“Kau baik-baik saja, Ra?” Azel menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang rumah Master Gensha.
Aku berdeham pelan. “Mungkin aku terlalu sensitif. Maaf.”
“Tidak. Ini bukan salahmu. Mungkin saja kau benar. Untuk saat ini, jangan memikirkan banyak hal. Kau harus banyak istirahat.” Azel membukakan pintu pagar untukku kemudian mempersilakan padaku untuk masuk lebih dulu.
Aku masuk mendahului. Aku ingin segelas es buah. Tenggorokanku kering dan juga hari ini terlalu panas untuk jalan di pinggir jalan. Azel mengikutiku masuk ke dalam rumah, mungkin dia ingin membicarakan sesuatu dengan Master Gensha.
“Oh! Kalian sudah pulang?” Master Gensha merapikan jas hitamnya sambil berdiri menyambut kami.
“Master, apa kau membuat es? Aku haus,” keluhku sembari menyerahkan tas dan juga jaket tebal pada Master Gensha.
Master Gensha terkekeh lantas mendekap jaketku dan menenteng tasku. “Silakan bersihkan diri anda lebih dulu, Putri. Saya akan menyiapkan sesuatu yang manis. Nak Azel, mau mandi di sini?”
“Kalau boleh, Master.” Azel meletakkan tasnya di samping sofa ruang tamu.
Membiarkan mereka berdua, aku memilih segera ke kamar. Aku ingin segera mandi dan mengganti seragamku. Masuk ke dalam kamar dan mengambil pakaian ganti.
“Kenapa kau tidak turun dan bicara dengan Master Gensha, Vinnea?” Aku menahan kakiku sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Vinnea yang terpanggil menampakkan dirinya di tengah-tengah kamar. “Setelah anda membersihkan diri, putri. Saya akan menemuinya bersama anda.”
“Baiklah.” Aku melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat.
Dua puluh menit sepertinya cukup untuk membersihkan seluruh badan dan mencuci rambutku. Aku keluar kamar mandi dengan sudah mengganti seragamku dengan gaun selutut berwarna jingga tanpa lengan dengan renda putih bagian bawahnya.
Jika kalian tahu, hampir semua setelan pakaian santaiku berwarna cerah. Bahkan ada beberapa yang bunga-bunga dan aku tidak mau memakai itu. Aku pernah mencobanya dan itu terlihat sangat aneh.
Apa mungkin semua itu selera Master Gensha? Tapi, bagaimana dia tahu ukuran tubuhku? Sepertinya, aku perlu menanyakan hal ini lebih serius lagi.
Aku menarik kursi rias kemudian duduk di depan meja rias. Refleksi wajah hingga setengah badanku ada di dalam cermin. Semua luka yang kualami saat itu benar-benar hilang.
“Boleh saya bantu?” Vinnea yang awalnya hanya duduk diam di sofa kamar, kini melangkah mendekat lantas memegang sisir dan juga pengering rambut.
“Terima kasih.” Aku membiarkan dia melakukan apa yang diinginkannya.
Menyentuh rambutku, kemudian mengarahkan pengering rambut ke sana. Sesekali menyisir rambutku dengan hati-hati.
Aku hanya bisa memperhatikannya dari pantulan cermin di depanku. Wanita yang harusnya lebih tua dariku bahkan berlipat-lipat perbandingannya, kini dia menyisir rambutku layaknya aku adalah anaknya sendiri.
Anak, ya… siapa laki-laki yang aku peluk di mimpiku waktu itu? ‘Ayah’? Tapi, suaranya sangat berbeda dengan ayahku. Lalu siapa?
“Waktu itu, rambut anda berubah menjadi biru ya… itu sangat cantik.” Vinnea berujar lembut.
“Bukankah anakmu juga memiliki rambut yang sama?”
“Rambutnya lebih mirip mendiang ayahnya. Bahkan sikapnya juga sedikit kasar.”
Leuconoe, anak tunggal Vinnea. Memiliki rambut biru tua dengan sorot mata berwarna emerald. Hampir sama seperti ibunya yang memiliki sihir air, yang membedakan antara mereka adalah kepribadiannya.
Jika Vinnea ratu yang ramah pada rakyatnya, berbanding terbalik dengan Leuconoe yang sangat dinign. Dia hanya akan tersenyum dan melembut ketika di depan ibunya dan orang yang disayanginya. Tapi tatapan dingin dan aura menakutkan akan selalu ditunjukkannya pada mereka yang mengancam kerajaannya.
“Kau harus segera kembali ke kerajaanmu, walaupun hanya untuk melihat. Karena ketika Noe tahu kau terputus dari kerajaan, dia bisa saja membawa tsunami ke semua pulau. Aku tidak mau menghadapi Noe,” nasihatku.
“Sesuai perintah anda, putri. Saya akan mengatur jadwal ke sana. Sebagai gantinya, setelah kembali, saya akan tinggal di sini dan seterusnya.”
“Bukan masalah. Kalau begitu, bilang ke Master Gensha apa yang kau inginkan di kamarmu.”
-o0o-
Makanan manis, es buah segar, es krim, kue cokelat bertabur cokelat serut, dan tumpukan macaroon. Semua makanan itu ditata di atas meja makan. Sesuai keinginanku, Master Gensha menyiapkan semuanya untukku.
“Kau bisa gemuk kalau makan sebanyak ini.” Azel menceletuk. Dia menopang dagunya dan duduk di seberangku.
“Selalu ada ruang untuk makanan manis, kak,” sanggahku dengan sesendok kue cokelat di dalam mulutku.
Master Gensha tertawa pelan. Dia berdiri tidak jauh dariku. “Kulkas kita masih memiliki ruang untuk meletakkan semua ini jika tidak habis. Vinnea, kau juga bisa ikut makan.”
“Terima kasih, Master.” Vinnea hanya menjawab tanpa melakukan yang ditawarkan Master Gensha.
“Kau juga harus makan, kak. Setidaknya sepotong roti atau macaroon.” Aku mendorong pelan piring potongan roti cokelat ke arah Azel. Sejak aku makan, dia hanya diam dan menatapku.
“Iya.” Dia menurut. Menarik piring itu kemudian memakannya perlahan.
“Omong-omong, Master Gensha akan menjadi wali kita, Ra.”
Mulutku berhenti mengunyah, mencoba mengulangi apa yang diucapkan oleh Azel. Sejak awal aku yakin kalau Azel dan Master Gensha sudah saling kenal. Tapi untuk wali…aku baru tahu itu.
“Bagaimana dia akan menjelaskan untuk itu?” tanyaku sambil kembali melanjutkan makan.
Azel menunjuk Master Gensha dengan telunjuknya. “Dia bisa bilang kalau kau keponakannya. Itu hampir sama seperti dia beralibi tentangku.”
“Bagaimana jika kepala sekolah tidak percaya?” sanggahku.
“Master akan melakukan sesuatu untuk itu. Sebaiknya masalah ini kita serahkan padanya.” Azel sedikit berdiri, menuangkan es buah yang ada di dalam wadah besar ke dalam dua gelas kaca.
“Bagaimana pun, aku lebih penasaran dengan apa yang kau lihat dari pak tua itu.”
Dia lalu menyerahkan satu gelas yang berisikan es buah padaku. Aku lupa memperhatikan penampilannya. Sebelum memutuskan untuk ke kamar, dia meminta ijin ke Master Gensha untuk memakai kamar tamu. Ya, seragam yang sebelumnya kini digantikan dengan kaos oblong berwarna abu-abu dengan masih memakai celana seragam akademi.
“Apa anda melihat sesuatu, Puteri?” Master Gensha menyahut. Nada khawatir sekaligus penasaran dengan apa yang sedang kami bicarakan.
Aku menerima gelas dari Azel kemudian meletakkannya di depanku. Aku tidak bisa melihat pantulan diriku dari air es yang ada di dalam gelas, yang kulihat hanyalah pantulan cahaya matahari dari jendela dapur.
“Aku hanya merasa seperti melihat sesuatu di dalam matanya. Mungkin terlihat seperti api ungu di dalam mata miliknya,” jawabku pelan.
“Malroch.” Vinnea mengucapkan satu kata yang asing. Semua perhatian kini beralih padanya.
Nama yang pernah disebutkan oleh Darwin. Reaksi Azel pun terlihat datar. Dia mungkin sudah mengingat dengan jelas apa yang diucapkan oleh Darwin sebelum kematiannya.
“Apakah yang kau maksud itu insiden Joran, lima ratus tahun yang lalu?” Master Gensha menambahkan.
Lima ratus tahun yang lalu? Aku bahkan belum lahir. Tentu saja aku tidak tahu apapun tentang itu. Sepertinya aku perlu buku yang berisi tentang iblis yang duduk di dua belas tingkatan hierarki. Aku juga perlu tahu siapa yang memerintah Sortin waktu itu.
Vinnea mengangguk. “Iblis itu menamai dirinya Malroch. Menusuk tiap korban ke tiang besi kemudian membakarnya dengan api ungu. Insiden itu cukup menorehkan sejarah kelam, karena hampir seribu orang mati di tangannya.”
Master Gensha menggeleng-geleng pelan. “Jika dia memang muncul di permukaan, maka suatu hal pasti akan terjadi. Invasi iblis sebentar lagi akan dimulai.”
-o0o-
Dua hari setelah libur hadiah dari misi, aku kembali ke sekolah. Lalu-lalang murid sekolah terlihat memenuhi halaman utama. Aku rasa hari ini jumlah murid yang masuk tidaklah banyak, mungkin banyak dari mereka yang masih menjalankan misi.
Kabar mengenai menghilangnya Darwin sudah mulai tersebar. Beberapa sangat menyayangkan hal itu. Namun, ada juga yang lega karena tidak akan ada korban jiwa lagi darinya. Darwin menyisakan kenangan buruk bagi mereka, bahkan kepergiannya pun tidak ada yang mengasihaninya.
Ah, iya, soal Vinnea. Dia sudah dikirim kembali ke kerajaannya untuk memberitahukan kalau dia baik-baik saja.
Dua hari yang lalu, dia berpamitan sebelum pergi dan akan segera kembali sebelum tiga hari. Selama aku terikat dengannya, aku bisa meminjam sedikit kekuatannya, namun untuk jangka waktu tertentu karena tubuhku memiliki batasnya. Cukup merepotkan, tapi mau tidak mau harus segera menyiasati penggunaan mana agar tidak menimbulkan efek yang terlalu berlebihan.
“Kiara! Kiara!!”
Mendengar seseorang berteriak namaku, aku pun seketika berhenti melangkah.
Tepat di depanku, seorang siswi yang satu kelas denganku lari tergopoh-gopoh.
Tiba di depanku dia mengatur napasnya dengan susah payah seakan dia sedang dikejar sesuatu yang menakutkan.
“Kau baik-baik saja?” Aku mendekat menghampirinya, melihatnya yang bercucuran keringat, aku merasa kasihan.
Tangan kanannya menunjuk lorong tempat dia muncul. Masih dengan napas tersendat, dia mencoba untuk bersuara. “K-Kau harus lihat di UKS. Luna! Dia terluka parah!”
Luna!
Mendengar satu-satunya temanku terluka, aku segera berlari ke tempat yang disebutkan bersama siswi tadi. Berpikir UKS sepi, justru sebaliknya. Beberapa siswa berkerumun di depan UKS, ada juga yang menangis di depan UKS.
Melihat mereka, aku mulai berprasangka buruk. Cepat-cepat aku menyibak kerumunan dan segera masuk ke dalam UKS. Ukuran satu ruangan sangatlah luas, bahkan bisa menampung dua puluh siswa sekaligus.
Tujuanku adalah ranjang yang ada di tengah-tengah yang tepat di belakangnya adalah dinding. Siswa berambut hijau terbaring lemah di atas ranjang dengan selimut tebal yang menutupi hingga dadanya.
“Luna, kau baik-baik saja?” Aku berdiri di samping ranjang, menatap nanar temanku yang terluka di bagian kepala dan lehernya.
Dengan sedikit tenaga, Luna membuka matanya dan menatapku. “Ra...Ha—ti-hati. Iblis...ada di sekolah...ini.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments