surat kabar terkait kematian Tamil Amolta itu. Setelah membacanya, ia menuju sofa Azeela untuk memberi tahu Azeela. Pria itu melihat Azeela tertidur pulas dengan wajah yang begitu cantik. Bahkan di keadaan tidur. Gadis ayu itu masih terlihat cantik. Karena tidak tega untuk membangunkan Azeela, pria itu membiarkan Azeela tidur. Ia menyelimuti Azeela dengan jas yang di kenakannya.
Azeela terbangun karena Zalan menaruh jas di tubuhnya. Padahal Zalan sudah menaruhnya dengan pelan-pelan. "Maaf saya ketiduran". Ucap Azeela dengan segera merubah posisi tubuhnya untuk duduk kembali. "Apa sudah ketemu yang kita cari?". Tanya Azeela.
Zalan memberikan koran yang di pegangnya pada Azeela. Gadis ayu itu membacanya. "Jenazah Tamil Amolta di temukan di dasar jurang hutan pinus tidak jauh dari rumah kediamannya. Pria paru baya itu meninggal karena tergelincir saat melakukan pendakian di cuaca hujan lebat.
Polisi menyimpulkan kalau kematian Tamil murni kecelakaan. Namun di temukan juga kotak merah yang tidak jauh dari tempat jenazah Tamil berada. Kotak itu hanya berisikan puisi untuk istrinya. Karena hal itu, polisi menganggap itu hanya kotak biasa. Kejadian malang ini terjadi pada tanggal 6 maret 2005".
Koran itu pun terjatuh dari tangan Azeela. Matanya mulai mengeluarkan butiran-butiran bening. Ia menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak menangis.
Zalan yang melihat reaksi Azeela setelah baca koran seperti itu jadi bertanya tanya. "Kamu kenapa?". Tanya Zalan.
"Umm (bingung dan berpikir). Tamil Amolta itu adalah ayah dari ibu saya. Kakek yang belum pernah saya lihat dan rasakan kehadirannya saat saya sudah besar". Ujar Azeela sambil menengadakan kepalanya keatas agar air matanya tidak jatuh membasahi lantai.
Zalan membantu menenangkan Azeela. Pria itu meminta Azeela untuk kembali duduk di sofa. "Saya harus hentikan kejadian yang akan menimpa kakek. Kamu mau membantu saya kan?". Tanya Azeela dengan suara gemetar sambil menatap pria tampan di depannya.
"Saya akan bantu. Saya yakin kasus ini berkaitan dengan pembunuhan berantai itu. Kamu bisa lihat baik-baik kalimat yang tertulis di puisi itu. Puisinya seolah-olah mengisyaratkan untuk berpamitan seperti akan pergi jauh dari istrinya. Ini persis seperti surat bunuh diri pada setiap korban pembunuhan berantai lainnya. Saja curiga, Tamil ini juga korban dari pembunuhan berantai itu.
Tapi yang anehnya, kasus Tamil ini tidak tercatat sebagai korban pembunuhan berantai. Mungkin juga karena tidak ada bukti yang mengarahkan kesana. Walaupun di temukan kotak merah yang sama pada jenazah Tamil". Tutur Zalan sambil mencoba untuk menyimpulkan kasus-kasus yang terjadi.
"Kalau Tamil Amolta adalah kakek kamu, jadi itu berarti kamu putri dari Youna dan Sutomo?. Atau anak dari kakaknya Youna?". Tanya Zalan penasaran.
"Saya anak nya Youna dan Sutomo. Ibu dan ayah sudah meninggal di masa depan. Jadi selagi saya berada disini, saya akan mencoba merubah takdir pahit di masa depan". Ujar Azeela.
"Umm... pantas saja". Ucap Zalan sambil kembali flashback ke waktu Azeela begitu melindungi Youna mati-matian dari geng Kenan yang selalu membully Youna. Azeela bertanya pada Zalan apa nya yang pantas. Zalan menjawab itu bukan apa-apa.
Azeela merasa tidak puas dengan informasi yang dia dapat dari satu koran. "Pasti ada koran lain yang membahas tentang kematian kakek". Ucap Azeela sambil langsung berdiri dan berjalan pada tumpukan koran di ruangan itu. Zalan ikut membantu Azeela mencari koran yang membahas kasus Tamil.
