Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Gadis malang itu masih saja duduk di tepi jembatan. Tanpa rasa takut karena hari sudah larut malam. Rasa sedihnya mengalakan rasa takut berada sendirian di jembatan tengah malam di tempat yang sepih.
Telepon masuk menyadarkan Azeela dari lamunannya. Gadis ayu itu mengangkat telponnya. Setelah menerima telpon, raut wajah Azeela berubah. Antara syok dan marah. Ia kemudian berlari menuju suatu tempat.
Azeela sampai di TKP. Sesampainya di TKP, begitu banyak warga yang berkerumunan di area itu. Gadis malang itu berjalan tertatih-tatih untuk melihat apa yang terjadi. Ketika melihat seseorang yang sedang tergeletak di tepi danau itu, ia pun syok "huuk" (suara cegukkan).
Azeela menutup mulutnya untuk menahan tangis. Gadis itu berlari sambil memanggil "ibuuuuuuu!". Azeela memeluk erat tubuh ibunya yang sudah begitu dingin dan pucat.
Sebagian Polisi telah membawa jenazah Youna ke rumah duka. Sementara Azeela diam dulu sebentar di danau. Iya ingin mengecek sesuatu yang janggal menurutnya. Azeela memutari sekitar danau, namun tidak menemukan apa-apa.
Gadis itu baru kepikiran untuk memeriksa tak ibunya. Azeela segera mengambil tas sang ibu yang masih tergeletak di dekat rerumputan tidak jauh dari danau. Ketika ia memeriksa tas sang ibu, ia menemukan ada kotak merah. Azeela perlahan membuka kotak itu.
Ia menemukan ada selembaran kertas di dalamnya. "Surat bunuh diri?". Gumam Azeela dengan ekspresi terkejut dan bingung. Polisi yang mendengar Azeela bilang bunuh diri, segera menghampiri Azeela. Setelah membaca surat di dekat TKP, polisi langsung menyimpulkan kalau itu kasus bunuh diri. Tapi Azeela menyangkal kalau ibunya tidak mungkin bunuh diri. Itu tidak mungkin surat ibunya.
"Sebaiknya, kamu segera balik ke rumah sekarang. Sudah tidak ada lagi yang perlu diselidiki. Kami akan mengurus kasus ibu mu". Ucap Ardan salah satu polisi yang sedang bertugas.
"Tapi pak...! Ibu saya tidak mungkin bunuh diri!". Tegas Azeela.
Polisi meminta Azeela untuk tetap tenang. Mereka akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Namun untuk kesimpulan sementara, mereka sudah mendapatkan bukti kalau ibu Azeela menulis surat bunuh diri. Jadi besar kemungkinan, ini adalah kasus bunuh diri. Karena mereka tidak menemukan bukti lain selain itu.
Mendengar perkataan dari polisi membuat badan Azeela panas dingin. Ia kesel, dan marah. Gadis malang itu berlalu pergi meninggalkan TKP.
Tak berselang waktu lama, Azeela sampai di rumah kediamannya. Rumah Azeela sudah di penuhi banyak orang untuk melayat. Azeela seperti ragu untuk masuk ke rumah itu. Gadis itu seperti susah sekali untuk melangkahkan kakinya.
Dia tidak sanggup untuk melihat kedua jenazah orang tuanya. Entah dosa apa yang ia pernah lakukan, sampai Tuhan memberikannya cobaan bertubi-tubi. Di usianya yang 20 tahun, ia harus kehilangan kedua orang tuanya dan bersiap-siap untuk hidup sendiri tanpa keluarga.
Ibu Tanti selaku tetangga dekat dari rumah Azeela, Ia melihat Azeela masih berdiri di depan pintu. Kaki gadis itu seperti tengah diikat oleh batu besar, sehingga membuat ia tidak bisa bergerak. Ibu Tanti memanggil Azeela dan membantu gadis malang itu untuk masuk.
Azeela masuk ke kamarnya untuk berganti baju dan mengenakan jilbab. Karena mereka akan melakukan pengajian untuk kedua orang tua Azeela. Setelah selesai semua orang berangsur-angsur pulang. Tinggal Ibu Tanti yang menemani Azeeka di rumah.
Kedua jenazah orang tua Azeela belum dimakamkan karena hari sudah larut malam. Jenazah baru bisa dimakamkan besok pagi. Jadi untuk malam ini sebagian tetangga menemani Azeela untuk menjaga jenazah kedua orang tuanya.
Malam ini terasa sangat lama bagi Azeela. Gadis itu sepanjang malam tidak bisa tidur. Ia hanya melamun di depan jenazah kedua orang tuanya. Mentari pagi telah datang untuk menggantikan malam yang begitu gelap. Orang-orang telah kembali datang ke rumah Azeela untuk segera mengkafani, menyolatkan dan mengantarkan kedua jenazah ke pemakaman.
Bibi Azeela yang dari semalam tidak mengetahui apa-apa, Ia baru keluar dari kamarnya dan melihat banyak orang di ruang tamu. Sang Bibi hendak menghampiri kalayak ramai di ruang tamu. Azeela yang menyadari bibinya keluar dari kamar dengan kursi roda, gadis itu berlari menghampiri bibinya dan meminta bibinya untuk masuk kembali.
Bibi Azeela bersikeras untuk pergi ke ruang tamu. Namun Azeela tidak mengizinkannya. Gadis malang itu mendorong kursi roda bibinya untuk masuk ke dalam kamar. Setelah memasukkan bibinya ke dalam kamar, ia kembali ke depan jenazah kedua orang tuanya.
Alasan Azeela tidak mengizinkan Bibi untuk mengetahui apa yang terjadi, karena ia tidak ingin bibinya membuat kegaduhan. Mental bibi yang tidak stabil itu akan menambah masalah baru bagi Azeela. Jadi untuk membuat proses pemakaman kedua orang tuanya berjalan lancar, Azeela mengambil keputusan untuk tidak memberi tahu bibinya.
Jenazah kedua orang tua Azeela selesai disholatkan. Sekarang saatnya para rombongan dan Azeela mengantarkan kedua jenazah ke pemakaman. Tak berselang waktu lama kedua jenazah sampai di pemakaman orang tua Azeela telah selesai dimakamkan para rombongan pun berlalu pergi, meninggalkan pemakaman. Namun Azeela masih stay di pemakaman kedua orang tuanya gadis itu bangun sambil memegang nisan ibunya dan berkata.
"Bu, Azel nggak percaya kalau ibu bunuh diri. Aku sangat mengenal ibu. Seberat apa-pun masalah yang sedang ibu hadapi, ibu pasti bisa melewatinya. Azel akan buktikan kalau ibu nggak bunuh diri!. Itu pasti bakal azel buktikan bu!. Ibu dan ayah yang tenang disana ya bu!. Aku pamit pergi dulu bu". Tutur gadis malang itu dengan tetap tersenyum manis dan menahan air matanya agar tidak membasahi nisan sang ibu.
Azeela berlalu pergi meninggalkan pemakaman kedua orang tuanya. Si cantik Azeela berjalan perlahan-lahan meninggalkan pemakaman. Langkah kakinya begitu lambat. Ia melamun sepanjang jalan. Gadis Malang itu sudah tidak tahu arah. Ia tidak tahu tujuan mau ke mana.
Azeela juga tidak mau pulang ke rumah, dia terus saja berjalan sampai ia teringat akan sesuatu. Gadis itu berlari untuk kembali ke danau. Ia harus kembali mengecek TKP. Azeela harus mengumpulkan banyak bukti untuk membuktikan kalau ibunya tidak bunuh diri. Ia sangat yakin kematian ibunya sudah direncanakan.
Sudah hampir setengah jam Azeela mondar-mandir sekitar danau. Gadis malang itu sama sekali tidak mementingkan gimana kondisi tubuhnya. Wajah Azeela sedikit pucat dan kondisi tubunya mulai melemah. Azeela terlalu larut dalam kesediannya sampai tidak makan seharian. Ia masih memaksakan untuk mencari bukti itu. Azeela tidak menemukan bukti yang bisa membantu ibunya. Gadis itu pun berteriak histeris.
Karena sangat frustasi, Azeela hilang kesadarannya. Kepalanya begitu pusing. Menyadari tubuhnya tidak fit, Azeela mencoba melangkah sedikit menjauh dari tepi danau. Belum sempat gadis itu beranjak dari tepi danau, gadis malang itu Mala terpeleset dan jatuh dalam danau yang dalam. Tubuh gadis itu perlahan lahan tambah tenggelam. Dan hampir sampai ke dasar danau. Ketika tenggelam, kalung Azeela tiba-tiba bersinar sangat terang.
Seorang pria perlahan berusaha menggenggam tangan Azeela. Ketika berhasil menggenggam tangan Azeela, tiba-tiba cahaya putih menelan mereka berdua. Setelah cahaya itu hilang, Azeela dan pria itu pun sudah tidak terlihat di dalam air danau yang jernih itu. Seolah-olah mereka terlempar ke dimensi lain. Benar-benar hilang tanpa jejak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Sena judifa
muara cinta kita mampir thor
2023-10-15
0
auliasiamatir
berati ibu mu di dorong sama orang itu...???
tapi siapa yab orang nya .., penasaran ?
2023-10-13
0
auliasiamatir
ya Allah mak mya juga tiada sekarang
2023-10-13
0