Kota Gramgramillo atau bisa disebut kota penyihir. Langit yang masih gelap tidak menyurutkan keindahan kota di depanku saat ini. Lampu jalan senantiasa bersinar menerangi jalan raya.
Beberapa orang terlihat terbang menggunakan sapu terbangnya menuju ke tempat tujuan. Ada juga yang berjalan menyusuri jalan, bercanda tawa dengan temannya. Lokasi kota ini ada di atas ketinggian tiga ribu kaki, di atas pulau yang mengapung di udara.
Kakiku menapak di pelabuhan tempat kapal terbang yang membawaku dari desa menuju kemari. Aku tiba ketika malam semakin larut.
Begitu mengadahkan wajah, aku melihat beberapa kapal terbang yang bergerak menjauh. Di pelabuhan lainnya, kapal terbang tengah bersandar dan deretan orang antre untuk masuk ke dalam kapal.
Bentuk kendaraan terbang itu sangat mirip dengan kapal yang biasanya mengarungi lautan, hanya saja bedanya yang ini mengarungi langit. Mungkin hampir mirip dengan kapal bentuk Paus terbang.
“Aku akan mengantarmu ke wali kelasku. Dia biasanya bertugas menangangi korban dari Ashborn.” Darwin mengajakku untuk segera berjalan.
Udara malam yang sedikit menusuk kulit. Dan juga, karena aku sangat sensitif dengan mana, kalau tempat yang aku kunjungi memiliki sedikit mana maka aku akan kedinginan. Begitu sebaliknya. Sesekali tanganku bergerak mengusap lenganku yang kedinginan.
“Kau kedinginan, Ra?” Darwin dengan penuh perhatian melepas jubahnya kemudian memberikannya padaku. “Mungkin perjalanan kita akan sedikit jauh. Kau baik-baik saja? Perlu istirahat beli minuman hangat?”
Aku menerima jubah itu dan segera memakainya ke tubuhku. Panjang jubah hampir menutupi seluruh kakiku. Tidak heran jika Darwin memanglah lebih tinggi dariku. Dia terlihat maskulin dengan seragam berwarna biru-putihnya.
“Tidak perlu. Jubahmu sudah cukup hangat kok.”
“Katakan padaku kalau kau butuh istirahat.”
Aku hanya mengangguk.
Kaki kami terus berjalan, menyusuri jalanan bersama beberapa orang lainnya. Banyak rumah dan fasilitas umum yang aku lewati.
Bentuk rumah tergolong lebih mewah dengan ukuran minimalis. Layaknya kota-kota besar lainnya, di tempat ini fasilitas umum memiliki desain yang lebih mewah dan ukurannya pun lebih besar dibandingkan dengan rumah warga. Seakan ingin memperjelas kalau bangunan tersebut adalah fasilitas umum.
Berjalan dari jalanan sedang hingga akhirnya kami tiba di pertigaan jalan besar. Tepat di seberang jalan, sebuah bangunan megah lainnya berdiri. Bangunan empat lantai berdiri kokoh di seberang kami. Cahaya lampu berjajar rapi menerangi setiap sudut bangunan. Pagar yang tinggi menjadi pintu masuk menuju bangunan tersebut. AKADEMI SIHIR GRAMGRAMILLO, tulisan yang tercetak jelas di atas gapura dan diterangi oleh cahaya lampu.
Dari mataku, aku bisa melihat adanya pelindung di akademi tersebut. Terlihat berkilau dengan warna-warni yang bergerak tidak beraturan. Jika kalian pernah melihat warna cantik di sebuah gelembung sabun, nah, seperti itulah pelindung yang aku lihat.
“Ayo, Ra.” Darwin mengajakku untuk segera menyeberang jalan. Tidak ada aktivitas di sekitar akademi, mengingat kalau hari sudah gelap.
Melintasi pelindung dengan aman, aku menginjakkan kaki di halaman akademi. Suasana yang berbeda dengan sekitarnya, akademi menghantarkan perasaan campur aduk yang susah diartikan. Apa mungkin efek dari pelindung itu?
“Aku akan mengenalkanmu dengan Master Ellen. Dia yang paling sering menangani kasus sepertimu.” Darwin berjalan menyusuri lorong, melewati beberapa kelas yang sudah kosong.
Bisa dibilang ini pertama kalinya aku singgah di akademi penyihir. Jika di tempat ini penempatan penyihir berdasarkan material sihir yang mengalir dalam darah mereka, maka bagiku tidak ada material sihir yang bisa mewakili sihirku. Ini akan sedikit merepotkan untuk menyamarkan identitasku.
Darwin berhenti, begitu juga denganku. Kami tiba di depan sebuah ruangan yang mana lampu di dalamnya masih menyala terang.
Tidak ada siapapun sepanjang lorong, rasanya begitu sepi, tapi bukan itu yang menggangguku. Melainkan aura menakutkan yang berhembus dari ujung lorong dan juga aroma amis seperti darah.
“Tetaplah di belakangku, Ra.” Darwin memutar tubuhnya menghadap lorong di sebelah kanannya yang sangat gelap.
Sepertinya ada monster yang berhasil menembus pelindung akademi.
Keberadaannya terlihat, benar-benar sangat besar bahkan satu langkah kakinya sudah berhasil menggetarkan satu bangunan akademi. Monster yang berwujud kelabang.
Kaca ruangan dan jendela pecah secara bersamaan. Di dalam mulut binatang itu terlihat kaki manusia. Dia pasti sudah memakan manusia sebelum tiba di tempat ini. Lebih buruknya lagi, dia sejak awal ada di akademi ini dan terus membesar seiring waktu dengan menyerap kebencian di akademi.
Memang ada kasus seperti itu di dunia ini, namun sangatlah langka.
Berapa lama dia ada di tempat ini? Ah, dia menatapku.
Kedua mata merahnya berputar-putar. Dua kaki yang paling depan menghentak-hentakkan lantai dengan kuat. Gerakan berikutnya, dia menerjang maju ke arah kami. Darwin yang berdiri di depanku mengangkat tangannya dan muncullah sebuah kubah air setengah bola yang melindungi kami.
Monster yang membentur kubah segera menarik mundur tubuhnya. Sebagian tubuhnya terangkat hingga langit-langit lorong. Suara desisannya terdengar mengerikan.
BRAK!!!
Sesuatu yang cepat dan kuat menghantam kepala kelabang hingga membuatnya keluar dari akademi dengan paksa. Dinding akademi hancur dan kelabang itu meronta-ronta di halaman sekolah. Bersamaan dengan itu, teriakan histeris terdengar di sekitar akademi. Kemunculan kelabang itu juga mendatangkan iblis tingkat rendah lainnya. Mereka menyerang warga yang dilihatnya.
“Sepertinya malam ini tidak akan setenang sebelumnya.”
Suara wanita dewasa. Spontan aku menoleh dan pandanganku bertemu dengan seorang wanita dengan seragam guru. Rambut pirang panjangnya diikat rapi di belakang. Dia memakai jepit rambut berwarna perak. Sepasang netra kuning menatapku dengan kedua sudut bibirnya yang melengkung ke atas.
“Tolong mundur, Anak-anak. Kalian bisa terluka.” Begitulah yang diucapkannya. Setelah itu, dia berjalan mendekati kelabang itu. Dia tidak merasa takut sama sekali, malah terkesan menantang lawannya.
Darwin memegang tanganku kemudian menarikku untuk segera keluar dari bangunan akademi. Atap lorong runtuh tepat di belakang kami. Tempat yang pas adalah halaman akademi yang luas. Sembari menyaksikan wanita itu melawan kelabang raksasa. Di luar akademi, beberapa penyihir terlihat berusaha keras untuk menangani iblis tingkat rendah, sekaligus membantu evakuasi warga ke tempat yang aman.
Kalau dilihat lagi, pelindung akademi benar-benar pecah. Kilauan warna-warni sudah tidak terlihat lagi. Jika pelindung tidak bisa dihancurkan dari luar, maka salah satu cara lain untuk menghancurkannya adalah dari dalam.
“Dia Master Ellen. Orang yang akan kau temui.” Darwin kembali mengangkat tangannya dan kubah air melindungi kami. Aku rasa di tipe orang yang selalu waspada pada apapun yang ada di sekitarnya.
Master Ellen melepas jepit rambut peraknya dan seketika benda tersebut berubah menjadi pedang dua sisi. Mungkin dia tipe penyihir yang bertugas menyerang. Lihatlah dia begitu santai bahkan ketika kelabang itu menerjang ke arahnya. Dia memutar pedang di tangannya, menahan serangkaian serangan dari banyaknya kaki kelabang yang mengarah padanya.
Jeda satu detik, Master Ellen melompat tinggi. Bahkan lebih tinggi dibandingkan kelabang itu. Master Ellen melesat turun dengan ujung pedang mengarah ke kepala kelabang itu. Dia bisa menusukkan pedang itu tepat diantara kedua mata kelabang. Darah berwarna hijau muncrat begitu saja. Erangan kesakitan terdengar menyedihkan. Kepala kelabang itu bergerak ke kanan-kiri, mencoba melepas pedang yang menusuk wajahnya.
Tak lagi memberi jeda, Master Ellen mengalirkan sihir ke dalam pedangnya. Sihir yang amat kuat hingga berhasil menembus kepala kelabang hanya dengan sekali tusukan pedang. Musuh berhasil diatasi dengan cepat.
“Dia memiliki sihir perubahan. Dia bisa mengubah apapun menjadi benda sesuai keinginannya. Sejauh ini dia bisa menciptakan pedang yang dipakainya dan juga sebuah belati.” Darwin menjelaskan padaku.
Pantas saja dia bisa mengubah jepit rambut menjadi pedang bermata dua. Dia bahkan juga bisa mengembalikan kembali pedang itu ke dalam wujud jepit rambut. Aku penasaran, berapa banyak dia berlatih untuk itu dan berapa lama dia sudah menjadi master.
Energi sihirnya cukup besar di sekitar tubuhnya. Aku bisa melihat energi sihir di setiap penyihir dan Master Ellen memiliki energi yang kuat dibandingkan dengan Darwin atau beberapa penyihir di luar akademi.
Tidak langsung menemui kami, Master Ellen lebih dulu meminta penyihir untuk menghilangkan mayat kelabang itu dari halaman akademi. Dia juga memerintahkan beberapa penyihir untuk menggunakan sihir waktu untuk membalikkan keadaan bangunan sekolah seperti sebelumnya.
Darwin menghela napas pelan kemudian menurunkan tangannya. “Kurasa sudah aman.”
Kelabang itu mengingatkanku pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Iblis tingkat menengah menyerangku dan aku menghanguskannya secara langsung. Berpikir semua itu sudah selesai, nyatanya tidak. Iblis lainnya malah muncul dengan tingkatan yang lebih tinggi.
Jika belajar dari pengalaman sebelumnya. Iblis kelabang itu pasti tidak sendirian. Kematiannya akan menjadi alarm bagi kawanannya untuk menyerang. Tapi, bahkan sejak kelabang itu mati tidak ada gemuruh energi kegelapan sama sekali. Kelabang itu hanya bergerak sendirian dengan iblis tingkat rendah.
Kenapa? Apa mungkin mereka menarik mundur pasukannya?
“Maaf, ya, sepertinya pertemuan kita terganggu.” Master Ellen melangkah mendekat. Jepit rambut perak kembali terpasang di rambutnya. Jika diperhatikan lagi, dia memiliki paras yang cantik. Juga, di jari manisnya tersemat cincin.
Mungkinkah dia sudah menikah?
“Bagaimana kalau kita bertiga makan malam?”
-o0o-
Di sinilah aku berakhir. Di sebuah tempat makan yang sepi. Hanya ada beberapa orang yang duduk di dalam, jika kami bertiga dihitung maka jumlahnya hanya tujuh orang. Master Ellen menaktir aku dan Darwin.
“Jadi, namamu Kiara?” Master Ellen melipat tangannya ke atas meja, menatapku dengan senyum ramah.
Aku mengangguk.
“Bagaimana perasaanmu sekarang? Kau baru tiba di sini dan harus melihat iblis kelabang seperti tadi. Kau baik-baik saja?”
Tidak ada yang lebih menakutkan dibandingkan kehilangan orang tuaku tepat di depan mataku.
“Aku sudah mendingan.” Aku menjawab pelan.
Master Ellen kembali tersenyum. Dia beralih menatap Darwin yang duduk di sebelahku.
“Dan, kau Darwin? Kau mengikat kontrak dengan roh sihir?”
Darwin mengangguk. “Seorang roh sihir dari lautan.” Dia menatap Vinnea yang berdiri di sampingnya. Dan, Vinnea menggeleng. Sepertinya hanya aku dan Darwin yang bisa melihatnya.
“Maaf, aku tidak bisa memberitahu Master lebih jauh karena ini termasuk ke dalam perjanjian kami.” Darwin sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Master Ellen.
Sebenarnya perjanjian apa yang mengikat mereka berdua yang bahkan tidak ingin ada orang lain yang tahu?
Master Ellen menganggukkan kepalanya pelan. “Aku mengerti. Aku tidak akan bertanya lebih jauh lagi. Tapi, satu hal yang ingin aku ketahui. Apa misimu berhasil?”
Darwin menggeleng pelan. “Maaf.”
Helaan napas terdengar dari Master Ellen.
“Sepertinya memang harus mengirimkan penyihir tingkat tinggi. Baiklah, untuk saat ini, Kiara, apa kau memiliki kerabat di kota ini?”
“Aku tidak yakin.”
“Kalau begitu, untuk sementara kau tinggal denganku, ya. Setelah itu kau bisa memutuskan untuk tinggal di kos atau tetap bersamaku.”
-o0o-
Rumah milik Master Ellen bisa dibilang modern. Luas rumah hanyalah 6x13meter, cukup untuk menampung dua orang. Ruang tamu minimalis menyambutku ketika tiba di dalam rumah Master Ellen. Vas bunga diletakkan di tengah-tengah meja, beberapa foto terpajang di dingin, menghiasi ruang tamu.
“Kuantar ke kamarmu, Al,” Master Ellen melangkah mendekat ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari pintu masuk. Dia membuka pintu ruangan kemudian menyalakan lampu.
“Ini akan menjadi kamarmu,” sambungnya.
Aku berdiri di ambang pintu menatap ke dalam ruangan yang berukuran 3x4 meter. Tempat tidur berukuran sedang diletakkan di pinggir tembok, di sisi ruangan lainnya terdapat sebuah lemari. Meja belajar pun ada di dalam kamar.
“Karena ini sudah malam, istirahatlah. Jika membutuhkan sesuatu, kamarku ada di seberangmu.” Master Ellen pun pergi.
Aku pun masuk ke dalam kamar sembari mengamati satu persatu barang yang berada di kamarku. Aku duduk di tepi tempat tidur, merasakan begitu hangatnya selimut di atas tempat tidur. Kubaringkan tubuhku lantas memejamkan mata. Ketenangan dan kehangatan ini membuatku perlahan terlelap. Setelah merasa aman seperti ini, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.
Apa memang benar aman?
-o0o-
Keesokan harinya, aku membuka mata dan mendapati posisi tidurku yang sudah berubah dengan selimut yang menutupi tubuhku. Kualihkan pandanganku menatap jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul tujuh pagi.
Aku bangkit dari tempat tidur lantas keluar dari kamar. Aku mencari Master Elen dan menemukannya di dapur.
Tanpa kupanggil, Master Ellen menoleh padaku lantas tersenyum. “Sudah bangun? Duduklah, kita sarapan bareng.”
Aku duduk di salah satu kursi. Sedangkan, Master Ellen menata piring-piring berisikan lauk ke atas meja. Begitu selesai, dia mengambil piring dan menuangkan nasi kemudian memberikannya padaku. Dia juga mengambil nasi untuk piringnya sendiri. Sarapan berlangsung hening.
Aku tidak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa. Mungkin diam adalah yang terbaik.
“Hari ini kau di rumah sendirian, tidak masalah kan? Aku harus mengajar di akademi.” Master Ellen memulai pembicaraan setelah setengah nasi di piringnya habis.
Aku mengangguk. “Tidak masalah.”
“Ah, iya. Apa kau mau bersekolah di akademi? Aku bisa mengurus semua berkasmu.” Master Ellen mengunyah perlahan makanan di dalam mulutnya.
Akademi, tempat di mana penyihir dikelompokkan berdasarkan jenis sihir mereka. Ini akan sulit bagiku, tapi jika tidak membaur, aku akan kesusahan.
“Apa harus minggu ini?”
Master Ellen menggeleng. “Aku akan menyesuaikannya denganmu. Sampai kau siap bertemu teman-temanmu, kau bisa memutuskan kapan saja.”
Aku mengangguk pelan. “Akan aku pikirkan lagi.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments