Setelah perkelahian selesai, Zalan mengkode Azeela untuk keluar ikut bersamanya. Pria itu pergi ke gedung kampus lantai atas. Sampai di atas, Zalan memarahi Azeela. Azeela tidak seharusnya mencari masalah. Karena jika sampai masalah itu jadi besar, akan bahaya bagi mereka berdua. Karena mereka tidak memiliki identitas di tahun itu.
"Kenapa kamu bertengkar dengan mereka?. Kamu tidak mikir akan dampaknya?". Tegas Zalan.
"Ya sorry. Aku hanya mau membela ib...(ucapan Azeela terhenti. Ia hampir saja panggil ibu) Youna". Tutur Azeela dengan sedikit gugup. Namun masih stay cool.
"Sekarang fokus saja pada misi. Kamu ikut saya". Ujar Zalan sambil berlalu pergi meninggalkan Azeela lebih dulu.
Dengan wajah malas dan menghelah napas pendek, gadis ayu itu pun berjalan perlahan mengikuti pria tampan itu. Mereka berdua mengamati kelas Amelda dari jauh. Amelda membawa baju olahraga sambil berjalan ke lokernya.
Sampai di loker, gadis itu membuka loker dan menaruh baju olahraganya. Setelah selesai, gadis itu pun berjalan menuju perpustakaan. Zalan dan Azeela masih mengikutinya. "Kayaknya dia nggak di teror. Buktinya gadis itu terlihat seperti tidak ada masalah". Gumam Azeela.
Zalan hanya diam. Pria itu pergi berlawanan arah dengan Amelda. Azeela yang melihat itu jadi bingung. "Kita udah selesai?. Kamu mau kemana?". Teriak Azeela yang melihat Zalan pergi begitu saja.
Pria dingin itu sama sekali tidak menghiraukan panggilan gadis di belakangnya. Azeela sangat kesal dengan sikap zalan yang seperti itu. "Dasar pria aneh!". Azeela memilih tetap mengawasi Amelda. Ia mengikuti Amelda ke perpus dengan santai.
Sampai di perpus, Azeela pura-pura membaca buku untuk tetap bisa mengawasi Amelda. Amelda menerima telpon dari seseorang. Setelah menerima telpon itu, raut wajah gadis itu berubah. Azeela mulai curiga dengan Amelda.
"Sepertinya gadis itu lagi di teror. Tapi ia cukup bisa juga menyimpan rasa takut dan masalahnya. Jago juga ni anak akting". Gumam Azeela dalam hati.
Amelda keluar dari perpus dengan tetap berlagak santai. Padahal ia sedang di chat nomor yang tidak di kenal. Kalau ia akan dibunuh seseorang. Tapi gadis itu benar-benar pintar menyembunyikan perasaannya. Azeela mengikuti kemana Amelda pergi.
Amelda sampai di gerbang belakang kampus. Gadis itu diam-diam mengambil kotak merah di sudut gedung gerbang belakang. Ia membuka kotak merahnya dengan ekspresi ketakutan. Azeela ikut terkejut sambil menutup mulutnya rapat-rapat agar suaranya tidak terdengar Amelda.
Amelda membuang kotak itu. Ada kepala anjing di dalamnya. Entah siapa yang melakukan hal keji seperti itu. Untuk meneror orang, sampai ia tega membunuh binatang yang tidak berdosa dengan sadis seperti tu. Amelda meninggalkan tempat itu. Gadis itu berlari ke toilet. Sampai dalam toilet, ia menangis histeris.
Azeela mendengarkan isak tangis amelda dari luar. Gadis ayu itu merasa iba dengan apa yang sedang di alami Amelda. Namun dibalik semua masalah yang sedang di hadapi Amelda, Azeela salut karena gadis itu masih tetap berusaha kuat di depan orang-orang seolah olah tidak ada yang terjadi dalam hidupnya. Padahal saat ini nyawanya sedang terancam.
Azeela pergi meninggalkan tempat itu. Ia terus kepikiran Amelda saat menuju kelasnya. Azeela harus membahas apa yang baru di lihatnya pada Zalan. Mereka harus segera bertindak. Sebelum semuanya jadi terlambat dan kejadian itu bakal terjadi lagi.
Semua mahasiswa jurusan Seni berkumpul di ruang teater. Hari ini mereka ada kegiatan latihan untuk pertunjukan lima hari lagi. Azeela yang baru sampai di kelas bingung karena tidak ada mahasiswa lain di kelasnya. "Kemana semua orang?". Gumam Azeela sambil menggaruk pelan kepalanya karena bingung.
Azeela keluar dari kelasnya sambil melamun. Karena tidak begitu fokus melihat area sekitarnya, gadis ayu itu terpeleset kulit pisang di tepi tangga. Tubuh Azeela guling-guling menjatuhi satu persatu anak tangga dan sampai di anak tangga terakhir. Aliran darah membasahi lantai di dekat Azeela jatuh. Gadis malang itu berlumuran darah.
Ibu petugas kebersihan berteriak histeris. Wanita umur 40 tahun itu menghampiri dimana tubuh Azeela berada. Ia mencari pertolongan sambil berteriak. Teriakan Ibuk itu menggemparkan satu fakultas Kesenian. Anak-anak dari kelas teater berlarian menuju sumber suara. Ketika mereka sampai, para mahasiswa itu juga ikutan kaget.
Beberapa dosen dari fakultas lain yang melihat kejadian itu juga ikut menghampirinya. "Apa yang kalian lihat!. Cepat telpon ambulans!". Ucap salah satu dosen. Salah satu mahasiswa menelpon ambulans.
Youna yang baru saya selesai makan dari kantin, ia melihat ada ramai-ramai dekat tangga menuju kelasnya. Wanita itu pun perlahan melihat apa yang ada di balik keramaian itu. Ketika Youna berhasil menerobos masuk, wanita itu terbujur lemas melihat kondisi gadis yang selalu perhatian padanya.
"Azeell". Ucap Youna pelan sambil menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak kedengaran. Ia langsung mendekap Azeela dalam pelukannya. Tangan Youna pun ikut berlumuran darah. Air mata Youna mengalir deras membasahi pipinya. Hatinya begitu sakit ketika melihat gadis yang di dekapnya sedang berjuang untuk hidup. Ia juga tidak tahu kenapa air mata itu keluar begitu saja membasahi pipinya.
Zalan yang baru keluar dari ruang prodi berjalan perlahan menuju kelas seni di lantai dua. Ketika sampai tidak jauh dari depan tangga, ia melihat banyak mahasiswa yang berkerumunan. "Ada apa disana?". Tanya Zalan pada salah satu mahasiswi.
"Ada yang jatuh dari tangga pak". Ucap mahasiswi itu.
Zalan berjalan perlahan mendekati kerumunan, ia sangat kesulitan untuk melihat siapa yang terjatuh karena begitu banyak mahasiswa yang melihat kejadian itu. Termasuk geng Kenan. Karena tidak bisa menerobos, pria tampan itu perlahan menyerah dan meninggalkan area kejadian.
Langkah kaki Zalan terhenti saat melihat sepatu yang gadis itu kenakan. "Sepatu itu?". Gumam Zalan sambil berpikir. "Setttt". Desis Zalan sambil menerobos paksa kerumunan mahasiswa itu. Setelah berhasil menerobos, pria itu melihat tubuh Azeela sudah berlumuran darah di pangkuan Youna. "Pak, tolong Azeel pak". Ucap Youna dengan terbata-bata.
Zalan mengambil alih tubuh Azeela dari dekapan Youna. Pria itu dengan cepat menggendong Azeela sampai di gerbang kampus. Ambulans sampai. Azeela di bawa menuju rumah sakit di temani Youna. Sementara Zalan ada yang harus ia urus dulu. Secepatnya ia akan menyusul Azeela ke rumah sakit.
Di dalam ambulans, Youna menggenggam erat tangan Azeela. Azeela sedikit tersadar dari pingsannya. Penglihatan gadis itu sedikit kabur. "Ibuu". Ucap Azeela pelan. Youna yang mendengar Azeela bersuara sedikit lega. "Kamu udah siuman?. Jangan banyak bergerak ya. Kepala kamu masih berdarah". Ujar Youna sambil mengelus lembut tangan Azeela.
Azeela tersenyum tipis pada Youna. "Terima kasih karena selalu ada di dekat ku. Baik di masa sekarang maupun di masa depan". Ujar Azeela terbata-bata.
"Kamu bicara apa sih. Jangan banyak bicara. Bentar lagi kita sampai. Tetap terjaga yah!". Ucap Youna khawatir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Sena judifa
biasax berbuat duluan lh Zalan nt akibatx br dipikir belakangan
2023-10-31
1