Pulang sekolah.
Aku disuruh membawa tumpukan kertas ke ruang guru. Mereka dengan mudahnya memerintahku, sedangkan mereka sendiri pulang meninggalkanku. Apa mungkin semua anak kelas satu seperti itu? Bukankah itu menyebalkan?
Selesai menyerahkan tumpukan itu, aku melangkah santai menyusuri koridor kelas. Di belakang gedung akademi terdapat lapangan bola basket. Meskipun akademi sudah sepi, namun masih ada siswa yang bersemangat untuk berolahraga.
Decitan sepatu terdengar bahkan dari ujung koridor. Dengan tas di tangan kiriku, aku berjalan santai di bawah koridor sambil mengamati mereka yang tengah bermain basket. Entah kenapa aku penasaran dengan laki-laki yang menolongku waktu itu.
Sepanjang hari aku tidak melihatnya sama sekali, meskipun aku bisa merasakan keberadaan sihirnya di gedung ini. Setidaknya sekali saja, aku ingin mengucapkan terima kasih dengan benar.
“AWAS!!”
Teriakan seseorang menyadarku yang melamun. Aku telat menyadarinya. Bola basket yang meluncur ke arahku. Terlalu cepat hingga bola itu sampai di depan wajahku. Spontan aku menutup mata dan sedikit menunduk, berharap bola itu tidak mengenai wajahku.
Tiga detik aku tidak merasakan apapun. Aku memberanikan diri membuka mata dan aku mendapati tangan seseorang menahan bola itu tepat sebelum bola itu mengenai wajahku.
“Kau baik-baik saja?”
Kita bertemu lagi, ketika aku berharap untuk bertemu dengannya. Laki-laki dengan sihir es dan memiliki mata yang memukau berdiri di sampingku.
Aku mengangguk cepat. “Terima kasih.”
Laki-laki itu memegang bola basket dengan kedua tangannya kemudian melemparnya ke siswa yang berlari ke arah kami. “Hati-hati kalau bermain.”
Siswa itu menerimanya dan membungkuk meminta maaf. “Maaf.” Setelah itu dia kembali ke teman-temannya.
“Mau pulang, ya? Aku antar.” Laki-laki itu berjalan mendahuluiku.
Aku pun cepat-cepat mengejarnya dan berjalan di belakangnya. Lebar bahunya sama seperti pertama kali aku melihatnya. Dia menjadi pusat perhatian ketika beberapa siswi melintas berlawanan dengan kami.
Apa mungkin dia kakak kelas? Karena rasanya aku tidak pernah melihat wajahnya di angkatanku. Apalagi aku yang berjalan di belakangnya mendapat tatapan iri dari mereka.
“Bagaimana lukamu yang kemarin?” Laki-laki di depanku memulai pembicaraan.
“Sudah sembuh kok. Oh, ya, terima kasih karena sudah menolongku kemarin.” Akhirnya aku bisa berterima kasih, ya, walaupun ditanggapi dengan dingin.
“Di mana pun pasti berbahaya, jangan sendirian kalau kemana-mana.” Begitulah nasehatnya.
Aku hanya mengangguk. Jika seperti ini, aku tidak berani bertanya siapa namanya.
Sepertinya diam lebih baik untuk saat ini, mungkin dia tidak suka denganku yang selalu ditolong olehnya. Apa mungkin aku termasuk orang yang merepotkan?
Kami keluar dari gedung akademi, menyusuri halaman akademi yang luas tanpa saling melempar pertanyaan. Langit di atasku masih cerah. Gundukan awan menghiasi langit biru yang membentang. Aku mulai lupa kejadian mengerikan malam itu. Terlalu gelap bahkan tidak ada cahaya bintang satu pun.
“Kau tidak perlu mengantarku sampai ke rumah. Sampai di sini saja sudah cukup.” Langkahku berhenti di depan gerbang akademi. Karena suasananya jadi canggung, mungkin lebih baik kalau aku menjaga jarak dengannya.
Laki-laki itu ikut berhenti, kemudian menatapku. “Kenapa? Kau tidak suka berjalan denganku?”
Aku menggeleng cepat. “Bukan itu. Hanya saja …” aku rasa aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku, tapi bisa jadi dia akan makin salah paham.
“…Kau terlihat tidak suka denganku yang selalu merepotkanmu. Jadi, alangkah baiknya kalau aku pulang sendirian,” sambungku dengan suara pelan.
“Ya, kau benar. Kau itu sangat merepotkan. Selalu ada di tengah-tengah masalah,” ejek laki-laki itu. Sangat menyakitkan mendengar itu dari laki-laki yang mungkin digemari banyak siswi.
Tapi, aku pun tidak bisa menyangkalnya.
“Aku tidak masalah dengan itu. Jika kau selalu mendatangkan masalah, aku yang akan menyelesaikan masalah itu untukmu. Setidaknya itu lebih baik daripada berjarak lagi.”
Eh? Ha? Apa aku tidak salah dengar?
Belum sepenuhnya memahami ucapan itu, laki-laki itu justru memegang tanganku kemudian menarikku untuk mengikutinya.
“Aku antar sampai rumahmu. Kau tinggal dengan Master Gensha kan?”
Aku hanya mengangguk dan berjalan mengikuti tarikan di tanganku. Mencoba mengulang kembali kalimat yang diucapkan laki-laki itu, sekaligus berusaha memahaminya, tapi pada akhirnya aku tidak paham sama sekali.
Berjarak lagi? Apa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Siapa? Di mana? Kapan? Atau mungkin memang aku sengaja melupakannya?
“Sudah sampai.”
Aku berhenti dan langsung menoleh ke kiri. Dia benar, kami sudah tiba di depan rumah Master Gensha.
Tunggu sebentar! Orang yang dibicarakan Master Gensha waktu itu, mungkinkah dia adalah laki-laki ini? Yang sering menginap di rumah Master? Tidak… bukan itu yang ingin aku tanyakan.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Aku bertanya pelan.
“Bukan sesuatu yang penting.”
Jadi, benar ya. Aku menatapnya sekilas kemudian menunduk. “Setidaknya, aku juga mau tahu.”
Laki-laki itu mengangkat tanganku yang digenggamnya, membuatku kembali mengangkat wajah menatapnya. Dia mendekatkan tanganku ke wajahnya kemudian mencium punggung tanganku.
Aku kembali dibuatnya terdiam. Wajahku berangsur memerah dan tanganku bahkan sampai bergetar.
Dia sedikit menurunkan tanganku, lalu menatapku. “Namaku Azel. Aku ada di kelas tiga. Salam kenal, Kiara.”
-o0o-
Bersikap biasa! Biasa! Biasa!!
Mencoba mengatur napasku sembari fokus pada pelajaran di depanku. Sejak semalam aku tidak bisa fokus sama sekali. Laki-laki itu … Azel, mengacaukan semuanya!
“Baiklah kerjakan tugas kalian dan kumpulkan pulang sekolah. Kalian bisa istirahat.” Instruksi dari Master Abel, disahut jawaban kompak dari seisi kelas. Master Abel mengemasi buku-bukunya kemudian meninggalkan kelas.
Aku kembali memegang pensil dan mulai mengerjakan deretan kalimat di dalam buku paket. Lima soal dengan jawaban yang tidak cukup hanya satu baris.
“Boleh pinjam?” Luna mengulurkan tangannya menunjuk penghapus milikku.
Aku mengangguk dan meminjamkan penghapusku padanya. “Pakailah.”
Dia menerimanya kemudian menghapus tulisannya yang salah. Lalu mengembalikannya lagi padaku. “Terima kasih.”
Aku hanya tersenyum. Teringat akan bekal yang disiapkan Master Gensha untukku, aku merogoh laci mejaku, menarik keluar kotak bekal kemudian meletakkannya di atas meja. Membuka tutup kotak bekal lalu menyodorkannya pada Luna.
“Kau mau?”
Roti isi dengan isian krim dan potongan buah. Ada empat potong roti dengan isian yang berbeda-beda. Master Gensha menyiapkannya untukku, bahkan dia membuatnya malam hari kemudian menyimpannya di dalam lemari pendingin.
Luna menatapku dan kotak bekalku secara bergantian. Kemudian dia mengangguk dan mengambil satu potong. “Terima kasih.”
Aku tersenyum dan ikut mengambil satu potong kemudian memakannya. Krim dan strawberry yang aku suka. Kami istirahat sejenak, menghabiskan roti di tangan.
“Lihat di sana!”
“Pesonanya persis seperti pangeran!”
“Pesonanya benar-benar berbeda.”
Kericuhan di luar kelas, memaksaku untuk menoleh. Luna yang ada di sampingku pun ikut menoleh. Gerombolan siswi berdiri di sepanjang lorong, seakan sedang menunggu seseorang lewat di lorong itu.
“Ada dua orang yang harus kamu hindari sebisa mungkin.” Luna tiba-tiba bersuara.
Aku yang terkejut seketika menoleh, menunggunya melanjutkan kalimatnya.
Luna menatapku lalu mengacungkan jari telunjuknya. “Pertama Master Gensha, karena dia terkenal kejam. Bahkan tidak ada master lain yang mau beradu argumen dengannya. Dia juga sangat misterius.”
Tapi aku tinggal dengannya…
“Kedua…” Luna menunjuk keluar kelas, dimana deretan siswi masih ada di sana. “Kedua, Azel. Kakak kelas kita. Dia galak, dingin, dan arogan. Memang sih kalau dia itu favorit kebanyakan siswa. Tapi dia masih sering dapat pernyataan suka. Jadi, kalau bisa jangan dekat-dekat dengannya.”
Tapi, kemarin dia…
Aku tidak berani menoleh ketika Azel melintas bersama beberapa temannya. Kejadian kemarin sudah menyita semua perhatianku dan sekarang aku sebisa mungkin untuk menghindarinya.
Rombangan Azel pergi, begitu juga dengan siswi-siswi yang mulai bubar. Aku melirik sekilas ke depan kelas dan hanya tersisa beberapa siswi.
“Mereka akan kemana?”
“Mungkin menjalankan misi. Kelas tiga memang sering mendapatkan misi untuk penilaian dan pengabdian masyarakat.” Luna menjawab sembari mengunyah sisa potongan roti isi.
Rasanya percakapan diantara kami lebih dekat dibandingkan sebelumnya. Aku tidak ingin menyinggung hal itu. Bisa jadi, dia akan berubah pikiran dan tidak mau bicara denganku lagi.
“Apa kelas satu juga akan menjalan misi?” Aku menggigit sedikit roti isi di tanganku, menunggu Luna menjawab.
“Paling ringan kelas satu dan dua hanya akan diminta untuk ikut dalam misi tapi hanya sebagai pengamat. Dengan begitu kelas ketika kelas tiga, kita tidak terkejut dengan misi-misi yang diberikan,” urai Luna.
Aku hanya bisa mengangguk. Sedikit merasa lega, karena aku sendiri bahkan belum bisa mengendalikan sihirku. Sampai kelas satu ditunjuk untuk mengamati kelas tiga, aku harus bisa mengendalikan sihirku. Dan, satu-satunya jalan adalah dengan meminta bantuan Master Gensha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments