Sampai di kamar mereka berdua sama-sama tidak bisa tidur. Zalan mengambil buku dan mengambar rute susuai dengan keterangan Rashilah. Setelah selesai ia mengamati gambar itu.
"Benar-benar tanpa celah. Sepertinya keterangan yang di berikan Rahsilah benar adanya. Apa saya hanya salah mengartikan senyuman tipis gadis itu". Gumam Zalan dalam kesendiriannya.
Azeela juga tidak bisa tidur. Ia masih kepikiran dengan kasus sang kakek. Gadis malang itu mondar mandir udah seperti strikaan. Karena sama-sama kelelahan, Azeela tidur di kasur. Sementara Zalan tertidur di kursi dekat kamarnya.
Cahaya matahari pagi membangunkan Azeela dari tidurnya. "Pukul 6 pagi". Ucap Azeela kemudian berjalan ke kamar mandi. Ia sholat setelah itu keluar dari kamar menuju kamar Zalan.
"Mau kemana?". Tanya Zalan yang berdiri tepat di belakangnya Azeela. Azeela kaget Zalan tiba-tiba sudah berada di belakangnya. "Udah bangun ternyata". Ujar Azeela datar.
Tanpa membuang-buang waktu, Azeela dan Zalan langsung memulai misinya. Mereka menunggu sampai pak Tamil keluar dari rumahnya. Karena sekitar jam 7 pagi dini hari pak Tamil akan memulai pendakian nya ke puncak bukit dekat hutan pinus tidak jauh dari Kedoya Utara.
Tak berselang waktu lama, pak Tamil pergi dengan motornya menuju hutan pinus. Sampai disana, pria paru baya itu bertemu dengan teman-teman pendakian lainnya. Ia memakir motornya dekat posko jaga.
Sekitar 10 orang pendaki termasuk pak Tamil, mereka mulai mendaki ke puncak bukit melewati rerimbunan pohon pinus. Azeela dan Zalan juga ikut melakukan pendakian mengikuti pak Tamil dari belakang. Sudah sekitar satu jam mereka berjalan. Azeela mulai kelelahan.
"Sekitar 30 menit lagi kita sampai. Kamu masih sanggup kan?". Tanya Zalan yang berdiri di sampingnya. "Ya. Saya masih sanggup". Ucap Azeela sambil terus melangkah melewati rimbunnya pohon pinus.
Para rombongan pak Tamil berhenti sebentar. Zalan dan Azeela juga berhenti melakukan pendakian. Lima menit telah berlalu. Para rombongan kembali berjalan. "Lo harus kuat Zel!. Ini demi ibu!". Batin Azeela.
Akhirnya mereka sampai di puncak bukit. Sampai di atas Azeela menghirup udara segar. Pemandangannya begitu indah. Dari atas bukit bisa melihat bentangngan sawah luas yang hijau menyejukan mata di sisi kanannya. Sedangkan disisi kirinya kita bisa melihat indahnya wilayah perkotaan dan disisi lainnya, ada jurang dalam di kerumuni semak belukar di dalamnya.
Tamil dan para pendaki yang sebaya dengannya mulai mengeluarkan pemanas untuk memasak air. Mereka duduk santai sambil minum kopi dan menikmati indahnya pemandangan. Pak Tamil memang suka melakukan pendakian dari muda sampai usianya sudah memasuki 60 tahun. Tubuhnya masih sehat bugar. Hal itu karena ia suka sekali berolahraga.
Azeela dan Zalan juga mengeluarkan beberapa cemilan dan minuman yang mereka beli. Mereka pura-pura asik ngemil agar tidak ada yang curiga padanya. Sambil ngemil, Azeela selalu memantau gerak-gerik sang kakek. Sudah cukup lama mereka menghabiskan waktu bersama di puncak bukit. Para rombongan Tamil bersiap-siap untuk turun. "Hari udah mulai mendung!" Ucap Azeela dengan wajah mulai cemas.
Teman-teman pak Tamil sudah berjalan lebih dulu. Sementara pak Tamil mau memetik tanaman langkah dulu buat di tanam di rumahnya. Zalan dan Azeela masih mengamati Pak Tamil. Hujan pun mulai turun.
Para pendaki sebelumnya sudah memasang mantel hujan. Karena mereka melihat langit tadi sudah mendung. Pak Tamil pun telah mengenakan mantelnya. Pria paru baya itu telah berhasil mengambil beberapa tanaman langkah itu. Ia mulai menuruni puncak bukit perlahan.
Zalan dan Azeela tidak sempat membeli jas hujan. Mereka berdua mengikuti Pak Tamil dari belakang sambil hujan-hujanan. Sekitar 40 menit mereka terus turun di bawa hujan. Lama kelamaan hujan makin deras.
Azeela sudah mulai menggigil. Melihat itu Zalan membuka jaketnya dan meminta Azeela untuk mengenakannya. Saat Azeela berhenti sebentar untuk memakai jaket itu, saat itu juga mereka kehilangan jejak Pak Tamil. "Kita kehilangan jejak kakek". Ucap Azeela mulai panik.
"Kamu tenang dulu". Ucap Zalan sambil mengamati sekitar. Kata Azeela mereka harus berpencar. Awalnya Zalan tidak setuju, namun Azeela terus meyakinkan nya. Akhirnya mereka berpencar. Zalan membiarkan tubuhnya meluncur bebas ke bawah agar lebih cepat turun dari bukit.
Sementara Azeela tetap berjalan perlahan sambil memanggil "Pak Tamilll. Pak...". Teriak Azeela. Gadis ayu itu berjalan tanpa arah. Ia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Azeela teringat pada koran yang dibaca nya semalam.
Sekitar 30 meter sebelum sampai di posko ada rumah pohon yang tidak jauh dari tempat Azeela berdiri. Gadis itu menemukan rumah pohon itu. Ia melihat seorang gadis lagi duduk melamun di rumah pohon itu.
"Bibi". Gumam Azeela. Gadis itu bersembunyi di balik pohon pinus. Rashilah mulai mengenakan jas hujannya. Azeela melihat jam ditangannya. "Jam 17.30?. Sebentar lagi magrib". Ujar Azeela semakin panik.
Rashilah berjalan perlahan menuruni bukit. Gadis muda itu berjalan dalam kesendirian sambil bernyanyi. Azeela terus mengikutinya. Waktu terus berjalan. Azeela begitu buru-buru mengikuti Rahsilah sampai ia tersandung batu.
"Aww". Desis Azeela. Rahsilah yang mendengar seperti ada suara kesakitan menoleh ke belakang namun tidak ada siapapun. Azeela cepat bersembunyi di balik pohon pinus.
Ketika Azeela keluar dari persembunyiannya, gadis itu kehilangan jejak Rashilah. "Kemana dia pergi". Gumam Azeela sambil memeriksa sekitarnya.
Hujan makin lebat dan sesekali kilat menyambar. Azeela sudah kelelahan. Bibirnya juga sudah mulai pucat karena kedinginan. Gadis ayu itu terus berjalan perlahan menuruni bukit. Langkah kakinya terhenti saat mendengar suara teriakan.
"Itu suara bibik". Ucap Azeela. Ia meluncur begitu saja ke bawah agar cepat sampai. Ketika sampai, bibi Azeela telah jatuh dan guling-guling sampai di bawa bukit. Tidak jauh dari posko jaga. Gadis muda itu berusaha berjalan dengan pincang menuju telepon umum. Ia melapor pada polisi terkait dengan apa yang baru saja ia lihat.
Azeela sangat terkejut dengan apa yang di lihat. "Zalan!". Tegas Azeela. Gadis itu melihat perut Zalan tertusuk kayu. Ia berusaha membangunkan Zalan. 10 meter dari tubuh Zalan ada kakek Azeela. Pria paru baya itu sepertinya hanya pingsan. "Keadaan berubah sekarang". Gumam Azeela.
"Sepertinya Zalan berhasil menolong kakek. Tapi kenapa perut Zalan tertusuk kayu?". Pikir Azeela.
Ditengah hujan yang semakin deras, gadis itu tetap burusaha menyadarkan Zalan. "Zalan pasti selamat. Gue yakin". Gumam Azeela. Gadis ayu itu memberanikan dirinya untuk mencabut kayu yang tertancam di perut Zalan. Ketika kayu itu di cabut, Zalan pun tersadar dengan darah yang keluar dari mulutnya.
"Kamu nggak papa?". Tanya Azeela. Zalan berusaha untuk berdiri. Azeela membantu pria tampan itu untuk berdiri. "Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Sebentar lagi polisi akan datang untuk memeriksa TKP". Ujar Zalan sambil ingin melangkah pergi. Namun Azeela menghentikan langkahnya. "Kamu mau kemana?. Bagaimana dengan kakek?". Ucap Azeela.
"Pak Tamil bakal baik-baik saja. Sebentar lagi timsar juga akan segera datang". Ucap Zalan sambil melangkah pergi di ikuti Azeela di sampingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Noviyanti
semangat terus, bunga mendarat
2024-01-05
1
Sena judifa
muara cimta kita mampir thor
2023-11-03
0
Putra Al - Bantani
nyicil kak bacanya
2023-10-20
1