Cukup lama Azeela berdiam diri tanpa suara. Ia bingung harus bersikap seperti apa pada sang ayah. Youna dan Sutomo yang melihat Azeela hanya berdiam diri dari tadi mencoba untuk menghentikan lamunan Azeela.
Sutomo mencoba memegang bahu Azeela perlahan, dan berkata "Apa kamu baik-baik saja?". Azeela terkejut tangan sang ayah menyentuh bahu nya. Gadis itu langsung mempelintir tangan sang ayah ke belakang punggung ayahnya. Seolah-olah ayahnya ingin melecehkannya.
Youna melihat suaminya kesakitan, langsung menghentikan tindakan Azeela. "Apa yang kamu lakukan?". Teriak lembut youna. Azeela yang menyadari tindakan refleksnya itu, melepas tangan sang ayah perlahan. Ayahnya merinti sedikit kesakitan dan pria itu perlahan mengayun-ayunkan tangannya agar tidak merasakan sakit.
"Aku minta maaf". Ucap Azeela setelah itu langsung meninggalkan toko buku Ayah Youna. Setelah Azeela meninggalkan toko buku, Sutomo kembali berbicara pada sang istri. "Ada apa dengan gadis tadi sayang?. Apa dia lagi sakit?. Dia terlihat seperti wanita aneh!. Kenapa kamu bisa-bisanya berteman dengan gadis aneh seperti itu". Ucap Sutomo sambil geleng-geleng, dan sedikit ketawa. Karena sang istri mendapatkan teman baru yang cukup gila pikir Sutomo.
"Sebenarnya aku juga heran kenapa Gadis itu selalu membuntuti ku. Padahal kita baru bertemu beberapa kali. Tapi gadis itu bilang kalau dia menyukai ku dan ingin melindungi ku. Aku juga merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Jadi secara tidak langsung sekarang kita jadi berteman". Tutur Youna dengan raut wajah bahagia.
Azeela baru sampai di rumah si dosen muda. Gadis itu berjalan perlahan dengan lemas sambil mencoba untuk duduk di sofa ruang tamu. Gadis itu mengacak-acak rambutnya. "Ya ampun Azeelaaaa!. Kejadian memalukan apa yang kamu lakukan tadi!. Tidak seharusnya gue bersikap kasar seperti itu pada ayah muda. Jangan sampai nanti ayah melarang ibu berteman dengan gue". Ucap Azeela sambil memaki dirinya sendiri.
"Kacauuuu". Teriak gadis itu sambil mengambil boneka squishy di atas meja dan mengunyel-unyel squishy itu untuk melampiaskan amarahnya. Zalan yang baru saja datang mendengar ucapan Azeela. "Apa nya yang kacau?". Tanya pria itu dengan santai sambil membawa beberapa kotak bersamanya.
Azeela yang menyadari kedatangan Zalan menghentikan aktifitasnya. Dan menjawab pertanyaan spontan dari Zalan. "Bukan apa-apa". Ucap Azeela sambil ngengir.
Pria itu tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Zalan langsung saja to the point. "Ini buat kamu. Tadi saya lewat toko baju dan saya kepikiran kamu tidak memiliki baju di sini. Jadi saya membeli beberapa. Silakan kamu coba. Semoga pas dengan ukuran badan mu". Setelah mengatakan itu, Zalan menaruh baju itu di atas meja. Kemudian pria tampan itu duduk di sofa depan Azeela.
Azeela sangat bersemangat untuk segera membuka kotak baju itu. Ketika membuka kotak baju itu, secara alami terukir senyum manis dari bibir Azeela. Pria yang di depan Azeela terkesima melihat senyum manis Azeela. Zalan tersadar dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Terima kasih bajunya. Gue mau coba baju ini dulu". Ucap Azeela, kemudian berjalan menuju toilet untuk berganti baju. Tidak berselang waktu lama, Azeela selesai mencoba bajunya dan memperlihatkannya ke ruang tamu pada Zalan. "Bagaimana bajunya?". Tanya Azeela sambil tersenyum.
"Bagus. Sekarang kamu simpan aja bajunya". Ucap Zalan dengan begitu santai tanpa ekspresi.
Setelah Azeela mengganti bajunya kembali. Gadis itu duduk di sofa depan Zalan. Zalan baru ingat kalau tadi dia telah menyuruh orang untuk membersihkan kemar tamu. Jadi untuk nanti malam, Azeela sudah bisa tidur di kamar.
Azeela mengangguk tanda mengerti ucapan Zalan. "Oh iya.., kalau boleh tahu kamu kenapa sering bolak-balik ke tahun ini". Tanya Azeela tiba-tiba.
Zalan terdiam cukup lama. Kemudian pria cool itu menjawab "Saya lagi menyelidiki kasus pembunuhan berantai di Desa ini". Ucap Zalan singkat padat jelas.
"Pembunuhan berantai?". Ucap Azeela dengan nada kaget.
"Sekarang kamu ikut saya. Saya ingin menunjukkan sesuatu pada mu". Ucap Zalan sambil berjalan menuju suatu ruangan. Ruangan itu adalah ruang rahasia Zalan. Azeela mengikuti Zalan ke ruangan itu. Sesampainya di ruangan itu, Azeela... cukup kaget dengan isi ruangan itu. Semuanya tentang penyelidikan kasus pembunuhan berantai yang akan terjadi. Zalan menaro beberapa foto tersangka yang ia curigai sebagai pelaku nya.
"Tanggal korban pembunuhan pertama 10 Maret 2005. Satu minggu lagi dari sekarang?". Ucap Azeela kaget saat membaca catatan para korban yang sudah di bikin list sama Zalan.
"Pembunuhan pertama yaitu seorang wanita berprestasi di kampus Sriwijaya Kedoya Utara yang bernama Amelda. Wanita itu banyak menang lomba-lomba. Apa pun itu lombanya. Sebelum Amelda ini terbunuh, ia sempat menyelidiki satu kasus untuk tugas kuliahnya karena jurusannya hukum. Kasus itu adalah tentang penggelapan dana pembangunan untuk pemerluasan kantor cabang kepolisian di Kedoya Utara.
Beberapa hari kemudian, Tubuh gadis itu di temukan di tepi sungai dengan terdapat kotak merah yang berisi surat bunuh diri di dalamnya. Kotak merah itu di temukan disetiap TKP pada setiap korban. Makanya ini bisa disimpulkan pembunuhan berantai". Jelas Zalan sambil menunjukkan beberapa koran yang memuat kejadian pembunuhan berantai pada tahun 2005.
"Saya akan merubah takdir itu. Kita harus menghentikan pembunuhan itu. Sebelum korban pertama terbunuh. Kita punya waktu seminggu untuk mencari pelaku". Tutur Zalan.
"Kotak merah?. Boleh saya lihat kotak merahnya itu?. Seperti apa bentukannya?". Ujar Azeela sambil menggigit jari telunjuknya karena merasa cemas dengan apa yang sedang terlintas dipikirkannya.
Zalan mengambil kotak itu di sebuah laci kemudian memberikannya pada Azeela. Ketika melihat kotak itu, ingatan Azeela kembali flashback waktu kejadian menimpa ibunya. Dalam hati gadis ayu itu bergumam "Kotak ini sangat mirip dengan kotak yang di temukan di tempat ibu meninggal. Apa pelakunya sama dengan kasus pembunuhan berantai yang terjadi di tahun 2005 ini?".
Zalan yang menyadari gadis yang didepannya hanya diam, pria itu pun menghentikan lamunan Azeela. "Apa yang kamu pikirkan?". Ucap Zalan sambil menulis di kertas kecil warna kuning dan setelah selesai, pria tampan itu menempelkannya di papa penyelidikan.
"Aku tidak papa". Ucap Azeela santai sambil menarok kotak itu di atas meja.
"Jadi dari semua bukti yang sudah kamu kumpulkan ini, kasus terkait pelaku pembunuhan berantai di tahun 2005 di simpulkan belum selesai karena para polisi menangkap pelaku yang salah. Pelaku aslinya belum ketangkap. Karena kesalahan polisi menangkap pelaku yang salah, akhirnya di masa depan timbul lagi korban baru. Jika kita berhasil menangkap pelaku aslinya, maka tidak akan ada korban berikutnya di masa depan. Begitukan Lan?". Tutur Azeela pada Zalan.
"Ya. Karena itu kita harus segera tangkap pelakunya. Agar dimasa depan tidak ada korban lagi". Ucap Zalan.
Zalan meminta Azeela untuk mengamati papan urutan tersangka. "Sekarang kamu bisa amati para tersangka ini. Mereka sangat berpotensi untuk melakukan itu dan gerak-gerik mereka mencurigakan". Tutur Zalan.
Azeela membaca tiga nama tersangka di dekat papan tulis itu dan melihat foto mereka. "Bram, Rashilah (Azeela terkejut saat nama bibi nya ikut jadi list dari pembunuhan berantai) dan Mandra (fotonya sudah di silang pakai pena merah). Apa bukti dan alasan kamu bisa yakin kalau mereka bisa jadi tersangka pembunuhan berantai itu?". Tanya Azeela dengan ekspresi butuh jawaban pasti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
auliasiamatir
makin seru, jangan jangan yang bunuh yuana juga bibi azeela
2023-11-15
0
Noviyanti
semangat thor
2023-10-28
1
Sena judifa
muara cinta kita mampir thor
2023-10-23
1