Gadis ayu itu menemukan satu koran lagi yang membahas tentang kasus Tamil Amolta. "Jasad Tamil berhasil di temukan karena laporan seorang warga sipil bernama Rahsilah, adik dari Sutomo suami dari anak Tamil Amolta.
Berdasarkan keterangan Rahsilah, ia saat itu lagi menyendiri di rumah pohon dekat area pohon pinus. Tempat dimana ia sering disana untuk menenangkan diri jika ada masalah. Menurut keterangan saksi, saat itu hujan turun cukup deras dan disertai gemuruh.
Ia menunggu hujan untuk reda namun hari sudah mulai mau gelap, gadis muda itu sudah mulai takut sendirian di pondok itu. Akhirnya ia putuskan untuk menuruni bukit secara perlahan di tengah hujan lebat itu. Sambil menggigil ia masih terus berjalan, langkah kakinya terhenti mendengar ada seperti orang berteriak minta tolong.
Gadis muda itu mengikuti dimana sumber suara berada. Ketika ia sampai di TKP yaitu tepatnya di tepi jurang, ia melihat seorang pria paru baya yang sudah terkapar di bawa jurang dengan posisi kayu menembus jantung pria paru baya itu". Azeela sudah tidak sanggup untuk membacanya. Air matanya berjatuhan saat kalimat kayu menembus jantung sang kakek.
Zalan mengambil koran itu dari tangan Azeela. Ia menyambung bacaan Azeela. "Gadis muda itu berteriak histeris sambil berlari menuruni bukit karena kaget. Yang menyebabkan gadis itu mengalami cedera di kaki kirinya karena tergelincir.
Setelah turun dari bukit, dengan kondisi kaki cedera, gadis itu perlahan berjalan menuju telpon umum. Ia menelpon polisi. Tak lama setelah laporan dari Rahsilah, akhirnya polisi sampai di TKP. Rashilah menunjukan dimana jasad Tamil berada. Para timsar turun ke dasar jurang untuk mengemas jasad Tamil". Zalan selesai membaca berita itu.
Zalan mengamati foto-foto di TKP yang di lampirkan di laman surat kabar itu. Zalan begitu kaget melihat salah satu foto di laman surat kabar itu. "Mimik wajah gadis ini beda. Saya seperti melihat ia menangis dan senyum di waktu yang bersamaan". Ujar Zalan sambil lebih mengamati foto tu.
Mendengar ucapan Zalan, Azeela pun penasaran dengan foto itu. "Kenapa Bibi menangis dan tersenyum di waktu yang bersamaan. Matanya mengeluarkan air mata. Tapi sekilas bibirnya seperti sedang tersenyum tipis". Gumam Azeela yang juga melihat keanehan dari mimik wajah Rahsilah itu.
"Apa jangan-jangan bibi waktu itu memberikan keterangan palsu pada polisi?". Ujar Azeela tiba-tiba.
Zalan pun berpemikiran demikian. Azeela sudah sangat cemas. Ia ingin bertemu dengan bibinya malam ini juga. Namun Zalan melarangnya. Mereka tidak bisa bicara terang terangan seperti itu pada Rahsilah. Gadis itu pasti akan mencurigai mereka. Karena kasus ini belum terjadi. Tapi Azeela bilang tidak ada waktu lagi. Ia tidak ingin kejadian itu terulang kembali.
Kata Azeela mereka sudah tidak punya waktu. Zalan bilang sekarang sudah sangat larut. Semua orang pasti sudah tidur. Zalan berjanji akan membuat takdir kali ini berpihak pada mereka. "Kamu tenang. Kita masih punya waktu sebelum menjelang magrib besok. Sekarang istirahat lah dulu. Setelah subuh kita baru bergerak". Ujar Zalan.
Azeela pun menuruti permintaan Zalan. Ia berlalu pergi ke kamarnya untuk istirahat. Zalan pun pergi untuk istirahat di kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Sena judifa
jd curiga jg sama bibic
2023-11-03
0